Tampilkan postingan dengan label Backpacker Area. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Backpacker Area. Tampilkan semua postingan

19 Sep 2013

Honeymoon Backpacker Part V: Kuala Lumpur, di sini Kita Masih Belajar Saling Mengenal

Pilihan sempurna mencari penginapan murah untuk para Backpacker di Kuala Lumpur tentu saja di Bukit Bintang. Bila di Bangkok terkenal dengan Khaosan Road-nya, maka di Kuala Lumpur di sinilah tempatnya. Dari terminal Bus Puduraya, kita tinggal berjalan kaki menuju Stasiun kereta Plaza Rakyat, ikuti saja tanda panah yang ada di dalam gedung terminal. Setelah itu kami turun di Stasiun Interchange Hang Tuah dan kemudian berganti kereta MRT menuju Stasiun Bukit Bintang.

18 Sep 2013

Honeymoon Backpacker Part IV: Bangkok – Phi Phi Island – Kuala Lumpur, Ujian Kesabaran!!!

Siapa yang gak pernah dengar kata Phi Phi Island? Ayok, angkat tangan! Wah, parah banget klo masih ada yang asing dengan kata tersebut. Phi Phi Island ini dipopulerkan oleh Leonardo De Caprio dalam Film “The Beach”. Sebenarnya, sy gak pernah nonton Film-nya, kebetulan sy bukan Watch-holic. Tapi bukan berarti sy gak update tentang Film2 yang pernah rilis di muka bumi ini. Gak keren banget kan klo waktu singkat yang kumiliki di dunia ini kebanyakan dihabiskan hanya untuk nonton Film??? Sudah cukup Liga Inggris mengalihkan duniaku, jangan ditambah lagi. Hehehe

14 Sep 2013

Honeymoon Backpacker Part III: Eid Mubarak from Bangkok

Pada dasarnya, inilah alasan tertinggi mengapa saya memilih melakukan perjalanan di akhir Ramadhan. Keinginan untuk merasakan atmosfir Ramadhan di Negeri minoritas Islam begitu membuncah. Bagaimana azannya, terdengarkah hingga beberapa ratus meter jaraknya? Bagaimana takbirannya, adakah ia menggema di hari nan Fitri tersebut?
Kami memang hanya mendapatkan masjid di tengah-tengah Hotel, ruko dan perumahan warga, bukan Masjid besar atau sekelas Masjid Agung yang ada di kota Bangkok. Namun suasana religious itu begitu terasa. Beruntunglah kita yang terlahir dari rahim orang tua Muslim, bahwa dimana-mana akan kita temukan Islam yang sama, sholat yang sama, bacaan Al-Qur’an yang sama. Sampe suami berkomentar lucu, “Ini kok berasa sholat jamaa’ah di Indonesia yah, bacaan Al-Qur’annya sama saja”. Trus saya jawab, “Loh, memangnya Abi berharapnya gimana? Ngaji logat Thailand?”. Dan kami pun saling melempar senyum… *Duh,,, senyum Abi manis banget!!!

19 Agu 2013

Honeymoon Backpacker Part II: Grand Palace & Wat Pho

Tepat pukul 03.30 WIB/Bangkok, alarm HP kami sahut-menyahut secara bersamaan. Oh yah... This is the last sahur of Ramadhan 1434H. Sahurnya pake KFC yang udah kami beli pas abis sholat taraweh semalam. Waktu subuhnya sama saja dengan di Batam, buka puasanya aja yang lebih lama 20 menit. Ah, ternyata puasa sebelumnya kami 10 menit lebih cepat berbuka puasa. Semoga tidak dianggap batal sama malaikat. Aamiin...
Setelah sahur dan sholat subuh kami melanjutkan ibadah tidur lagi. Hehehe... Jam 9 lewat 20 menit kami mulai meninggalkan Hotel menuju tempat tujuan awal kami mengapa memilih Bangkok. Grand Palace!!! Yup... Menurut Oom Google, tempat wisata yang paling Populer di Bangkok adalah Grand Palace, Wat Pho dan Wat Aarun. Sebenarnya sih masih banyak yang lain, tapi ketiga destinasi ini kebetulan sangat gampang diakses dari tempat tinggal kami. Untuk ke Grand Palace dan Wat Pho, semuanya bisa dicapai dengan hanya berjalan kaki. Lumayan jauh sih.. tapi kan kita bisa singgah duduk-duduk nyante dulu di taman/lapangan Sanam Luang.

15 Agu 2013

Honeymoon Backpacker Part 1: Batam – Singapore – Bangkok

Jauh hari sebelum memutuskan untuk menikah, rencana Honeymoon ala Backpacker ke 3 Negara ini (Singapore, Bangkok dan Kuala Lumpur) sudah terpahat jelas dalam alam pikiran, bahkan saya berani membuat janji pada diri sendiri, “jika saya menikah di usia 27 tahun maka semua biaya Backpackeran tersebut akan saya tanggung dengan duit pribadi, siapapun lelaki yang menjadi suamiku kelak”. Alhamdulillah, rencana itu mewujud dan janji pun telah tertunaikan.
Yeiiiiiiiiiiiiiiiiiiii... Finally, satu rencana telah tunai. Honeymoon Backpacker. Why i choose it? It is not only about money, but it is about life advanture. Apalagi dilakukan bersama dengan seseorang yang spesial yang diharapkan akan tetap menjadi spesial di dunia dan akhirat. Insya Allah...

30 Jul 2012

Pulau Mahar

"Saya terima nikahnya Engku Putri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah, dengan mas kawin sebuah pulau beserta isinya dibayar tunai..." Jreng..jreng.............

Ucapan Akad tersebut di atas adalah hasil imajinasi dari mbak Dee An dalam blog-nya http://dieend18.multiply.com/journal/item/154 ketika memposisikan dirinya menyaksikan acara Ijab Qabul antara Sultan Mahmud dengan Engku Putri pada abad ke-18 silam yang kemudian saya kutip di sini. Hehe.. Suwon yo mbak Dee..

30 Mei 2012

Bukit Senyum

Bukit senyum adalah nama salah satu daerah di Batam. Saya tidak tau mengapa dinamai seperti itu. Karena tidak mungkin kan ada bukit yang tersenyum? Mungkin karena setiap orang yang datang di tempat ini akan melebarkan senyumnya setiap kali berdiri di satu titik di sini. Asumsi. Pemandangan laut dari ketinggian, luar biasa! Jadi, jika anda jalan-jalan ke kota Batam, maka inilah salah satu tempat yang patut untuk dikunjungi.

