“Cha, menikahlah denganku”. Duarrrrrrr! Bagaikan petir menghujam hatiku kala itu, tiba-tiba saja Dion sahabat karibku mengungkapkan maksud hatinya melalui telepon di seberang sana. Aku hanya bisa terdiam dalam bulir air mata yang terasa panas membasahi wajahku. Tak tahu harus berkata apa, tak mengerti dengan perasaan hati. Semuanya gelap dalam fikiran. Sayup-sayup terdengar kumandang Adzan Maghrib bergemuruh di seantero Jakarta. Aku bangkit mengambil wudhu, kumatikan HP tanpa peduli pada Dion yang masih menunggu jawabku.
Aku menangis sejadi-jadinya dalam sujud terakhirku, mengadukan kegundahan dan menumpahkan semua perasaan hati pada-Nya. Entah mengapa, aku merasa begitu lemah saat itu. Hatiku tak berdaya dan benar-benar merasa bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang bisa menenangkanku. Kuambil mushaf usangku, membaca beberapa ayat surat cinta-Nya. Begitu menyejukkan hati, membasuh jiwa yang penuh harap.
Aku mengenal Dion di hari pertamaku menyandang gelar sebagai mahasiswa. Ketika itu kami 1 angkot pulang kampus, ia menjulurkan tangannya sambil menyebut namaya, “Dion, kamu?”. “Aku Icha”, jawabku singkat. Kemudian mengalirlah cerita-cerita diantara kami hingga akhirnya aku pamit karena rumahku lebih dekat dari kampus. Kami sekelas selama 4 tahun masa kuliah. Dengan masa yang cukup banyak hari pertemuan dan interaksi, hubungan kami biasa-biasa saja. Tak ada yang special, dia sibuk dengan aktivitas perkuliahan karena dia masuk dalam kategori mahasiswa yang akademik banget sementara diriku sibuk dengan dunia baru yang begitu menarik hati dan minatku.
Aku memutuskan untuk aktif dalam kegiatan dakwah kampus di akhir tahun 2005. Hal ini cukup banyak kuberikan waktu dan sebagai resikonya aku hanya berada di area Jurusan pada saat jam kuliah, selebihnya kuhabiskan dengan aktifitas bersama teman-teman akhwat yang notabene semuanya tak se-Jurusan denganku. Karena terlalu sibuk di luar Jurusan, akhirnya aku jarang punya waktu-waktu berkualitas tuk berdiskusi atau sekedar bersendagurau dengan teman-teman sekelas. Sesekali mereka menahanku dan kemudian mengalirkan tema diskusi yang cukup panjang dan kompleks. Dion termasuk yang paling aktif dalam bertanya. Sampai terkadang aku sampai kewalahan meladeni mereka, aku hanya seorang (akhwat pula), harus berada dalam forum para lelaki Teknik. Penuh retorika dan argumentatif.
Tak terasa Dion dan beberapa orang teman lainnya sudah menyelesaikan studinya. Sementara aku masih pengen berlama-lama di kampus. Bukan karena mata kuliahnya keteteran, tapi memang masih pengen jadi mahasiswa. Setahun kemudian aku berhasil meraih gelar Sarjanaku, setelah mendapat ultimatum dari Ibu. Klo tidak selesai, semua fasilitas termasuk jatah bulanan bakal dicabut.
Dion langsung bekerja di sebuah Perusahaan Swasta segera setelah wisuda. Komunikasi kami memang tetap berlanjut, apalagi jejaring sosial facebook lagi booming kala itu. Komunikasi via telpon dan sms-pun kadang-kadang kami lakukan. Semua kuanggap biasa-biasa saja, dan memang perasaanku juga mengatakan bahwa Dion tak punya rasa terhadapku. Begitulah otakku meyakinkan hatiku setiap kali Dion menghubungiku.
Setelah wisuda, aku sempat nganggur selama 6 bulan. Berat meninggalkan Makassar, hingga akhirnya Dion menawariku bekerja pada perusahaan tempatnya bekerja. Aku sempat berfikir panjang, susah untuk mengambil keputusan. Apalagi, seingatku ketika masih kuliah, Dion salah satu temanku yang paling sering mencelaku. Yah...meskipun aku tahu bahwa semua itu hanya sebatas candaan dan keisengan dia terhadapku. Tapi tetap saja aku harus berfikir 1000x sebelum mengambil keputusan.
Batam, akhirnya menjadi tempatku melabuhkan cita dan impian masa depan. Memulai hidup dengan kemandirian diri, berharap tak lagi mengandalkan tangan orang tuaku menyuapi diriku dengan suap demi suap nasi kehidupan. Berusaha tetap memampukan diri dalam keterbatasan.
Tak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan suasana kantor dan pekerjaan karena di perusahaan tersebut ada banyak wajah yang tak asing lagi bagiku. Apalagi ada Dion yang dengan sabar memperhatikan kebutuhan-kebutuhanku di kantor. Dan kembali kami mengulangi kebiasaan seperti di kampus dulu, berdiskusi. Banyak hal yang kami diskusikan, dan tak jarang kami membicarakan tentang kondisi keluarga masing-masing. Kadang aku merasa aneh, bagaimana mungkin aku bisa bercerita banyak tentang hal pribadiku terhadap satu orang teman lelakiku. Yang aku tahu, hanya Dion diantara sekian banyak teman laki-laki yang kumiliki di dunia ini yang bisa kupercaya untuk sharing tentang berbagai hal.
Melihat kedekatan kami, tak jarang orang-orang berfikiran bahwa kami memiliki hubungan spesial. Ada juga yang suka menjodoh-jodohkan kami. Tapi semua itu tidak membuat hubungan kami mengalami kerenggangan atau berkembang ke arah yang diharapkan orang-orang di sekitar kami. Mungkin karena kami sudah saling memahami karakter dan akan kriteria belahan jiwa idaman masing-masing. Aku bukan kriterianya dan dia bukan idamanku, itu yang kufahami dari hubungan kami. Dia punya pacar dimana-mana sementara aku anti-pacaran sebelum nikah.
Sebagai perempuan normal, perasaan sayang sama Dion pasti ada. Ke-GR-an pun kadang datang menghampiri rasa melihat begitu banyak perhatian yang dia berikan. Apalagi klo dia nelpon tanpa ada urusan yang jelas, hanya sekedar ingin tahu kabarku atau ingin menghabiskan sisa pulsa gratisnya. Sementara aku tak pernah berinisiatif sms apalagi nelpon dia jika tidak ada keperluan mendesak. Aku memang selalu berusaha menunjukkan sikap tak peduliku padanya. Aku akan melakukan apapun agar semua laki-laki yang hadir di hidupku tidak pernah memiliki fikiran bahwa aku ada rasa terhadap mereka. Siapapun itu, apalagi jika laki-laki itu berpotensi mengganggu hatiku, maka semakin keraslah usahaku menjauhinya.
Aku merasa, Dion juga berusaha untuk tidak membuatku GR dengan selalu menceritakan padaku saat dia lagi jatuh cinta sama si A, atau dia akan mengabariku klo dia sudah jadian sama si B. Meskipun aku merasa kadang pacar-pacar dia agak jealous denganku, tapi aku tidak pernah pusing. Dion juga santai-santai saja, jadi tetap saja tak ada yang berubah dalam hubungan kami.
Hingga akhirnya aku mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta setelah 2 tahun berkarir di Batam. Tanpa berfikir panjang segera kuajukan surat resign dan bersiap-siap untuk memulai hidup baru di Jakarta. Selain ingin mengembangkan karir, aku memilih meninggalkan Batam karena aku merasa jodohku ada di tempat lain. Aku harus menjemputnya, melihat usiaku yang akan segera memasuki angka 26. Tiga bulan sudah aku di Jakarta dan selama itu pula aku tak pernah bersapa ria lagi dengan Dion meskipun via facebook. Bahkan saat kami sama-sama online, tak ada tegur sapa darinya.
HP-ku berdering memutuskan alur fikiranku yang berjalan ke bagian masa lalu yang berisikan kenangan bersama Dion. Kulihat Dion yang memanggil. Aku tak mempunyai keberanian tuk mengangkatnya. Kubiarkan HPku terus berdering. Kuarahkan pandanganku ke Laptop yang sejak tadi sore memperdengarkan suara indah As-Sudaish. Facebook-ku masih online, ku klick upload beberapa file foto yang hendak ku-upload ke facebook sebelum Dion nelpon tadi. Dan tanpa ragu men-tag semua nama yang ada di list temanku.
