26 Feb 2011

Kutulis ini biar tidak AMNESIA..


Menulis bukanlah pekerjaan otak, tapi pekerjaan hati. Memulai memang bukan pekerjaan mudah, simple tapi membingungkan. Apapun itu, ketika ingin memulai sesuatu pastinya kita akan menemukan dimana hati dan fikiran akan melakukan tarik ulur niat. Ya atau tidak, lakukan atau tidak, pergi atau tidak dan banyak lagi alasan lain yang membuat kita sering mengurungkan niat. Ya ga masalah sih mengurungkan niat klo ada dalam hati meragukan kebaikan dan ketulusan niat tersebut, tapi klo niat baik yang menjadi urung hanya karena takut memulai…itulah masalahnya Gas.. Hmmm..takut memulai karena tidak berani mengambil resiko. Resiko gagal. Nah, klo udah punya niat untuk menulis, so ayoooo..mulailah dari sekarang, jangan ragu lagi. Jangan takut tulisan kamu akan dicela, paling yang mencela juga adalah mereka yang tidak mampu menulis. Bukankah para penulis tersohor di dunia jg memulai karya-karya apik mereka dari menulis hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah mendapatkan penghargaan sama sekali. Tapi mereka tetap berkarya. Karena mereka niatnya bukan untuk mendapatkan pujian, tapi ini adalah masalah ekspresi. Yah..Ekspresi dari perasaan jiwa, ekspresi dari petualangan pemikiran, ekspresi dari kecerdasan intelektual dan inilah bentuk dari salah satu aktualisasi diri.
Ungkapkanlah, meskipun hanya satu kata. Ibarat seseorang yang berniat untuk menyampaikan suatu kebenaran namun ada sedikit ketakutan, maka dia akan mengingatkan dirinya, “sampaikanlah walaupun hanya satu ayat”. Bukankah kata itu bisa memiliki makna yang luas? Bukankah satu kata itu bisa menjadi inspirasi? Bukankah satu kata itu bisa saja memiliki kekuatan yang Maha Dahsyat? Diperlukan hanya sedikit keberanian, sedikit saja untuk mengambil satu langkah agar itu bisa dikatakan bergerak dari diam menjadi melangkah. Berarti di sini menunjukkan adanya usaha. Setiap kita pastinya yakin bahwa tak ada satupun di dunia ini yang sia-sia. Termasuk usaha-usaha yang telah kita lakukan. Satu langkah tidaklah sama dengan diam tak bergerak atau tidak mengambil inisiatif tuk melangkah sama skali.
Apapun yang terlintas dalam isi kepala, maka tulis saja. Biar waktu yang akan mengajari bagaimana memaksimalkan potensi yang kita miliki. Allah telah memberikan kita fasilitas yang begitu menakjubkan. Sesuatu yang tidak pernah kita minta apalagi kita usahan namun telah menjadi  milik pribadi. Subhanallah!!! Meskipun tidak semua orang di dunia ini diciptakan untuk bisa menjadi penulis, tapi jika ada kemauan, mengapa tidak tuk mencoba. Bukankah ada hal-hal dalam hidup ini yang tidak kita bawa dari lahir namun bisa kita miliki dengan melakukan usaha. Layaknya kita (saya) yang ditakdirkan lahir dengan kondisi wajah yang tidak cantik dan ayu dan lebih tidak cantik lagi bagi mereka pemuja fisik (who care???), tapi bukankah kita bisa mempercantik diri dari sisi yang lain. Dari kecerdasan dan wawasan kita mungkin atau dari akhlak kita. Lagi-lagi yang bisa melihat kecantikan seperti ini hanyalah mereka yang menomor buntutkan fisik. Tul gak? hehehe
Karena menulis itu akan menjadi control, obat untuk penyakit amnesia baik dalam arti kata amnesia yang sesungguhnya maupun amnesia dalam arti tidak sesungguhnya. Emang ada yah? Ada..ada lahhh.. Amnesia yang saya maksud di sini bukanlah karena akibat benturan seperti di sinetron-sinetron Indonesia yah, tapi lebih pada pengaburan dari visi misi kita dari awal ketika mengikrarkan sebuah komitmen. Mungkin karena itu jugalah yah perlunya surat nikah, bukan hanya sebagai formalitas di instansi pemerintahan tapi juga sebagai pengingat klo dia pernah mengikrarkan Ijab Kabul terhadap nama orang yang tertera di surat nikah tersebut. Eh..kok omongin nikah sih.. Kembali ke amnesia tadi, mungkin kita sering menjumpai orang dalam hidup kita atau bahkan  diri kita sendiri yang kemaren sore dengan yakinnya mengatakan saya tidak akan pacaran. Eh…pagi ini ditembak sama cowok idaman para mertua masa kini, idola para wanita modern dan laki-laki yang bisa dibanggakan klo dibawa ke arisan