16 Apr 2012

Tips for Backpacker

Sebenarnya, saya belum bisa dikatakan seorang Backpacker. Soalnya saya jarang banget melakukan perjalanan jauh atau berkunjung ke daerah manalah. Hanya saja, saya punya pengalaman tiga kali ke Kuala Lumpur. Dari pengalaman tersebut, saya terus mengevaluasi diri, kira-kira apa yang kurang dari persiapan saya sebelum berangkat, kemudian hal-hal apa saja yang menjadi perhatian cukup besar selama masa travelling.
Setelah melakukan perenungan secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, maka dengan ini saya paparkan isi kepalaku;
1.   Survey lokasi. Maksudnya, survey lokasi via mbah Google. Gali informasi sebanyak-banyaknya tentang daerah yang menjadi tujuan kita. Terutama mengenai jalur transportasinya, fasilitas atau wahana apa saja yang ditawarkan di tempat tersebut, kemudian dari tempat itu apakah masih ada lokasi wisata lain dan bagaimana cara mencapainya. Sehingga, ketika kita sudah berada di tempat tujuan setelah bosan dengan satu tempat maka kita tau akan melanjutkannya kemana. Jangan lupa mendownload peta, itu sangat bermanfaat.
2.   Setelah melakukan survey lokasi, buat Master Plan perjalanan anda. Jadi tidak ada lagi namanya tiba masa tiba akal yang pada akhirnya menambah budget pengeluaran tak terduganya. Dengan adanya Planning tentang tempat apa saja yang mau dikunjungi, maka pastinya kita sudah bisa mem-breakdown biaya yang akan dikeluarkan dan barang-barang apa saja yang dibutuhkan. So, Insya Allah kita dak bakal menemui cerita kehabisan duit di Negara orang. Wah..masalah itu..
3.   Hunting Ticket Promo. Nah, hal ini sangat penting. Entah itu mau penerbangan lokal ataupun domestik, pokoknya harus rajin berikhtiar. Untuk penerbangan Lokal, CitiLink yang paling banyak mengeluarkan ticket promo yang menggiurkan. Klo domestik, Airasia tentunya. Silahkan me-like fanspage maskapai tersebut di Facebook dan registrasikan emailnya, dengan begitu kita bakal selalu dapat info ter-updatenya.
4.   Seni mengemas Backpack. Mengisi Ransel pun ada seninya. Usahakan mengemas barang-barang sepraktis dan sefleksibel mungkin karena kebanyakan penerbangan murah hanya mengijinkan maksimal 7kg barang bawaan masuk ke dalam kabin. Jadi yang dibawa yang penting-penting saja. Mengenai jenis Backpack-nya, usahakan yang mempunyai Roda. Jadi kita tidak perlu menggendong Ransel sepanjang waktu.
Barang-barang yang perlu diperhatikan, seperti;
-     Carrier atau Backpack kecil yang bisa digunakan di dalam kota. Jadi, semua dokumen-dokumen penting ada di dalam tas yang satu ini, sehingga kita tidak perlu bolak-balik membuka Ransel Gede’nya pada saat pemeriksaan di Imigrasi.
-     Pakaian secukupnya.
-     Dokumen-dokumen penting, seperti Passport, Ticket pesawat, Boarsing Pass dan KTP.
-     Peralatan mandi yang dipack dalam Toiletries. Kalau rencananya menginap di Hotel, tidak perlu membawa handuk. Atau bawa saja kain lap kanebo sebagai pengganti handuk.
-    Obat-obatan seperti obat sakit kepala, Fever kali aja nanti demam. Balsem, buat bahan pijat dan Sunblock. Multivitamin juga penting.
-     HP, Camera dan Charger-nya. Klo bisa bawa 2 HP dan batery cadangan. Bawa I-Pad lebih baik lagi. Tidak perlu membawa Laptop. Itu kan sangat membebani. Jangan lupa bawa juga Universal Converter karena tiap-tiap negara biasanya memiliki colokan listrik yang berbeda.
-     Jangan lupa bawa print out itinerary dan dokumen pendukung lainnya seperti Peta, reservasi penginapan, dll.
-     Pulpen, ini sangat penting pada saat mengisi kartu Imigrasi.
5.   Partner travelling. Jangan menyepelekan urusan ini. Memilih partner travelling bisa sederajat pentingnya dengan memilih pasangan hidup. Mengapa? Karena dia akan menjadi pertner dalam kondisi apapun, harus bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, dibutuhkan sikap toleransi dan empati yang tinggi juga sikap kedewasaan. Jika anda merasa egois maka jangan memilih orang yang egois pula, klo kondisinya mengharuskan dengan orang egois maka jangan hanya berdua, tapi tambahlah personil sehingga jika ada masalah, minimal ada yang bisa menengahi.
6.   Confort Zone. Jangan terpaku pada wilayah aman dan nyaman. Dimana-mana yang namanya travelling ala backpacker, pasti sangat rawan dengan yang namanya ketidaknyamanan dan keterbatasan. Kalau tidak mau capek, tidak mau repot, tidak mau menderita sedikit dan mau berhedon ria, maka tidak usah Backpackingan. Lebih baik tinggal di rumah dan tidur nyenyak atau silahkan memakai jasa agen  Travel.
7.   MENABUNG!!!
Semoga tips-tips di atas bermanfaat. Dan ingat, yang terpenting untuk selalu diperhatikan ketika memilih bertravelling ala backpacker adalah mengenai MENTALITAS. Di sinilah letak ujian terbesarnya dimana kita dituntut untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab serta menanggalkan semua kenyamanan yang didapatkan dari istana orang tua kita.
Okke..Cukup sekian. Salam Backpacker!!!

12 Apr 2012

BACKPACKER; MALAYSIA

Awalnya, saya hanya berencana jalan-jalan ke Singapur. Karena saya belum familiar dengan kondisi Singapur, makanya saya berinisiatif mengajak seorang teman, namanya mbak Ika tapi kami punya panggilan akrab yang cukup aneh, “BRO”. Begitulah sapaan kami baik ketemu secara langsung maupun dalam bahasa sms, chatting atau di FB.
Mbak Bro ternyata lebih kepengen ke Kuala Lumpur dibandingkan ke Singapur, maka akhirnya saya meng-iyakan saja dengan syarat berangkatnya di 5 - 8 April saja, bukan maret 2012. Maklumlah, sebagai anak rantau tentunya butuh waktu juga buat menabung jika ingin melakukan perjalanan yang budget-nya di atas 1juta rupiah.
Sebenarnya, akhir tahun 2010 lalu kami sudah pernah ke Kuala Lumpur tapi waktu itu belum puas mainnya. Kebetulan mbak Bro penasaran melewati jalur Batam – Singapur – Johor – KL. Lagi-lagi saya mengiyakan ide mbak Bro tersebut. Toh tidak ada ruginya, lumayan kan buat mengembalikan memoriku yang sudah hilang ketika beberapa tahun yang lalu pernah melalui rute tersebut. So, finally... We did it!!!
BATAM – SINGAPORE
Malam sebelum berangkat, semua kebutuhan perjalanan sudah saya Packing ke dalam ransel. Kamis, 5 April 2012 pukul 17.30 WIB seharusnya kami sudah berada di atas Ferry. Tapi berhubung kami masih harus ngantor di hari tersebut, karena sesuatu dan lain hal akhirnya kami berangkatnya pukul 18.40 WIB. Saya pribadi berencana meninggalkan kantor pukul 15.00WIB, tak disangka Pak Boss yang kebetulan sedang ngantor di Kuala Lumpur nelpon untuk membantu menyelesaikan pekerjaan teman kantor di menit-menit akhir rencana kepulangan saya. Agak BT juga sih awalnya, tapi kemudian saya berusaha menyabarkan diri, “sabar, sabar, sabar!!! Ini baru ujian pertama”.
Dari tempat Kost, saya menuju ke Mega Mall (Pelabuhan Ferry) dengan Taxi, Rp. 40.000,-. Tiba di sana saya sempatkan untuk belanja di Hypermart beberapa kebutuhan mandi dan tidak lupa membeli air mineral dan UC1000. Ingat, anda membutuhkan asupan Vitamin setiap harinya. Namun, entah mengapa saya lupa membeli CEMILAN. Masalah!!!
15 menit sebelum keberangkatan Ferry, seharusnya kami sudah Check-In. Tapi mbak Bro telat karena terjebak Meeting di kantornya. Ah, sudahlah!!! Saya tidak boleh mengeluh, apapun yang terjadi, itu adalah kesepakatan antara hati dan otak saya sendiri dari awal. Akhirnya saya menelpon mbak Bro agar tidak usah meminta Boss-nya ngebut menuju Pelabuhan. Toh, masih ada pemberangkatan selanjutnya.
Sekitar pukul 20.50 Waktu Singapur kami tiba di Harbour Front (Waktu Singapur = WITA). Kami langsung menuju stasiun MRT yang akan ke Outram Park Statiun. Dari Outram Park, kami berganti kereta lagi yang akan menuju stasiun Kranji. Jarak stasiun ini cukup jauh, kira-kira 30 menit (+) waktu tempuhnya. Yah, setidaknya kami tiba di Kranji sekitar jam 10 malam waktu setempat.
Sebelumnya saya ingin membeli Card Link di Singapur, tapi sudah telat. Kartu ini sangat mempermudah siapapun ketika berjalan-jalan ke Singapur. Cukup men-charge beberapa dollar dan kedepannya tidak perlu lagi berurusan sama mesin Card selama kita masih memiliki saldo di dalam Card tersebut. Tapi karena telat, jadi terpaksa saya harus selalu membeli one way Card. Cukup repot. Pelajaran pertama: Selalu siapkan pecahan-pecahan kecil mata uang yang anda pakai demi kelancaran membeli tiket alat transportasi di manapun anda berada.
Oh yah, ticket Ferry Batam – Singapur = 42 SGD + 20SGD(Tax) untuk two way. 1 SGD = Rp.7.350,-. Saya pribadi dapat Free Ticket dari Perusahaan tempat saya bekerja and it’s include free tax. Jadi saya tidak perlu mengeluarkan duit skitar 450ribu rupiah untuk biaya ticket Ferry. Harbour Front – Outram Park = 1.2SGD dan Outram Park – Kranji = 2.2SGD (klo gak salah ingat).
SINGAPORE - JOHOR
Untuk menuju Johor (terminal Larkin), ada dua jenis Bus yang digunakan. Boleh dengan Causeway Link (CW1) atau boleh juga SBS Transit No.170. Biayanya murah, hanya 1.9SGD (ingat pelajaran pertama di atas, atau kalau tidak silahkan pecahkan dulu uangnya kemudian ikut antri lagi). Tapi, antriannya minta ampun, secara malam sudah larut. Setelah antri hampir dua jam (kami mesti ikut 3x antri gara-gara tidak tau pelajaran pertama di atas), akhirnya kami berhasil menumpangi Bus SBS Transit no.170.
Dari Singapur, kita harus melewati Check Point terlebih dahulu. Di sini kembali Passport diperiksa oleh Keimigrasian Singapur sebagai tanda bahwa kita akan meninggalkan Singapur. Kemudian kembali menuju Bus yang lagi-lagi antriannya sangat panjang. Oh yah, Struk pembayaran yang 1.9SGD tadi jangan sampai hilang yah, soalnya nanti diperiksa pas mau naik Bus lagi. Tidak mesti menaiki Bus yang sama sebelumnya, yang penting jenis dan nomornya sama. Pelajaran kedua: Malu bertanya pasti menderita. Jangan sampai salah ambil tempat antrian Bus yah, apalagi salah menuju tempat Bus Parkir.
Dari Check Point, kemudian menuju Imigrasi Malaysia. Kembali prosesnya sama dengan di atas. Pemeriksaaan passport, antrian Bus yang sama untuk menuju terminal Larkin. Kami baru tiba di Johor di atas jam 12 malam. Kaki sudah seakan tidak mampu menopang badan, bayangkan saja, dari Outram Park sampai ke Johor kami sekalipun tidak pernah kebagian tempat duduk. Subhanallah...
JOHOR – Kuala Lumpur
Setibanya di Johor, kami langsung mencari Bus yang akan menuju Kuala Lumpur. Tapi, harga ticket-nya diluar perkiraan, 45MYR yang normalnya hanya berkisar 29MYR – 32MYR. Tapi kami masih beruntung, penumpang setelah kami yang dengan Bus yang sama terpaksa membayar 60MYR. Pukul 12.45 Bus melaju ke Kuala Lumpur dan saya pun sudah hanyut di dalam tidur.
Tiba di Kuala Lumpur sekitar jam 4 pagi waktu setempat. Kali ini bukan di Terminal Pudu Raya atau pun Bukit Jalil, melainkan Terminal Bus baru yang sangat megah melebihi Bandara yang ada di Indonesia. Namanya Terminal Bersepadu Selatan (TBS) yang berada dekat dari statiun kereta Bandar Tasik Selatan. Kami langsung mencari surau (musholla).
Waktu sholat subuh-nya jam 6 pagi. Oh yah, Malaysia dan Singapur itu mengikuti jam WITA tapi waktu sholatnya sama dengan wilayah WIB. Jadi, tolong diingat yah. Apalagi jika anda sedang berpuasa, jangan sampai buka puasa-nya ikut jam WITA.
Saya sempat tertidur di surau, bahkan sampai ngorok kata mbak Bro. Kebetulan saya memang lagi off ibadah fardhu-nya. Sedikit saran buat kaum Hawa, jika kalian berencana melakukan perjalanan jauh, maka perhatikanlah siklus haid anda. Jangan membuat Planning di hari pertama atau kedua masa menstruasi, apalagi bagi anda yang merasa perih di awal-awal masa mens. Jangan sampai masalah ini membuyarkan rencana perjalanan indah anda.
Di terminal ini, kami juga langsung membeli ticket pulang ke Johor dengan pemberangkatan Ahad, 8 April 2012 pukul 12 siang dengan harga normal, 31MYR. Kami disuruh check-In 30 menit sebelum jam pemberangkatan.
BATU CAVES TEMPLE