Dion, kamu terlambat sahabatku. Seandainya 2 bulan lalu kamu yang memintaku, maka akan kupilih engkau. Tak peduli dengan kriteria kita masing-masing. Toh, kamu sudah sangat mengenalku. Mengenalku lebih dari orang tuaku sendiri. Bahkan jauh lebih tahu dari orang yang namanya tertulis di undangan walimahan-ku ini. Semuanya sudah tertulis dalam Kitab Lauh Mahfudz-Nya. Kamu dan aku seperti siang dan malam, selamanya tidak akan pernah bersama. Selamat tinggal sahabat, terima kasih untuk telah memberikanku rasa memiliki saudara laki-laki.
Batam, 13 Ramadhan 1432H
(Cerpen ke-2 ku)
Seperti air, sejuk dan menyejukkan, suci dan mensucikan. Mendaki tingginya mimpi untuk setiap nafas keabadian hidup.
13 Agu 2011
10 Agu 2011
Nasehat untuk Diri di Hari Ini...
Gak berasa, 10 Ramadhan sedang membersamai kita di hari ini. Apa kabar Iman? Masihkah ia melemah? Atau semakin menaikkah kadarnya? Semoga Allah merahmati kita dengan kebaikan Iman dan Akhlak yang mulia. Ramadhan terlalu indah tuk dilalui tanpa memberi berjuta makna di langit jiwa.
Di kantor lagi senggang banget, jadi kepikiran tuk nulis lagi. Udah hampir sebulan gak melakukan corat-coret di my sweatest blog. Kali ini temanya tentang kabar iman, tentang imanku dan imanmu mungkin. Melemahkah, atau menguatkah ia selama Ramadhan ini.
Ada yang bilang, klo iman itu ibarat sebuah deretan gunung. Ada yang tinggi, ada pula yang rendah. Tidak sama rata lah penampakannya. Begitupun dengan kondisi iman. Tapi klo dirasa-rasa, kondisi iman itu hanya ada dua, makin membaikkah atau malah makin memburuk. Klo kondisi stabil, hmmm...kayaknya ga ada deh. Atau ada yang merasa saat ini imannya stabil-stabil aja? Klo iya, jangan lupa lapor sama pak RT yah (loh, apa hubungannya? Hehehe)
Saya yakin, setiap kita di dunia ini pasti pernah merasakan imannya lagi tinggiiiiiiiiii banget. Nah di saat itu ibadah akan terasa nikmat, lisan jadi kekontrol, dan hidup rasanya adem ayem meskipun cobaan datang silih berganti, istilahnya, hidup gak bakalan nikmat klo ujiannya cmn segede biji sawi. Tapi, klo si iman lagi down, semuanya bakal terasa berat. Bahkan ngangkat nasi ke mulut aja rasanya mo ngangkat 1 ton beras. Hati gampang emosian, nasehat baik dianggap kritikan pedas dan kebiasaan buruk yang dilakukan kembali malah terasa nikmat. Minim rasa bersalahnya, malah suka menyalahkan orang lain, deelel.
Sebenarnya lemah adalah hal manusiawi, termasuk lemah iman. Dalam Al-Qur’an Allah sudah mengatakan bahwa manusia itu sesungguhnya lemah. Kita lemah, serba kekurangan, suka bergantung sehingga memerlukan tempat tuk bergantung yang lebih kuat dan agung. Persoalannya; pada siapa kita sandarkan harapan kita, pada siapa kita tujukan segala keluhan dan keresahan jiwa kita dan pada siapa kita meminta pertolongan. Jangan sampe harapan itu kita sandarkan pada pohon Beringin tuk ngurus diri-diri kita, trus klo lagi sedih dan punya seabrek masalah ngadunya sama si mbah Facebook, and pas lagi butuh pertolongan, mintanya sama ketik REG (sapsi) UstadCinta kirim ke neraka...Ckckckck, sungguh terlalu.
Jadi lemah iman itu bukanlah suatu penyakit, soalnya obatnya gak ada dijual di apotek. Tapi bukan berarti lemah iman itu tidak ada penawarnya. Klo kita mau ambil sisi positifnya, lemah iman itu adalah sebuah kenikmatan loh, kenapa? Karena di saat itulah kita akan merasakan kerasnya berjuang, mengiba dan mengemis di hadapan Allah untuk meraih cinta-Nya. Coba klo gak, pasti usaha kita gak akan sekeras itu. Iya kan?
Nah, mumpung masih Ramadhan nih. Momen-momen indah tuk berkhalwat ma Allah lagi banyak-banyaknya neh. Sampe pahalapun di obral sama Allah. So, mari kita maksimalkan usaha kita tuk meraih simpati-Nya. Gratis kok, gak pake modal duit. Modal niat dan kemauan dah cukup. Gak pake repot bin ribet. Nikmati aja prosesnya, masalah hasil itu urusan belakangan. Kekuatan iman memang hasil, ketenangan, keikhlasan, keteguhan hati, jiddiyah juga hasil, tapi semua itu hanya bisa kita peroleh dari kesungguhan doa-doa kita, munajat kita di sepanjang malam dan setiap tangisan-tangisan kita yang mengiba pada-Nya.
Bawalah Allah dalam hatimu, selalu. Karena setiap yang kita miliki hari ini dan yang akan datang pasti akan meninggalkan kita, kecuali Allah. Yaa..Allah lindungilah setiap langkah kami, janganlah Engkau biarkan kami tersesat setelah Engkau beri nikmat iman. Karena hanya kepada-Mulah kami menggantungkan segala asa.
Wallahu’alam
Batam, 10th August 2011
Di kantor lagi senggang banget, jadi kepikiran tuk nulis lagi. Udah hampir sebulan gak melakukan corat-coret di my sweatest blog. Kali ini temanya tentang kabar iman, tentang imanku dan imanmu mungkin. Melemahkah, atau menguatkah ia selama Ramadhan ini.
Ada yang bilang, klo iman itu ibarat sebuah deretan gunung. Ada yang tinggi, ada pula yang rendah. Tidak sama rata lah penampakannya. Begitupun dengan kondisi iman. Tapi klo dirasa-rasa, kondisi iman itu hanya ada dua, makin membaikkah atau malah makin memburuk. Klo kondisi stabil, hmmm...kayaknya ga ada deh. Atau ada yang merasa saat ini imannya stabil-stabil aja? Klo iya, jangan lupa lapor sama pak RT yah (loh, apa hubungannya? Hehehe)
Saya yakin, setiap kita di dunia ini pasti pernah merasakan imannya lagi tinggiiiiiiiiii banget. Nah di saat itu ibadah akan terasa nikmat, lisan jadi kekontrol, dan hidup rasanya adem ayem meskipun cobaan datang silih berganti, istilahnya, hidup gak bakalan nikmat klo ujiannya cmn segede biji sawi. Tapi, klo si iman lagi down, semuanya bakal terasa berat. Bahkan ngangkat nasi ke mulut aja rasanya mo ngangkat 1 ton beras. Hati gampang emosian, nasehat baik dianggap kritikan pedas dan kebiasaan buruk yang dilakukan kembali malah terasa nikmat. Minim rasa bersalahnya, malah suka menyalahkan orang lain, deelel.
Sebenarnya lemah adalah hal manusiawi, termasuk lemah iman. Dalam Al-Qur’an Allah sudah mengatakan bahwa manusia itu sesungguhnya lemah. Kita lemah, serba kekurangan, suka bergantung sehingga memerlukan tempat tuk bergantung yang lebih kuat dan agung. Persoalannya; pada siapa kita sandarkan harapan kita, pada siapa kita tujukan segala keluhan dan keresahan jiwa kita dan pada siapa kita meminta pertolongan. Jangan sampe harapan itu kita sandarkan pada pohon Beringin tuk ngurus diri-diri kita, trus klo lagi sedih dan punya seabrek masalah ngadunya sama si mbah Facebook, and pas lagi butuh pertolongan, mintanya sama ketik REG (sapsi) UstadCinta kirim ke neraka...Ckckckck, sungguh terlalu.
Jadi lemah iman itu bukanlah suatu penyakit, soalnya obatnya gak ada dijual di apotek. Tapi bukan berarti lemah iman itu tidak ada penawarnya. Klo kita mau ambil sisi positifnya, lemah iman itu adalah sebuah kenikmatan loh, kenapa? Karena di saat itulah kita akan merasakan kerasnya berjuang, mengiba dan mengemis di hadapan Allah untuk meraih cinta-Nya. Coba klo gak, pasti usaha kita gak akan sekeras itu. Iya kan?
Nah, mumpung masih Ramadhan nih. Momen-momen indah tuk berkhalwat ma Allah lagi banyak-banyaknya neh. Sampe pahalapun di obral sama Allah. So, mari kita maksimalkan usaha kita tuk meraih simpati-Nya. Gratis kok, gak pake modal duit. Modal niat dan kemauan dah cukup. Gak pake repot bin ribet. Nikmati aja prosesnya, masalah hasil itu urusan belakangan. Kekuatan iman memang hasil, ketenangan, keikhlasan, keteguhan hati, jiddiyah juga hasil, tapi semua itu hanya bisa kita peroleh dari kesungguhan doa-doa kita, munajat kita di sepanjang malam dan setiap tangisan-tangisan kita yang mengiba pada-Nya.
