Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

25 Jul 2012

ARTI SEBUAH KESUKSESAN

Sukses!!! Jelas sekali bahwa semua manusia di muka bumi ini menginginkan kesuksesan. Bagaimana caranya??? Tentu, inilah yang menjadi pembeda antara satu orang dengan lainnya. Ada yang meraihnya dengan cara instan dan ada juga yang mendapatkannya melalui proses yang panjang. Bahkan panjaaaaaaaaaaaaang sekali...
Mengenai ukuran kesuksesan, relatif! Sama halnya ketika melihat fisik manusia. Saya selalu bilang klo Cristiano Ronaldo (CR7) itu ganteng, tapi bagi orang lain kagak. Malah ada yang bilang gini, “ganteng apanya? Tampang playboy gitu”. Gubrakkkk!!!

23 Jul 2012

TAHUKAH ANDA???

Ternyata, tidak ada masalah untuk melakukan nikah jarak jauh, dimana pengantin laki dan pengantin perempuan tidak saling bertemu. Sama sekali tidk ada masalah. Mengapa tidak ada masalah?

Karena akad nikah atau ijab kabul dalam syariah Islam memang tidak terjadi antara pengantin laki2 dan pengantin perempuan. Ijab kabul terjadi antara pengantin laki dengan ayah kandung/ wali dari pengantin perempuan.

29 Jun 2012

Jangan Terlalu Banyak Nuntut

Sering kali kita mendapati diri kita menjadi pribadi yang tidak sabaran. Pengennya cepat-cepat dalam segala hal. Pengen cepat kaya, pengen cepat nikah, pengen cepat mati (upssss). Dak salah juga sih, tapi perlu disadari bahwa tidak semua hal bisa dipercepat, dan tidak semua hal punya jalan pintasnya. Banyak hal yang berada di luar kendali kita dan semuanya sudah ada yang atur, yaitu Allah swt.

26 Jun 2012

Jangan Jadi Beban

Imam al Fudhail rahimahullahu pernah berkata: “Seringkali, seseorang meninggalkan saudaranya, dikarenakan beban besar yang diletakkan di pundak saudaranya tersebut.”

16 Mei 2012

Hari yang Berat

Sebenarnya, semua hari itu pasti berat tuk dilalui. Setiap hari mempunyai masalahnya sendiri. Masalah kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya kemarin dan kemarin-kemarin lainnya belum selesai, eh ditambah lagi masalah hari ini. Akumulasi masalah. Berat memang, sangat berat. Tapi itu untuk jiwa yang kerdil. Semua orang punya masalah kok, bahkan kadarnya lebih besar dari yang kita hadapi, toh mereka masih bisa tersenyum. Jadi, jangan pernah menampakkan diri sebagai manusia yang paling susah di dunia ini. Masih bernafas kan? Kalau masih bernafas, maka jangan mengeluh!!!

20 Apr 2012

Gravitasi Masalah

Pengertian sederhana dari gravitasi adalah adanya gaya tarik menarik antara satu benda dengan benda lainnya. Sementara masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan atau dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan harapan. Jadi, gravitasi masalah adalah adanya gaya tarik menarik antara satu persoalan dengan persoalan lainnya.

19 Apr 2012

Hidup Sederhana itu Pilihan, bukan Ketidakmampuan!

Menyederhakan kesederhanaan, sederhana sekali kata-kata ini. Namun pada hakikatnya tidaklah mudah dibawa dalam aksi nyata. Terkadang fikiran sudah mampu berdamai dengan ide-ide kesederhanaan yang difahaminya, akan tetapi perilaku tidak mampu mengamininya.
Kesederhanaan itu bukan hanya terpaku pada tampilan fisik yang apa adanya, tapi dia adalah sebuah pola fikir yang kemudian terintegrasi menjadi gaya hidup. Sayangnya, banyak diantara kita yang bersembunyi dibalik kata-kata “sederhana” tadi untuk menutupi ketidakmampuan diri, ketidakberdayaan, rasa iri dan rasa malas.
Misalnya seperti ini; Sebut saja nama salah satu Anggota DPR RI, Anis Matta yang mengenakan jam tangan seharga 70 juta+ rupiah. Banyak komentar miring yang kemudian ditujukan kepada beliau. Katanya itu sangat berlebihan sehingga mencederai hati rakyat. Sebagai rakyat, jujur saya tidak mau ambil pusing masalah seperti itu.
Manusia, banyak hal yang saya sendiri sulit memahaminya dari karakter dan sifatnya meskipun saya juga masih masuk dalam jenis manusia. Ketika seseorang menunjukkan kekuasaannya, harta kekayaannya dan lain sebagainya, itu dianggap salah. Berlebih-lebihan. Bermewah-mewahan. Tidak sesuai dengan sunnah Rasul. Atau apalah. Akan tetapi, ketika ada seseorang yang dianggap mampu secara finansial tapi tidak memakai mobil mewah, pakaiannya biasa-biasa saja, tinggal di rumah sederhana dan sebagainya, masih juga dianggap salah. Pelit.
Nah loh... Maunya apa???
Semut di seberang lautan memang selalu nampak bak raksasa bagi mata hati yang dipenuhi oleh rasa dengki, iri, benci, apalagi kalau tidak memiliki kemampuan. Kita sama sekali tidak mempunyai urusan dengan harga atau nilai dari apa yang digunakan seseorang, uang - uang mereka kok. Yang menjadi urusan kita itu jika uang yang digunakan buat bermewah-mewahan itu bukan miliknya. Nah, di sini baru dituntut peranan kita sebagai manusia untuk saling mengingatkan. Ingat! Mengingatkan bukan malah mengeluarkan komentar sinis.
Oleh karena kita tidak punya urusan dengan harga apa yang digunakan seseorang, maka tidak perlu pusing seperti baling-baling kipas angin ketika ada tetangga yang beli kipas angin. Jangan dada kita yang sesak melihat kesuksesan orang lain. Dan jangan pula mencela kehidupan mereka yang nampak susah di mata kita.
Perlu diketahui bahwa, ada segolongan manusia yang hidup dalam kesederhanaan bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena pilihan. Bisa saja ada yang hanya memilih menggunakan Sepeda sebagai alat transportasinya sehari-hari, padahal dia mampu membeli mobil Bugatti Veyron seperti milik sang mega bintang sepakbola, CR7.
So, jangan coba-coba berkomentar miring dengan gaya hidup hedon seseorang karena bisa saja itu muncul dari perasaan iri dan ketidakmampuan diri untuk bisa seperti mereka. Akan lebih bijak kalau kita mendoakan mereka, semoga rejekinya semakin bertambah dan kemudian Allah menganugerahi mereka hati yang baik untuk mau berbagi dengan yang lain. Kali aja kita kebagian. Iya kan? Hehehe...