Jam 7 pagi waktu setempat, kami langsung menuju stasiun kereta Bandar Tasik Selatan – KL Sentral – Batu Caves (2.2 MYR). Untuk menuju Batu Caves, kita harus berganti kereta di KL Sentral. Ingat pelajaran kedua di atas, bertanyalah!!!
Ternyata, tempat wisata Batu Caves Temple ini tepat berada di dekat stasiun kereta. Jadi cukup berjalan kira-kira 50 meter dan kita sudah sampai di sana. Boleh dibilang tempat ini adalah wilayah komunitas India di Kuala Lumpur. Di sini kita bisa melihat ritual sembahyang mereka, yah..samalah dengan yang di Film-Film India yang biasa kita nonton.
Di sini ada patung Hanoman dan satu lagi patung Raksasa berwarna emas. Sebenarnya kami sudah sangat lelah, tapi tanggung juga kalau lihat-lihatnya hanya setengah-setengah. Akhirnya kami pun ikut menaiki tangga yang entahlah berapa tingginya untuk memasuki Gua yang ada di atas bukit.
Saya sangat senang dengan pemandangan yang ada di Gua ini, yah, meskipun sangat terganggu dengan aroma pipis Monkey yang berkeliaran di sekitar Gua. Ditambah lagi aroma kemenyan. But it’s OK. This is worderfull place to go, i think.
BUKIT BINTANG
Siang sudah mematang, perutpun sudah meminta haknya. Kami kemudian langsung membeli ticket kereta menuju Bukit Bintang (4.2MYR), tempat dimana kami akan mencari Penginapan. Dari stasiun Batu Caves ke KL Sentral terlebih dahulu. Dari KL Sentral kami mampir di Pasar Seni. Kami menuju Centra Market. Di sini adalah salah satu pusat tempat penjualan suovenir khas Malaysia. Rencananya kami belum mau belanja-belanja tapi hanya ingin mengambil Peta Wisata, sayang stock Peta yang paling lengkap-nya sudah gak ada lagi.
Dari stasiun Pasar Seni ke stasiun Masjid Jamek. Di sini kami sempat kebingungan dan mesti bolak-balik beberapa kali hanya karena bingung bagaimana caranya ke Bukit Bintang. Banyak waktu yang terbuang percuma di sini, apalagi tenaga. Saya sempat agak tidak enakan sama mbak Bro, kan Bukit Bintang boleh dicapai dari dua arah, boleh dari stasiun Titiwangsa kemudian transit Monorail atau dari stasiun Hang Tuah transit Monorail. Tiba di stasiun Titiwangsa, saya pengennya langsung ke gerbong Monorail, tapi mbak Bro malah mau ke stasiun Hang Tuah, itu artinya kami harus kembali lagi dan melewati stasiun Masjid Jamek lagi. Saya harus sabar!!! Saya ikut apa kata mbak Bro dan pada akhirnya dia menyadari kalau rute yang dia pilih tidak efektif. But, let’s forget it. We are here for having fun, right!
Di Bukit Bintang, setelah keluar dari stasiun kereta. Kami menyebrang terlebih dahulu ke arah McD, bukan buat cari makan tapi mau cari penginapan terlebih dahulu. Sebelumnya kami sudah beli makan siang di stasiun Masjid Jamek, 10 MYR dan karena kakiku sakit jadi saya memilih beli sendal jepit, 10 MYR juga. Kami kemudian belok kiri dari arah McD, yang sejajaran dengan KFC. Tak lupa saya mengambil foto-foto daerah tersebut terlebih dahulu. Pelajaran ketiga: Ambillah gambar daerah yang anda datangi sebagai penanda. Insya Allah, ini sangat berguna ke depannya.
Tanpa perlu banyak bertanya, kami langsung memilih hotel Putera Bintang untuk double bed dengan harga 77MYR/hari, kami membookingnya 2 hari = 154 MYR. Mbak Bro langsung mandi, saya malah langsung memijat badan sendiri. Saya tau saya bukan pejalan kaki yang baik, makanya saya sudah menyiapkan balsem yang akan saya gunakan sebagai bahan pemijat. Alhamdulillah, lumayan banget loh khasiatnya. Kaki-kaki yang sudah pegal semua, persendian yang seakan sudah pada remuk, akhirnya sedikit kembali memperoleh kekuatan setelah dipijat.
Setelah Asar, kami hanya berencana jalan-jalan santai di sekitaran Bukit Bintang saja. Di sini banyak Mall, banyak hotel dan banyak restoran. Kami memilh makan di BB Bistro, letaknya di samping BB Plaza. Makanannya enak-enak loh. Tapi kalau buat kantong Backpackeran, saya sarankan jangan makan di sini. Cukup mahal juga, tapi cita rasanya dijamin anda tidak akan menyesal mengeluarkan duit lebih. Di sini saya menghabiskan 16MYR untuk nasi ayam dan air kelapa muda. Kemudian di malam berikutnya, kami kembali makan di sini. Dan lebih mahal lagi kenanya Bo... 25MYR, maklum lagi malam minggu euy, ada hiburan malamnya, mungkin karena itulah jadi harga-harganya pada naik semua.
Chin Swee Temple at GENTING HIGHLAND                                                        
Berbicara tentang Genting Highland, sepertinya tidak perlu terlalu banyak-banyak. Di tulisan saya sebelumnya sudah pernah membahas ini. Saya cuman tertarik sama Kuil yang letaknya kira-kira 1 km dari pusat Genting. Dari genting, kita bisa menumpangi Bus Pesiaran (Bus Pariwisata) ke kuil tersebut. Gratis kok. Waktu beroperasinya setiap 30 menit sekali.
Kalau kalian penggemar Film “White Snake Legend”, pasti penasaran dong melihat yang namanya Pagoda secara langsung. Kuil ini berdiri kokok di atas lereng batu. Yang meskipun kuil ini masih berada di bawah bukit tempat berdirinya Resort World Genting yang terkenal itu, tapi tetap saja pemilihan posisi pembangunan kuil ini cukup menarik. Sebagai orang yang bergelut di dunia Teknik, tentunya ini sangat menarik, apalagi buat kalian yang punya basic sebagai Arsitek.
Udara sejuk dan kabut tipis semakin menambah romantisme tempat ini. Kabarnya kuil ini selesai dibangun selama 18 tahun. Dan kabarnya lagi, Kuil ini di bangun oleh alm. Tan Sri Lim Goh yang juga sebagai pendiri dari Genting Resort yang membangun kuil ini sebagai bentuk dari kesyukurannya atas keberhasilannya membangun sebuah karya megah di atas bukit. Katanya sih kuil ini sangat mirip dengan yang aslinya di Penglai, Fujian, China..
Bangunan ini dipenuhi dengan patung-patung yang seakan berbicara pada kita tentang sebuah sejarah. Sudah lazim bagi kita, bagaimana masyarakat china yang selalu membuat segala sesuatunya juga dengan segala philosofinya. Tapi saya belum sempat cari infonya. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul di Kepala, tapi mau diapa lagi, gak ada tour guide yang bisa menerjemahkan semua pemandangan mistis yang ada di sana.
Biaya ke Genting cukup murah. Kami mengambil Bus dari terminal yang ada di Titiwangsa, 5.9MYR. Di sana beli makan siang 10.5MYR, naik cable car/Skyway 6MYR dan ticket Bus kembali ke KL Sentral 6MYR. Buat yang penasaran untuk merasakan atmosfir menaiki Skyway, yang paling memacu Adrenalin sih pas naik Skyway dari bawah ke atas. Hanya saja, kalau menggunakan rute ini, antriannya panjang banget. Tapi kalau dari atas ke bawah, kita tidak akan mengalami nasib buruk terjebak dalam antrian yang panjang. So, the choice is in your hand.
KLCC = TWIN TOWER = MENARA KEMBAR = GEDUNG PETRONAS
Tempat ini juga tidak perlu diceritakan panjang lebar. Semua orang juga tau meskipun belum pernah ke sana. Gila-nya yah, kami sampai dua season ke KLCC, sabtu sore dan minggu pagi. Menariknya, akhirnya setelah saya berkali-kali ke Malaysia, akhirnya saya menemukan cara mengambil Photo dari angle yang benar.
Butuh 4 kali ke KLCC bagi saya untuk mendapatkan photo keren di sini. Maklum saja, kamera yang kami gunakan masih yang digital biasa. Bukan kamera yang harganya 5 juta ke atas. Hehehe...
Saya kasi tau caranya yah, silahkan berpose ala gaya lo di bagian paling ujung kolam air mancur bagian terluar gedung. Kemudian dekatkan kamera ke object dengan mengangkat tangan setinggi dan senyaman bugi sang juru potret. Jadi kedua gedungnya keambil dan si object juga keambil close-up. Gak macam tarzan sama monyetnya lagi. Hohoho...
Oh yah, kalau dari stasiun KL Sentral, naik LRT langsung sampai di KLCC. Biayanya hanya 2.2MYR. Tiba di stasiun KLCC, perhatikan saja tanda EXIT. Soalnya stasiun ini berada di bawah tanah di sepanjang perjalanan dari stasiun Masjid Jamek.
MASJID JAMEK
Finally, dreams come true. Hal yang paling ingin saya kunjungi di Kuala Lumpur sendiri adalah Masjid ini. Sayang, saya tidak bisa menunaikan sholat berjamaah di sini. Tapi, tentunya saya datang ke sini dengan membawa sebuah doa khusus. Penasaran?
Masjid ini dibangun pada tahun 1909 dan merupakan Masjid tertua di kota Kuala Lumpur. Sebagai informasi, bangunan ini terinspirasi dari seni bangunan Moghul dari utara India dan di-Arsiteki oleh Arthur Benison Hubback. Katanya, Masjid ini hampir mirip dengan Masjid Jamek yang ada di Cordoba, Spanyol. Hmmm...Jadi penasaran ke Cordoba.
Selain menikmati keindahan arsitektur dari Masjid Jamek ini, di sini juga ada free wifi. Lumayan untuk saya bisa meng-upload foto-foto ke Facebook. Tak jauh dari Masjid ini, sekitar 50 meter, setiap malam minggu dibuka pasar malam di sini. Jadi bagi anda yang hobby belanja, mungkin di sini adalah salah satu tempat yang bisa saya rekomendasikan.
GOING HOME, BATAM
Hari terakhir di Kuala Lumpur, tak banyak yang kami lakukan. Kami hanya Check Out dari Hotel jam 7 pagi dan langsung menuju KLCC. Setelah puas berphoto ria di KLCC kami memutuskan untuk segera ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Kami bertolak dari stasiun KLCC menuju KL-Sentral dengan harga 1.2MYR untuk kemudian transit ke stasiun Bandar Tasik Selatan dengan menggunakan kereta express, 4.2MYR. Kereta ini jugalah yang digunakan jika ingin menuju Bandara KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Berbeda jika anda adalah pengguna ticket Air Asia, maka anda akan menggunakan Skybus yang ada di stasiun KL Sentral juga menuju Bandara LCCT (Low Cost Carier Transport).
Masih ada waktu untuk mengisi perut. Kami memilih sebuah Food Court di Terminal Bersepadu Selatan. Saya memilih masakan ala Thailand di Thailand Corner, dan rasanya juga sangat enak. Harganya 10.5MYR + air minineral + Orange Juice. Murah kan???
Ada yang unik dari Food Court tersebut. Jadi pembayarannya dilakukan dengan sebuah Card yang sebelumnya diisi di sebuah counter. Kalaupun ternyata ada lebihnya, maka setelah Card tersebut dikembalikan maka uang kembalian kita juga akan diberikan saat itu juga. Tapi jika kurang, maka charge dulu saldonya. Agak ribet juga sih, tapi kalau difikir-fikir keren juga.
Tepat jam 12 siang waktu Kuala Lumpur, kami langsung bertolak ke Johor dengan menggunakan Bus yang terbilang mewah. Salah satu hal yang membuat saya tertakjub dengan Malaysia adalah konstruksi jalan raya yang ada di sana. Sepertinya pemerintahnya memang sangat consern dengan pemeliharaan dan perbaikan infrastruktur secara terus menerus. Drainasenya pun sangat tertata rapih. Entahlah, di sana sering banjir atau tidak, tapi di sepanjang perjalanan pulang yang ditemani oleh hujan deras dengan petir menyambar-nyambar, tak satupun daerah yang terlihat banjir.
Mata kita juga hanya akan dimanjakan dengan perkebunan kelapa sawit selama berjam-jam perjalanan Kuala Lumpur – Johor. Sekali waktu saya melihat perkebunan buah Naga. Dari setiap sisi perkebunan kelapa sawit, semuanya hampir dipenuhi dengan pohon jati. Jalanan sangat bersih, mulus tak bergelombang dengan lobang seperti di Indonesia. Rumput-rumput berdiri rapi dengan hijau yang sedap di pandang mata.
Setiba di Johor, setelah mbak Bro Sholat, kami langsung menuju Singapur dengan menggunakan Bus Causeway Link. Murah banget, hanya 1.4MYR untuk sampai ke stasiun Kranji. Prosesnya sama saja ketika dari Singapur menuju Johor. Hanya saja, perlu diingat. Ketika berada di Centre Point, Isi Card terlebih dahulu yang sama dengan Card sewaktu berangkat dari Batam. Kalau tidak, rugi ikut antrian panjang karena pasti bakalan disuruh ambil Card tersebut kemudian mengisinya.
Dari Kranji, kami langsung menaiki MRT menuju Jurong East, kemudian ganti kereta lagi menju Outram Park kemudian berganti lagi untuk ke Harbour Front. Alhamdulillah, kami masih mendapatkan Last Ferry menuju Batam, pukul 21.40 waktu Singapur. Dan akhirnya saya tiba di Kost tepat jam 11 malam WIB. Subhanallah..
HIKMAH
Rasanya, semua perjalanan yang kita lakukan selama hidup akan sia-sia jika kita tidak mampu mengambil hikmah daripadanya. Esensi dari sebuah perjalanan bukanlah terletak pada cuci mata atau refreshing atau apalah orang menyebutnya. Tapi lebih pada kontenpelasi diri pribadi.
Masih ingat kan dengan tips dari sahabat Nabi Umar Bin Khattab tentang bagaimana kita bisa dikatakan mengenal seseorang? Iyyap, salah satunya adalah kita pernah melakukan perjalanan jauh dengan orang tersebut. Sebenarnya, dengan melakukan perjalanan jauh semua syarat yang dikatakan oleh Umar Bin Khattab sudah terpenuhi.
Kami menginap bersama, jadi otomatis mbak Bro sudah hapal banget gimana diriku kalau lagi tidur. Masalah keuangan, tentu saja kami harus bisa saling berbagi. Kadang-kadang saya tidak punya pecahan kecil tapi mbak Bro punya, ataupun sebaliknya. Terkadang kita dapati teman yang yang tidak mau atau malas menggunakan uangnya terlebih dahulu padahal kita keburu waktu. Ada juga jenis teman yang sangat menikmati dibayarkan tanpa merasa punya beban untuk membayarkan balik. Dan ada juga tipe teman yang asli cueknya minta ampun, duit gue duit gue, duit elu yah duit elu, DLL. Tapi khusus buat mbak Bro, saya paling suka dengan dia kalau masalah keuangan. Kebetulan kami punya style yang sama dalam hal ini. Makanya saya memilih dia sebagai partner.
Tentunya perjalanan kami tidak mulus begitu saja. Ada saja momen yang bisa memancing emosi, tapi alhamdulillah, selama 4 malam 3 hari perjalanan ini, tidak ada bumbu-bumbu ngambekan atau berselisih faham diantara kami. Saya yakin, pasti ada beberapa sikap saya yang mengganjal di hati mbak Bro, tapi saya berharap semoga dia memaafkan semuanya. Isnya Allah, saya pun sebaliknya.
Dan yang paling penting dari semua ini adalah, dengan bertambahnya langkah kaki menjejaki bumi Allah, dan bertambahnya wajah ini bersapa dengan wajah-wajah baru dengan latar belakang agama, suku, bangsa dan bahasa yang berbeda, saya sangat berharap agar pengalaman ini bisa semakin mengikis ke-EGOIS-an yang ada di dalam diri.
Tips terakhir: Jika anda merasa mempunyai penyakit Egois tingkat tinggi, maka banyak-banyaklah melakukan perjalanan jauh. Insya Allah, ini sangat efektif untuk mengikis penyakit tersebut. Believe it, it’s work!!!

Total Pengeluaran: 10SGD + 335MYR = 1.102.300IDR (Exclude Ferry Ticket)

3 Apr 2012

PREPARE FOR MY BACKPACKER!

H-2 for Kuala Lumpur. Meskipun kunjungan kali ini sudah untuk yang ke-3 kalinya, tapi bagi saya semuanya butuh perencanaan yang matang. Segala sesuatunya itu butuh direncanakan, tidak boleh asal-asalan supaya bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Efisiensi dan efektifitas mesti diperhatikan, kalau dulu masih sering kesasar kemana-mana, mungkin sekarang sudah bisa diminimalisir sehingga waktu yang terbuang percuma bisa ditekan. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan pun bisa diminimalkan juga.
Kali ini lagi-lagi saya akan mengambil rute Batam – Singapur – Johor – Kuala Lumpur. Beberapa tahun sebelumnya, saya sudah pernah melalui rute ini bersama dua orang teman, tapi belum sempat dituliskan ke dalam blog ini, eh..saya malah sudah lupa jalan ceritanya. Makanya saya memilih rute ini biar ingatannya fresh lagi.
Sebagai persiapan awal, tentunya saya rajin bertanya ke embah GOOGLE. Tempat-tempat apa saja yang wajib dikunkungi di sana, kemudian masalah penginapan, mana yang paling cocok di kantong dan juga dekat dari sarana transportasi. Saya sudah mengumpulkan beberapa Peta, insya Allah ini akan sangat membantu. Teringat perjalanan tahun 2010 lalu, ternyata tidak ada satu pun teman saya yang kefikiran membawa Peta. Untungnya saya sudah mempersiapkan semuanya. Dak kebayang mesti berapa kali kesasar kalau saja kami tidak membawa Peta.
Selain dari itu, hal yang paling penting untuk dipersiapkan jauh-jauh awal sebelumnya adalah DUIT. Sebaik apapun sebuah rencana itu, kalau tidak punya duit pasti akan susah juga mengeksekusinya. Yah, kalau kita adalah orang yang punya kecenderungan lebih besar pada kegiatan Travelling, maka jangan lupa selalu menyisihkan budget bulanan buat ditabung. Jadi, pas dapat waktu libur, kita tidak perlu pusing mikirin dari mana dapat biaya. Hehehe...
Kemudian, siapkan fisik dan mental. Fisik harus selalu kuat ketika melakukan perjalanan ala backpacker, karena transportasi yang digunakan kebanyakan bukan lewat langit, tapi jalur darat. Dan juga tentunya banyak pakai kaki, tidak pake roda. Jadi, yah harus kuat. Mental juga mesti disiapkan, karena segala kemungkinan bisa saja terjadi. Tidak semua akan berjalan sesuai dengan rencana kita, jadi dari awal kita sudah mesti memahamkan hal tersebut kepada diri kita sendiri. Jadi, nantinya dak bakal shock ketika ada hal-hal yang terjadi diluar rencana yang sudah dipersiapkan.
Jika melakukan perjalanan dengan teman, maka harus ada konsep yang matang dan telah disepakati bersama. Jadi apapun yang terjadi, nantinya tidak akan ada yang saling menyalahkan apalagi sampai ngambek-ngambekkan. Ini sudah biasa terjadi ketika melakukan perjalanan dengan orang lain, jadi diperlukan kedewasaan dari masing-masing pihak.
Terakhir, minta ijin sama orang tua atau keluarga terdekat. Biar tidak ada beban di hati. Tentunya akan berbeda rasanya kalau kita pergi dengan hati yang galau dengan hati yang tenang. Tapi minta ijinnya sama orang-orang tertentu saja, nanti malah kebanjiran request-an oleh-oleh pula. Padahal ceritanya kan kita mau pergi menghabiskan duit, bukan belanja-belanja. Kecuali kalau dompetnya tebal, yah tidak apa-apa juga.
Terakhir, just enjoy the show and find peace of your journey. Rugi melakukan banyak perjalanan di bumi Allah ini kalau kita tidak bisa mengambil hikmah dari setiap perjalanan itu. Ok! Have a nice trip.

8 Jan 2011

Oleh-oleh Buah Fikiran dari Malaysia…


Yeah…Malaysia Again!
Alhamdulillah, suatu kesyukuran yang teramat dari hatiku yg senantiasa kuucapkan kepada Sang Penggenggam hidup untuk setiap nikmat nafas, rejeki dan nikmat tak terbatas-Nya yg lain. Tak sabar menggambarkan perasaan hati di atas lembaran putih ini, menumpahkan setiap kata yang muncul difikiran akan apa yang mata ini saksikan selama perjalanan ke Malaysia beberapa waktu yang lalu.

FINAL AFF ZUZUKI CUP 2010 Leg I di Bukit Jalil merobohkan pertahananku untuk tidak melakukan perjalanan jauh diakhir tahun ini. Sungguh sangat menarik hati, seperti magnet yang terus menerus menarik otakku untuk berkompromi dengan fikiran dan hati untuk mau menjadi salah satu dari 15.000 kuota penonton untuk Indonesia. Sebenarnya kondisi financial saat itu tidak memungkinkan, namun karena keinginan yg amat kuat akhirnya kuputuskan melakukan deal-dealan dengan Kak Vina (seorang seniorku di kampus dulu dan sekarang masih aerumah). 400RM + 20SGD, Alhamdulillah sudah di tangan. Jumlah kami 7 orang yang berangkat ke Bukit Jalil. 

Dari rumah menuju Batam Centre Terminal Ferry, sebelumnya saya sudah booking tiket Batam – Johor 2 way untuk 7 orang jadi pas nyampe di Terminal Ferry tinggal nunjukin Passport. 1 Tiket = Rp. 370.000,- dan klo dalam mata uang Malaysia ternyata lebih mahal, RM140 (Rp. 406.000,-). Pelajaran pertama; Pastikan perbandingan harga dalam Rupiah dengan mata uang Daerah tujuan biar bisa dapat harga yang lebih murah. 

Setelah tiket di tangan, kami langsung menuju tempat pemberangkatan dengan menunjukan Tiket, Passport dan NPWP. Di bagian Imigrasi jg menunjukkan hal yang sama. Tapi klo mau lebih aman, sebaiknya Foto Copy KTP, NPWP dan bagian Lembar depan dan belakang Passport-nya biar lebih gampang klo nantinya dapat petugas Imigrasi yang agak cerewet. Ferry pun berangkat sekitar pukul 05.45 PM (Last Ferry), tiba di Johor ± pukul 08.00 PM (Waktu Johor), sejam aja dari Batam jadi ga begitu kerasa dah nyampe di Terminal Ferry Stulang Laut - Johor. 

Sedikit ada konflik waktu menaiki Ferry, salah seorang rombongan kami protes. “Kok Ferry-nya kecil? Sengaja yah pilih yang paling murah? Lain kali klo mau booking Ferry, ambil yang paling mahal aja…”. Diriku hanya tersenyum dan bilang klo aku dapat nomor agen Ferry ini dari Recepsionist kantor. Dia memang ngasih 3 nomor telepon, dan ketika saya nelpon agen pertama katanya saya boleh booking, yaa saya OK-kan saja. SELESAI! (Tapi dalam hati: Dughhh Mbak, coba ada sampan, trus gratis saya pasti pilih naek sampan tersebut… Hehehe)

Begadang di Johor
Kami langsung menuju Imigrasi di Terminal tersebut, prosesnya sama saja dengan Imigrasi di Batam. Setelah kami dari Imigrasi, kami jadi pada bingung… Selanjutnya kemana? Hehehe… Sumpah, saya tak tau prend. Kok Imigrasinya beda yah waktu saya dari Singapore dulu? (ya iyalah, satu lewat darat ke Johor dan sekarang pake Ferry.. Satu terminal Bus yang satunya lagi terminal Ferry. Garuk2 kepala..). Tapi sebelumnya bukan berarti ga ada konflik loh… Pas nyampe di Terminal Johor, waktu itu kan Ferry-nya sandar di dermaga. Nah, teman2 nanya ke saya. “Ki, ini dah nyampe Johor belum?”. “Aku ga tau mbak, aku kan baru pertama ini juga naek Ferry ke sini”. “Ini baru sejam perjalanan, tapi kata kamu 2 jam”. “Iya, tapi aku juga ga tau berapa lama pastinya, soalnya Mbak Dian (teman kantor yang biasa ke Johor dengan Ferry) bilang klo brangkatnya jam 6 sore nanti nyampe di sana jam 8”. Dan memang benar, di Johor sudah jam 8. Lebih cepat sejam dari waktu Batam. Jadi klo diitung2 tetap aja 2 jam kan??? Hehehe… (Kembali hanya hati yang berbicara, so what? Yang penting kan kita udah nyampe, masalah 1 jam ato 2 jam… kok mesti repot???... Astaghfirullah…)

Kami keluar dari Terminal Ferry setelah bertanya sama seorang pegawai di sana. Katanya, ambil taksinya di luar area Terminal aja soalnya klo ambil yang di dalam terminal kenanya bisa mahal (sama saja di Indonesia) dan pastikan ARGOnya ON. Biaya taxi antara 10RM-15RM ke Terminal Larkin. Kami berjalan sesuai Instruksi pegawai tadi, keluar dari gedung, belok kanan, lurus, kanan lagi sampe dapat simpang (perempatan). Intinya klo dah Nampak THE ZON, silahkan cari taxi menuju Terminal Larkin.

Sampe di Terminal Larkin kami langsung membeli kartu perdana sebanyak 2 buah, ini untuk mempermudah komunikasi kami nantinya dan kalo2 kami pisah jadi kita pada tau bisa hubungi ke nomor mana. Setelah itu kami hunting ticket Bus ke Kuala Lumpur. Apes-nya harga tiket pada mahal, rangenya dari 45RM - 60RM. Beda dari biasanya, Cuman 29RM – 32RM. Kenapa??? Karena hari libur (NATAL). Pelajaran kedua; Sebelum ke kampong orang lain, cari dulu info hari raya ato hari libur Negara tersebut. Soalnya klo bertepatan dengan hari libur, semua harga pada naik.

Bukan berarti tak ada masalah di sini. Kembali lagi saya mesti berdebat dengan beberapa orang dari rombongan kami. Masalah sepele sih, mengenai criteria Bus yang akan digunakan. “Cari yang paling aman”, kata seorang dari mereka. Saya sih cari yang paling murah. Hehehe.. Setelah survey, kita berembuk yang akhirnya diputuskan mengambil yg harganya 50RM. Plus, setelah sampe di Johor kita akan mencari penginapan. (WHAT???). Planning awalnya kita hanya akan nginap di Masjid, jd ga ada budget buat penginapan tapi akhirnya forum memutuskan untuk menyewa penginapan. (lagi lagi hati berkata, mbak..mbak, klo ada mobil truk yg bisa ditumpangi sampe ke KL n mandinya ntar di mall aja, gua tetap rela… Tapi, yah..menghargai keputusan forum. IKUT). Pelajaran ketiga: Sebelum melakukan perjalanan, samakan persepsi antar anggota rombongan. Mau model perjalanan yang kaya’ mana? Mau Backpackeran atau mau tour? Klo mau tour, sepertinya lebih enak klo ambil salah satu agen Travel.. he..

Jangan percaya sama orang India, 50% mereka adalah penipu. Supir taxi mengingatkan kami akan hal ini. Dia warga Malaysia keturunan China. Sebenarnya tak ada niat untuk menggeneralisir, tapi kenyatannya memang selalu begitu. Jadi teringat pengalaman pertama ke Kuala Lumpur. Kami harus merogoh kantong dalam-dalam untuk membayar taxi menuju Bandara khusus Air Asia, 326 RM bok… Sejuta klo dirupiahkan.. Masya Allah.. Belum kering air mata ini karena orang India (bukan karena nonton Film Bolywood yah), kami mesti begadang sampe jam 3 waktu setempat karena Bus yang akan kami pakai ke KL belum nyampe di terminal. Katanya sejam lagi, abis itu 30 menit lagi dan 15 menit lagi.. Huuuuhhh..dasar orang India. Jadi ingat rekan kerja yang juga orang India di kantor, Ok.. After Lunch, sorry tomorrow.. eh tungguin, beberapa hari berikutnya baru nongol, itupun klo sudah habis di-Fuck-in sm si Bos.

KBRI
Jam 7 pagi tapi matahari belum muncul, tiba di Bukit Jalil Terminal Bus (terminal ini hanya sementara berhubung terminal di Pudu Raya sedang direnovasi). Kami sholat subuh dan foto2 di luar Gedung Olahraga Bukit Jalil, kebetulan terminalnya dekat dari gedung olahraga jadi tinggal nyebrang aja. Beberapa tenda dagangan suvenir2 sepakbola dah buka ketika kami jalan-jalan di sekitar gedung tersebut. Setelah bertanya ke beberapa orang dimana tempat pembelian Tiket untuk Supporter Indonesia akhirnya kami mendapat kepastian bahwa membelinya hanya bisa di KBRI. Di Bukit Jalil ini jg ada stasiun kereta LRT, kami beli tiket LRT ke Stasiun Tun Razak, hanya 1RM. Sampe di Tun Razak, kami naik Taksi ke KBRI, 5RM. Di KBRI kami langsung beli Tiket, gak pake antri kok dan Tiket-nya masih banyak. Kami masuk TV loh… Global TV mewawancarai kami di sana dan dengan semangatnya kami menyanyikan lagu GARUDA DI DADAKU.

Kami mencari penginapan dan Alhamdulillah dapat, tepatnya di Jalan Imbi, dekat Pasar Raya dan Time Square. Hotel FUJISAN. 78RM (untuk 2 orang). Kami 3 orang perempuan jd bayarnya 90RM. Akhirnya ketemu tempat tidur juga, dan yang paling penting bisa terbebas dari beban ransel yang seakan mematahkan seluruh persendian dan tulang belakangku. Kami istirahat beberapa jam sambil siap-siap berangkat ke Genting Highland.

Jam 3 sore waktu Kuala Lumpur, matahari begitu menyengatnya. Sempat diserang rasa malas tuk beranjak karena kecapean, panas dan keuangan yang mulai menipis. Tapi setelah dihitung-hitung, Insya Allah cukup dan lagian bisa dapat pinjaman dari teman yang membawa duit lebih. Dan berangkatlah kami dengan penuh antusias. Bus yang menuju genting ada di Terminal Pasar Raya, jadi kami hanya butuh berjalan sekitar 150 meter dr hotel. Klo ga salah ingat, untuk Bus = 4,6RM dan untuk Skyway (naik kereta gantung) = 5RM.

Sepanjang perjalanan tak ada hentinya saya berdecak kagum. Tak sedetikpun kubiarkan diriku lalai dari perjalanan ini. Sungguh pemandangan yang sangat memanjakan mata. Di dalam kota, hampir tak ditemui rumah-rumah penduduk. Semua adalah gedung-gedung tinggi tersusun rapih, berdiri tegak seakan membisikkan kata dengan angkuhnya, “Bandingkan dengan Jakarta yang kalian banggakan”. Meskipun sy belum pernah ke Jakarta, tapi kondisinya sudah terbayang di mata dengan kesemrawutannya yang menyesakkan. Andai Pemerintah membangun Apartemen murah untuk masyarakat menengah ke bawah, betapa banyak masalah Jakarta yang bisa diatasi dengan system ini. Andai semua orang kaya tidak perlu mengambil banyak lahan tuk membangun Istananya di Jakarta, berapa banyak jiwa yang tidak perlu menggelandang bersesakkan di bawah jembatan. 

Perlahan meninggalkan kemegahan kota Kuala Lumpur memasuki daerah menuju Genting. Subhanallah, hutan-hutan yang indah terawat. Tiada tanda cacat sedikitpun, bahkan ranting yang patahpun seakan tak dibiarkan terjadi di hutan ini. Mataku lepas memandang hijaunya dunia, fikiranku kembali lagi ke Tanah Tumpahnya Darahku, Indonesia. Bagaimana dengan hutan-hutan yang ada di Bumi Pertiwiku? Setiap saat hutan-hutan kita digerogoti oleh tangan-tangan nakal anak negeri ini. Mereka rela menggadaikan hutan-hutannya demi memenuhi kepuasan perutnya. Dan penguasa negeri ini pun seakan tak peduli dengan kondisi tersebut, uang selalu menutup mata orang-orang yang memiliki hati yang miskin.

Wellcome to Genting Highland
Harus kuakui kawan, Malaysia bukannya selangkah lebih maju dari kita tapi Malaysia telah maju bebetapa langkah di depan kita. Mungkin saja sudah sangat jauh meninggalkan kita. Tapi saya tidak berkecil hati kok sebagai WNI, saya tetap bangga dengan Indonesiaku. (ya iyalah, emang ada Negara lain yang mau menerima saya jadi warganya, hehehe). Lagi-lagi saya mengutuk dalam hati pejabat-pejabat negeri ini yang telah membuat terjadinya kemiskinan dan kerusakan moral di setiap ruang Negeriku.. uhhhggghhh. Kembali lagi tentang pemanjaan mata, jalanannya bagus dan teratur dengan 2 jalur jadi tingkat kecelakaan bisa diminimalkan, fikirku.

Tak terasa kami sudah sampai di Genting, kira-kira 1 jam perjalanan… Eh lupa, kami nambah personel. Di Johor kami bertemu dengan sebuah keluarga yang terdiri dari Pasangan suami istri dengan 3 orang anak laki-lakinya yang bening-bening. Hehe… Ini perjalanan pertama mereka ke Malaysia. Mereka cuma pengen look around saja, beda sama kami yang memang niatnya mo nonton bola. Di Genting kami tibanya sudah agak sore, sebelumnya pastikan bahwa kita membeli terlebih dahulu tiket balik ke KL klo ga mau sampe nginap di sini. Rupanya kami kehabisan tiket, tapi katanya kami bisa membelinya di atas (atas mana??? Baca aja terus)..