Bawalah Allah dalam hatimu, selalu. Karena setiap yang kita miliki hari ini dan yang akan datang pasti akan meninggalkan kita, kecuali Allah. Yaa..Allah lindungilah setiap langkah kami, janganlah Engkau biarkan kami tersesat setelah Engkau beri nikmat iman. Karena hanya kepada-Mulah kami menggantungkan segala asa.
Wallahu’alam
Batam, 10th August 2011
19 Jul 2011
Ini Ceritaku, Apa Ceritamu???
Akhirnya setelah sekian lama, bisa nulis lagi. Banyak hal yang membuatku berhenti sejenak dari aktivitas menulis. Selain karena ga punya fasilitas di rumah, kesibukan di tempat kerja juga seakan memangkas semua waktu yang kupunya setiap harinya. Pengen curhat, dak sabar lagi rasanya. Perasaanku sudah membuncah mengisi langit kepala, ingin segera kualirkan dalam goresan kata demi kata untuk menjadi kalimat perwakilan rasa hati.
Kurang lebih, dalam kurung waktu 2 bulan ini, saya begitu sibuk bergelut dengan kerjaan di kantor, selain itu saya juga sibuk ngelempar CV ke berbagai perusahaan, termasuk melakukan beberapa interview, baik langsung maupun by Phone. Ada banyak suka dukanya, sampai-sampai sempat terhinggapi rasa putus asa, tak berguna dan berbagai macam perasaan negative yang intinya menjatuhkan mental sendiri. Tapi, Alhamdulillah semua bisa terlewati.
Pengen share tentang perjuangan hidup yang kulewati selama 2 tahun lebih di Batam, wal khusus tentang beberapa kejadian menyedihkan yang kualami dalam melakukan job interview. Satu tahun bekerja di sebuah perusahaan Shipyard membuatku memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain. Alhamdulillah, panggilan interview pun memekarkan kegembiraan di hati. Hmmm…User-nya BULE, ngomong inggrisnya cepat banget sampe saya hanya bisa melongo menatapnya sampai dia mengajukan beberapa pertanyaan. Yah, dengan bekal bahasa Inggris “how-how” yang kumiliki, interviewnya selese juga. Beberapa hari kemudian, HR perusahaan tersebut menghubungi untuk segera bertemu dengan Manager HR-nya. Lagi-lagi hati berbunga-bunga. Namun apa yang terjadi, …….. Manager HR-nya berkata, “Jadi anda masih under contract yah di Perusahaan A?”. “Iya pak”, jawabku. “Maaf, kami tidak bisa menerima anda. Anda harus tahu, Perusahaan A dengan Perusahaan ini sudah seperti saudara, jadi saya tidak mungkin mengkhianatinya. Terima kasih”. Duarrrrrrrrr…tanpa basa basi saya meninggalkan ruangan tersebut. Mencoba menenangkan hati meskipun akhirnya mengutuk dalam hati, “ngapain saya dipanggil ke sana klo cuman untuk mendengarkan penolakan”.
Dan masalah pun belum berhenti di sana, di kantor saya dapat ‘tamparan’ hebat dari mantan Bos-ku. “Hei, kamu ngapain interview di sana? Mau bikin malu saya yah? Kamu itu belum tau apa-apa, tapi berani-beraninya kamu ngelamar kerja di sana. Untung saja User-nya bilang klo kamu bisa, coba klo enggak, mau di taro dimana mukaku”. Wallahu’alam-lah, sebenarnya saya tidak ingin berdzu’uzon sama beliau, tapi yang saya tau, beliau pun melakukan interview di sana setelah saya dengan User yang sama pula. Smoga sukses Bos! Amin…
Tak ingin berhenti berusaha, beberapa bulan kemudian saya dapat panggilan Interview lagi dari salah satu Perusahaan terbesar di Dunia. Klo ente2 suka nonton MotoGP, pasti sering lihat sponsornya ENI. Lanjut cerita, menyeberang pulau pun kulakukan. Setiba di sana, tidak lama kemudian saya di antar oleh pihak recruitment untuk bertemu User-nya. Dia berdiri kaku memandangku dari ujung kepala hingga kaki. Hatiku berbisik, “Jilbab-mu Ki”. User-nya juga BULE, laki-laki tapi. Interview pun berjalan dengan beberapa pertanyaan yang tidak ada dalam fikiranku dan hingga detik ini tak pernah ada panggilan lagi ke sana. No hope there for you Kiki.
Tak terasa, waktuku sudah hampir 2 tahun kerja. Its mean, extend my contract or move to another company. Di saat yang bersamaan, project yang saya handle sedang urgent2nya. Project Managerku pun berusaha untuk mempertahankan saya dengan melakukan lobi-lobi ke pihak perusahaan. Hatiku terenyuh melihat kegigihan beliau. Sampai sempat kurasakan ada bulir panas di mataku. Beliau bukanlah keluargaku, bukan sahabatku, bukan saudara seimanku, beliau adalah atasanku. Tapi, seumur hidupku, baru kali ini ada orang selain orang tuaku yang mau bekerja keras untuk melihatku mendapatkan hal yang lebih baik. Sambil atasanku berusaha, saya pun tak kalah aktif di luar melempar CV dan ikut beberapa interview kerja.
Akhirnya, kembali saya melakukan interview di Perusahaan yang pernah menolakku begitu saja. Dan parahnya lagi, User-nya adalah mantan Bos-ku yang pernah menamparku dengan kata-katanya yang indah menjejaki hati. Sempat ingin menarik semua langkah berjalan mundur kembali saat itu. Entah mengapa, muncul keyakinan di dalam hatiku bahwa saya sudah gagal, tidak hari ini saja tapi jauh dari hari sebelumnya. Tapi, kembali kukuatkan langkah. Ambil nilai positifnya saja, bukankah tak ada yang sia-sia di sisi Allah. Tes pun berjalan dan sampai hari ini lagi-lagi tak ada konfirmasi lagi dari perusahaan tersebut.
Sempat seorang teman bilang klo saya gak bakal dipanggil interview ke tahap selanjutnya karena setahun sebelumnya saya sudah pernah interview sama Manager Planner-nya, gitu kata mantan bos-ku. Dan hal ini dikuatkan ketika saya ketemu kembali sama mantan bos-ku tersebut. Hal yang sama juga diucapkan. Secara logika, saya tidak mau menerimanya karena saya merasa bukan orang bodoh. Saya hanya menganggap semua ini bahwa di sana bukanlah tempat yang terbaik menurut Allah untukku. Pintu rejeki itu banyak, tidak mesti setiap manusia mempunyai jalan yang sama untuk meraih kesuksesannya.
Sedih banget sih sebenarnya klo mengingat-ingat dan memikirkan setiap kegagalan yang kualami dalam memperjuangkan hidup. Belum lagi perasaan minder dan malu sama teman-teman karena perasaanku mengatakan bahwa ada diantara mereka yang memang menganggapku tidak mampu. Ada semacam perasaan diremehkan, terhinakan yang menempel di wajahku. Dan di saat itulah puncak dari semua rasa yang berkecamuk di hatiku. Saat itu, saya berusaha mendekatkan diri dengan kedua orang tuaku. Meminta nasehat-nasehat mereka dan pastinya minta maaf untuk setiap salah dan khilafku. Saya mulai bisa membuat diriku ikhlas. Pernah, sekali ketika saya habis melakukan interview dan menyempatkan diri ke mall sambil duduk termenung di depan Hypermart. Tiba-tiba seorang gadis kira-kira berusia 12 tahun datang menghampiriku, jika melihat tampangnya dia sepertinya mengalami gangguan mental. Kemudian ia duduk di sisiku dan menangis, “kak, saya mohon banget. Adek saya sakit, mau beli obat batuk tapi gak ada duit. 20 ribu aja kak”. Saya terdiam sejenak kemudian menarik ranselku. Yang ada hanya 2 ribuan, tanpa fikir panjang kubuka dompetku dan kuberikan pecahan yang cukup besar nilainya. Dia begitu senang, dan mengalirkan doa di bibirnya. Tak henti-hentinya dia berdoa hingga ia hilang dari pandanganku. Entah mengapa, ada rasa damai yang membanjiri hatiku kala itu.