31 Mar 2012

UNEG-UNEG

Tetap kecewa dengan hasil Sidang Paripurna dini hari tadi. Yah, meskipun per tanggal 1 April ini BBM tidak dinaikkan, tapi tetap saja hasilnya sangat mencederai hati. Bagaimana tidak, toh kesepakatannya Pemerintah bisa menaikkan harganya kapan saja, seenak jidat mereka. Ini hanya masalah waktu, ibarat BOM, hanya tinggal menghitung dan “Duarrrr”.
Saya cukup terenyuh dengan keputusan tersebut, terasa ada air yang seperti mendidih di ujung mata. Menyesakkan dada. Harapan yang digantungkan kepada mereka yang katanya “wakil rakyat” ternyata pada kenyataannya sama sekali tidak mewakili aspirasi rakyat, malah lebih kepada kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Ah...benar-benar biadab!!!
Hidup yang sekarang saja sudah begitu susah, bagaimana klo kedepannya semua harga pada naik? Saya tidak tega membayangkannya.
Akhir-akhir ini, saya selalu teringat satu wajah ketika terlintas kata kemiskinan di alam fikiran. Wajah itu selalu kutemui hampir tiap pagi ketika berangkat ke kantor. Seorang perempuan tua, dengan ember kecil di tangan dan tongkat yang selalu diletakkan di sisinya yang sedang duduk di sebuah potongan batang pohon di tepi jalan. Wajahnya amat sendu, tatapannya selalu kosong dengan guratan wajah merenung. Ah, ingin kutatap matanya.. tapi, mata itu selalu tertutup. Entahlah, mungkin saja perempuan tua itu buta.
Kondisi ini memaksaku membuat sebuah perbandingan, atau lebih tepatnya memposisikan diri pada posisi orang-orang yang sedikit kurang beruntung dalam hal keuangan. Jika saya yang masih single, tidak memiliki tanggungan keluarga dengan gaji lima juta ke atas saja kadang merasa tidak cukup, lalu bagaimana dengan mereka yang penghasilannya di bawah itu?
Saya sangat tau, berapa banyak orang yang penghasilannya di bawah tiga juta di Indonesia, khususnya di kota Batam ini. Mereka memiliki keluarga yang perlu dipenuhi kebutuhan sehari-harinya, ada anak-anak yang harus disekolahkan dan sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendidikan di sini itu tidak murah.
Ya Allah, sungguh berat urusan ini bagi saudara-saudaraku yang lain. Jika Pemerintah berdalih bahwa yang menikmati BBM bersubsidi itu adalah kebanyakan orang kaya, betapa pembohongnya Pemerintah itu. Siapakah yang paling banyak menggunakan kendaraan umum? Motor-motor yang antri bagai ular di SPBU, apakah mereka adalah orang kaya? Bukan, yang rela antri itu hanya orang susah.
Sungguh, subtansinya bukanlah pada kenaikan Rp. 1.500/Liter. Tapi bagaimana dengan harga-harga kebutuhan pokok. Bukankah semua itu juga akan melambung tinggi harganya, sementara upah kami para pekerja tidak dinaikkan. Lalu dimana letak keadilan jika kondisinya seperti itu?
Kami yang membayar pajak setiap bulannya, ikhlas tidak ikhlas, kami tetap membayarnya. Sementara di sisi lain pajak tersebut digunakan untuk membiayai gaya hidup glamour Pemerintah. Wah, enak benar. Banyak pejabat yang digaji selangit tapi kerjaannya hanya tidur di ruang rapat. Hati kami sangat sakit, batin kami menjerit. Tapi apa yang dilakukan pemerintah? Tak ada!
Sebenarnya saya tidak suka mengeluh, tapi pemerintah yang memaksa. Karena paksaan ini jugalah sehingga otak saya terpaksa berfikir untuk memberikan sebuah ide gila. “CIPTAKAN STANDARISASI AMBANG BATAS KEKAYAAN SETIAP MANUSIA INDONESIA”. Mungkin dengan begitu, tidak akan ada lagi yang rakus menimbun kekayaan  dari harta rampasan di tangan rakyat untuk diwariskan hingga turunan ke-delapan mereka.
Ide ini memang terkesan melanggar hak asasi manusia. Tapi peduli amat dengan hak asasi segelintir manusia-manusia itu. Buka mata, buka hati dan pasang kuping di telinga. Lihatlah dan dengarlah. Yang dilanggar haknya itu hanya seperti satu titik air yang tercelup masuk ke samudera luas, sementara yang terpenuhi haknya adalah yang menyamudera itu jika saja pemerintah berani mengambil sikap.
Semoga, Pemerintah negeri ini mendapat hidayah dan segera bertobat. Biar kedamaian, keadilan dan kesejahteraan bisa diwujudkan di bumi pertiwi ini, bukan hanya sekedar mimpi. Amin...