SKYWAY!!! Entah di lantai 3 atau 4, lupa… Di  sini antriannya  panjang untuk menikmati permainan kereta gantung. Selama antri, mataku terus berwisata dari satu wajah ke wajah lainnya. Banyak banget orang-orang berwajah aneh di sini, itu menandakan bahwa yang berwisata ke sini datangnya dari berbagai Negara. Tapi banyak juga orang Indonesia, kami saja ada 12 orang. Belum lagi yang lain… Dan tibalah saatnya giliran kami menjadi penumpang angkutan ini. Bentuk keretanya sih udah kebayang di pelupuk mata, pasti kaya’ yang di film-film dan memang begitu adanya. Maksimal 8 orang saja untuk 1 kereta. Saya ikut dengan rombongan keluarga baru kami dan 2 orang lainnya adalah orang asing, klo liat tampangnya mereka adalah orang China. Allahu Akbar!!! Adrenalinku terasa meningkat, jantungku berdegup kencang. Rasanya sama ketika pertama kali saya naik pesawat. Hmmm.. Lagi-lagi kudapatkan moment dimana kurasakan keimananku meningkat. Entah perasaan takut atau perasaan apa, kecampur aduk dalam otakku. Terus menyebut Asma-Nya dalam hati dan menghadirkan wajah kedua orang tuaku. Ahh.. Kiki..Kiki…Kamu selalu begitu, baru ingat ortu klo sedang dalam kesulitan. Apalagi klo lagi gak punya duit, huuuuhhh… Pasti cepat banget tuh nelponnya ke kampong. Hehehe.. Emak, Pak.. Maafin anakmu yang manis ini…

Subhanallah!!! Sebagai anak teknik, pastinya ini membuat saya sedikit bertanya dalam hati dengan konstruksinya. Bagaimana dengan perhitungan kekuatan struktur tiap tiangnya, penentuan jarak antar tiang, jenis pondasi yang digunakan, kekuatan tali dan system kerja kereta ini. Sejauh pengamatan saya, kereta ini dijepitkan ke Tali. Talinya saja yang bergerak, keretanya fix di posisinya. Di setiap tiang ada katrol, mungkin teman dari teknik mesin bisa menjelaskan fungsi katrol tersebut. Sesekali keretanya berhenti, gak tau apa maksudnya. Apa untuk semakin memompa adrenalin para wisatawan atau memang ini adalah bagian dari prosedur safetynya. Bagi yang takut ketinggian, hmmm… senang klo bisa melihat wajah paniknya. Hehe.. Menyentuh dinginnya kabut, menikmati hamparan pepohonan hijau membuatku melupakan utang-utangku… Dan pastinya moment ini tidak sah rasanya jika tak mengabadikannya dalam gambar-gambar yang akan kuceritakan ke anak cucuku kelak. Klo ada umur panjang…

Saya lupa berapa jumlah tiangnya, mungkin lebih dari 20 tiang. Sampailah kami di sebuah gedung megah, gedung yang sebelumnya kami lihat di bawah ketika dalam perjalanan ke Genting. Sempat terbesit pertanyaan dalam hati, mungkinkah kami bisa menjejakkan kaki pada sebuah banguanan yang diselimuti kabut di atas puncak gunung itu??? Dreams come true… Rupanya inilah tujuan Skyway mendarat. Alhamdulillah, kaki telah menapaki bumi lagi. Selamat..selamat…

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa kami kehabisan tiket Bus ke KL jadi belinya di atas saja, dan yang dimaksud adalah tempat dimana kami menjejakkan kaki sekarang. Segera setelah sampe, sebagian langsung mencari loket tempat pembelian tiket Bus. Susah juga, tempatnya jauh dan sudah full booking. Loketnya bakal buka lagi jam 9 malam, dan its mean that kami akan sampe malam di sini. Ngeribas deh.. Jalan-jalan lagi mengitari mall sampe capek, lambung kembali memberi tanda untuk segera diisi. Kembali KFC menjadi pilihan.. Bosaaaannnnnnnnnnnn…

Di Genting ini terdapat Arena Permainan baik outdoor maupun indoor, Dufan-nya Jakarta lah. Tapi di sini lebih lengkap, jenis permainannya juga sangat variatif dan pastinya sangat menantang. Yah, cukup dilihat saja. Saya tidak berani mencoba, lagian waktu juga semakin mepet. Kelamaan di KFC sih, makanya gak sempat maen. Ada sih permainan yang mudah.. CASINO, he.. Di sini perjudian legal buat warga asing. Ada yang bilang klo inilah Las Vegasnya Malaysia. Tapi, maaf saja untuk pribumi..Ga boleh. Pintar juga nih pemerintah Malaysia, meskipun Negara monarki tapi mereka tau apa yang baik untuk warganya dan mana yang tidak baik buat warganya. Lagi-lagi kuacungi jempol deh..

Setelah makan kami langsung menuju tempat loket pembelian tiket Bus ke KL, di sepanjang perjalanan ke terminal Bus kami selalu menyempatkan tuk berfoto ria. Pokoknya berfoto sampe kameranya bosan melihat wajah-wajah cantik dan ganteng poetra-poetri kebanggaan Indonesia ini..huahaha..Gubrak..

Semakin malam, udara semakin menggila dinginnya. Alhamdulillah, sebagai seorang akhwat dingin yang saya rasakan pastinya tidak sebanding dengan mereka yang berpakaian agak terbuka atau tipis. Dan saya berkaos kaki, jadi beruntunglah kita yang berpakaian tertutup. :D
Lagi-lagi tak kubiarkan mataku terpejam dalam perjalanan pulang ke Hotel. Menikmati pemandangan kota KL dari atas ketinggian di malam hari, kontur jalan yang menurun dan berkelok. Hmmm..perputaran 1800, menegangkan sekaligus menyenangkan. Yang terbayang adalah Toraja, yah..perjalanan dari Toraja ke Palopo. Tidak jauh berbeda ketegangan yang dihasilkan. Tapi di sini tingkat safetynya 70% lebih tinggi dari Toraja ke Palopo. Jalanan yang cukup luas, 1 jalur dan semuanya memakai pembatas. Andai Toraja bisa seperti ini.. Harapku…

Bus berhenti di terminal, kami langsung menuju stasiun kereta dan mengambil kereta menuju stasiun Imbi. Sebenarnya lebih dekat seandainya kami memilih turun di stasiun Bukit Bintang, tapi karena kami belum tau jalan, yah gini deh jadinya, tersesat.. Setelah jalan beberapa menit dan tak ada tanda-tanda kami menemukan hotel kami, akhirnya kami bertanya pada pedagang yang kami temui di jalan. Alhamdulillah, sebelum meninggalkan hotel saya sempatkan mengambil foto-foto bangunan di sekitar hotel. Kami tunjukkan foto tersebut dan mereka langsung menunjukkan jalan, mereka sangat ramah. Bahkan mereka memberi kami 100RM. Subhanallah.. 

PETRONAS
Bila ada yang menyebut kata Malaysia pasti yang muncul di alam fikiran adalah Menara kembarnya atau gedung petronas alias Twin Tower bin KLCC. Akhirnya, saya bisa berdiri tegak di bawah menara kebanggaan Malaysia dan pastinya saya sudah punya bukti autentik dalam bentuk foto bahwa saya pernah menjejakkan kaki di sini. Sayang, kami ke sana agak siangan. Selain kami tidak kebagian tiket tuk naik ke gedung petronas, Matahari juga sedang memposisikan dirinya di tengah menara tersebut. Jadi foto yang dihasilkan tidak terlalu bagus karena cahaya matahari. Tapi tak mengapa yang penting puas foto-fotonya. 

Oh yah.. di sini security-nya resek banget, foto-foto di sisi kolam air mancurnya dianggap Offside. Berdiri di atas sisi-sisi taman bunganya juga dianggap Offside. Tapi cuek aja, selama securitynya masih berada sekitar 50 meter dari posisi kita.. Tancap aja.. Tinggal klik, jadi deh foto-fotonya. Harus pintar-pintar cari angel yang pas buat ambil foto klo mau kedua gedungnya ikut berfoto dengan dirimu. Dan pastinya dibutuhkan fotografer yang handal, minimal yang amatiran kaya’ saya lah.. hehehe

Karena lapar dan waktu juga sudah menjelang sore kami mencari makanan di Mall sekitar KLCC. Mmmmm…Setelah berhari-hari dengan KFC, akhirnya kami menemukan aneka makanan Indonesia. Emang dasar lidah orang Indonesia, dimanapun pasti cari makanannya sendiri. Harga makanannya juga relative murah dan rasanya Indonesia banget.

Berjalan mengitari mall membuat saya menciptakan takdir tuk bertemu dengan seorang yang cukup terkenal di Negeri ini, bapak Menpora, Andi Mallarangeng. Tak lupa kami berfoto ria dengan beliau. Dunia ini memang tak bisa ditebak, saya harus jauh-jauh ke Malaysia untuk bisa bertemu secara langsung dengan beliau padahal sama-sama berasal dari Kota Makassar. Forget it, beliau juga manusia biasa dan rakyat Indonesia jadi euphoria bertemu beliau tidak begitu tinggi. Biasa-biasa saja, malah kembali mengingatkan saya pada pejabat-pejabat yang korup yang selalu bikin geregetan setiap kali mendengar kata “Pejabat”.