Dan perlahan Allah memberikan jawaban untuk setiap doa dan kesabaranku. Yah, dalam hidup akan selalu kita temukan orang yang menghinakan dan merendahkan kita, tapi Allah tidak lantas kehilangan akal untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Betapa kulihat ada beberapa orang yang begitu gigih memperjuangkanku, menyemangatiku dan mendoakanku. Dulu, saya menjalani Posisiku sebagai Management Traine (MT) selama 2 tahun yang seharusnya hanya setahun karena mantan Bos-ku kala itu tidak mau mempromosikanku karena ‘katanya’ saya belum layak menjadi Asisten Engineer. Saya berusaha bersabar, dan Subhanallah di tahun berikutnya saya tidak perlu menjadi Assisten Engineer tapi langsung menjadi Project Engineer. Semua terbayar lunas. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan???
Di tengah pergolakan itu semua, saya juga melakukan interview di tempat saya bekerja yang baru sekarang. Tidak mudah untukku mendapatkan 1 kursi di sini. Butuh perjuangan yang ekstra. Tidak hanya menguras tenaga dan fisik, bahkan kantongku pun menjadi sangat menipis dibuatnya. Sungguh ujian yang begitu hebat kujejaki menuju gerbang perusahaan ini. Dari hasil pemeriksaan urin, saya dinyatakan sedikit ada masalah dengan kesehatan. Akhirnya, dokter di Perusahaan tersebut merujuk saya ke dokter penyakit dalam. Saya hanya diberi waktu seminggu untuk memastikan semuanya bahwa kesehatan saya cukup menunjang untuk bekerja di perusahaan tersebut. Ditambah lagi saya harus menggunakan kacamata. Akhirnya saya berobat dan melakukan cek beberapa kali untuk memastikan bahwa hasil pemerikasaan urin saya normal. Hujan dan panas menjadi teman sejati mengiri langkahku dalam berjuang. Dan Alhamdulillah, sekarang adalah hari ke-14 saya bekerja di sini, di PT. McDERMOTT salah satu perusahaan Fabrikasi industry Offshore terbesar yang jika tidak salah, perusahaan ini adalah mimpi terindah untuk setiap kami ketika masih menjadi mahasiswa di Teknik Kelautan Unhas.
Pengalaman ini membuatku sangat bersyukur dan semakin yakin dengan janji Allah. Allah selalu ada dan tidak pernah meninggalkan kita. Di saat puncak kesedihanku dan perasaan kalah menguasai hatiku, Allah selalu membimbingku dan menguatkanku dengan lembaran surat cinta-Nya. Dan setiap ayat demi ayat yang kubaca kala itu selalu bersesuaian dengan kondisi hatiku. Maha Suci Engkau yaa Allah.. dan pelajaran lain yang begitu berharga yang kurasakan bahwa betapa ridho dan doa kedua orang tua itu akan melapangkan jalan dan betapa dahsyatnya sedekah. Mungkin apa yang kita berikan kecil di mata orang – orang namun besar nilainya bagi mereka yang membutuhkan. Karena itu, saya tidak akan membiarkan kata putus asa mengisi kamusku. Usaha harus dimaksimalkan, biarlah Allah yang memberi jawaban karena semua yang datang dari sisi Allah adalah yang terbaik.
-Fa’idzaa azzamta fatawakkal alallah. Innallaaha yuhibbul mutawakkilin-PS: Thanks berat untuk semua manusia luar biasa yang ada di sekitarku, i am nothing without you all...
20 Mei 2011
Bukannya Saya tidak Menyayangi Kalian..
Sejatinya, saya tidak memiliki satupun di dunia ini sosok yang bisa menjadi
sahabat dalam versiku. Tapi, saya sangat sadar bahwa banyak yang
menganggapku sebagai sahabatnya. Saya senang dengan pengakuan-pengakuan itu,
setidaknya itu membuatku tenang, membuatku merasa bisa sedikit mempunyai
arti dalam kehidupan orang-orang yang kusayangi. Bagiku, tak mengapa jika
hatiku kosong dalam kesunyiannya tapi ia mampu mengisi kekosongan yang ada
di sekitarnya. Tak peduli jika harus terluka, tapi sungguh hati ini tak
ingin melukai siapapun. Yah..meskipun pada kenyataannya, semakin kuat saya
berusaha tuk tidak melukai seseorang, namun semakin banyak saya membuat
orang-orang yang menyayangiku tidak nyaman di sampingku.
Pengecut, mungkin. Kadang saya merasa pengecut sejati. Tak berani mencintai
dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Takut kehilangan, tak ingin
dikecewakan. Hingga akhirnya semuanya berujung pada kata penolakan.
Prinsipnya, tak perlu kalian menolakku karena saya telah terlebih dahulu
menolak kalian. Saat semuanya ingin pergi meninggalkanku, dengan tangan
terbuka akan kupersilahkan, saya tidak akan menahan. Keyakinan akan setiap
pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan membuatku selalu bisa
menegarkan diri bak batu karang. Tapi, dibalik semua itu kembali timbul
kesadaran bahwa tidak selamanya batu karang itu akan kokoh, pada saatnya
nanti ia pun akan terkikis habis oleh waktu dan terpaan gelombang. Ah..hati
ini akan menyamudera luasnya, hingga tiada lagi yang tersisa dalam kedukaan
dan lara kesendirian. Bukankah saya masih memiliki Allah?
Saya kesepian? Tidak juga, hanya butuh waktu tuk membiasakan diri. Dan
memang ada kalanya hati dan fikiran hanya ingin menjadi milik jiwa ini.
Sedikit egois memang, tapi saya tidak ingin membiarkan semua ruang di dalam
hidupku terisi dengan jiwa sosialnya. Biarlah ada satu atau beberapa ruang
kosong itu kuisi dengan cara yang berbeda, cara yang membuatku bahagia,
membuatku semakin mencintai Tuhanku dan tentunya tak ada satupun yang
terluka dengan jalanku ini.
Saudaraku, biarlah kita saling mencintai dalam bingkai maghfirah-Nya. Agar
hati terasa lapang, jiwa tak terkekang dalam ikatan yang kita ciptakan
sendiri. Hati yang akan berbicara, dan biarlah tatapan mata ini yang
bercerita, bahwa kalian adalah istimewa untukku. Maaf jika selama
kebersamaan ini saya tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kalian. Kelukaan
karenaku membuatku sakit. Tapi, saya tidak ingin terlalu mencintai kalian,
saya tidak ingin menjadi penghambat langkah-langkah kalian dalam meraih
mimpi, karena setiap kita mempunyai kehidupan sendiri-sendiri yang kelak tak
memberikan ruang untuk kita bisa berbagi. Dan, janganlah pernah terucap
kata, "Selamat Tinggal" diantara kita, tapi ucapkanlah kata yang penuh
optimism tinggi akan sebuah pertemuan, "Sampai Ketemu lagi", jika tidak di
dunia ini, maka Insya Allah di akhirat kelak pertemuan itu akan menjadi
nyata. Dan di saat itulah akan kuberikan senyum terindah dan tulus sepenuh
hati yang merekahkan hati. Uhibbukum Fillah..
Batam, 20 Mey 2011
sahabat dalam versiku. Tapi, saya sangat sadar bahwa banyak yang
menganggapku sebagai sahabatnya. Saya senang dengan pengakuan-pengakuan itu,
setidaknya itu membuatku tenang, membuatku merasa bisa sedikit mempunyai
arti dalam kehidupan orang-orang yang kusayangi. Bagiku, tak mengapa jika
hatiku kosong dalam kesunyiannya tapi ia mampu mengisi kekosongan yang ada
di sekitarnya. Tak peduli jika harus terluka, tapi sungguh hati ini tak
ingin melukai siapapun. Yah..meskipun pada kenyataannya, semakin kuat saya
berusaha tuk tidak melukai seseorang, namun semakin banyak saya membuat
orang-orang yang menyayangiku tidak nyaman di sampingku.
Pengecut, mungkin. Kadang saya merasa pengecut sejati. Tak berani mencintai
dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Takut kehilangan, tak ingin
dikecewakan. Hingga akhirnya semuanya berujung pada kata penolakan.
Prinsipnya, tak perlu kalian menolakku karena saya telah terlebih dahulu
menolak kalian. Saat semuanya ingin pergi meninggalkanku, dengan tangan
terbuka akan kupersilahkan, saya tidak akan menahan. Keyakinan akan setiap
pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan membuatku selalu bisa
menegarkan diri bak batu karang. Tapi, dibalik semua itu kembali timbul
kesadaran bahwa tidak selamanya batu karang itu akan kokoh, pada saatnya
nanti ia pun akan terkikis habis oleh waktu dan terpaan gelombang. Ah..hati
ini akan menyamudera luasnya, hingga tiada lagi yang tersisa dalam kedukaan
dan lara kesendirian. Bukankah saya masih memiliki Allah?
Saya kesepian? Tidak juga, hanya butuh waktu tuk membiasakan diri. Dan
memang ada kalanya hati dan fikiran hanya ingin menjadi milik jiwa ini.
Sedikit egois memang, tapi saya tidak ingin membiarkan semua ruang di dalam
hidupku terisi dengan jiwa sosialnya. Biarlah ada satu atau beberapa ruang
kosong itu kuisi dengan cara yang berbeda, cara yang membuatku bahagia,
membuatku semakin mencintai Tuhanku dan tentunya tak ada satupun yang
terluka dengan jalanku ini.
Saudaraku, biarlah kita saling mencintai dalam bingkai maghfirah-Nya. Agar
hati terasa lapang, jiwa tak terkekang dalam ikatan yang kita ciptakan
sendiri. Hati yang akan berbicara, dan biarlah tatapan mata ini yang
bercerita, bahwa kalian adalah istimewa untukku. Maaf jika selama
kebersamaan ini saya tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kalian. Kelukaan
karenaku membuatku sakit. Tapi, saya tidak ingin terlalu mencintai kalian,
saya tidak ingin menjadi penghambat langkah-langkah kalian dalam meraih
mimpi, karena setiap kita mempunyai kehidupan sendiri-sendiri yang kelak tak
memberikan ruang untuk kita bisa berbagi. Dan, janganlah pernah terucap
kata, "Selamat Tinggal" diantara kita, tapi ucapkanlah kata yang penuh
optimism tinggi akan sebuah pertemuan, "Sampai Ketemu lagi", jika tidak di
dunia ini, maka Insya Allah di akhirat kelak pertemuan itu akan menjadi
nyata. Dan di saat itulah akan kuberikan senyum terindah dan tulus sepenuh
hati yang merekahkan hati. Uhibbukum Fillah..
Batam, 20 Mey 2011
17 Apr 2011
Bedanya “pengikut salafushaleh” dengan “salafy gadungan”
Hasan al Banna dan Upaya Taqrib (Pendekatan) Antar golongan dalam Islam
Hasan al Banna dituduh berupaya menyatukan antara Ahlul Haq, Ahlus Sunnah, dan selain Ahlus Sunnah.57 Tudingan itu bermula dari kedekatan Hasan al Banna dengan pemikiran Jamaluddin al Afghani,58 yaitu Pan-Islamisme. Mereka menuding bahwa ide yang al Banna wariskan adalah upaya mereduksi akidah Islam yang benar (Ahlus Sunnah walJama ‘ah) dan mencampurkannya dengan akidah lain. Itu adalah tudingan yang ajaib, bahkan lebih ajaib dari tujuh keajaiban dunia. Mengapa Pan-lslamisme (persatuan Islam dan negara Islam) dipahami secara kekanak-kanakan? Sebenarnya, Pan-Islamisme adalah kewajiban agama dan memiliki landasan yang kuat di dalam Alquran dan Assunnah.
Sesungguhnya, umat ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian. Oleh karena itu, beribadahlah kepadaku. (QS al Anbi-ya’: 92)
Berpegang teguhlah kalian kepada tali agama Allah (yakni Islam) semuanya dan janganlah berpecah belah. (QS All Imran: 103)
Sesungguhnya Tangan Allah bersama jamaah. Siapa yang menyempal, ia menyempal menuju neraka. (HR Imam Abu Daud dalam Kitab alFitan wal Malahim, Imam Tirmidzi dalam Kitab alFitan)
Siapa yang ingin bagian tengah surga, hendaklah ia melazimi jamaah karena setan bersama orang yang sendiri, sedangkan bersama dua orang ia lebih jauh. (HR Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah)
Siapa yang memisahkan din dan jamaah, ia telah melepaskan Islam dari lehernya. (HR Imam Tirmidzi)
——————–
57. Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Asy Syihy, Dialog Bersama Ikhwani, him. 20.
58. As Sunnah edisi 05/ Th, HI/1419-1998, him. 24 dan 27. Al Banna dituduh lerpengaruh Syi’ah karena al Afghani berakidah syi’ah babiyah.
Pendekatan bukan Peleburan
Pendekatan yang diupayakan Imam Syahid—seandainya para pencela mau tenang, sabar, dan ikhlas memahaminya—niscaya akan menemukan titik temu dengan garis perjuangan Rasulullah Saw. Tauhidush shufuf yang dilakukan al Banna seyogianya dipahami sebagai strategi perjuangan dalam rangka kerjasama memerangi orang-orang yang memerangi Islam secara umum. Bahkan, memerangi manusia dan seluruh peradabannya, yaitu kolonialisme, imperialisme, ateisme, kapitalisme, sosialisme dan hedonisme yang pada masa itu dan sekarang sangat merajalela. Penyatuan itu amatlah beda dengan peleburan pemahaman doktrin akidah. Al Banna telah menggariskan bahwa dakwah yang beliau bangun berada dalam barisan Ahlus Sunnah walJama ‘ah.
Rasulullah Saw pernah berkoalisi dengan musyrikin Bani Khuza’ah dengan harapan ada kekuatan tambahan untuk melawan kaum musyrikin yang lebih besar dan berbahaya.59 Setiap penyimpangan yang dimiliki sekte dalam Islam tentu memiliki kadar yang berbeda, bahkan satu sekte memiliki kelompok yang bermacam-macam. Tentunya sikap kita pun tidak dapat menyamaratakan semuanya walau sama-sama menyimpang. Itulah yang kita pelajari dari perjalanan dakwah Rasulullah Saw dan para sahabai-nya yang mulia.
Ketika Persia dan Romawi berperang dan dimenangkan Persia, Rasulullah Saw dan sahabatnya merasa sedih mendengar berita itu. Sebaliknya ketika Romawi mengalami kemenangan, kaum muslimin pun ikut bergembira, Kisah itu dapat kita baca pada awal surat ar Rum. Mengapa kaur muslimin berpihak pada Romawi? Alasannya, Romawi beragama Nasrani sedangkan Persia beragama Majusi (penyembah api). Di antara keduanya Nasranilah yang memiliki logika keberagamaan yang lebih dekat dengan Islam. Fa ‘tabir ya ulul abshar ! Itulah strategi Rasulullah Saw dengan memanfaatkan potensi kebaikan yang ada pada musuh untuk menghadapi musuh yang lebih besar dan berbahaya.
Berkata al Hazimy, “Boleh meminta pertolongan kepada orang-orang musyrik untuk memerangi orang musyrik lainnya selagi mereka bergabung dengan patuh dan tidak memberi andil bagi mereka.” Ibnul Qayyim berkata, “Meminta bantuan kepada orang musyrik yang dapat dipercaya untuk keperluan jihad boleh dilakukan selagi dibutuhkan. Nabi Saw sendiri meminta bantuan kepada Dayyil dan penunjuk jalan dari Bani al Khuza’iy yang kafir. Di situ ada maslahat karena orang yang dimintai bantuan dapat bergaul dengan musuh dan dapat mengetahui kabar tentang mereka.”60
Itu pula yang dilakukan al Banna. Namun, amat disayangkan hal itu tidak mampu ditangkap para pencelanya (atau memang mereka tidak mengerti sama sekali?). Memang tidak sama antara orang yang mengetahui dan tidak, serta amat berbeda antara orang yang ber-jihad dan yang selalu mencari-cari kekurangan para mujahid!
——————–
59. Yusuf al Qaradhawy, Prioritas Gerakan Islam, him. 32.
60 M. bin Said bin Salim al Qahthany, Loyalitas Muslim terhadap Islam, him. 282
Hasan al Banna dan Syi’ah
Tudingan itu terjadi karena dua hal. Pertama, pengaruh pemikiran Jamaluddin al Afghani yang berakidah syi’ah babiyah.63 Kedua, itu adalah upaya taqrib yang beliau lakukan terhadap tokoh syi’ah saat itu.64
Tudingan pertama bahwa beliau terpengaruh syi’ah lantaran dekat dengan pemikiran al Afghani adalah tudingan yang takalluf (dipaksakan). Sesungguhnya, al Banna hanya mengambil ide Pan-Islamisme yang digulirkan al Afghani. Lagi pula, al Afghani lebih layak disebut filsuf dan negarawan dan bukan ulama syariat. Sesungguhnya, ide itu sudah terpikir al Banna sejak muda, jauh sebelum berinteraksi dengan pemikiran al Afghani. Hal itu dapat dilihat dalam Memoarnya. Adapun akidah al Afghani yang syi’ah, tidak ada riwayat yang membenarkan tudingan al Banna terpengaruh akidah al Afghani, kecuali jika para penuduh tetap keras kepala menyeret-nyeret kedekatan al Banna dan Pan-Islamisme. Justru dan berbagai tulisan, al Banna menampakkan akidah Salaf-nya yang tulen.
Tentang tudingan kedua, sesungguhnya penyatuan sunnidan syi’ah tidaklah dimaksudkan peleburan doktrin akidah keduanya seperti yang sudah kami sebutkan. Al Banna hanya mengupayakan tauhidus sufuf (pe-nyatuan barisan) di antara keduanya sebagai upaya rekonsiliasi, sekaligus koalisi untuk membendung arus ateisme, komunisme, sosialisme, kapitalis-me, imperialisme, dan hedonisme yang sedang meradang di pelosok bumi. Hal itu sudah kami jelaskan sebelumnya.
Nyatanya, al Banna bukanlah tokoh satu-satunya yang berupaya demi-kian. Telah ada pemuka-pemuka umat yang berencana demikian, tetapi gagal lantaran pengkhianatan yang dilakukan pembesar-pembesar syi’ah dengan menjelek-jelekkan Ahlus Sunnah. Upaya itu diceritakan Syaikh Mushthafa as Siba’i.65
——————–
65. Mushthafa as Siba’i, AlHadits Sebagai Sumber Hukum, hlm. 23.
Standar Ganda
Standar ganda adalah kenyataan aneh yang harus diterima. Di satu sisi, para penuduh menganggap Hasan al Banna dan tokoh-tokoh jamaah-nya dekat dengan syi’ah, tetapi mereka sendiri bungkam dengan kekuatan kafir yang mencengkeram kuat dan lama di negeri Teluk tempat mereka tinggal. Barangkali ada yang berkata, ‘Itu adalah keinginan penguasa, bukan mereka.’ Kami harus menegaskan, itulah letak keanehannya. Mengapa mereka berteriak ketika seharusnya diam dan terdiam ketika seharusnya berteriak? Kekeliruan yang besar di depan mata dan aktual tidak tampak, sementara kekeliruan yang debatable pada masa lalu dan terkubur dalam buku sejarah amat tampak.
Lebih aneh lagi, sebagian mereka menamakan negeri mereka negeri tauhid66 yang diberkahi Allah Swt. Wallahu a’lam. Negeri yang di dalamnya bercokol pangkalan militer musuh besar Islam yang tentara-tentaranya bebas berkeliaran beserta ke-jahiliyah-an yang mereka bawa. Mereka menginjak-injak tanah haram ketika Perang Teluk berkecamuk. Apakah ada negeri tauhid memberikan wala’ (loyalitas) kepada musuh Islam, AS, bahkan membolehkan meminta pertolongan kepada mereka untuk melawan si Sosialis Saddam Husein? Sungguh AS lebih kafir dibandingkan Saddam! Apakah ada negeri muslim sejati seperti ini dalam kegemilangan sejarah Islam dan kaum muslimin masa lalu? Apakah dibenarkan negeri yang menghormati sistem pemerintahan Islami justru menerapkan sistem kekuasaan warisan (dinasti kerajaan) sebagaimana Kisra yang dibid’ahkan kalangan shigharus shahabah karena pergantian kepemimpinan bukan karena musyawarah Ahlus Syura ‘atau dipilih menurut kehendak dan ridha’ rakyat, melainkan sistem dinasti. Yazid bin Mu’awiyah adalah orang pertama yang memperkenalkan mekanisme pergantian khalifah dengan sistem keturunan (dinasti) dan bukan musyawarah. Bahkan ketika (Rajab-Sya’ban, Ramadhan, dan Syawal 1423 H) AS dan Inggris berencana menyerang Irak, pangkalan militer baru telah bertambah di Kuwait seperti yang diberitakan harian al Wathan, 4 November 2002.67
Nah, lalu apa yang membuat mereka sibuk mencela al Banna, padahal upaya tauhidush shufuf-nya belum terjadi, sementara di depan mata mereka telah berkali-kali orang-orang kafir bermesraan dengan para pemimpin negeri tempat mereka tinggal dalam waktu yang lama sampai saat ini. Padahal, kita sama-sama mencintai dan memimpikan kebebasan negeri Islam dan tangan-tangan kotor AS dan bonekanya. Mudah-mudahan Allah Swt membukakan pintu hati kita semua.
——————–
66. Zaid bin Muhammad bin hadi al Madkhaly, Terorisme dalam Tinjauan Islam, him. 132-133.
67. Republika, 5 November 2002, hlm. 8. Di Berita Kota disebutkan telah hadir seribu tentara AS di Kuwait sebagai persiapan untuk menyerang Irak. Kami berharap berita itu tidak dibantah karena dinilai sebagai khabar (berita) dha’if–wartawan media massa belum pernah diuji tsiqah atau dhabth-nya atau sanad-nya muttashil (bersambung) atau munqathi’ (terputus). Belum ada ulama ‘wartawan’ yang menjelaskannya. Lagi pula sampai saat ini belum ada buku Jarh wa Ta’dil untuk wartawan.
Hasan al Banna dan Tasawwuf
Angin hujatan terhadap Hasan al Banna pun bertiup dari arah tasawwuf. Kedekatan beliau dengan tasawwuf saat remaja, khususnya Thariqah al Hashafiyah, menjadi bahan celaan68 dari sebagian kecil kaum muslimin yang tidak perlu diperhitungkan. Namun, hujatan itu menjadi mentah dan lemah lantaran kaum sufi di Mesir justru menganggap Hasan al Banna dan pengikutnya adalah Wahabi-Salafi yang mengingkari kaum sufi dalam banyak hal seperti pemikiran-pemikiran dan zikir-zikir yang dinilai bid’ah dan sesat.69 Kedekatan beliau rahimahullah dengan Thariqah alHashafiyah telah eliau ceritakan sendiri dalam Memoar-nya. Namun, al Banna hingga akhir ayatnya tidak pernah bergabung secara resmi dengan al Hashafiyah. la sebdar muhibbun (simpatisan). Pada masa-masa selanjutnya, al Banna sudah disibukkan dengan dakwah dan jihad-nya sendiri bersama Ikhwanul Muslimun. la tidak menemukan Islam yang dicarinya dari tasawwuf, yaitu mampu mengadakan perubahan di segala sisi kehidupan. Sementara itu, tdsawwuf hanya menampilkan satu sisi Islam dan melupakan sisi lain. Dalam hal ini, ia berbeda pandangan dengan Syaikh Abdul Wahhab al Hashafy, mursyidThariqah al Hashafy. Meski demikian, ukhuwwah mereka berdua tetap terjalin baik.
——————–
68. Zaid bin Muhammad bin Hadi al Madkhaly, Terorisme dalam Tinjauan Islam, him. 123 dan 161. Lihat DialogBersama Ikhwani, him. 15.
69. Yusuf al Qaradhawy, 70 Tahun Al Ikhwan Al Muslimun, him. 312.
Tentang Tasawwuf
Harus diakui, sikap manusia terhadap tasawwuf tidak sama. Hal itu lerjadi karena perbedaan kadar pengetahuan, interaksi, dan performance para sufi yang membuat pandangan manusia berbeda-beda. Kaum muslimin ada yang menghina tasawwuf dan ahlinya (sufi) secara keseluruhan tanpa kecuali. Tabdi’(tuduhan sebagai ahli bid’ah) selalu diarahkan kepada pengikut tasawwuf. Tidak ada kebaikan sedikit pun pada mereka. Sekali pun ada, kebaikan ahli bid’ah masih lebih buruk dibanding keburukan ahli maksiat. Mereka menganggap agama kaum sufi bukanlah dinullah (agama Allah) melainkan dinussufi (agama kaum sufi). Artinya, kaum sufi memiliki cara beragama sendiri menurut hawa nafsu pendiri thariqah-nya. Pemuka-pemuka tasawwuf dipandang hina, bahkan lebih hina dibanding pengikutnya karena merekalah yang menyebabkan tersebarnya bid’ah tasawwuf.
Kelompok itu menaruh kebencian luar biasa kepada tasawwuf dan sufi. Mereka membuka mata lebar-lebar terhadap segala kekurangan Imwwuf, tetapi menutup mata rapat-rapat terhadap segala kebaikan yang ada padanya.
Sementara itu, di sisi lain. Ada kaum muslimin yang memuji tasawwuf setinggi langit, bahkan lebih. Kaum sufi—kata mereka—adalah manusia paling mulia setelah para Nabi. Merekalah Ahlus Sunnah sebenarnya. Bahkan merekalah para shiddiqin, muqarrabin, dan ahlidzdzkri. Sering kita mendengar mereka menganggap ulama syariat (fuqaha) menimba ilmu dari yang pasti mati (manusia), sedangkan sufi menimba ilmu langsung dari Yang Tidak Pernah Mati (Allah). Memang, kaum sufilah yang sebenarnya malas mencari ilmu, bahkan menghina mata airnya sehingga banyak di antara mereka melecehkan ahli ilmu dan murid-muridnya. Oleh karena itu ibadah mereka pun takalluf (berIebihan/memberatkan) dan aneh karena tidak ada ilmu di dalamnya. Kelompok ini menilai kesalahan kaum sufi adalah kesengajaan agar orang-orang awam tidak menyucikannya. Sungguh, ini adalah apologi yang kerdil dan perangkap setan bagi mereka. Kedua sikap itu sama-sama keliru dan tidak mencerminkan kealiman seorang ulama dan kearifan seorang dai. Seharusnya manusia menahan lisannya dari memaki dan memuji secara berlebihan. Sikap tawazun (seimbang) dan tawasuth (pertengahan) terhadap kekeliruan dan kebaikan manusia adalah sikap yang terbaik tanpa menyalahkan yang benar dan tidak membenarkan yang salah serta tidak membuka yang seharusnya tertutup dan tidak menutup yang seharusnya terbuka. Itulah sikap kita: adil, seimbang, dan tepat.
Sikap Muslim terhadap Tasawwuf
Meletakkan tasawwuf pada tempatnya akan menentukan arah sikap kita terhadapnya. Ada baiknya kita mencermati dahulu perjalanan tasawwuf. Hasan al Banna bercerita, “Ketika kemakmuran pemerintahan Islam telah melebar luas pada permulaan abad pertama, penaklukan berbagai negara pun banyak berlangsung, masyarakat dari berbagai penjuru dunia memberikan perhatiannya kepada kaum muslimin. Segala jenis buah telah tergenggam dan bertumpuk di tangan mereka. Khalifah ketika itu berkata kepada awan dan langit, ‘Barat maupun Timur entah bagian bumi manapun yang mendapat tetesan air hujan-Mu, pasti akan datang kepadaku membawa upeti’.
Suatu hal yang lumrah jika ada umat manusia ketika menerima nikmat dunia, mereka menikmati kelezatan dan anugerah yang ada. Memang ada yang menikmatinya dengan kesahajaan. Ada pula yang menikmatinya dengan berlebihan. Sudah menjadi hal yang lumrah pula perubahan sosial itu terjadi. Dari kesahajaan hidup masa kenabian, kini telah sampai pada masa kemewahan.
Melihat kenyataan itu, bangkitlah dari kalangan ulama yang soleh dan bertakwa serta para da’i yang menghimbau umat manusia untuk kembali kepada kehidupan zuhud terhadap kesenangan duniawi yang fana sekaligus mengingatkan mereka pada berbagai hal yang dapat melupakan dirinya dari nikmat akhirat yang kekal abadi. Sungguh, kampung akhirat itulah kehidupan yang kekal lagi sempurna jika mereka mengetahui.
Satu yang saya ketahui adalah seorang Imam pemberi petuah yang mulia, Hasan al Bashri. Meski akhirnya diikuti pula sekian banyak orang soleh lainnya semisal beliau. Terbentuklah sebuah kelompok di tengh-tengah umat yang dikenal dengan dakwahnya untuk selalu menging Allah Swt dan mengingat akhirat, zuhud di dunia, serta men-tarbiyah diri untuk selalu menaati Allah Swt dan bertakwa kepada-Nya.
Dari fenomena itu lahirlah format keilmuan seperti disiplin ilmu keislaman lainnya. Dibangunlah suatu disiplin ilmu yang mengatur tingkah laku manusia dan melukiskan jalan kehidupannya yang spesifik. Tahapan jalan itu adalah zikir, ibadah, dan ma’rifatullah, sedangkan hasil akhirnya adalah surga Allah dan ridha’Nya.”70
Demikianlah tasawwuf. Pada mulanya, ia adalah suatu yang mulia. la mengisi kekosongan yang dilupakan fuqaha (ahli fiqh), muhaddits (ahli hadis), dan mutakallimin (ahli kalam), yaitu kekosongan ruhiyah (jiwa) dan akhlak. Secara jujur harus diakui, inti ajaran Islam adalah akhlak yang menjadi tujuan diutusnya Rasulullah Saw untuk menyempurnakannya. Penerapan syariat Islam dari lingkup terkecil, individu, sampai terbesar, pergaulan antarbangsa, dan semuanya memiliki dimensi akhlak. Pada hakikatnya, tasawwuf adalah akhlak. Siapa yang bertambah baik akhlaknya, bertambah baik pula tasawwuf-nya. Demikian kata Ibnul Qayyim al Jauziyah.71
Jika demikian adanya, bukan tasawwuf-nya yang layak dikecam, melainkan oknum-oknum yang merusak tasawwuf dan menyebarkan kerusakan yang ada padanya. Jadi, kritiklah sesuai haknya tasawwuf yang lepas dari jalan Islam yang benar. Kekeliruan mereka memiliki bobot yang berbeda, ada yang cukup di-bid’ah-kan, ada pula yang layak untuk dikafirkan.72
Penyimpangan pada tasawwuf pernah dipertontonkan al Hallaj yang terpedaya setan. la berkata, “Ana Allah” (Aku Allah). la berpendapat Allah Swt bereinkarnasi dengan makhluk. Begitu pun Ibnu ‘Arabi dengan filsafat wihdatul wujud. la beranggapan tidak ada Khaliq (pencipta) dan makhluq (ciptaan). Tidak ada Rabb (Tuhan) dan hamba.73 Merekalah contoh musibah dalam dunia Tasawwuf.
Sebaliknya, pujilah sesuai haknya: tasawwuf yang lurus dan jalannya sesuai syariat dengan pemahaman salafush shalih yang tumbuh dan berkembang bersih dari bid’ah, khurafat, takhayul, qubury, zindiq, dan syirk. Itulah tasawwuf yang selamat dan pernah dilalui Al Junaid bin Muhammad, Abu Hafs, Abu Sulaiman ad Darani, dan Sahl bin Abdullah at Tastary74 seperti yang dikatakan Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin.
——————–
70 Al Banna, Memoar Hasan alBanna untuk Da ‘wah dan Para Da ‘inya, him. 4344.
71 Yusuf al Qaradhawy, Fiqh Tajdiddan Shahwah fslamiyah, him. 38.
72 Lebih jelasnya lihat Perangkap Syetan karya Ibnu! Jauzi.
73 Yusuf al Qaradhawy, Fatwa-fatwa KontemporerJilid I, him. 928.
74 Ibid, him. 932-933. Lihat juga Sikap Islam terhadap llham, Mimpi, Kasyf, dan Jampi, him. 93 dengan pengarang yang sama.
Al Junaid bin Muhammad pernah berkata, “Semua jalan tertutup bagi makhluk kecuali yang mengikuti jejak Rasulullah Saw. Siapa yang tidak menghafal Alquran dan Hadis, ia tidak boleh diteladani dalam urusan tasawwuf karena ilmu kami terikat dengan Alquran dan Assunnah.”
Abu Hafs berkata, “Siapa yang tidak menimbang keadaan dan perbuatannya setiap waktu dengan al Kitab dan as Sunnah serta tidak memperhatikan suara hatinya, ia tidak termasuk dalam golongan kami.” Abu Sulaiman ad Darani berkata, “Kadang-kadang, timbul suatu titik dalam hatiku seperti titik-titik yang terdapat pada suatu kaum selama beberapa hari. Saya tidak dapat memutuskannya kecuali dengan dua saksi yang adil, yaitu Alquran dan Assunnah.” Jadi, selayaknya orang-orang yang melibatkan dirinya pada tasawwuf, dahulu maupun sekarang, hendaknya mengikuti jalan yang pernah dilalui generasi awal.
Hasan al Banna dan Peringatan Hari-hari Besar Islam
Perkara Hari Besar Islam telah lama menyibukkan kaum muslimin dari Timur sampai Barat; dari ulama sampai awam. Masalah itu membuat mereka berpecah dan saling membenci sehingga lemahlah barisan umat. Keabsahan peringatan Hari-hari Besar Islam, selain Idul Fithri dan Idul Adha, tidak pemah menemui kata sepakat. Satu pihak mengatakannya sebagai ritual bid’ah dhalalah (bid’ah sesat), sementara pihak lain mengatakan bid’ah hasanah, bahkan sunnah atau wajib. Jadi, perpecahan tidak dapat dielakkan lagi seperti yang pernah terjadi pada masa-masa lampau. Padahal, mereka memahami benar bahwa perpecahan adalah bid’ah yang lebih besar dibanding bid’ah yang mereka ributkan itu.