29 Mar 2012

MEDIA Vs SULAWESI

Miris juga kalau melihat aksi yang dilakukan Mahasiswa dalam tayangan televisi mengenai penolakan kenaikan BBM. Secara garis besarnya, saya sangat mendukung aksi tersebut. Namun, jika melihat caranya, saya jadi tidak setuju. Tidak sepantasnya niat baik itu ditunjukkan dengan cara yang salah karena pada akhirnya pasti akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik.
Apalagi dengan sejumlah aksi penjarahan dan pengrusakan yang seharusnya tidak terjadi. Apa hubungannya restoran cepat saji dan show room mobil dengan kebijakan pemerintah? Mengapa harus meluapkan emosi pada sesuatu yang tidak tepat? Duduki saja kantor DPRD, selesai kan?
Bagaimanapun, setiap aksi itu harus dilakukan dengan cara santun, terorganisir agar tidak mudah di provokasi. Apalagi jika aktor utamanya adalah Mahasiswa. Seharusnya melakukan aksi-aksi cerdas sehingga tidak mengganggu kepentingan publik. Masyarakat tidak lantas menjadi resah, malah bersimpati dan memberikan dukungan terhadap perjuangan Mahasiswa.
Tapi, ada hal yang cukup menggelitik di hati saya. Sebagai orang yang berasal dari Sulawesi, saya cukup merasa aneh dengan setiap pemberitaan yang dilancarkan oleh media. Disepanjang sejarahnya, media begitu bersemangat mengangkat berita aksi-aksi anarkis jika itu berasal dari Sulawesi. Pemberitaan jadi tidak berimbang. Media telah berhasil mencitrakan masyarakat Sulawesi sebagai orang-orang yang suka pada kekerasan, aksi brutal, tawuran dan sejumlah perilaku tidak mengenakkan lainnya. Ada apa dibalik semua ini???
Jujur saja, saya cukup gelisah dengan perangai kurator media ketika sudah bersinggungan dengan berita seputar Sulawesi. Ah, mungkin hanya perasaan saya saja. Wallaahu’alam..

22 Mar 2012

WHAT'S ON YOUR MIND???

Berapa kali kita mengunjungi halaman facebook kita dalam sehari? 1 kali, 2 kali, atau mungkin tak terhitung, secara FB-nya OL mulu. Hehehe..
Pasti sudah sangat familiar kan dengan pertanyaan ini, “WHAT’S ON YOUR MIND?”
Karena sudah terlalu biasa mendapati pertanyaan tersebut, sehingga membuat kita seperti acuh tak acuh, pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, mungkin sperti itu yang kita fikirkan. Tapi, tak ada salahnya jika sejenak kita menghentikan aktifitas di facebook, kemudian membuat lidah meneruskan pertanyaan itu pada hati kita, “Apa yang saya fikirkan???”

Menarik mengamati perkataan dari Eleanor Roosevelt, mantan Presiden USA yang mengatakan : "Small Minds discuss people, Average Minds discuss events, Great Minds discuss ideas".

“Pikiran Kecil membicarakan orang. Pikiran Sedang membicarakan peristiwa. Pikiran Besar membicarakan gagasan”.

Maka sebagai akibatnya ...

PIKIRAN KECIL akan menghasilkan GOSIP.
PIKIRAN SEDANG akan menghasilkan PENGETAHUAN.
PIKIRAN BESAR akan menghasilkan SOLUSI.

Ketiga jenis pikiran ini ada di dalam setiap otak kita. Pikiran mana yang lebih mendominasi kita, begitulah apa yang dihasilkannya.
Kalau setiap saat otak kita dipenuhi oleh Pikiran Kecil, maka kita akan selalu asyik dengan urusan orang lain, namun tidak menghasilkan apa-apa, kecuali perseteruan. Tetapi bila Pikiran Besar yang mendominasi, maka ia akan aktif menemukan terobosan baru.

PIKIRAN KECIL senang menggunakan kata tanya “SIAPA”,
PIKIRAN SEDANG senang menggunakan kata: “ADA APA”, sedangkan
PIKIRAN BESAR selalu memanfaatkan kata tanya: “MENGAPA” dan “BAGAIMANA”.

Dalam melihat satu peristiwa yang sama, misalnya jatuhnya buah apel dari pohonnya, akan cenderung ditanggapi berbeda.

Si PIKIRAN KECIL akan tertarik dengan pertanyaan : “SIAPA SIH YANG KEMARIN KEJATUHAN BUAH APEL?”
Si Pikiran Sedang akan bertanya: “APAKAH SEKARANG BERARTI SUDAH MULAI MUSIM PANEN BUAH APEL ?”
Sedangkan Si PIKIRAN BESAR : “MENGAPA BUAH APEL ITU JATUH KE BAWAH, BUKANNYA KE ATAS?”.

Dan pikiran yang terakhir itulah yang konon mengisnpirasi SIR ISAAC NEWTON menemukan TEORI GRAVITASInya yang terkenal. Tidak ada satupun prestasi atau karya di dunia ini yang dihasilkan oleh Pikiran Kecil.

Di samping itu, ketiga jenis pikiran ini juga mempunyai ‘MAKANAN’ FAVORIT yang berbeda.
Si PIKIRAN KECIL biasanya senang melahap TABLOID, INFOTAINMENT, KORAN MERAH, GOSIP2...
si PIKIRAN SEDANG amat berselera dengan KORAN BERITA, POLITIK....
si PIKIRAN BESAR memilih BUKU-BUKU/ ARTIKEL yang membangkitkan INSPIRASI, TULISAN2 TENTANG IDE2 dan MOTIVASI....

Dari ilustrasi di atas, mungkin sekarang kita sudah bisa mengklasifikasikan diri kita masing-masing. Ada dimana kita berada, si pemikir kecil kah? Sedang kah? Atau kita adalah seorang pemikir besar? Dan tentunya, kita juga bisa mengambil indikator-indikator di atas tentang siapa dan bagaimana orang-orang terdekat kita.
Karakter seseorang bisa diketahui dari tulisan-tulisannya, selera seseorang bisa dilihat dari jenis musik yang disukainya, wawasan seseorang bisa dilihat dari jenis tontonannya dan pola pikir seseorang juga bisa dilihat dari jenis buku-buku yang dibacanya.
So, mari kenali diri kita dan orang-orang di sekitar dengan pertanyaan “What’s on your mind???”.

Maraji’: Dari berbagai sumber.


22 Feb 2012

IMAM KELUARGA ITU LAKI-LAKI

Sepanjang perjalanan ke kantor, beberapa spanduk yang bertuliskan “Imam Keluarga Itu Laki-laki” ikut meramaikan jalan-jalan di Kota Batam. Sebuah tema tabligh akbar demi menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW (klo gak salah). Design-nya yang nge-jreng mirip spanduk Iklan minuman Extra Joss sehingga membuatnya cukup unik di mata.
Saya memang cukup tertarik dengan design-nya, mungkin karena bawaan sebagai seorang Engineer jadi pastinya akan berfikir bahwa designernya cukup kreatif. Meskipun mirip iklan Extra Joss, tapi tetap saja unik, apalagi pemilihan kata-katanya yang dijadikan sebagai tema. Sederhana, sudah umum, tapi penuh makna yang luas jika kita mau berfikir.
Sering kita dapati dalam kehidupan sehari-hari, entah itu saudara atau teman laki-laki kita yang selalu mengungkapkan keinginannya untuk mendapatkan gadis baik-baik atau sholehah menjadi pendamping hidupnya kelak. Hal tersebut manusiawi, bukan hanya laki-laki yang menginginkan demikian, perempuan pun juga sama. Tidak peduli dia seorang bajingan, setengah bajingan, atau orang baik-baik, semua menginginkan yang terbaik dalam hidupnya. Fitrah!!!
Ada hal yang kemudian membuat saya berfikir, memang benar bahwa Imam itu adalah laki-laki, tidak ada yang bisa mengganggu gugatnya lagi. Artinya, selamanya perempuan tidak akan pernah menjadi Imam atas laki-laki, perempuan adalah Makmum. Mutlak.
Seseorang dipilih dan diangkat menjadi Imam apabila dia mempunyai kapasitas dan kualitas, tidak mungkin asal dipilih begitu saja. Kapasitas yang dimaksud adalah wawasan keilmuannya yang mumpuni, dan memiliki kualitas akhlak yang baik.
Lalu, muncul suatu trend di masyarakat kita dimana laki-laki tidak lebih besar usahanya untuk memperbaiki dirinya sendiri dibandingkan dengan keinginannya. Sehingga, hal ini bisa saja memungkinkan kebanyakan perempuan lebih baik dan lebih tinggi pemahaman keagamaannya daripada laki-laki. Dan parahnya lagi, kebanyakan laki-laki membangun sebuah opini pembenaran, “biarlah istriku nanti yang mengajariku”. What???
Sementara di satu sisi, seburuk-buruknya sampai sebaik-baiknya seorang perempuan, dia tetap berharap mendapatkan Imam yang baik, yang bisa membuatnya semakin cinta pada Tuhannya, membuat dirinya semakin menghamba, dan selalu dibenarkan oleh suaminya ketika dia melakukan kesalahan. Lalu bagaimana mungkin seorang perempuan bisa mendapatkan hal demikian jika Imam-nya tidak mampu melakukan hal tersebut???
Oleh karena laki-laki adalah Imam dalam keluarga, maka seharusnya laki-lakilah yang paling keras usahanya dalam membaikkan diri. Karena kedepannya dia akan menjadi pemimpin satu entitas keluarga. Di pundaknyalah akan bergantung kehidupan istri dan anaknya. Tanggung jawab seorang laki-laki itu sangat besar, karena dia tidak hanya bertanggung jawab di dunia saja, akan tetapi pertanggungjawaban itu akan dibawanya sampai ke akhirat atas beberapa jiwa-jiwa yang dititipkan Allah padanya itu.
Pemahaman inilah yang seharusnya disadari oleh setiap laki-laki muslim, bahwa dia adalah seorang Imam. Imam itu adalah pemimpin, dan untuk menjadi pemimpin dia harus memiliki kriteria yang menjadikannya layak untuk menjadi seorang pemimpin. Karena itu. Lakukanlah pembaikan diri dari sekarang secara terus menerus, karena belahan jiwamu menginginkannya demikian, jika kamu mengetahui.

PS: Analisa pribadi ji ini cs... ^_-

13 Feb 2012

Baik dan Buruk

“Suatu kebaikan tidak dikatakan baik jika pada akhirnya berujung pada keburukan. Dan suatu keburukan juga tidak dikatakan buruk jika pada akhirnya membawa kebaikan”. Saya tidak ingat, itu hadits apa sebuah pepatah bijak. Tapi saya sangat tertarik tentang esensi dari kalimat tersebut.
Sering kita mendapatkan orang-orang atau diri sendiri sibuk melakukan pembenaran atas tindak tanduk dan kata-kata yang kita ucapkan. Sadar atau tidak sadar, sejatinya banyak hal buruk yang kita lakukan yang kemudian dicari pembenarannya oleh akal. Semua berawal dari niat dan diakhiri dengan niat pula, itulah hasilnya.
Ada suatu kejadian di Batam, dimana ada sebuah komplotan perampok profesional yang juga memiliki beberapa Lembaga Sosial. Jadi, dari hasil pencuriannya tersebut, mereka gunakan untuk kegiatan amal. Tujuan mereka memang baik, yakni membantu sesama, tapi caranya yang tidak baik. Kalau dilihat dari pepatah di atas, ini tidak bisa dikatakan hal buruk yang kemudian menjadi baik karena bagaimanapun mereka telah mencuri. Juga tidak bisa dikatakan hal baik karena pada akhirnya yang namanya hasil curian tetap tidak baik untuk dikonsumsi. Haram..
Mungkin kita sudah familiar dengan istilah “white lie”. Terkadang kita dikondisikan untuk melakukan sebuah kebohongan demi yang kita anggap kebaikan untuk seseorang. Namun terkadang, dari kebohongan ini ada pihak lain yang kita rugikan. Jadi tetap saja hasilnya buruk meskipun niat awalnya baik. Yah, kecuali bohongnya menyangkut nyawa seseorang, mungkin bisa ditolerir-lah.
Atau sikap keras & tegas orang tua terhadap anaknya. Banyak kita jumpai orang tua yang kemudian memukul anak-anaknya lantaran ingin melihat kebaikan pada anak-anaknya. Sekilas kita melihat itu buruk, namun pada akhirnya itu akan membawa kebaikan buat sang anak. Untuk itu, KOMNASHAM harus jeli melihat kasus seperti ini.
Jadi untuk memahami pepatah tersebut diperlukan kedewasaan dan kejernihan pikiran serta wawasan yang luas pula. Terkadang kita hanya mau menerima suatu kebenaran dari sudut pandang kita sendiri atau dari orang-orang yang kita “anggap” benar tanpa mau menerima kebenaran dari sisi sudut pandang orang lain.
Adakalanya, kita sudah menggunakan dalil yang sama kemudian sudah dikuatkan oleh pendapat ulama terdahulu yang sama pula, namun karena yang kembali mengatakannya dari kelompok yang berbeda maka kebenaran itu kemudian kita tolak. Ini masalah, masalah mental atau kejiwaan. Pemikiran yang sempit, egoisme tinggi selalu saja membutakan hati kita. Padahal tidak ada celahnya jika mengakui kebenaran itu, jika memang benar. Klopun kita bersebrangan pendapat, seharusnya kita tidak saling menghujat tapi menjadikannya sebagai tambahan wawasan.
Kembali lagi ke masalah niat, karena segala sesuatunya itu berpangkal pada niat.

Berbagi Helm SNI

Mungkin masih banyak diantara kita yang belum menyadari dengan sebenar-benarnya kesadaran akan pentingnya menggunakan Helm pada saat mengendarai sepeda motor. Untuk itu, saya ingin berbagi sedikit pengalaman, semoga bisa bermanfaat buat kalian dan juga pastinya buat saya. Dari judulnya, jangan salah paham yah. Ane blum punya kemampuan untuk membagi-bagikan helm gratis. Bisanya baru share pengalaman aja. :)
Pertama, pernah suatu ketika saya berangkat kerja. Waktu itu masih pagi banget, sekitar jam 6 pagi. Tiba-tiba saja lewat seorang pengendara motor yang melaju dengan kencang di sisiku. Kurasakan seperti ada semacam taburan beling menghantam tubuhku. Kenapa saya katakan itu beling, karena saya merasakan bunyinya ketika menyentuh aspal. Tidak seperti bunyi pasir atau kerikil ketika bersisian dengan mobil truk pengangkutnya. Alhamdulillah, saya mengenakan helm secara sempurna waktu itu. Kacanya saya turunkan dan karena dingin saya menggunakan masker dan kaos tangan. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika beling tersebut mengenai mata saya.
Kedua, saya suka melalui jalur yang dimana di sana ditumbuhi banyak pohon. Biar terasa sejuk dan nyaman. Beberapa waktu yang lalu, ada-ada saja kejadian kecil yang bisa membuat kita berhenti sejenak kemudian berpikir. Bisa-bisanya di tengah perjalanan seekor burung melemparkan kotorannya pas ke arah mukaku. Lagi-lagi saya terselematkan oleh helm. Gak kebayang deh, gimana jadinya klo kotoran burung tersebut mengenai mukaku.
Ketiga, berkendara dikala hujan memang tidak mengenakkan. Namun, perasaan tidak enak itu harus dilupakan demi sebuah konsekuensi atas komitmen pada sikap profesionalisme kita yang terikat pada sebuah instansi atau lainnya. Kita tidak bisa menyalahkan mobil atau motor yang berjalan di depan dan di samping kita ketika kecipratan air. Karena itu, tetaplah gunakan helm dengan baik dan benar agar wajah cantik dan gantengnya tidak ternodai oleh kotoran jalanan.
Terakhir, menggunakan masker dan kaos tangan sebagai pelengkap helm adalah baik. Ibaratnya, helm adalah wajib, hal sunnah-nya adalah 2 aksesoris tadi. Sebagaimana pengertian sunnah, dikerjakan dapat manfaat klo tidak dikerjakan rugi sendiri. Awalnya saya menggunakan ke-dua aksesoris tersebut karena jenis kulitku yang cukup sensitif terhadap sinar matahari, tapi kemudian saya menyadari bahwa ada hal besar yang kemanfaatannya lebih dari itu.
Sebenarnya masih banyak manfaat lainnya dari penggunaan Helm SNI ini. Tapi, dari hal kecil ini semoga kita sama-sama bisa saling mengingatkan. Safety First!!!

31 Jan 2012

PENGEMIS Vs PEJABAT

Entah mengapa, setiap kali mendengar kata PEJABAT, saya langsung sensitif. Yang terlintas kemudian adalah KORUPTOR. Namun, ada satu kata lagi yang tidak bisa terpisahkan dari dua kata tersebut dalam otakku; PENGEMIS. Akhir-akhir ini sering muncul di dalam fikiranku bahwa Pengemis lebih mulia kedudukannya daripada mereka; “Pejabat”.
Saya selalu jijik setiap kali melewati tumpukan sampah yang ada di sekitaran jalan raya, tapi saya lebih jijik lagi dengan kata “Pejabat”. Geram rasanya, pikiran seperti tercampur aduk. Pengen marah, tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Pengen teriak, tapi takut dikirain orang gila. Maka jadilah ia penyakit hati, dongkol, menumbuh jadi jerawat, seandainya hati itu bisa nampak seperti kulit wajah, mungkin jerawat yang menumbuhinya sudah tak berjarak lagi. Penuh, disesaki oleh beban hati yang tak terluapkan.
Ah, lupakanlah jerawat itu, biarkan ia membatu di dalam hati. Toh, suatu saat batu itu akan hancur luluh karena tetesan hujan air mata dari langit hati. Yang masalah itu adalah batu yang ada di hati para “Pejabat” kita. Entah apa yang ada di dalam fikirannya ketika menyaksikan kemiskinan yang semakin menjamur dimana-mana. “Siapa suruh malas, siapa suruh bodoh”, mungkin seperti itu saja yang ada di dalam hatinya.
Pengemis memang lebih mulia daripada mereka. Seorang pengemis, yang jika mendapatkan rezeki, mereka tidak akan tanggung-tanggung dalam mendoakan sang dermawan. Doa kebaikan dan kemurahan rezeki akan selalu dilangitkannya bagi jiwa-jiwa yang tersentuh dengan ketidakberdayaan mereka. Sementara “Pejabat”, bersyukur sama Allah saja belum tentu, apalagi mau mendoakan ratusan juta rakyat Indonesia yang telah meng-gajinya. Ironi memang, tetapi begitulah kenyataannya..
Entah sampai kapan Negeri ini akan berada dalam genggaman manusia-manusia tamak. Manusia-manusia yang moralnya lebih rendah dari binatang. Yah, mereka memang lebih rendah dari binatang. Seekor kucing saja, yang ketika ditawarkan makanan seenak apapun dan sebanyak apapun akan menolak jika merasa sudah kekenyangan. Tetapi, manusia rakus, tamak akan materi, dia tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Jika sudah berlebih untuk diri dan keluarganya maka dia tidak akan berhenti di situ saja, karena masih ada turunan ke-8 yang menunggu pembagian jatah. Na’udzubillah min zaalik.
Semoga kalian yang terhormat, yang duduk di atas kursi empuk, disejukkan dengan AC tanpa perlu berpanas-panas ria bisa segera dibukakan pintu hatinya oleh Allah agar kalian bisa melihat apa sesungguhnya yang terjadi di luar gedung mewah itu. Kami tidak meminta anda memilih hidup dalam kemiskinan seperti yang dipilih oleh Rasulullah SAW karena kami tahu anda tidak akan sanggup. Kami tahu, beban yang dibebankan di atas pundak kalian itu tidak ringan. Tapi, tolonglah! Jangan sakiti kami dengan merampas hak-hak kami. Karena kami pun berhak mendapatkan penghidupan yang layak dari belaian Ibu pertiwi, Indonesia.

26 Jan 2012

MARI BERUBAH!

Seorang Filsuf Prancis, Henry Bergson mengatakan, “To exist is to change, to change is to mature, to mature is to go on creating oneself endlessly”. Hidup artinya berubah, berubah artinya menjadi dewasa, dan dewasa berarti membentuk diri tiada akhir.
Sebuah kata hikmah yang begitu sarat akan makna jika kita mau memikirkannya. Sebenarnya, jauh sebelumnya Allah sudah mengingatkan kita di dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Q.S. 13:11)
Ada yang mengatakan bahwa salah satu hal yang abadi di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Berarti, life will never be same, because life is changing. Yah, hidup tidak akan pernah sama, karena itu kita harus senantiasa melakukan perubahan-perubahan dalam hidup meskipun itu adalah hal-hal kecil. Bukan berarti berubah menjadi Satria Baja Hitam, atau melakukan operasi plastik, tapi substansinya adalah ada pada pola pikir kita, bagaimana kita meletakkan dan memandang suatu permasalahan hidup sesuai dengan porsinya.
Pada akhirnya, bukan masalah mampu atau tidak mampu, tetapi apakah kita mau melakukan perubahan atau kita memilih untuk tidak berubah. Karena, hanya dengan berubah, kita dapat mengantisipasi perubahan.
Untuk berubah, sebaiknya kita mengambil cermin terlebih dahulu. Karena hanya dengan bercermin, kita akan mampu melihat diri kita sendiri secara keseluruhan. Jika kita pernah merasa kekurangan, rendah hati atau berkecil hati dengan keadaan yang sekarang mungkin ada baiknya kita menambah durasi dan frekuensi berceminnya. Biar kita tahu, bahwa sungguh tak ada cacat di sana, biar kita sadar, bahwa tak ada gunanya mengeluh.
Berhentilah mendeskreditkan diri sendiri. Karena itu hanya akan mendekatkan kita pada kufur nikmat, tidak pandai bersyukur. Dan renungkanlah kata-kata indah ini, “Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin berarti dia merugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dibandingkan hari kemarin, dia celaka. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dibandingkan hari kemarin, maka dialah orang yang beruntung.
Mari berubah !!!



21 Jan 2012

INDONESIA, SAYA MAU BICARA

Pemerintahan di Indonesia sekarang ini ibarat air comberan, menjijikkan!!! Mendengar kata comberan saja, kita sudah jijik apalagi jika harus kecebur atau menceburkan diri ke dalam air comberan tersebut. Sebenarnya, air comberan itu tidak semuanya kotor, awalnya. Waktu hujan kan airnya belum kotor, cuman pas masuk comberan jadi kotor deh. Nah, begitupun dengan orang-orang yang ada di dalam pemerintahan saat ini. Ada yang awalnya bersih, putih kayak pemutih, namun karena tidak mampu menjadi penetralisir, makanya yah dia juga ikut jadi kotor. Yah, secara...Comberannya se-Got sementara dia hanya seperti satu tetes hujan yang masuk ke dalam Got, nggak ngefek kali...

Coba ambil air comberan ke dalam 1 gelas. Tapi jangan di minum yah. Mari kita bereksperimen kecil-kecilan. Untuk membuat air di dalam gelas tersebut bersih dan layak tuk dikonsumsi maka gelas dan airnya mesti dibersihkan. Nah, saya kasi 2 opsi. Yang pertama, airnya ditumpahkan saja kemudian gelasnya dicuci sampe bersih. Kedua, masukkan air bersih sebanyak-banyaknya ke dalam gelas tersebut sampai benar-benar bersih. Terserah mau pilih yang mana, ini tidak berhadiah kok. Hehe..

Kalau opsi pertama diaplikasikan ke dalam pemerintahan saat ini, kayaknya ilustrasinya seperti ini, lakukan kudeta. Ganti sistem pemerintahannya dan tentunya orang-orangnya juga mesti diganti dong. Tapi timbul pertanyaan, semudah itu kah? Kalau menurutku sih tidak mudah, apalagi penguasa sekarang dari kaum Militer, susah bin sulit. Mengganti orang sebanyak itu sekaligus sih bisa saja, tapi bagaimana dengan penggantinya? Apakah punya kualitas dan kapasitas yang lebih baik dan lebih mulia dari para pendahulunya. Jangan-jangan keluar dari mulut buaya masuk mulut harimau pula..

Untuk opsi kedua, ilustrasinya kira-kira seperti ini. Masukkan sebanyak-banyaknya orang baik, yang punya cita-cita mulia ke dalam pemerintahan sekarang ini. Seiring berjalannya waktu, maka akan semakin banyak orang baik di dalamnya dan hingga akhirnya mereka para orang-orang kotor itu dengan sendirinya tersingkirkan atau ikut berubah menjadi bersih. Saya sih lebih suka cara ini. Slowly but surely. Tapi, timbul lagi permasalahan yang baru. Orang-orang baik itu siapa dan kemana saja? Soalnya, banyak orang yang merasa baik di Indonesia ini justru menarik diri bahkan menghalangi orang baik lainnya untuk menceburkan diri ke dalam gelas pemerintahan tersebut. Ada juga orang baik yang mengatakan, bersabarlah dan tunggulah, karena generasi-generasi kitalah yang kelak akan melakukan perubahan.

Itu adalah ide yang baik, tapi sampai kapan kita harus menunggu dan bersabar. Jangan salah yah, di luar sana, mereka yang berdiri sebagai antek-antek syetan, juga tidak kalah semangatnya melakukan kaderisasi. Jadi, kalau kita generasi sekarang mampu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, mengapa beban itu mesti kita pikulkan ke generasi selanjutnya? Seharusnya kita sadar bahwa pekerjaan-pekerjaan di hari esok akan lebih berat dari hari ini karena pekerjaan di hari esok adalah penambahan dari akumulasi pekerjaan hari ini dan kemarin yang sebelumnya belum sempat terselesaikan.

Yah, setiap generasi mempunyai masalahnya masing-masing. Tapi kebanyakan dari masalah itu adalah pengulangan dari masalah-masalah yang dihadapi oleh mereka generasi terdahulu. Minimal kita ini tidak lagi melakukan pewarisan masalah, tapi benar-benar mewariskan peradaban, peradaban yang lebih baik, lebih manusiawi dan memanusiakan manusia. Jangan sampai kita hanya meninggalkan dosa jariah karena tidak pernah mau mengambil bagian menjadi tetesan-tetesan air bersih tersebut. Tapi bukan berarti semua kita mesti masuk ke dalam jajaran pemerintahan yah. Banyak hal baik yang bisa kita lakukan untuk menjadi tetesan air tersebut. Salah satunya adalah dengan terus membaikkan diri.
.:: Seperti air, suci dan mensucikan ::.

Wallaahu’alam...


PS: Ini hanya pendapat pribadi yang berangkat dari KEGELISAHAN sebagai anak Negeri.

TEGAS

Sikap tegas adalah salah satu hal terpenting dalam hidup. Tegas terhadap diri sendiri adalah jauh lebih penting daripada tegas terhadap orang lain. Dengan adanya sikap tegas terhadap diri sendiri, maka hidup kita akan lebih terarah. Kita akan menjadi tahu apa yang kita butuhkan untuk menjalani hidup dengan baik dan apa saja yang tidak kita butuhkan. Sehingga, kita tidak perlu membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran untuk melakukan hal-hal yang tidak penting.

Ibarat main api, jangan pernah bermain api jika kita tidak tahu bagaimana caranya dan apa resikonya. Karena bisa saja bukan hanya kita yang akan terbakar, akan tetapi juga orang-orang yang ada di sekitar kita. Sama saja dengan ketegasan kita, jangan sampai karena kurang tegasnya kita, banyak orang yang jadi kebingungan melihat sikap kita.

Hidup butuh ketegasan agar tak menjadi beban dalam diri sendiri dan orang lain. Bukankah keindahan akan selalu terurai dalam perjalanan hidup jika kita mampu menjalaninya tanpa beban? Jadi, tegaslah dan jiwamu akan damai dengannya.

18 Jan 2012

Syukur Alhamdulillah

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran terpahat di bibir senyuman
-Kahlil Gibran-

Sungguh indah bait syair tersebut, penuh makna menyemai setiap jiwa yang dilanda lelah penat untuk sebuah urusan hidup. Meletihkan memang, tapi ada baiknya kita belajar pada burung. Kala fajar menyapa, ia pun bersegera menjemput rezekinya. Kadang ia kembali dengan perut kenyang dan kadang juga ia mendapatkan tidak lebih seperti biasanya, namun ia tidak pernah mengeluh apalagi menyerah.
Apa yang kita inginkan dalam hidup bila suatu saat menjadi nyata, maka sejatinya itu belum tentu bisa menjadi jaminan untuk merasakan kebahagiaan. Semuanya berpangkal pada rasa syukur. Karena kebahagiaan hanya bisa muncul dari sikap syukur atas semua nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kita. Namun, untuk mendapatkan rasa syukur itu sendiri, dibutuhkan kejujuran dan kesederhanaan, agar kita bisa lebih bijak dan seimbang dalam menjalani hidup sehingga tidak berlebihan dalam menyikapi berbagai hal. Besar kecil, sedikit banyak yang kita dapatkan, maka itu akan tetap terasa indah.
Kita tidak memiliki apapun dan tidak dimiliki oleh siapapun, kecuali kesemuanya adalah milik Allah semata. Semoga kita bisa membebaskan diri dari ambisi dan jeratan hawa nafsu yang menggelisahkan karena selalu ingin lebih dan lebih lagi sehingga tidak pernah merasa puas dan cukup dengan apa yang dimiliki. Karena, seberapapun yang kita dapatkan hari ini maka itu tidak akan pernah kita nikmati jika hati tidak mengenal rasa syukur. Maka mari bersyukur, Alhamdulillah...

9 Jan 2012

Ya SUDAHLAH

Ketika mimpimu yang begitu indah


Tak pernah terwujud ya BERJUANGLAH!!!

Saat kau berlari mengejar anganmu

Dan tak pernah sampai ya BERUSAHALAH!!!



Sedikit mengubah lirik lagu dari Bondan Prakoso. Tidak bermaksud sebagai plagiat, apalagi mengubah hak cipta orang lain, akan tetapi ini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap karya Mas Bondan Prakoso. Jujur saja, saya sangat suka lagu tersebut, tapi tidak dengan kata YA SUDAHLAH.

Ya Sudahlah, sebuah kata yang lebih terkesan MENYERAH. Lalu, mengapa harus MENYERAH jika mimpi itu menawarkan keindahan? Mengapa memilih MENYERAH jika angan itu sejatinya adalah cita-cita? Apa yang tidak memampukan kita sehingga nemutuskan untuk MENYERAH?

Hidup ini sederhana, yang dibutuhkan hanya keyakinan bahwa apapun yang kita perjuangkan dan usahakan dalam hidup ini tidak akan pernah disia-siakan oleh Allah. Lalu, apa yang tidak memampukan kita? Bukankah nafas masih dikandung badan?

Tidak ada yang sulit jika kita tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Fokus pada tujuan, itulah intinya. Jangan sampai kita bergerak berlari kencang menjauh dari tujuan hidup kita. Tak ada kata MENYERAH. Jika harus mundur, bukan karena ingin MENYERAH, tapi semata-mata hanya untuk menyusun kekuatan baru, memperhatikan jejak langkah yang pernah tercipta, untuk kemudian bisa melakukan akselerasi peraihan mimpi.

Sederhana doaku yaa Allah, kabulkanlah...

21 Des 2011

SURAT CINTA UNTUK IBU

 “Aku mencintaimu Ibu, karena Allah”. Dari dulu kata-kata ini ingin kusampaikan langsung padamu, Ibu. Dengan lisanku, dengan hatiku, dan dengan deraian tangisku dalam hangatnya pelukanmu. Maafkan aku jika hingga detik ini, kata-kata itu masih terkunci rapat di bibirku. Kau tahu, ibu... Sesak dadaku menyimpannya, pekak kerongkonganku menahannya, namun apalah dayaku, bagaimanapun aku adalah tetap seorang anak bagimu, anak yang dipenuhi ke-egoisan di dalam rongga dada.
Aku akui ke-egoisanku itu, Ibu. Aku pun tak mengerti, mengapa begitu sulit mengungkapkan perasaanku padamu. Aku selalu bersedih, sedih yang bertambah-tambah jika terkadang kau meragukan rasaku padamu. Kau tahu, Ibu... Puncak kesedihanku adalah ketika menyaksikan kesedihanmu karenaku.
Ibu, kau adalah pahlawanku. Diam-diam aku mengagumimu, sangat mengagumimu melebihi kekagumanku pada bunda Khadija, Aisyah, Fatimah atau seorang Hawa yang menjadi awal dari kehidupan kita. Aku tak tahu, apakah kau menyadari kekagumanku itu, dan bagiku itu tidaklah penting untuk kau ketahui, tapi yang terpenting bagiku adalah mengetahui bahwa kau tidak pernah dan tidak akan pernah menyesal memilikiku sebagai anakmu.
Dulu, kau yang mengajariku mengenal huruf A – Z, mengajariku menulis angka 1 – 10, mengenalkanku pada Al-Qur’an, dan...Oh, ibu...aku tak mampu lagi mengurainya, bukankah aku memulai segalanya sejak bertumbuh dalam rahimmu. Tak akan habis kata untuk mengeja kebaikanmu ibu, tak akan cukup kertas tuk melukiskan indahmu, tak akan kering tinta tuk menuliskan arti hidupmu untukku, Ibu.
Maafkan kebodohanku sebelumnya yang tidak bisa memaknai setiap tutur kata yang terucap dari bibir muliamu, maafkan kelemahanku yang tidak mampu merasakan kelembutan setiap belaian dari tangan sucimu. Maaf telah pernah menantang matamu dengan kemarahanku, maaf telah membentakmu dalam keangkuhanku, maaf telah menjejakkan luka di hatimu karena khilafku. Semua itu kulakukan karena aku belum bisa sepenuhnya mengartikan kasih sayangmu, Ibu.
Cintaku padamu begitu tinggi, Ibu. Hanya Allah yang mengalahkanmu di hatiku. Kau tahu ibu, dalam hidupku, hingga detik ini, aku tak pernah membagi hatiku pada manusia manapun di dunia ini meskipun terkadang besar hasratku tuk membaginya. Akan tetapi, sungguh, aku tak akan pernah rela jika ada satu makhlukpun selain dirimu yang menjadi penyemangatku untuk apa yang kuraih hingga saat ini. Yah, aku sadar, bahwa suatu saat nanti aku akan memiliki hidup lain yang di dalamnya akan kuisi dengan belahan jiwaku dan darah dagingku sendiri. Tapi bagiku, tempatmu tak akan pernah tergantikan dan cintaku tak akan berkurang sedikitpun padamu.
Ibu, jika kelak ternyata aku yang lebih dulu menghadap pada Sang Penggenggam Hidup dan tetap saja lidahku masih kelu mengungkapkan rasaku padamu, ketahuilah, jika kata syukur lebih mulia derajatnya dari kata cinta, maka kukatakan padamu Ibu, demi Allah yang nyawaku ada dalam genggaman-Nya, aku bersyukur memilikimu sebagai Ibuku.

Batam, 111221