kompleks, jadinya meng-OK-kan. Lamaran jadi pacar diterima. Hmmm..sungguh terlalu. Itu klo untuk cewek yah.. Nah klo untuk para laki-lakinya. Sering ada yang bilang ke saya gini..”Gak dulu ah, mau nyelesekan kuliah trus kerja dan membahagiakan orang tua”. Boro-boro menyelesaikan kuliah, belum apa – apa juga sudah punya goncengan dari ujung pukul ujung. Koleksi wanita dalam otaknya banyak, ditolak sama si A, kan masih ada si B, gagal sama si C, masih ada D – Z. Ckckckck. Tobatlah wahai anak muda. Mungkin sebagian akan menganggap ini bukanlah sebagai prinsip hidup tapi menurutku ini adalah sebuah prinsip yang sangat menentukan prinsip-prinsip lainnya yang telah kita tanam dalam samudera hati. Jika prinsip seperti ini saja bisa kita khianati, bagaimana dengan prinsip atau komitmen yang lebih besar dan membutuhkan tanggung jawab bukan hanya terhadap diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain? Hmmm…No body can guaranty.. Nah itu  nasehat untuk yang menghalalkan pacaran sebelum nikah atau apapun perbuatan yang tidak syar’I dalam menuju proses pernikahan.
Bagi seorang aktivis dakwah. Ada banyak komitmen di sana. Komitmen itu bukanlah lahir dari lintasan fikiran begitu saja kemudian muncul menggunung dalam hati menjadi komitmen. Di sana ada perjuangan, ada keringat yang mengiri langkah, ada air mata yang membersamai senyuman, ada duka yang menyelimuti kebahagiaan. Jalan ini sudah lama tertempuh, bukan hanya satu dua hari saja, tapi sudah ratusan hari yang kadang – kadang membuat kita lupa bahwa kita pernah hidup dalam kejahiliaan. Begitu besar nikmat Allah karena mengenalkan hati kita akan indahnya berada dalam sebuah lingkaran majelis ilmu. Lingkaran yang selalu menggelisahkan ketika ia terlewati, lingkaran yang akan selalu dirindukan demi menghabiskan hari dalam seminggu, lingkaran yang akan selalu memberikan kita kekuatan dikala lemah, lingkaran yang selalu mengingatkan kita mengapa kita ada di jalan ini, mengingatkan kita mengapa hidup harus lebih bermakna, mengingatkan kita mengapa kita harus mengambil langkah lebih banyak dalam menuju jalan kebaikan, dan yang paling penting mengingatkan kita akan tujuan penciptaan kita di Bumi Allah ini. Bukan sekedar hidup, makan dan tidur. Tapi ada misi besar yang kita emban, sebuah misi yang akan memuliakan kita. Yah, jika hidup tidak untuk dakwah lalu engkau mau ngapain???
Menulis akan menunjukkan siapa kita di masa yang lalu. Tak perlu mengubur semua kenangan dan langkah yang sudah menjadi bagian masa lalu. Kita tidak akan pernah kembali mengambil langkah mundur ke sana dan itu sudah pasti. Tapi mengingat detail demi detail kepingan waktu yang diisi dengan setiap tingkah laku kita bukanlah sebuah kesalahan, meskipun yang kita ingat itu adalah kesalahan masa lalu. Kita akan memerlukan semua itu untuk menjadi pembelajar sejati. Bila masa lalu itu dipenuhi dengan kejahiliaan, maka seharusnya itulah yang akan menjadi bahan bakar kita untuk bisa lebih dari orang lain dalam memaksimalkan kebaikan yang mampu kita lakukan. Kadang saya merasa bangga bahwa saya pernah merasakan kejahiliaan diri, bukannya berbagga akan dosa-dosa saya tapi lebih pada sebuah proses yang telah saya lakukan. Bagaimana merasakan arti dari sebuah proses. Proses penumbuhan jiwa menuju fitrahnya. Dan itulah yang akan menjadi penguat untuk kembali menjejaki alam rasa dan jiwa mengapa sampai saat ini saya seperti ini atau bisa seperti ini. Sejarah akan selalu berulang, meskipun ia berbeda masa. Apalgi bila Allah telah menuliskan jalan hidup kita di Kitab Lauh Mahfudz untuk menjalani hidup dlam waktu yang lebih lama lagi dan dikarunia anak-anak, maka belajar dari diri sendiri adalah salah satu langkah yang bijak. Terlebih lagi bila mau melihat sejarah anak-anak terbaik yang pernah dimiliki Bumi. Hmmm..Subhanallah.. Banyak hal positif yang akan menghampiri dengan menulis, karakter dan wawasan bisa tercermin di sana. Dan yang paling penting kita selalu tau siapa kita di masa lalu, sekarang dan mungkin di masa yang akan datang. So..mari berbagi energy positif dengan menulis…

2 komentar: