27 Okt 2011

TENTANG CINTA

Berbicara tentang cinta sejati, sejatinya yaa tentu saja hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Tapi bagaimana dengan cinta sejati terhadap sesama manusia wal khusus manusia yang kita pilih menjadi pasangan kita? Sejauh mana dan sedalam apa rasa kita terhadapnya? Aku sih belum merasakannya (secara belum nikah), tapi kriterianya sudah terpola dalam fikiranku. Cieeeeeee.... yang kayak mana sih? Hehehe.. Ada deh, tapi sebelum aku bercerita panjang lebar, diriku pengen menguraikan satu kisah terlebih dahulu. Sebuah kisah cinta yang sangat baik untuk kita ambil ibrahnya.
Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:
Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.
Bisa dibayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam pun tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.
Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”
Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata: “Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)
Kasihan yah nasib si Laila, habis manis sepah dibuang. Trus, ada gak yang kasihan sama si Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?. Moga-moga aja gak ada diantara kita dan pembaca yang sholeh dan sholeha yang mengalaminya. Na’udzubillah deh...
Kata nenek moyang kita, “cinta itu buta”, nenek moyangnya orang Arab bilang, “Cintamu terhadap sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli”. Perhatikan saja setiap jengkal tanah di sekitar kita, kebanyakan diisi sama orang-orang yang “buta” ama “tuli”. “Buta” karena tidak mampu lagi membedakan antara yang baik dengan yang salah, pake pakaian minimalis, dan mesranya minta ampun, merasa dunia hanya milik berdua, jadi yang lain dak nampak karena sudah “buta”. Dinasehatin, gak bakal mempan. Punya telinga tapi gak bisa mendengar, kan memang udah “tuli”.
Biasanya yah, klo hubungan cinta masih terlarang alias belum halal, semangatnya minta ampun menggeloranya. Seperti itulah setan menggiring hati dan fikiran yang lebih dikuasai oleh hawa nafsu, jiwa terhanyut dalam badai asmara haram. Tapi, giliran cintanya udah sah, udah halal, tau-tau kebanyakan pengen cerai, atau malah pengen nambah istri 2, 3 dan seterusnya dengan alasan mengikuti sunnah. Padahal, kebanyakan yang mengatakan pengen mengikuti sunnah itu hanya akal-akalan nafsunya saja. Gimana caranya mau mengukur niat itu murni untuk ibadah klo hati sudah memiliki pilihan dan wajah seseorang sudah menari bebas difikiran?
“Seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih).
Siapa sih yang tidak menginginkan wanita cantik menjadi pendampingnya bagi setiap laki-laki, dan perempuan mana yang menolak jika yang menawarkan cinta adalah lelaki bak artis Korea? Akan tetapi, dalam perjalanannya, cinta itu tidak cukup hanya dengan tampang saja, cinta itu tidak cukup hanya dengan kedudukan saja, cinta itu tidak cukup hanya dengan harta saja dan cinta itu juga tidak cukup hanya dengan agama saja. Lo, bukannya kita disuruh sama yang bagus agamanya? Iya, memang. Tapi, yang agamanya gimana dulu? Meskipun dia berlabel ustadz/ustadzah, belum tentu bisa menjadi pilihan utama. Contohnya tuh, si ustadz yang ngaku-ngaku ta’arruf tapi tak ada bedanya dengan pacaran. Gelar boleh saja ustadz, tapi akhlak belum tentu menjamin.
Temans, bila dirimu mencintai pasanganmu karena kecantikan atau ketampanannya, sungguh di luar sana masih banyak yang lebih tampan dan lebih cantik darinya.
Jika dulu cintamu bersemi karena kekayaannya, ketahuilah, harta tidak akan pernah memuaskanmu?
Jika cinta itu tumbuh karena kedudukannya yang tinggi, bukankah tak ada yang abadi di dunia ini?
Namun, jika hatimu terlanjur terpaut dan terbelenggu cinta kepada seseorang yang bukan suami atau istrimu, maka ada baiknya dirimu menguji kadar cinta yang kamu miliki. Kenalilah perasaanmu, rabalah hatimu, ukurlah sejauh mana kesucian dan ketulusan cintamu kepadanya. Duduklah sejenak dan bayangkanlah saat dirimu mendapati kekasihmu dalam keadaan hitam legam, gigi sudah ompong, badan kurus tinggal tulang, pakaian kumal tak terurus yang tinggal di rumah gubuk bak kandang kambing. Adakah cinta itu menggelora sedahsyat yang kamu rasakan saat ini???
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)
Karena itu, kesucian cinta hanya akan kita dapati dari hati yang dipenuhi keimanan yang kuat kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta seperti ini akan senantiasa bersemi, tak akan lekang oleh waktu, tak akan habis dimakan usia, tak akan luntur karena hujan dan tak akan pernah putus walau ajal telah menjemput. Tak inginkah kamu mengharapkan agar kekasihmu tetap setia mencintaimu meski telah tua renta bahkan telah menjadi penghuni kubur?
Bukan karena materi, bukan karena kedudukan dan bukan karena wajah yang rupawan, tapi akhlak mulia dan keimanannya yang luruslah yang mampu melahirkan cinta yang suci nan abadi dalam keberkahan Allah.
Wallahu a’alam...

21 Okt 2011

Untukmu Ibu...

Ibu...
Jika ucap bibirku tak mampu mengungkapkan rasaku padamu, maka dengarlah kata hatiku, sungguh engkau telah menetap di sana.

Jika tatap mataku tak bisa memancarkan makna, maka pandanglah jauh isi kepalaku ini. Sungguh tak ada lalai wajahmu mengisi pikiranku.

Jika sikapku tak menyiratkan cinta dalam rasamu, maka ketahuilah bahwa semua perjuanganku ingin kupersembahkan padamu.

Ibu...
Aku tahu, air mata sesalku tak akan pernah sebanding dengan air mata kesakitanmu karenaku. Tapi, tahukah engkau? Di sini dadaku disesakkan rasa cinta yang besar mengisi hatiku untukmu.

Aku tahu, keringatku tak akan pernah menyamai peluhmu membesarkanku. Tapi tahukah engkau? Di sini tersimpan rapih mimpi indah memberimu mahkota di surga-Nya kelak.

Aku tahu, lelahku tak akan pernah menggantikan waktu untuk penjagaanmu yang tidak mengenal kata henti. Tapi tahukah engkau? Di sini beribu langkahku menuju impian terbesarmu.

Aku tahu, doa-doaku untukmu tak akan mampu melampaui bilangan namaku dalam sujud dan tengadah tanganmu. Tapi tahukah engkau? Di sini kusebutkan namamu dalam setiap ibadahku pada-Nya.

Aku tahu, kasih sayangku tak akan bisa melebihi kasih sayangmu padaku. Tapi tahukah engkau? Di sini, di hati ini, di setiap helaan nafas ini, ada cinta yang tak akan pernah habis untukmu.

Ibu..
Maafmu adalah harapku.
Doamu adalah pelitaku.
Cintamu adalah kekuatanku.
Dan..
Ridhomu adalah surgaku.

Ibu, jika kelak aku telah mencintai orang lain lebih dari yang engkau rasakan. Maka ketahuilah, tempatmu tak akan pernah tergantikan.
Karena engkau adalah ibuku..

20 Okt 2011

Hikmah: "Menunggu, Tidak Selamanya Melelahkan"

"Al-hikmatu dhaallatul mu'min, annaa wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa" (Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya)...

Baiklah, hari ini saya akan mencari hikmah lagi
— at Nagoya hill, Batam

Seperti itulah update-an status yang menghiasi dinding Facebook-ku di hari ini. Dan Subhanallah, Allah segera menemukanku pada niat tersebut. Aku menyegerakan diri berangkat lebih awal dari jam istirahat kantor. Tak ingin lagi mendapatkan antrian panjang membayar tagihan air di kantor ATB Nagoya seperti kemarin yang pada akhirnya membuat waktu istirahatku habis namun belum mendapat giliran.
Aku melajukan motorku, jalan-jalan masih cukup lengang dari biasanya. Setelah melewati Masjid Baytus Syakur, kulihat lampu merah berganti hijau, 20 detik bagiku dan kendaraan lainnya untuk mengejarnya sebelum kembali memerah. Antrian mobil kira-kira sepanjang 25m, aku mencoba mengambil sisi paling kiri yang merupakan lajur untuk pengendara yang hendak mengambil arah ke kiri. Tentu saja, kecepatan motor aku naikkan sedikit dari biasanya demi melalui lampu hijau tersebut. Namun tiba-tiba, sebuah taksi keluar dari barisan antrian mengambil lajur kiri dan berhenti di sana untuk mengambil penumpang. Astaghfirullah, sontak aku kaget dan me-ngerem pake rem kaki dan cakram. Hampir saja aku menabrak taksi tersebut, untung kecepatannya normal dan masih bisa kukendalikan. Alhmadulillah, aku mengurut dada dan menghela nafas panjang. Entah apa yang difikirkan oleh temanku yang aku bonceng, yang pastinya aku khawatir, khawatir karena membawa dua nyawa orang lain.
Terkadang, dalam hidup, kita tidak cukup sabar untuk menunggu walau hanya beberapa detik saja untuk sesuatu yang lebih baik bagi diri kita. Pemandangan seperti ini sering kita dapatkan di lampu merah. Berapa banyak dan berapa kali kita harus menerobos lampu merah dengan alasan buru-buru, takut telat, dan lain-lain? Padahal, kita hanya disuruh untuk sedikit bersabar dan menunggu, menunggu beberapa detik, paling lama 2,5 menit, demi satu hidup yang kita miliki.
Hari ini Allah mengingatkanku, mengajarkanku akan arti sebuah kesabaran dan arti dari proses penantian. Bahwa selayaknya, aku tidak perlu terburu-buru dalam menyegerakan keinginanku jika ia tidak berada dalam koridor aturan alam, aturan yang telah ditetapkan oleh Allah. Yang aku butuhkan hanyalah kesabaran yang menyamudera tanpa batas di dalam hatiku, agar aku bisa memahami bahwa 1 detik penantianku dalam kebaikan dan kesabaran, tak akan pernah disia-siakan oleh-Nya. Menunggu itu indah, bila yang ditunggu adalah yang terindah..