SENI BERBELANJA DI PASAR SENI
Bagi yang melakukan perjalanan jauh, entah ke suatu daerah atau ke Negara lain pastinya gak sah rasanya klo tidak belanja. Di pasar seni inilah salah satu tempat yang baik dan bener tuk hunting souvenir yang murah meriah. Dari KLCC cukup naik kereta saja, boleh juga dengan menggunakan Bus. Tapi klo belum tahu jalan sebaiknya menggunakan kereta. Naik taxi juga boleh bagi yang memiliki Ringgit yang berlimpah. Hehehe..
Malu bertanya, jalan terus sampe capek. Setelah bertanya ke beberapa orang di sekitar KLCC, akhirnya kami menemukan stasiun kereta menuju pasar seni. Sampai di stasiun pasar seni, kami berjalan sekitar 200 meter untuk sampai ke tempat tujuan.
Di sini kita bisa menemukan aneka souvenir khas Malaysia seperti gantungan kunci Twin Tower, Pin dan masih banyak lagi. Baju kaos untuk oleh-oleh juga banyak, mulai dari harga termurah sampe yang saya mikir tuk membelinya. Dari yang kualitas tinggi dan berkualitas rendah. Batik juga banyak di sini.

Yah..silahkan dinikmati perbelanjaannya. Jangan coba-coba beli Ringgit dengan menggunakan Rupiah di sini. Mahal tau, lebih baik pake Dollar kalo punya soalnya lebih murah bahkan lebih murah lagi dibandingkan  ketika menukarkan Rupiah ke Ringgit sewaktu masih di Indonesia.
Puas belanja, teman-teman maksudnya.. lagi-lagi saya hanya memuaskan mata tuk melihat-lihat. Belanja sih, tapi cuman dikit. Hehe.. kami kembali ke stasiun kereta untuk segera ke Bukit Jalil. Saatnya berpisah dengan keluarga baru kami selama beberapa hari di Malaysia. Will miss u all..

Dalam perjalanan ke Bukit Jalil, kami sempat singgah di stasiun Masjid Jamek untuk melakukan transfer kereta. Sayang hanya transit, padahal besar keinginan hati untuk mengunjungi Masjid Tertua di kota KL tersebut. Waktu semakin senja, di atas kereta yang sesak dengan pendukung Indonesia dan Malaysia berbaur dalam satu Train. Atmosfir kompetisi mulai terasa mengusik jiwa nasionalisme. Cieilehhh..

AROMA POLITIK DI BUKIT JALIL
Hiruk pikuk dan suara terompet membahana di seluruh penjuru Bukit Jalil. Ada rasa takut bercampur haru di dalam hati. Takut bukan karena merasa akan mendapatkan perlakuan buruk dari supporter Malaysia, tapi takut menjadi saksi kekalahan Indonesia untuk kali pertama di musim ini. Terharu karena bangga dengan pencapaian diri, sejauh ini melangkah untuk memberikan sedikit penambah volume teriakan kata INDONESIA di lautan penduduk Malaysia.

Kami istirahat sejenak di Masjid Bukit Jalil yang letaknya di sekitar Stadion Olahraga. 1 lagi yang membuat saya senang dengan Negeri Jiran ini, ruang sholat dan tempat mengambil air wudhu laki-laki dan perempuan dipisah pada tempat-tempat umum. Entah itu di Mall, di Bandara atau di Terminal Bus. Jadi gak ada kekhawatiran bakal kelihatan auratnya oleh lawan jenis.

Rasa lelah membuat saya tidak amanah. Seorang teman di Batam menitipkan barang untuk seorang temannya yang juga akan nonton bola di Bukit Jalil. Saya sudah menelponnya berkali-kali, menunggunya selama berjam-jam tapi dia tak muncul-muncul juga. Tanpa fikir panjang saya meletakkan barang tersebut di dalam Masjid dan kemudian ngirim sms ke dia untuk memberitahukan posisi titipannya. Dia tidak ingin berpisah dari teman-temannya, begitupun saya. Pelajaran keempat; jika ingin melakukan perjalanan jauh, hindari membawa titipan jika anda tidak ingin susah. Kabar terakhir yang saya dengar, katanya barang tersebut tidak hilang. Alhamdulillah..

Kejenuhan  menunggu semakin memuncak. Kami masih menuggu kedatangan 3 orang teman dari Batam yang tiketnya saya pegang. Mereka kejebak macet di jalan. Teman-teman sudah tak sabar lagi memasuki stadion. Tapi mau diapa lagi, kami harus tetap menunggu. Sekilas bila melayangkan pandangan ke titik-titik berkumpulnya supporter Indonesia, kita akan menemukan banyak spanduk-spanduk yang beraroma Politik. Yang paling saya ingat adalah, “Say NO to Nurdin H, Say YES to TimNas”. Hmmm…

Kami meninggalkan masjid dan menuju area stadion, gemuruh suara supporter Indonesia maupun Malaysia semakin memompa Adrenalin. Tapi hanya bisa mendengarkan, kami masih harus menunggu. Sempat saya beradu urat saraf lagi menelan perasaan jengkel ke beberapa teman. Mereka sudah tidak tahan lagi untuk menunggu. Akhirnya saya memberi opsi untuk mereka semua boleh masuk stadion terlebih dahulu, saya akan menyusul dengan ke tiga teman yang akan datang. Diam lagi tak bergerak. Saya mengerti kegelisahan teman-teman dan kembali saya mengusulkan untuk kita menunggu di depan pintu masuk stadion saja dan semuanya setuju. Di pintu masuk stadion, Kiki Amalia istri Keeper Markus Haris Maulana lewat di hadapan kami dan masih banyak artis lainnya. But, who care??? Banyak lage yang mau foto-foto bareng mereka.. Saya selalu berdoa agar tidak pernah tergiur tuk berfoto dengan artis yang saya anggap lebih banyak memberi mudhorat daripada manfaat ke seluruh pemirsa Indonesia.

Tidak begitu lama menunggu akhirnya ke-3 teman sudah datang, Alhamdulillah. Dengan sigap kami langsung memasuki stadion dengan pemeriksaan tiket dan rasia botol air minum terlebih dahulu. Ini untuk mengurangi terjadinya saling lempar antar supporter.

Allohu Akbar! Baru kali ini saya berada dalam lautan manusia dengan gemuruh suara menggetarkan hati, sempat menitikkan air mata. Entah untuk apa air mata ini menetes, biarlah. Saya Bahagia. Tapi ada kondisi yang membuat saya malu sebagai anak negeri. Untuk apa spanduk-spanduk besar beberapa tokoh Politik Indonesia dipajang di sini??? Mau kampanye yah pak? Sama siapa, sama TKI yang kalian sia-siakan di negeri Jiran ini yah? Astaghfirullah… Sungguh sedikit rasa malu kalian..

Nonton secara live seperti ini mempunyai sisi positif dan negative. Positifnya, kita bisa merasakan secara langsung atmosfir dan euphoria para gibol. Cocok banget buat orang stress, lo bisa teriak sepuasnya. Tak akan ada yang memandangmu dengan tatapan aneh. Negativenya, pemainnya keliatan seperti semut. Apalagi yang punya penglihatan sudah agak rabun, uhhhh..bikin gak asyik. Andai saya tau sebelumnya, pasti saya akan membawa teropong. Ada masalah dalam lapangan kita juga gak tau. Misalnya nih, waktu si Abang Markus protes.. Saya bertanya-tanya, lo ini ada apa? Tak ada jawaban. Ada pelanggaran atau gol, yahhh..hanya bisa ikut teriak. Gak ada siaran ulang kaya’ di Tipi.. Tapi whatever-lah, yang jelasnya dengan pengalaman ini saya memutuskan untuk tidak lagi nonton bola secara Live klo bukan Tim kesayangan saya yang maen, Manchester United. Bravo MU!!!

GOLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL!!! Indonesia kebobolan tepat di depan kami. Hikssss… Maju Indonesia, harapan itu masih ada. Gooooooooooooooooooool! Kebobolan lagi, semangat. Ciptakan keajaiban. GOOOOOOlllllllllll!!! Ayo pulang!!! Kecewa PenontonGGG!

Kami langsung meninggalkan Stadion Bukit Jalil segera setelah gol ketiga tercipta. Kami langsung membeli tiket Bus menuju Johor untuk segera kembali ke Batam. Lemas, lesu tak bergairah. Semangat yang berapi-api yang saya bawa ke Bukit Jalil sirna seketika. Mungkin ini teguran untuk kita semua, khususnya para pejabat Negeri ini akan kejahilannya menjadikan Bukit Jalil menjadi Bukit Jahil.

Ok, see u next time Kuala Lumpur. Insya Allah, saya akan kembali lagi ke sini untuk melanjutkan perjalanan-perjalanan panjang yang ingin kutempuh di sepanjang hidupku. Senang bisa berada di sini, meskipun kita sering bersinggungan karena masalah TKW dan batas Negara. Sejenak kita lupakan urusan pemerintah.. And Back to Batam!

Pelajaran kelima; sebagaimana dalam sebuah hadist rasulullah SAW bersabda, “Jika keluar tiga orang melakukan perjalanan harus mengangkat salah seorang sebagai pemimpin rombongan”. Kami lalai dikala itu, kami lupa untuk mengangkat satu diantara kami untuk menjadi kepala suku. Seandainya kami mengikuti sunnah Rasul tersebut, mungkin perasaan gondok dan saling tidak enakan bisa diminimalisir.
Nice trip, I enjoy the show. Alhamdulillah…

The End.

Batam, 7 January 2011.
Kuselesaikan tulisan ini sembari mendengarkan Film Naga Bonar dengan iringan lagu, “ dari yakinku teguh, hati ikhasku penuh……….”