12 Okt 2011

Masalah itu..."SEPELE"

Sejak meninggalkan dunia kampus, boleh dibilang kuantitas dan intensitas profesi saya menjadi tempat “sampah” mulai berkurang, bahkan sangat berkurang. Klo dulu, hampir tiap hari dan malam melayani antrian telepon yang cukup bikin panas telinga sampe hati (kadang-kadang), hingga jempol berasa sudah mengalami kekakuan karena sms-an. Tidak berhenti dari itu, sebagaimana kata orang bijak, “kamu tidak akan mampu memberi jika kamu tidak memiliki”, of course saya mesti rajin membaca buku, rajin nanya-nanya mbah Google, sering diskusi sama teman-teman, termasuk menambah wawasan melalui media Radio dan Televisi. Saya juga istiqomah nonton Bola, selain karena Hobby (melototin pemainnya yang guateng-guanteng), Bola merupakan “sesuatu” yang mendunia, membumi namun tidak begitu disukai di kaumku, menurutku itu menantang, dan memang salah satu parameter diriku menganggap bahwa seseorang itu  cerdas dan memiliki wawasan yang luas adalah kefahamannya terhadap dunia Bola, tapi bukan Fans fanatik yah..
Back to the topic... Hampir setiap kita pernah medapatkan curhatan teman atau sahabat tentang masalah-masalah yang tengah membelenggu mereka. Entah masalah keluarga; ibu dan anak perempuan yang tidak sepaham, suami atau istri yang jauh dari ekspektasi awal ketika memutuskan tuk menikah, atau teman kita yang lagi patah hati atau serba-serbi masalah yang ditimbulkan oleh kondisi keuangan, DeEleL. Dalam menyikapi kasus tersebut, pastinya kita memberikan respon yang berbeda, semuanya disesuaikan dengan tema curhatannya, termasuk si empunya masalah.
Berdasar pada eksperience sebagai tempat “sampah” tadi, banyak hikmah yang bisa saya ambil sebagai diri pribadi yang pada akhirnya membuat saya banyak berfikir dan mengambil banyak pertimbangan ketika hendak memutuskan sesuatu hal. Sisi positifnya banyak, namun tak dapat dipungkiri bahwa ianya juga memiliki sisi negatif. Tapi, bukan berarti saya adalah seorang pendengar yang baik, apalagi solutif. Mungkin saya lebih masuk dalam kategori trouble maker daripada seorang problem solver. But, whatever it is, insya Allah, saya selalu punya waktu untuk sekedar meminjamkan telinga.
Ada yang mengatakan, “Ki, kamu itu terlalu menyepelekan masalah. Coba klo kamu yang berada di posisiku?”. Yah, saya tidak bisa tersinggung ketika ada yang mengatakan demikian, karena saya adalah saya, dia adalah dia, dan mereka adalah mereka. Dan saya sebisa mungkin untuk menjadi diri sendiri karena saya bukan dia, juga bukan mereka. Kapasitas setiap manusia itu berbeda, termasuk dalam menyikapi sebuah masalah. Namun memang tak ada salahnya jika memberikan ruang pada diri untuk membayangkan ketika kita menghadapai masalah yang sama dengan orang yang sama, waktu yang sama dengan situasi dan kemampuan diri yang sama pula. Terkadang memberikan nasehat itu mudah, namun ketika kita yang diperhadapkan pada masalah tersebut, tak ada yang tau apa kita mampu berdiri seperti sosok yang kita inginkan dalam untaian nasehat tersebut.
Saya minta maaf jika selama ini saya terkesan “menyepelekan” masalah. Bukan berarti saya tidak memikirkannya atau mencoba menyelesaikannya. Yang namanya hidup, bukan hidup jika tak ada masalah. Tapi, bukankah terkadang satu masalah bisa menjadi solusi bagi masalah lainnya? Dan setiap kita pasti meyakini bahwa bersama masalah pasti ada solusi. Yang menjadi masalah pokok hanyalah pada penyikapan kita. Mau membelenggu diri atau membebaskan diri dari satu masalah untuk menyambut masalah lainnya. Di situlah kita dituntut untuk cerdas dalam menyepelekan masalah demi membuatnya terasa sederhana di hati.
Hal yang paling saya sepelekan adalah patah hati karena telah jatuh hati atau perasaan kecewa yang menggelayuti jiwa, karena sesungguhnya kelukaan dan penderitaan tersebut disebabkan oleh dirinya sendiri. Mereka yang memelihara perasaan sakit hati dan kecewa adalah kumpulan manusia kerdil yang rela menggadai harga diri dan kemuliaannya untuk sesuatu yang hanya akan mematikan kebahagiaannya.
Ada kalanya dalam hidup kita mendapati pribadi yang rumit, jangan bertanya mengapa. Tanya saja pada setiap orang tua yang memiliki kita-kita sebagai anaknya. Orang tua yang mengambil andil besar dalam proses mencetak dan memproses cetakannya kita sebagai anak sering mengalami benturan yang kuat dalam menyikapi sifat kita, apalagi orang lain. Kita adalah Orang yang sudah jadi pola karakter dan tabiatnya, sehingga akan sulit bagi orang lain untuk mengubahnya. Mungkin karena itu jugalah alasannya mengapa kita sering dinasehatin supaya memilih teman yang baik, termasuk pasangan hidup yang baik pula, biar kita bisa membaikkan diri. Bukankah satu kebaikan akan membawa kebaikan lainnya???
Tidak semua masalah bisa disederhanakan sesederhana mungkin, tapi Allah telah memberi kita akal untuk berfikir bahwa dalam suatu masalah itu berlaku hukum kausalitas. Karena itu, kita harus pandai dalam menguraikan masalah ke dalam bentuk yang lebih sederhana. Pemilikan rasa empati merupakan pillar penting dalam pemahaman satu pribadi dengan pribadi lainnya, agar kita tidak terjebak dalam “menyepelekan” atau malah semakin membesar-besarkan masalah. Karena masalah itu ada di saat kita menganggapnya masalah. Besar atau kecilnya, itu kembali pada keluasan jiwa masing-masing pribadi.
Saat menimbang-nimbang masalah orang lain, sejenak ada baiknya tuk berandai-andai. “Seandainya mereka adalah saya dan seandainya saya adalah mereka”. Mungkin dari sana kita bisa menyelami makna yang dalam, ketika kita mampu merasakan berada pada posisi mereka. Mencoba memahami dan mengerti tentang mereka dan dimana letak kesalahan mereka, agar kita mampu menemukan kedewasaan diri menerima setiap pribadi yang membersamai langkah kita dalam menjalani hidup.

11 Okt 2011

Aku Ideal, Aku Layak

Menjadi ideal untuk diri sendiri tidaklah mudah bahkan mungkin jauh dari kata bisa, apalagi Ideal menurut orang lain. Oleh karena itu, kita tidak perlu memubadzirkan waktu dan tenaga untuk fokus pada ketenangan diri sendiri atau pada kondisi ideal yang sangat kita inginkan dalam hidup kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan selain dari hanya fokus pada proses peng-idealan diri dan keinginan. Karena idealnya kita belum tentu ideal menurut orang lain.
Namun berada dalam posisi ideal menurut kita juga amat penting, apatah lagi bila orang-orang di sekitar kita juga meng-aminkannya. Akan tetapi, sering kita dapati dalam diri sendiri atau diri orang lain yang melakukan pelayakan diri terhadap sesuatu atau kondisi yang jauh lebih baik dari yang sebenarnya ada pada diri kita. Itu masalah, masalah karena “tidak tahu diri”. Jadi, intinya adalah, bila kita mengharapkan sesuatu yang lebih baik maka kita harus mampu membuat diri kita sadar akan kualitas dan kapasitas diri sehingga kita menjadi layak untuk setiap kebaikan yang kita inginkan.
Saya sangat percaya, bahwa sesuatu yang baik itu tidak akan pernah menjadi pantas atau layak untuk diri kita bila kita tidak berusaha untuk melayakkan diri terhadapnya. Jika ingin mengambil banyak, maka jangan mengambil satu, tetapi ambillah lebih dari satu. Karena satu tidak akan pernah menjadi banyak apabila ia tunggal. Begitupun dengan usaha. Semakin banyak usaha kita, maka semakin besar peluang kita dan tentu saja semakin memantaskan kita untuk mempunyai banyak harapan. Mereka yang tidak mempunyai usaha, selamanya tidak akan pantas dan layak untuk berharap.
Intinya, jangan terlalu fokus pada kondisi ideal yang kita inginkan. Yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak usaha, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Nah, syaratnya hanya mesti punya ilmu. Gak peduli ilmu hitam ataupun ilmu putih, yang penting baik dan bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita. Karena dengan ilmu, dunia dan akhirat yang akan menyesuaikan diri dengan kita. Di samping berilmu, kita juga dituntut untuk membumikan doa dalam hati-hati kita. Karena Allah Yang Maha Baik yang akan mengangkat jiwa kita menjadi pribadi yang baik untuk kemudian dikumpulkan bersama jiwa-jiwa yang baik pula. Amin...

10 Okt 2011

Berbicara Soal Respon..

Ketika beberapa orang diperhadapkan pada satu masalah yang sama, kira-kira apa yang terjadi? Dapatkah kita diperhadapkan pada solusi yang sama pula? Atau minimal kita diperhadapkan pada mimik wajah yang sama ketika pertama kali masalah tersebut diketahui oleh beberapa orang di waktu yang sama. Saya yakin, tak ada yang bisa menjaminnya 100% bisa sama, bahkan pada mereka yang ditakdirkan memiliki saudara kembarpun, bisa memiliki respon yang berbeda.

Yah, seperti itulah adanya kita dan orang-orang di sekitar kita. Menanggapi issu-issue yang ada di lingkungan atau media juga pasti sangat beragam. Ada yang suka menghujat, ada yang mendiamkannya, ada yang ngomel-ngomel gak karuan, ada yang memilih menggudangkan Telivisi dan ada juga yang mampu mengambil sisi positif dibalik issu-issu negatif tersebut.

Saya jadi teringat dengan salah satu teman kantor saat mengantarkannya ke Nagoya Hill Mall. Ketika melewati lampu merah, kami mendapati pengendara motor yang tidak mengenakan Helm. Sontak kami berdua memberi koment, “Gila ni orang”. Kata temanku. “Iya, memang gila. Memang dia ga takut apa ditilang ma pak Polisi, di sini kan ada pos Polisi”. Komentarku. Kemudian temanku melanjutkan, “Ini orang macam punya 1000 nyawa aja. Berani-beraninya gak pake Helm”.

Di sepanjang perjalanan kami sama-sama terdiam. Cukup memberiku waktu untuk berfikir. Ternyata, kami menanggapi satu peristiwa tadi dari sudut pandang yang berbeda. Saya lebih cenderung ke arah tertib lalu lintas, sementara temanku lebih pada keselamatan diri. Kemudian saya teringat lagi dengan setiap pengendara yang suka ugal-ugalan di jalan. Dari survey yang saya lakukan pake hati, hampir semua pengendara yang tidak mengenakan Helm di jalan raya, pasti ugal-ugalan mengendarai motornya, apalagi klo bunyi knalpot-nya yang udah di modif gitu, hmmm...mereka makin berasa deh klo jalanan itu hanya miliknya sendiri, yang lain itu seperti semut aja, ada dan tiada, tancap terus. Dan berlakulah hukum 1000 nyawa tadi. Hehehe...

Tiba di depan Nagoya Hill, kami mendapati seorang BULE bersama perempuan Indonesia dengan pakaian minimalis. Hmmmm... kami saling mengingatkan tuk melihat pemandangan tersebut dan kemudian tertawa lepas. Entah apa yang difikirkan temanku tersebut. Tapi yang jelasnya, fikiranku berkata, “wahai perempuan, apa yang ada di fikiranmu???”. Klo kata kak Vina, katanya kata mas Damar, “semua harga di Batam ini mahal, yang gak mahal itu cuman HARGA DIRI”. Klo kata bang Roma, Sungguh Terlalu!!! Ckckckckck... Dunia..Dunia..

3 Okt 2011

The Good You Do Today Will be Forgotten Tomorrow

Hari ini, setelah 8 tahun, seorang teman menghubungiku via telepon. Karena masih jam kerja, aku memintanya tuk menelpon di jam istirahat. Jam istirahat masih lama, karena penasaran, akhirnya kuputuskan meng-sms dia dan bertanya dia siapa. Sebenarnya, aku sudah tau bahwa dia bukan temanku semasa kuliah dulu maupun rekan kerja. Dari namaku yang dia sebut, aku udah yakin, dia adalah teman sekolahku dulu atau boleh jadi keluargaku. Karena nama panggilan tersebut tidak pernah diberikan oleh mereka yang baru mengenalku 10 tahun terakhir ini.
Maka terjadilah sms berbalas ria yang membuat jempolku berasa kaku. Setelah saling bertanya kabar, dia masih belum menyebutkan namanya. Aku terus mendesak. Akhirnya dia mengaku sebagai teman sekelas di kelas 2 SMU dulu. Kucoba menghadirkan wajah-wajah mereka dari kaum Adam tersebut dalam Flash Back memoriku. Yang terbayang hanya segelintir orang. Aku tau, masih banyak yang belum hadir dalam lintasan memoriku.
Aku mulai merasa jenuh ber-sms-an tanpa menemui kejelasan dengan siapa aku sms-an. Aku desak lagi dia, dalam hati aku udah memutuskan klo dia dak ngaku aku bakal nge-blok nomornya, sama seperti beberapa orang tak jelas lainnya. Akhirnya dia ngasih kata kunci lagi, “orangnya yang paling bandel di kelas, ayo siapa?”. Hmmmm... Ada dua kandidat terkuat di fikiranku, “Klo bukan Atib pasti Dulla Cebo”. Balasku. “Salah satu dari nama itu”. Balasnya...
Tulisan ini bukan tuk bernostalgia kawan, tapi hanya ingin mengambil hikmah dan berbagi hikmah. Dan alangkah indahnya lagi bila ada manfaatnya buat orang lain. Termasuk diri sendiri, mengingat setiap kita memiliki masa lalu, masa-masa yang tidak mungkin terhapuskan namun bisa kita simpan lekat dalam kenangan sendiri tanpa perlu diketahui oleh orang-orang baru yang datang silih berganti dalam hidup, tentunya dengan izin Allah.
Dulu, seorang guru SMU-ku berkata, “Ada 2 hal yang membuat seorang murid itu gampang diingat oleh guru maupun kawannya, yang pertama karena kenakalannya dan yang kedua adalah karena kepintarannya”. Yah, jelas saja aku bisa langsung menebak siapa dia. Padahal, boleh dibilang sifat pelupaku sudah memasuki stadium akut. Dan aku bisa mengingatnya.
Jadi teringat sama petuah Papaku, “jangan pernah membuang tai (maaf) di jalan, karena sekali kamu ketahuan, maka setiap ada tai ditemukan di jalan, maka jangan heran jika yang menjadi tersangka utamanya adalah kamu”. Tak salah memang jika Dr. Kent M. Keith mengatakan bahwa, “The good you do today will be forgotten tomorrow”. Aku tiada mengingat banyaknya kebaikannya, tapi aku lebih mengingat setiap kenakalannya.
Mungkin kita sering mendengar seseorang menceritakan masa kejahiliaannya dengan berapi-api (saya memohon ampun kepada Allah atas yang telah berlalu karena saya pun pernah demikian), seakan-akan bangga dengan dosa-dosanya. Astaghfirullah.. Padahal dalam Hadist disebutkan “Setiap umatku akan dimaafkan, kecuali orang-orang menampakkan (perbuatan dosa). Termasuk menampakkan perbuatan dosa adalah seseorang yang melakukan dosa di malam hari, kemudian di pagi harinya – padahal Allah telah menutupi (dosa-dosa tersebut) – ia berkata kepada seseorang; kemarin saya telah me;akukan ini dan itu. Padahal Rabb-nya telah menutupi dosanya satu malam penuh, tapi ia telah membuka tabir (tutup) yang diberikan Allah kepadanya.” (Muttafawun ‘alaih).
Memang tak seharusnya kita menceritakan akan setiap aib kita yang telah lalu, bukankah Allah telah menyimpannya rapat? lalu mengapa kita membukanya setelah ia ditutup? Jika mesti harus ada yang mengetahuinya, maka yakinkanlah hati kita dengan niat yang baik, bahwa semua itu kita ceritakan semata-mata tuk mengambil ibroh (hikmah).
Just do good anyway and everywhere!!! Karena kebaikan yang kita lakukan hari ini akan dilupakan di hari esok, namun setiap keburukan atau kejahatan yang kita lakukan di masa lalu, selamanya akan dikenang meskipun kita tidak pernah melakukaannya di hari ini dan di masa depan. Biarlah mereka yang tidak mengetahui kita di masa lalu tetap pada pengetahuannya di hari ini karena bisa saja keburukan lalu menjadi beban di hari ini dan hari esok.
Rasanya, cukuplah yang mengetahuiku di masa lalu mengenangku dengan cara mereka, dengan apa yang mereka tau. Tapi besar harapanku, kelak kalian dan mereka, mengingatku dalam kebaikan, meskipun yang bisa kulakukan hanyalah memberi senyum.


Batam, 031011

29 Sep 2011

Mengapa Harus Suamiku???

Seperti deburan ombak yang menghantam karang, seperti petir yang menyambar, seperti bumi yang diguncang gempa, atau mungkin seperti kiamat telah terjadi dalam duniaku. Sakit, kecewa tak terperihkan menyelimuti hati melebihi sakitnya kelukaanku saat mendapati satu per satu dari ke-tiga putraku menghadap Sang Ilahi. Betapa hati ini tidak hancur lebur saat membaca email mas Aqil, tulisan yang hanya pantas ditujukan kepada istri tercinta, namun yang tertulis bukan namaku melainkan nama perempuan lain, perempuan yang sangat kukenal.
Aku membatin, tak sanggup membendung air mata. Kupeluk kedua putri kembarku yang mungil, mereka membasuh air mataku dengan jari-jari kecilnya seakan mereka merasakan kepedihanku saat ini. Kupandangi wajah mereka, semakin aku tak mampu menahan tangis dan kembali kudekap mereka, erat dalam pelukanku.
Malam menunjukkan pukul 10.00 WIB, kudengar motor mas Aqil parkir di teras. “Assalamu’alaikum, ma..buka pintu”. Teriak mas Aqil sambil mengetuk pintu beberapa kali. Kubuka pintu dan kudapati ia pulang bersama Ami. Aku berusaha untuk tetap tenang dan bersikap normal meskipun kurasakan ada bara api membakar di hatiku. “Kami baru selesai meeting, di jalan Ami membeli sedikit oleh-oleh buat anak-anak. Aku antar Ami pulang dulu yah”. Tak ada kata yang keluar dari bibirku, hanya senyum yang kupaksakan tuk menjawab sapaan Ami. Aku masih mematung di depan pintu hingga suara motor mas Aqil hilang ditelan malam.
Ami, perempuan yang begitu sempurna di mataku. Cantik, cerdas dan sukses dalam karir. Dia adalah adik dari sahabat mas Aqil yang juga sekantor dengannya. Aku tak pernah menaruh cemburu atau curiga setiap kali ia main ke rumah bersama mas Aqil. Kami sudah kenal lama dan aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Rumah kami searah, jadi menurutku wajar jika sekali-kali mas Aqil mengantarnya pulang setiap kali mereka harus lembur. Tak jarang memang orang-orang di sekitarku mengingatkanku melihat kedekatan mereka. Tapi aku tetap menaruh kepercayaan yang tinggi pada mas Aqil dan Ami. Aku tidak ingin mengganggu hubungan persahabatan kami dengan kecurigaanku yang menurutku tidak beralasan. Ami bisa mendapatkan laki-laki yang jauh dan lebih dari mas Aqil, fikirku.
Aku berusaha tegar di hadapan mas Aqil, aku tetap menyembunyikan perasaanku. Tapi, aku hanyalah tetap seorang wanita, aku lemah. Tak ada tempat untukku mengadukan kegundahan hatiku. Malam-malamku dipenuhi dengan air mata, aku hanya bisa mengadu pada-Nya. Karena hanya Dia yang aku miliki, hanya Dia yang mampu menenangkanku. Sementara mas Aqil tetap seperti biasa, tak ada perubahan dari sikap dan perhatiannya padaku. Hanya saja dia sering pulang larut.
Suatu hari aku mengundang Ami makan siang di rumah pada saat libur kerja. Dan Ami pun memenuhi undanganku. Saat Ami datang, aku pura-pura menyuruh mas Aqil ke pasar membeli makanan ringan. Tanpa ragu, mas Aqil langsung berangkat. Sejenak aku  terdiam menemani Ami di ruang tamu, sesekali kupandangi Ami yang asyik bercanda dengan anak-anak. “Mi, mbak mau nanya, boleh?”. Kataku memulai pembicaraan. “Iya mbak, boleh. Mau nanya apa yah?”. Jawab Ami yang kemudian menunjukkan muka serius padaku. “Mbak cuman mau nanya satu hal, dan aku harap kamu jawab dengan jujur. Apa kamu mencintai mas Aqil?”. “Astaghfirullah mbak, demi Allah. Saya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan mas Aqil. Sungguh, saya tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya. Saya berani bersumpah mbak, demi Allah saya tidak mencintai mas Aqil”. Kulihat wajah Ami begitu khawatir mencoba meyakinkanku. Aku menghela nafas panjang, menata hatiku yang berkecamuk, menahan amarah dan air mata yang saling berlomba mengusik pertahananku. “Aku pegang kata-kata kamu Mi, Allah menjadi saksi kita. Tapi, jika hal ini benar, maka semuanya aku serahkan pada Allah. Biarlah Allah yang memenuhi sumpahmu dengan kehendak-Nya”.
Hari-hari kulalui dengan sulit setelah pembicaraanku dengan Ami. Mas Aqil lebih sering marah dan semakin sering pulang larut. Pertengkaran demi pertengkaran menjadi hal yang biasa mengawali dan mengakhiri hari kami. Tak ada lagi pelukan dan kecupan mesra membuka pagi, semuanya telah hilang. Mas Aqil berubah menjadi sosok yang tak kukenal.
“Besok aku akan menikahi Ami”. Mas Aqil tiba-tiba mengagetkanku yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Jantungku seakan berhenti berdetak, mulutku kaku tak mampu berucap. Aku mematung, tak sanggup menoleh pada mas Aqil yang kemudian berlalu dariku. Kembali buliran panas jatuh membasahi pipiku, dadaku sesak tak tertahankan. Rasa perih meyelimuti hatiku. Pandanganku menerawang jauh menatap matahari yang bersinar terang menembus kaca jendela.
Air mataku mulai mengering, rasaku seakan menghambar. Kupandangi kedua putriku yang bermain dengan wajah riang. Tak ada duka di wajah mereka, mereka terlalu kecil untuk mengerti, bahwa 2 jam lagi ayah mereka akan menambah wanita lain dalam hidupnya, bukan hanya kami lagi wanita mas Aqil, tapi ada yang lain, bukan kami. “Kamu mengkhianatiku mas”. Lirihku dalam hati saat memandangi foto pernikahan kami yang terpajang dengan angkuhnya di ruang tamu.
Aku masih berdiri menatap satu per satu foto-foto kami yang menghiasi dinding rumah, kurasakan ada pelukan erat datang dari arah belakangku. Sangat erat hingga membuatku tak mampu bergerak. Aku tau itu adalah tangan kekar mas Aqil. Tangisnya memecah keheningan. “Bukankah sekarang adalah waktumu mengucap Ijab kabul untuk Ami mas???”. Tanyaku datar. “Maafin aku ma, maafin aku”. Jawabnya sembari menciumi kepalaku, lama. “Aku tidak akan pernah menukar kebahagiaan ini dengan apapun di luar sana. Aku janji ma, tidak akan ada lagi Ami atau Ami yang lain dalam kehidupan kita”. Aku berbalik memeluk mas Aqil. Syukurku memenuhi relung hati. Betapa Allah memperkenankan doaku.
Alhamdulillah yaa..

The End



*Cerpen ini terinspirasi untuk mengenang masa perselingkuhan Papaku. Kata Papa, perempuan tersebut menjadi gila 1 jam sebelum akad nikah. Akhirnya Papa memutuskan pulang and it's mean no wedding, and no new woman more in our family.

28 Sep 2011

Hikmah Hari ini


Senja di sore itu, membawaku berjalan menyusuri jalan sekitar kantor. Malam perlahan menyelimuti matahari, seperti bilangan keluh kesah menyertai langkah demi langkah kaki. Hingga ia tak berbilang lagi.
*****
Siang itu, jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Aku bergegas menuju parkiran, ingin segera menyenangkan cacing-cacing di perutku. Aku sedikit menarik mundur motorku, tp kok rasanya berat, tidak s...perti biasanya. Aku menunduk sedikit, mencurigai ban. Dan Alhamdulillah, kecurigaanku adalah nyata. Ban motorku kempes.
Aku menghela napas, dan kubisikkan hatiku dengan kata penenang hati, 'Sudahlah Ki, waktumu tuk berbagi dengan mereka yang berprofesi sebagai penambal ban jalanan'. Aku merasa senang bisa membuat hatiku mengambil sisi positifnya, dan mulai mengikhlaskannya.
*****
Aku memandangi kak Karol yang semakin jauh meninggalkanku, ia begitu semangatnya menggiring motorku. Sementara aku, aku yang hanya membawa diri mulai merasa lelah dan hampir saja menyetop ojek. Hampir saja rasa lelahku membuang rasa empatiku.

'Capek banget kak, kita jalan berapa kilo nih? Ada 2 kilo yah kak? Coba aku tau sejauh ini, mending aku tungguin kaka di office tadi'. Kak Karol hanya tersenyum sambil menawarkan air minum. Kemudian ia menertawakanku yang masih terlihat kecapean.
Aku mengalihkan pandanganku pada sosok perempuan yang mulai mengangkat paku pada ban motorku. Awalnya aku fikir, ah..mungkin dia senang aja bantu-bantu suaminya di bengkel. Namun aku semakin terpaku, pandanganku tetap pada perempuan itu, nampak di mataku ia membuka Ban, kemudian menggantinya dan sesekali ia meladeni pelanggan lain yang juga mengalami masalah pada ban motornya.
Menyadari diriku yang semenjak tadi memperhatikan perempuan tersebut sampe mangap, kak Karol kemudian berkata, 'bersyukurlah kamu, karena kamu berpendidikan'. 'Iya kak, seharusnya sy bersyukur, bukannya mengeluh seperti tadi'. Jawabku dengan nada lemah.
*****
Temans, hikmah itu memang selalu ada dimana-mana. Tinggal bagaimana kita mau mengambilnya atau malah mengacuhkannya. Hari ini Allah memberiku pelajaran bahwa berprasangka baik saja pada Allah itu tidaklah cukup jika kita belum ikhlas akan apa yang telah ditetapkan-Nya pada diri kita. Dan keihklasan itu belumlah sempurna jika kita tidak mensyukuri tiap nikmat yang kita rengkuh dalam detik waktu kita. Kini aku baru mengerti, mengapa para Sufi menempatkan rasa syukur setelah takwa, ikhlas, iman dan islam.
Dalam perjalanan pulang yang diiringu kumandang adzan maghrib, kembali aku teringat kata-kata kak Karol. Mengacak-acak kesadaranku bahwa sebisanya Perempuan memang harus berpendidikan dan profesional serta menjadi pribadi yang tercerahkan. Karena kita tidak pernah tau, sampai kapan para lelaki kita membersamai langkah perjuangan hidup.
Allah.. Malu aku mengeluh pada makhluk-Mu.
*Thanks buat kak Karol yang mau berlelah ria untukku :)

21 Sep 2011

Ku Tahu yang Ku Mau

Bandara Hang Nadim Batam nampak begitu sibuk hari ini, kulihat jam di HP-ku menunjukkan pukul 12.30 WIB. Tepat di ruang tunggu aku memandangi setiap pesawat yang silih berganti lepas landas. Sudah 1 jam menunggu dan masih menyisakan se-jam lagi pemberangkatan Batam – Jakarta untuk Maskapai Penerbangan Garuda. Wajah cantik Vivi semakin jelas membayang di pelupuk mata, lentik jemarinya seakan membelai-belai rambutku yang ikal. Kurindukan senyum manisnya, tatapan matanya dan suara manjanya yang selalu bisa meluluhkan hatiku. Aku selalu senyum-senyum sendiri kala membayangkan wajahnya.
Tit..tit..tit.. HP-ku berbunyi, 1 pesan diterima. “Udah berangkat lo? Sukses yah!”. Aku tersenyum membaca sms Mila. “Sukses juga deh dengan prosesi ta’arrufnya. Wkwkwkwk!!!”. Balas sms-ku pada Mila. Hmmm.. Tepat di waktu yang sama, Mila juga akan memutuskan siapa yang akan menjadi soulmate-nya kelak habis Ashar nanti. Aku pun berencana langsung menemui Vivi ke rumahnya segera setelah sampai di Jakarta.
*****
Mila : “Bro, doakan gw yah ato dukung gw ato apalah kira-kira konstribusi yang bisa elo berikan demi terciptanya Rumah Tangga SAMARA buat gw”.
Aku : “Emangnya elo udah mau nikah? Alhamdulillah, akhirnya ada juga kaum gw yang khilaf ngelamar elo. Hahaha..”
Mila : “Waaahhh.. Jahat lo yah, masa bilangnya gitu sih ke gw?”
Aku : “Who is the unlucky man, sizt?”
Mila : “Ah.. resek lo”...
Aku : “Hahaha, iya deh. Selamat. Kapan lamarannya?”
Mila : “Blum lamaran, kemaren kami baru abis ta’arruf gitu. 2 minggu dari sekarang aku harus memutuskan, mau lanjut ato gak”.
Aku : “Oh..Gitu, ya wes. Smoga elo dapet yang terbaik buat hidup elo deh. Amin! Eh, doakan gw juga yah. Gw mau ke Jakarta, tepatnya 2 minggu ke depan juga. Tiket sudah di tangan.
Mila : “Ngapain?”
Aku : “Jangan bilang sama siapa-siapa yah, gw mau melamar Vivi”
Mila : “What???” Vivi yang mantan lo 2 tahun lalu itu yah? Sejak kapan kalian jadian lagi?”
Aku : “Weitsss...tenang non. Kami gak jadian kok, bahkan sampe sekarang kami blum pernah ada komunikasi lagi sejak putus. Tapi gw mau ngasih surprize buat Vivi. Dan aku yakin dia gak bakal menolakku”.
Mila : “PeDe banget lo.. Udah siap patah hati tuk yang ke-dua kalinya gak?”
Aku : “Mesti PeDe dong, secara...semua yang diinginkan Vivi sekarang sudah ada padaku”.
Mila : “Astaghfirullah...Kayaknya lo mesti lurusin niat elo deh Rif. Elo mau nikah apa mau mengulang masa lalu? Elo mau nyari istri yang bisa membanggakan kamu di hadapan Allah kelak ato istri yang hanya bisa membanggakan kamu di depan teman-teman kamu karena kecantikan dan kemolekan tubuh yang dimilikinya? Elo kan udah tau dari awal sampai khatam karakter Vivi gimana, gak mungkin dia memilihmu”.
Aku : “Tapi aku sangat mencintainya Mil”
Mila : “Terserah elo aja bro. Gw gak mungkin melarang elo. Tapi klo saran gw sih, mikir-mikir lagi deh. Atau cari kek teman perempuan elo yang kira-kira masuk dalam kriteria elo, tapi bukan Vivi loh yah..”.
*****
Vivi, primadona kampus, gadis tercantik yang pernah hadir mengisi hari-hariku sejak kami sama-sama mengambil studi S-2 Project Management di salah satu Perguruan Tinggi di Bandung beberapa tahun silam. Dikumpulkan dalam satu kelompok penelitian bersama 3 orang lainnya, salah satunya adalah Mila yang juga teman kuliahku selama 5 tahun S-1, 1 tahun kerja di perusahaan yang sama, sama-sama mendapatkan Beasiswa di Jurusan yang sama dan sekarang 2 tahun kembali bekerja pada perusahaan yang sama pula. Hampir semua temanku bilang kalo Vivi menyukaiku karena ke-enceran otakku, tapi aku tidak pernah peduli bahkan tidak mau tahu. Mila juga sesekali mengingatkanku dan menasehatiku. Tapi tetap saja usaha sahabatku yang akhwat ini tidak bisa mengubah pendirianku.
*****
Entah mengapa aku lebih banyak kefikiran Mila akhir-akhir ini, ada perasaan takut kehilangan yang menghampiri sejak dia memberi tahu kabar proses ta’arrufnya. Kata-kata Mila saat Chating terakhir itu membuatku selalu berfikir. Namun hasratku pada Vivi juga semakin membuncah. Bila dirunut sampai ke palung hati, aku sendiri bingung dengan perasaanku pada Vivi. Masihkah itu perasaan cinta atau ambisi dan obsesiku saja. Lelaki mana yang tidak akan membusungkan dada bila berjalan didampingi oleh Vivi. Kesempurnaan fisik menutup semua kekurangannya. Sedangkan Mila... Mila jauh dari kriteria yang kuinginkan. Rifky Arya Putra, lelaki terganteng dan terkeren sejagad, smart, sukses, diingini oleh semua wanita cantik, tapi mendapatkan istri Ustadzah. Ahhh...bisa hancur reputasi gw.
*****
Tak terasa Pesawat akan segera berangkat, semua penumpang menuju gate pemberangkatan. Aku masih duduk terpaku, tiba-tiba perasaan bimbang menyelimuti hatiku. Seakan muncul kesadaran di dalam hati dan fikiranku. Aku tahu apa yang kuinginkan saat ini. Aku segera bangkit dan bergegas pergi, aku keluar dari gedung bandara dan mengambil Taxi. Aku membatin, Mila.. Mengapa aku begitu buta selama ini, mengapa aku tidak pernah menyadari perasaanku padamu. Kebaikanmu, ketulusanmu, kedewasaan dan senyummu selalu menyempurnakan hariku.
*****
Aku mengetuk pintu rumah Mila, tidak sabar lagi rasanya tuk mengungkapkan semua isi hatiku. “Assalamu’alaikum... Mila.. Mil”. “Wa’alaikum salam, tunggu..” terdengar suara Mila dari balik pintu. Mila : “Loh, bukannya elo udah berangkat ke Jakarta?”. Tanya Mila keheranan saat melihatku di balik pintu.
Aku : “Iya, seharusnya. Tapi ada beberapa hal yang pengen gw tanyain ke elo”.
Mila : “Apa?” Mila balik bertanya.
Aku : “Apa keputusan elo tentang proses ta’arrufmu itu?”
Mila : “Yeee..mau tauuuu aja..”
Aku : “Mil, kita menikah yuk. Kamu kan baru ta’arruf, belum dikhitbah”
Mila : “Apa? Tolong diulang sekali lagi Rif!!!”
Aku : “Mila Handini Dinata, maukah engkau menikah denganku?”
Plaaaakkk...Plaaakkk
*****
Astaghfirullah... Aku terbangun sambil memegang ke-dua belah pipiku. Alhamdulillah, ternyata hanya mimpi. Aku bangkit dari tempat tidur dan menuju cermin. Kupandangi wajahku dengan seksama, subhanallah.. Aku memang ganteng. Hmmm... Mila, mungkinkah kita bisa menjadi sahabat yang halal selamanya???

Batam, 21 September 2011

20 Sep 2011

Demi Cinta

“Sekarang kamu putuskan, perempuan itu atau ibu?”. Bentak ibu pada mas Asan.
“Bu, itu adalah hal yang tidak mungkin aku lakukan. Kalian adalah wanita yang paling kucintai dalam hidupku. Aku harap ibu bisa memahaminya”. Jawab mas Asan sambil memeluk lutut ibunya.
“kalau kamu tetap memilih perempuan itu, maka mulai sekarang kamu bukan anakku lagi. Keluar dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini”. Suara ibu bergetar dan nanar memandang diriku yang berdiri terpaku di pintu kamar.
Aku hanya bisa terisak dalam tangis, tertunduk dan tak berdaya. Aku dan mas Asan saling memandang. Sejenak kutatap wajah lelaki yang paling kucintai itu, kemudian aku terduduk dan menangis sejadi-jadinya. Mas Asan menghampiriku, memelukku dan menggenggam erat tanganku.
“Ayo sayang, kita pergi sekarang juga”. Bisik mas Asan di telingaku.
“Tapi mas...”. Telunjuk Asan menekan bibirku yang menghentikanku berbicara.
Mas Asan seraya bangkit dan meraih tanganku. Tanpa berkata satu patah kata pun, kami keluar dari rumah. Mas Asan menghentikan langkahnya di depan pagar rumah, kemudian membalikkan badan. Ia pun tak sanggup membendung air matanya. Hanya pakaian di badan dan perasaan yang berkecamuk yang membersamai langkah kami. Aku terus mengikuti langkah mas Asan, tangannya tak berhenti menggenggam erat tanganku. Aku lelah tapi tak ingin mengusik pikirannya. Akupun tak bertanya kemana hendak menuju.Hingga akhirnya kami lelah berjalan dan berhenti di sebuah Toserba pinggir jalan, panas matahari begitu menyengat membuat kerongonganku kering kerontang. Mas Asan membuka dompetnya yang hanya berisikan 2 lembar pecahan 10rb rupiah dan 10 lembar pecahan 2rb rupiah. Mas Asan melirikku dan membuka lebar dompetnya padaku, kemudian ia tersenyum manis padaku.
Lama kami terdiam, duduk di halte Bus dekat Toserba tadi. Yang terdengar hanya suara kendaraan yang lalu lalang di hadapan kami. Akhirnya kuberanikan diri tuk berbicara pada mas Asan. “Mas, bagaimana klo kita ke rumah nenek aja di kampung? Di sana kita bisa memulai hidup baru dan mandiri”. Mas Asan masih terdiam, memandang lepas ke arah depannya. “Nenek kan udah tua, kasihan gak ada yang ngurus beliau”. Kembali aku melanjutkan ideku. “Baiklah sayang, aku ikut apa kata kamu”. Jawabnya singkat.
Akhirnya kami mengambil Bus tujuan kampung nenek. Kami tidak ada pilihan lain lagi. Selama ini mas Asan hanya bekeja di toko orang tuanya. Semenjak kami menikah, semua penghasilan mas Asan di simpan oleh ibu. Aku hanya kebagian sisa-sisa duit yang disembunyikan oleh mas Asan dari ibu. Dari awal pernikahan kami memang tidak direstui oleh ibu, tapi kala itu mas Asan tetap ngotot. Ibuku meninggal saat aku berusia 4 tahun dan ayahku menikah lagi tak lama setelah ibuku meninggal. Aku lebih memilih tinggal bersama kakek dan nenek daripada tinggal bersama ayahku. Tapi tidak lama kemudian kakek pun meninggal. Tinggallah aku dan nenek. Di umur 17 tahun, mas Asan meminangku tuk jadi istrinya. Aku pun tak menolak, dia begitu sempurna di mataku.
5 tahun usia pernikahan tapi kami belum dikarunia anak. Dan sepanjang waktu itu juga aku harus bersabar dengan perlakuan ibu mertuaku yang tidak pernah kunjung menerimaku sebagai menantunya. Aku selalu berusaha bersabar. Kepedihan dan penderitaan yang kurasakan tak sebanding dengan kasih sayang yang diberikan mas Asan padaku. Cintanya selalu menguatkanku. Hingga suatu hari ibu mengenalkan perempuan lain tanpa sepengetahuanku pada mas Asan. Mas Asan menolak yang kemudian selalu menyulut pertengkaran antara anak dan ibu tersebut. Dan hari inilah puncaknya, kami di usir dari rumah. Aku tahu, mas Asan sangat terpukul dengan kejadian ini. Dia sangat mencintai ibunya. Aku hampir tak percaya bahwa dia lebih memilihku.
Selama perjalanan di dalam Bus, aku menyandarkan kepalaku di atas dadanya. Kurasakan air matanya panas mengaliri pori-pori rambutku. “Oh..Allah, sungguh aku tak sanggup melihat kedukaan di wajah lelakiku ini, tapi aku juga tak sanggup kehilangannya. Dialah hidupku”. Jeritku dalam hati.
Tak terasa kami sudah 3 tahun di kampung nenek, ekonomi kami pun mulai mencukupi. Bahkan kami sudah memiliki rumah sendiri yang sekaligus kami jadikan Toko. Namun, mas Asan lebih banyak menyendiri dan merenung di sebagian waktu malamnya. Tubuhnya sangat kurus. Sampai suatu saat dia sakit parah. Dokter sudah angkat tangan. Berbagai cara kami lakukan demi kesembuhannya, pengobatan alternative pun sudah kami jalani namun hasilnya nihil.
Berita tentang mas Asan akhirnya sampai di telinga Ibu. Dan tanpa kami sangka, Ibu datang menjenguk. Menyadari kehadiran Ibu, mas Asan seakan mendapatkan kekuatan dahsyat untuk bangkit dari tempat tidur dan memeluk erat Ibunya. “Maafkan kami bu, jangan pisahkan kami bu. Asan sayang sama Ibu”.
Aku hanya berdiri mematung menyaksikan mereka yang berderai air mata. Kadang aku merasa egois karena membiarkan mereka terpisah, padahal aku sangat tahu betapa besarnya rasa cinta diantara mereka. Tapi mas Asan selalu menolak setiap kali aku menyuruhnya kembali ke rumah orang tuanya. “Apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Aku tidak akan pernah mengingkari Ijab-ku pada Allah untukmu”. Begitu katanya, selalu begitu.
Lambat laun, mas Asan mulai sehat dan kembali normal lagi seperti semula. Yah, semua karena cinta dan kasih sayang Ibu. Kurasakan perlakuan Ibu pun padaku mulai berubah. Perubahan yang meskipun hanya sedikit, namun cukup menenangkan kami.
Akhirnya aku hamil di usia 9 tahun pernikahan kami. Dan anak pertama kami laki-laki. Sungguh sebuah kesyukuran yang teramat bagi kami berdua. Rasanya, dunia kami sangat sempurna. Dan sejak kelahiran anak pertama itu, Ibu benar-benar berubah total. Kami menjadi keluarga baru, baru dalam kebaikan hati dan saling mencintai dengan ketulusan. Kini semakin kusadari, betapa Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesabaran kita.
Cinta adalah perjuangan. Cinta tidak akan pernah tumbuh indah pada jiwa-jiwa yang kerdil, karena cinta hanya mencintai mereka yang memenuhi hatinya dengan kebaikan cinta.

(Cerpen ke-3nya Kiki) 
Batam, 20 Spetember 2011

This story inpired by the real story of my beloved parents. I love u all...

13 Agu 2011

Takdir Kita Hanya Sebagai Sahabat, Tak Lebih!

“Cha, menikahlah denganku”. Duarrrrrrr! Bagaikan petir menghujam hatiku kala itu, tiba-tiba saja Dion sahabat karibku mengungkapkan maksud hatinya melalui telepon di seberang sana. Aku hanya bisa terdiam dalam bulir air mata yang terasa panas membasahi wajahku. Tak tahu harus berkata apa, tak mengerti dengan perasaan hati. Semuanya gelap dalam fikiran. Sayup-sayup terdengar kumandang Adzan Maghrib bergemuruh di seantero Jakarta. Aku bangkit mengambil wudhu, kumatikan HP tanpa peduli pada Dion yang masih menunggu jawabku.


Aku menangis sejadi-jadinya dalam sujud terakhirku, mengadukan kegundahan dan menumpahkan semua perasaan hati pada-Nya. Entah mengapa, aku merasa begitu lemah saat itu. Hatiku tak berdaya dan benar-benar merasa bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang bisa menenangkanku. Kuambil mushaf usangku, membaca beberapa ayat surat cinta-Nya. Begitu menyejukkan hati, membasuh jiwa yang penuh harap.

Aku mengenal Dion di hari pertamaku menyandang gelar sebagai mahasiswa. Ketika itu kami 1 angkot pulang kampus, ia menjulurkan tangannya sambil menyebut namaya, “Dion, kamu?”. “Aku Icha”, jawabku singkat. Kemudian mengalirlah cerita-cerita diantara kami hingga akhirnya aku pamit karena rumahku lebih dekat dari kampus. Kami sekelas selama 4 tahun masa kuliah. Dengan masa yang cukup banyak hari pertemuan dan interaksi, hubungan kami biasa-biasa saja. Tak ada yang special, dia sibuk dengan aktivitas perkuliahan karena dia masuk dalam kategori mahasiswa yang akademik banget sementara diriku sibuk dengan dunia baru yang begitu menarik hati dan minatku.

Aku memutuskan untuk aktif dalam kegiatan dakwah kampus di akhir tahun 2005. Hal ini cukup banyak kuberikan waktu dan sebagai resikonya aku hanya berada di area Jurusan pada saat jam kuliah, selebihnya kuhabiskan dengan aktifitas bersama teman-teman akhwat yang notabene semuanya tak se-Jurusan denganku. Karena terlalu sibuk di luar Jurusan, akhirnya aku jarang punya waktu-waktu berkualitas tuk berdiskusi atau sekedar bersendagurau dengan teman-teman sekelas. Sesekali mereka menahanku dan kemudian mengalirkan tema diskusi yang cukup panjang dan kompleks. Dion termasuk yang paling aktif dalam bertanya. Sampai terkadang aku sampai kewalahan meladeni mereka, aku hanya seorang (akhwat pula), harus berada dalam forum para lelaki Teknik. Penuh retorika dan argumentatif.

Tak terasa Dion dan beberapa orang teman lainnya sudah menyelesaikan studinya. Sementara aku masih pengen berlama-lama di kampus. Bukan karena mata kuliahnya keteteran, tapi memang masih pengen jadi mahasiswa. Setahun kemudian aku berhasil meraih gelar Sarjanaku, setelah mendapat ultimatum dari Ibu. Klo tidak selesai, semua fasilitas termasuk jatah bulanan bakal dicabut.

Dion langsung bekerja di sebuah Perusahaan Swasta segera setelah wisuda. Komunikasi kami memang tetap berlanjut, apalagi jejaring sosial facebook lagi booming kala itu. Komunikasi via telpon dan sms-pun kadang-kadang kami lakukan. Semua kuanggap biasa-biasa saja, dan memang perasaanku juga mengatakan bahwa Dion tak punya rasa terhadapku. Begitulah otakku meyakinkan hatiku setiap kali Dion menghubungiku.

Setelah wisuda, aku sempat nganggur selama 6 bulan. Berat meninggalkan Makassar, hingga akhirnya Dion menawariku bekerja pada perusahaan tempatnya bekerja. Aku sempat berfikir panjang, susah untuk mengambil keputusan. Apalagi, seingatku ketika masih kuliah, Dion salah satu temanku yang paling sering mencelaku. Yah...meskipun aku tahu bahwa semua itu hanya sebatas candaan dan keisengan dia terhadapku. Tapi tetap saja aku harus berfikir 1000x sebelum mengambil keputusan.

Batam, akhirnya menjadi tempatku melabuhkan cita dan impian masa depan. Memulai hidup dengan kemandirian diri, berharap tak lagi mengandalkan tangan orang tuaku menyuapi diriku dengan suap demi suap nasi kehidupan. Berusaha tetap memampukan diri dalam keterbatasan.

Tak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan suasana kantor dan pekerjaan karena di perusahaan tersebut ada banyak wajah yang tak asing lagi bagiku. Apalagi ada Dion yang dengan sabar memperhatikan kebutuhan-kebutuhanku di kantor. Dan kembali kami mengulangi kebiasaan seperti di kampus dulu, berdiskusi. Banyak hal yang kami diskusikan, dan tak jarang kami membicarakan tentang kondisi keluarga masing-masing. Kadang aku merasa aneh, bagaimana mungkin aku bisa bercerita banyak tentang hal pribadiku terhadap satu orang teman lelakiku. Yang aku tahu, hanya Dion diantara sekian banyak teman laki-laki yang kumiliki di dunia ini yang bisa kupercaya untuk sharing tentang berbagai hal.

Melihat kedekatan kami, tak jarang orang-orang berfikiran bahwa kami memiliki hubungan spesial. Ada juga yang suka menjodoh-jodohkan kami. Tapi semua itu tidak membuat hubungan kami mengalami kerenggangan atau berkembang ke arah yang diharapkan orang-orang di sekitar kami. Mungkin karena kami sudah saling memahami karakter dan akan kriteria belahan jiwa idaman masing-masing. Aku bukan kriterianya dan dia bukan idamanku, itu yang kufahami dari hubungan kami. Dia punya pacar dimana-mana sementara aku anti-pacaran sebelum nikah.

Sebagai perempuan normal, perasaan sayang sama Dion pasti ada. Ke-GR-an pun kadang datang menghampiri rasa melihat begitu banyak perhatian yang dia berikan. Apalagi klo dia nelpon tanpa ada urusan yang jelas, hanya sekedar ingin tahu kabarku atau ingin menghabiskan sisa pulsa gratisnya. Sementara aku tak pernah berinisiatif sms apalagi nelpon dia jika tidak ada keperluan mendesak. Aku memang selalu berusaha menunjukkan sikap tak peduliku padanya. Aku akan melakukan apapun agar semua laki-laki yang hadir di hidupku tidak pernah memiliki fikiran bahwa aku ada rasa terhadap mereka. Siapapun itu, apalagi jika laki-laki itu berpotensi mengganggu hatiku, maka semakin keraslah usahaku menjauhinya.

Aku merasa, Dion juga berusaha untuk tidak membuatku GR dengan selalu menceritakan padaku saat dia lagi jatuh cinta sama si A, atau dia akan mengabariku klo dia sudah jadian sama si B. Meskipun aku merasa kadang pacar-pacar dia agak jealous denganku, tapi aku tidak pernah pusing. Dion juga santai-santai saja, jadi tetap saja tak ada yang berubah dalam hubungan kami.

Hingga akhirnya aku mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta setelah 2 tahun berkarir di Batam. Tanpa berfikir panjang segera kuajukan surat resign dan bersiap-siap untuk memulai hidup baru di Jakarta. Selain ingin mengembangkan karir, aku memilih meninggalkan Batam karena aku merasa jodohku ada di tempat lain. Aku harus menjemputnya, melihat usiaku yang akan segera memasuki angka 26. Tiga bulan sudah aku di Jakarta dan selama itu pula aku tak pernah bersapa ria lagi dengan Dion meskipun via facebook. Bahkan saat kami sama-sama online, tak ada tegur sapa darinya.

HP-ku berdering memutuskan alur fikiranku yang berjalan ke bagian masa lalu yang berisikan kenangan bersama Dion. Kulihat Dion yang memanggil. Aku tak mempunyai keberanian tuk mengangkatnya. Kubiarkan HPku terus berdering. Kuarahkan pandanganku ke Laptop yang sejak tadi sore memperdengarkan suara indah As-Sudaish. Facebook-ku masih online, ku klick upload beberapa file foto yang hendak ku-upload ke facebook sebelum Dion nelpon tadi. Dan tanpa ragu men-tag semua nama yang ada di list temanku.

Dion, kamu terlambat sahabatku. Seandainya 2 bulan lalu kamu yang memintaku, maka akan kupilih engkau. Tak peduli dengan kriteria kita masing-masing. Toh, kamu sudah sangat mengenalku. Mengenalku lebih dari orang tuaku sendiri. Bahkan jauh lebih tahu dari orang yang namanya tertulis di undangan walimahan-ku ini. Semuanya sudah tertulis dalam Kitab Lauh Mahfudz-Nya. Kamu dan aku seperti siang dan malam, selamanya tidak akan pernah bersama. Selamat tinggal sahabat, terima kasih untuk telah memberikanku rasa memiliki saudara laki-laki.



Batam, 13 Ramadhan 1432H

(Cerpen ke-2 ku)

10 Agu 2011

Nasehat untuk Diri di Hari Ini...

Gak berasa, 10 Ramadhan sedang membersamai kita di hari ini. Apa kabar Iman? Masihkah ia melemah? Atau semakin menaikkah kadarnya? Semoga Allah merahmati kita dengan kebaikan Iman dan Akhlak yang mulia. Ramadhan terlalu indah tuk dilalui tanpa memberi berjuta makna di langit jiwa.


Di kantor lagi senggang banget, jadi kepikiran tuk nulis lagi. Udah hampir sebulan gak melakukan corat-coret di my sweatest blog. Kali ini temanya tentang kabar iman, tentang imanku dan imanmu mungkin. Melemahkah, atau menguatkah ia selama Ramadhan ini.

Ada yang bilang, klo iman itu ibarat sebuah deretan gunung. Ada yang tinggi, ada pula yang rendah. Tidak sama rata lah penampakannya. Begitupun dengan kondisi iman. Tapi klo dirasa-rasa, kondisi iman itu hanya ada dua, makin membaikkah atau malah makin memburuk. Klo kondisi stabil, hmmm...kayaknya ga ada deh. Atau ada yang merasa saat ini imannya stabil-stabil aja? Klo iya, jangan lupa lapor sama pak RT yah (loh, apa hubungannya? Hehehe)

Saya yakin, setiap kita di dunia ini pasti pernah merasakan imannya lagi tinggiiiiiiiiii banget. Nah di saat itu ibadah akan terasa nikmat, lisan jadi kekontrol, dan hidup rasanya adem ayem meskipun cobaan datang silih berganti, istilahnya, hidup gak bakalan nikmat klo ujiannya cmn segede biji sawi. Tapi, klo si iman lagi down, semuanya bakal terasa berat. Bahkan ngangkat nasi ke mulut aja rasanya mo ngangkat 1 ton beras. Hati gampang emosian, nasehat baik dianggap kritikan pedas dan kebiasaan buruk yang dilakukan kembali malah terasa nikmat. Minim rasa bersalahnya, malah suka menyalahkan orang lain, deelel.

Sebenarnya lemah adalah hal manusiawi, termasuk lemah iman. Dalam Al-Qur’an Allah sudah mengatakan bahwa manusia itu sesungguhnya lemah. Kita lemah, serba kekurangan, suka bergantung sehingga memerlukan tempat tuk bergantung yang lebih kuat dan agung. Persoalannya; pada siapa kita sandarkan harapan kita, pada siapa kita tujukan segala keluhan dan keresahan jiwa kita dan pada siapa kita meminta pertolongan. Jangan sampe harapan itu kita sandarkan pada pohon Beringin tuk ngurus diri-diri kita, trus klo lagi sedih dan punya seabrek masalah ngadunya sama si mbah Facebook, and pas lagi butuh pertolongan, mintanya sama ketik REG (sapsi) UstadCinta kirim ke neraka...Ckckckck, sungguh terlalu.

Jadi lemah iman itu bukanlah suatu penyakit, soalnya obatnya gak ada dijual di apotek. Tapi bukan berarti lemah iman itu tidak ada penawarnya. Klo kita mau ambil sisi positifnya, lemah iman itu adalah sebuah kenikmatan loh, kenapa? Karena di saat itulah kita akan merasakan kerasnya berjuang, mengiba dan mengemis di hadapan Allah untuk meraih cinta-Nya. Coba klo gak, pasti usaha kita gak akan sekeras itu. Iya kan?

Nah, mumpung masih Ramadhan nih. Momen-momen indah tuk berkhalwat ma Allah lagi banyak-banyaknya neh. Sampe pahalapun di obral sama Allah. So, mari kita maksimalkan usaha kita tuk meraih simpati-Nya. Gratis kok, gak pake modal duit. Modal niat dan kemauan dah cukup. Gak pake repot bin ribet. Nikmati aja prosesnya, masalah hasil itu urusan belakangan. Kekuatan iman memang hasil, ketenangan, keikhlasan, keteguhan hati, jiddiyah juga hasil, tapi semua itu hanya bisa kita peroleh dari kesungguhan doa-doa kita, munajat kita di sepanjang malam dan setiap tangisan-tangisan kita yang mengiba pada-Nya.

Bawalah Allah dalam hatimu, selalu. Karena setiap yang kita miliki hari ini dan yang akan datang pasti akan meninggalkan kita, kecuali Allah. Yaa..Allah lindungilah setiap langkah kami, janganlah Engkau biarkan kami tersesat setelah Engkau beri nikmat iman. Karena hanya kepada-Mulah kami menggantungkan segala asa.



Wallahu’alam



Batam, 10th August 2011

19 Jul 2011

Ini Ceritaku, Apa Ceritamu???

Akhirnya setelah sekian lama, bisa nulis lagi. Banyak hal yang membuatku berhenti sejenak dari aktivitas menulis. Selain karena ga punya fasilitas di rumah, kesibukan di tempat kerja juga seakan memangkas semua waktu yang kupunya setiap harinya. Pengen curhat, dak sabar lagi rasanya. Perasaanku sudah membuncah mengisi langit kepala, ingin segera kualirkan dalam goresan kata demi kata untuk menjadi kalimat perwakilan rasa hati.
Kurang lebih, dalam kurung waktu 2 bulan ini, saya begitu sibuk bergelut dengan kerjaan di kantor, selain itu saya juga sibuk ngelempar CV ke berbagai perusahaan, termasuk melakukan beberapa interview, baik langsung maupun by Phone. Ada banyak suka dukanya, sampai-sampai sempat terhinggapi rasa putus asa, tak berguna dan berbagai macam perasaan negative yang intinya menjatuhkan mental sendiri. Tapi, Alhamdulillah semua bisa terlewati.
Pengen share tentang perjuangan hidup yang kulewati selama 2 tahun lebih di Batam, wal khusus tentang beberapa kejadian menyedihkan yang kualami dalam melakukan job interview. Satu tahun bekerja di sebuah perusahaan Shipyard membuatku memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain. Alhamdulillah, panggilan interview pun memekarkan kegembiraan di hati. Hmmm…User-nya BULE, ngomong inggrisnya cepat banget sampe saya hanya bisa melongo menatapnya sampai dia mengajukan beberapa pertanyaan. Yah, dengan bekal bahasa Inggris “how-how” yang kumiliki, interviewnya selese juga. Beberapa hari kemudian, HR perusahaan tersebut menghubungi untuk segera bertemu dengan Manager HR-nya. Lagi-lagi hati berbunga-bunga. Namun apa yang terjadi, …….. Manager HR-nya berkata, “Jadi anda masih under contract yah di Perusahaan A?”. “Iya pak”, jawabku. “Maaf, kami tidak bisa menerima anda. Anda harus tahu, Perusahaan A dengan Perusahaan ini sudah seperti saudara, jadi saya tidak mungkin mengkhianatinya. Terima kasih”. Duarrrrrrrrr…tanpa basa basi saya meninggalkan ruangan tersebut. Mencoba menenangkan hati meskipun akhirnya mengutuk dalam hati, “ngapain saya dipanggil ke sana klo cuman untuk mendengarkan penolakan”.
Dan masalah pun belum berhenti di sana, di kantor saya dapat ‘tamparan’ hebat dari mantan Bos-ku. “Hei, kamu ngapain interview di sana? Mau bikin malu saya yah? Kamu itu belum tau apa-apa, tapi berani-beraninya kamu ngelamar kerja di sana. Untung saja User-nya bilang klo kamu bisa, coba klo enggak, mau di taro dimana mukaku”. Wallahu’alam-lah, sebenarnya saya tidak ingin berdzu’uzon sama beliau, tapi yang saya tau, beliau pun melakukan interview di sana setelah saya dengan User yang sama pula. Smoga sukses Bos! Amin…
Tak ingin berhenti berusaha, beberapa bulan kemudian saya dapat panggilan Interview lagi dari salah satu Perusahaan terbesar di Dunia. Klo ente2 suka nonton MotoGP, pasti sering lihat sponsornya ENI. Lanjut cerita, menyeberang pulau pun kulakukan. Setiba di sana, tidak lama kemudian saya di antar oleh pihak recruitment untuk bertemu User-nya. Dia berdiri kaku memandangku dari ujung kepala hingga kaki. Hatiku berbisik, “Jilbab-mu Ki”. User-nya juga BULE, laki-laki tapi. Interview pun berjalan dengan beberapa pertanyaan yang tidak ada dalam fikiranku dan hingga detik ini tak pernah ada panggilan lagi ke sana. No hope there for you Kiki.
Tak terasa, waktuku sudah hampir 2 tahun kerja. Its mean, extend my contract or move to another company. Di saat yang bersamaan, project yang saya handle sedang urgent2nya. Project Managerku pun berusaha untuk mempertahankan saya dengan melakukan lobi-lobi ke pihak perusahaan. Hatiku terenyuh melihat kegigihan beliau. Sampai sempat kurasakan ada bulir panas di mataku. Beliau bukanlah keluargaku, bukan sahabatku, bukan saudara seimanku, beliau adalah atasanku. Tapi, seumur hidupku, baru kali ini ada orang selain orang tuaku yang mau bekerja keras untuk melihatku mendapatkan hal yang lebih baik. Sambil atasanku berusaha, saya pun tak kalah aktif di luar melempar CV dan ikut beberapa interview kerja.
Akhirnya, kembali saya melakukan interview di Perusahaan yang pernah menolakku begitu saja. Dan parahnya lagi, User-nya adalah mantan Bos-ku yang pernah menamparku dengan kata-katanya yang indah menjejaki hati. Sempat ingin menarik semua langkah berjalan mundur kembali saat itu. Entah mengapa, muncul keyakinan di dalam hatiku bahwa saya sudah gagal, tidak hari ini saja tapi jauh dari hari sebelumnya. Tapi, kembali kukuatkan langkah. Ambil nilai positifnya saja, bukankah tak ada yang sia-sia di sisi Allah. Tes pun berjalan dan sampai hari ini lagi-lagi tak ada konfirmasi lagi dari perusahaan tersebut.
Sempat seorang teman bilang klo saya gak bakal dipanggil interview ke tahap selanjutnya karena setahun sebelumnya saya sudah pernah interview sama Manager Planner-nya, gitu kata mantan bos-ku. Dan hal ini dikuatkan ketika saya ketemu kembali sama mantan bos-ku tersebut. Hal yang sama juga diucapkan. Secara logika, saya tidak mau menerimanya karena saya merasa bukan orang bodoh. Saya hanya menganggap semua ini bahwa di sana bukanlah tempat yang terbaik menurut Allah untukku. Pintu rejeki itu banyak, tidak mesti setiap manusia mempunyai jalan yang sama untuk meraih kesuksesannya.
Sedih banget sih sebenarnya klo mengingat-ingat dan memikirkan setiap kegagalan yang kualami dalam memperjuangkan hidup. Belum lagi perasaan minder dan malu sama teman-teman karena perasaanku mengatakan bahwa ada diantara mereka yang memang menganggapku tidak mampu. Ada semacam perasaan diremehkan, terhinakan yang menempel di wajahku. Dan di saat itulah puncak dari semua rasa yang berkecamuk di hatiku. Saat itu, saya berusaha mendekatkan diri dengan kedua orang tuaku. Meminta nasehat-nasehat mereka dan pastinya minta maaf untuk setiap salah dan khilafku. Saya mulai bisa membuat diriku ikhlas. Pernah, sekali ketika saya habis melakukan interview dan menyempatkan diri ke mall sambil duduk  termenung di depan Hypermart. Tiba-tiba seorang gadis kira-kira berusia 12 tahun datang menghampiriku, jika melihat tampangnya dia sepertinya mengalami gangguan mental. Kemudian ia duduk di sisiku dan menangis, “kak, saya mohon banget. Adek saya sakit, mau beli obat batuk tapi gak ada duit. 20 ribu aja kak”. Saya terdiam sejenak kemudian menarik ranselku. Yang ada hanya 2 ribuan, tanpa fikir panjang kubuka dompetku dan kuberikan pecahan yang cukup besar nilainya. Dia begitu senang, dan mengalirkan doa di bibirnya. Tak henti-hentinya dia berdoa hingga ia hilang dari pandanganku. Entah mengapa, ada rasa damai yang membanjiri hatiku kala itu.
Dan perlahan Allah memberikan jawaban untuk setiap doa dan kesabaranku. Yah, dalam hidup akan selalu kita temukan orang yang menghinakan dan merendahkan kita, tapi Allah tidak lantas kehilangan akal untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Betapa kulihat ada beberapa orang yang begitu gigih memperjuangkanku, menyemangatiku dan mendoakanku. Dulu, saya menjalani Posisiku sebagai Management Traine (MT) selama 2 tahun yang seharusnya hanya setahun karena mantan Bos-ku kala itu tidak mau mempromosikanku karena ‘katanya’ saya belum layak menjadi Asisten Engineer. Saya berusaha bersabar, dan Subhanallah di tahun berikutnya saya tidak perlu menjadi Assisten Engineer tapi langsung menjadi Project Engineer. Semua terbayar lunas. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan???
Di tengah pergolakan itu semua, saya juga melakukan interview di tempat saya bekerja yang baru sekarang. Tidak mudah untukku mendapatkan 1 kursi di sini. Butuh perjuangan yang ekstra. Tidak hanya menguras tenaga dan fisik, bahkan kantongku pun menjadi sangat menipis dibuatnya. Sungguh ujian yang begitu hebat kujejaki menuju gerbang perusahaan ini. Dari hasil pemeriksaan urin, saya dinyatakan sedikit ada masalah dengan kesehatan. Akhirnya, dokter di Perusahaan tersebut merujuk saya ke dokter penyakit dalam. Saya hanya diberi waktu seminggu untuk memastikan semuanya bahwa kesehatan saya cukup menunjang untuk bekerja di perusahaan tersebut. Ditambah lagi saya harus menggunakan kacamata. Akhirnya saya berobat dan melakukan cek beberapa kali untuk memastikan bahwa hasil pemerikasaan urin saya normal. Hujan dan panas menjadi teman sejati mengiri langkahku dalam berjuang. Dan Alhamdulillah, sekarang adalah hari ke-14 saya bekerja di sini, di PT. McDERMOTT salah satu perusahaan Fabrikasi industry Offshore terbesar yang jika tidak salah, perusahaan ini adalah mimpi terindah untuk setiap kami ketika masih menjadi mahasiswa di Teknik Kelautan Unhas.
Pengalaman ini membuatku sangat bersyukur dan semakin yakin dengan janji Allah.  Allah selalu ada dan tidak pernah meninggalkan kita. Di saat puncak kesedihanku dan perasaan kalah menguasai hatiku, Allah selalu membimbingku dan menguatkanku dengan lembaran surat cinta-Nya. Dan setiap ayat demi ayat yang kubaca kala itu selalu bersesuaian dengan kondisi hatiku. Maha Suci Engkau yaa Allah.. dan pelajaran lain yang begitu berharga yang kurasakan bahwa betapa ridho dan doa kedua orang tua itu akan melapangkan jalan dan betapa dahsyatnya sedekah. Mungkin apa yang kita berikan kecil di mata orang – orang namun besar nilainya bagi mereka yang membutuhkan. Karena itu, saya tidak akan membiarkan kata putus asa mengisi kamusku. Usaha harus dimaksimalkan, biarlah Allah yang memberi jawaban karena semua yang datang dari sisi Allah adalah yang terbaik.
-Fa’idzaa azzamta fatawakkal alallah. Innallaaha yuhibbul mutawakkilin-


PS: Thanks berat untuk semua manusia luar biasa yang ada di sekitarku, i am nothing without you all...

20 Mei 2011

Bukannya Saya tidak Menyayangi Kalian..

Sejatinya, saya tidak memiliki satupun di dunia ini sosok yang bisa menjadi
sahabat dalam versiku. Tapi, saya sangat sadar bahwa banyak yang
menganggapku sebagai sahabatnya. Saya senang dengan pengakuan-pengakuan itu,
setidaknya itu membuatku tenang, membuatku merasa bisa sedikit mempunyai
arti dalam kehidupan orang-orang yang kusayangi. Bagiku, tak mengapa jika
hatiku kosong dalam kesunyiannya tapi ia mampu mengisi kekosongan yang ada
di sekitarnya. Tak peduli jika harus terluka, tapi sungguh hati ini tak
ingin melukai siapapun. Yah..meskipun pada kenyataannya, semakin kuat saya
berusaha tuk tidak melukai seseorang, namun semakin banyak saya membuat
orang-orang yang menyayangiku tidak nyaman di sampingku.

Pengecut, mungkin. Kadang saya merasa pengecut sejati. Tak berani mencintai
dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Takut kehilangan, tak ingin
dikecewakan. Hingga akhirnya semuanya berujung pada kata penolakan.
Prinsipnya, tak perlu kalian menolakku karena saya telah terlebih dahulu
menolak kalian. Saat semuanya ingin pergi meninggalkanku, dengan tangan
terbuka akan kupersilahkan, saya tidak akan menahan. Keyakinan akan setiap
pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan membuatku selalu bisa
menegarkan diri bak batu karang. Tapi, dibalik semua itu kembali timbul
kesadaran bahwa tidak selamanya batu karang itu akan kokoh, pada saatnya
nanti ia pun akan terkikis habis oleh waktu dan terpaan gelombang. Ah..hati
ini akan menyamudera luasnya, hingga tiada lagi yang tersisa dalam kedukaan
dan lara kesendirian. Bukankah saya masih memiliki Allah?

Saya kesepian? Tidak juga, hanya butuh waktu tuk membiasakan diri. Dan
memang ada kalanya hati dan fikiran hanya ingin menjadi milik jiwa ini.
Sedikit egois memang, tapi saya tidak ingin membiarkan semua ruang di dalam
hidupku terisi dengan jiwa sosialnya. Biarlah ada satu atau beberapa ruang
kosong itu kuisi dengan cara yang berbeda, cara yang membuatku bahagia,
membuatku semakin mencintai Tuhanku dan tentunya tak ada satupun yang
terluka dengan jalanku ini.

Saudaraku, biarlah kita saling mencintai dalam bingkai maghfirah-Nya. Agar
hati terasa lapang, jiwa tak terkekang dalam ikatan yang kita ciptakan
sendiri. Hati yang akan berbicara, dan biarlah tatapan mata ini yang
bercerita, bahwa kalian adalah istimewa untukku. Maaf jika selama
kebersamaan ini saya tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kalian. Kelukaan
karenaku membuatku sakit. Tapi, saya tidak ingin terlalu mencintai kalian,
saya tidak ingin menjadi penghambat langkah-langkah kalian dalam meraih
mimpi, karena setiap kita mempunyai kehidupan sendiri-sendiri yang kelak tak
memberikan ruang untuk kita bisa berbagi. Dan, janganlah pernah terucap
kata, "Selamat Tinggal" diantara kita, tapi ucapkanlah kata yang penuh
optimism tinggi akan sebuah pertemuan, "Sampai Ketemu lagi", jika tidak di
dunia ini, maka Insya Allah di akhirat kelak pertemuan itu akan menjadi
nyata. Dan di saat itulah akan kuberikan senyum terindah dan tulus sepenuh
hati yang merekahkan hati. Uhibbukum Fillah..

Batam, 20 Mey 2011