Masa kini, kaum muslimin umumnya sudah relatif dewasa menghadapi perbedaan furu’iyah seperti itu. Hampir tidak terdengar lagi keributan seputar furu’iyah. Siapa yang kembali memunculkan keributan di tengah umat Islam yang sudah melupakan polemik terhadap masalah tersebut, orang-orang seperti itu layak disebut manusia yang menodai ilmu dan agamanya sendiri. Bagaimana tidak? Orang awam yang masih pada taraf taqlid saja mampu menahan diri dan memahami perkara khilafiyah, apalagi mereka disebut syaikh, ustad, ‘alim, dan faqih lebih mengetahui hal itu dan cara penerapan moralnya. Kekerdilan terjadi ketika tindakan mereka menjadi bodoh dengan tidak mampu bersikap bijak seperti orang awam menghadapi khilafiyah furu’iyah.
Hasan al Banna dan Ikhwanul Muslimun mendapat tuduhan sekaligus celaan yang amat tidak pantas dilontarkan Ahli Kiblat, bahkan orang non-muslim sekali pun. Alasan mereka adalah sikap al Banna yang mengakomodasi peringatan Maulid Nabi dan hari besar Islam lainnya. Isi celaan yang dilontarkan Syaikh Farid bin Ahmad bin Manshur—semoga Allah Swt mengampuninya.
“Jamaah Ikhwan banyak menghidupkan bid’ah. Sa’id Hawwa mengatakan dalam bukunya at Tarbiyah arRuhiyah, ‘Ustad al Banna beranggapan bahwa menghidupkan Hari-hari Besar Islam (selain dua hari raya) adalah termasuk tugas harakah-harakah Islam. Beliau pun menganggap satu hal yang aksiomatik dan pasti jika dikatakan pada zaman modern ini memperingati Hari-hari Besar semacam Maulid Nabi dan sejenisnya dapat diterima secara fiqh dan harus mendapat prioritas tersendiri. Dikisahkan juga dan Mahmud Abdul Halim dalam Ahdats Shana’at Tarikh bahwa ia sering bersama al Banna menghadiri peringatan Maulid Nabi. la (al Banna) sendiri terkadang maju ke pentas untuk membawakan nasyid Maulid Nabi Saw dengan suara lantang dan keras.
Setelah mengutip banyak kisah al Banna itu, Syaikh Farid bin Ahmad berkomentar, “Semoga Allah memerangi pelaku-pelaku bid’ah. Alangkah bodohnya mereka. Alangkah lemahnya akal mereka. Sesungguhnya mereka melakukan perbuatan yang tidak pantas dilakukan bahkan oleh anak kecil sekalipun’.”88
Komentar emosional itu tidak sepantasnya terjadi, apalagi dengan menyebutkan bodoh dan lemah akal.89 Seperti yang kami katakan bahwa orang awam telah mengetahui Maulid Nabi adalah khilafiyah dalam masalah furu’ (cabang) fiqh sejak lama. Sebuah keajaiban jika ada seorang syaikh berpolah seakan tidak mengetahui khilafiyah dengan menyerang pihak lain yang menganggap sah Maulid. Sungguh para ulama telah mengatakan, “Siapa yang tidak mengetahui perselisihan dalam fiqh, ia belum mencium aroma fiqh.”
Ada baiknya manusia memperbaiki dirinya dengan meneladani para ulama Rabbani yang menjadi rujukan umat. Sungguh, kami bukanlah penyeru syiar Maulid, tetapi bukan pula pengingkarnya seraya menghakimi dengan mengatakan bid’ah, sesat, haram, batil, keluar dari Ahlus Sunnah. Sikap salaf sejati dalam masalah ini amat jelas. Mereka tidak keras terhadap sesuatu yang seharusnya dilembutkan, mereka pun tidak benci terhadap sesuatu yang seharusnya dikeraskan.
Para salafush shalih lebih sering berkata, “Aku tidak menyukainya”, “tidak disyariatkan”, “lebih baik jangan” daripada berkata haram dan bid’ah. Contoh yang baik di sini adalah sikap etis Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah ketika beliau menerangkan perselisihan dalam masalah qunut subuh (kami tidak bermaksud meng-qiyas-kan masalah Maulid dengan qunutsubuh. Ini hanya upaya pengambilan ‘ibrah yang ada dalam sikap Ibnul Qayyim) dalam bukunya, ZaadulMa’ad.
Beliau berkata, “Pada kesempatan ini, saya hanya bermaksud menyebutkan petunjuk Nabi Saw karena petunjuk beliau merupakan kiblat bagi semua tujuan dan menjadi arahan kitab ini. Dalam kitab ini, saya tidak mengemukakan sesuatu boleh atau tidak boleh, tetapi saya hanya ingin mengemukakan petunjuk Nabi Saw yang beliau pilih untuk dirinya. Itulah petunjuk yang lebih sempurna dan utama. Jika saya katakah bahwa dalam petunjuk Nabi Saw, qunut subu tidak dilakukan terus-menerus dan beliau tidak men-jahr basmalah, bukan berarti saya membenci atau menuduh bid’ah orang yang mempraktikkannya. Namun, petunjuk atau praktik Rasulullah Saw merupakan petunjuk yang paling sempurna dan paling utama.”90
Demikianlah Ibnul Qayyim. Beliau sukses menjadikan dirinya dikuasai ilmu dan hati nurani, bukan hawa nafsu dan emosi. Pernahkah kita berpikir seperti Imam asy Syafi’i yang pernah berkata, “Pendapatku benar, mungkin juga mengandung kesalahan. Pendapat orang lain salah, mungkin juga mengandung kebenaran.” Lihatlah dialog indah melalui surat antara dua Imam besar yang banyak berselisih paham, yaitu Imam Malik dan Imam Laits bin Sa’ad {masih banyak contoh lainnya). Subhanallah! Semua itu bentuk keteladanan yang tidak boleh disia-siakan. Keindahan salaf ridhwanullah ‘alaihim dalam bersilang paham terlalu besar untuk dilupakan hanya untuk memenangkan dalil (ego) pribadi atas dalil orang lain.
——————–
87 Yusuf al Qaradhawy, 70 Tahun AlIkhwan Al Muslimun, him. 313.
88 As Sunnah edisi05/Th. III/1419-1998, him. 26-27.
89 Rasulullah Saw mengajarkan umatnya agar mereka menghormati orang-orang besar dan ulama umat. Rasulullah Saw bersabda, “Bukan umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama kami.” (HR Imam Ahmad).
90 Ibnul Qayyim, Petunjuk Nabi Saw Menjadi Hamba Teladan dalam Berbagai Aspek Kehidupan, him. 225. Lihat pula Fatwa-fatwa Kontemporer jilid I, him. 308-30
Hasan al Banna dituduh berupaya menyatukan antara Ahlul Haq, Ahlus Sunnah, dan selain Ahlus Sunnah.57 Tudingan itu bermula dari kedekatan Hasan al Banna dengan pemikiran Jamaluddin al Afghani,58 yaitu Pan-Islamisme. Mereka menuding bahwa ide yang al Banna wariskan adalah upaya mereduksi akidah Islam yang benar (Ahlus Sunnah walJama ‘ah) dan mencampurkannya dengan akidah lain. Itu adalah tudingan yang ajaib, bahkan lebih ajaib dari tujuh keajaiban dunia. Mengapa Pan-lslamisme (persatuan Islam dan negara Islam) dipahami secara kekanak-kanakan? Sebenarnya, Pan-Islamisme adalah kewajiban agama dan memiliki landasan yang kuat di dalam Alquran dan Assunnah.
Sesungguhnya, umat ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian. Oleh karena itu, beribadahlah kepadaku. (QS al Anbi-ya’: 92)
Berpegang teguhlah kalian kepada tali agama Allah (yakni Islam) semuanya dan janganlah berpecah belah. (QS All Imran: 103)
Sesungguhnya Tangan Allah bersama jamaah. Siapa yang menyempal, ia menyempal menuju neraka. (HR Imam Abu Daud dalam Kitab alFitan wal Malahim, Imam Tirmidzi dalam Kitab alFitan)
Siapa yang ingin bagian tengah surga, hendaklah ia melazimi jamaah karena setan bersama orang yang sendiri, sedangkan bersama dua orang ia lebih jauh. (HR Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah)
Siapa yang memisahkan din dan jamaah, ia telah melepaskan Islam dari lehernya. (HR Imam Tirmidzi)
——————–
57. Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Asy Syihy, Dialog Bersama Ikhwani, him. 20.
58. As Sunnah edisi 05/ Th, HI/1419-1998, him. 24 dan 27. Al Banna dituduh lerpengaruh Syi’ah karena al Afghani berakidah syi’ah babiyah.
Pendekatan bukan Peleburan
Pendekatan yang diupayakan Imam Syahid—seandainya para pencela mau tenang, sabar, dan ikhlas memahaminya—niscaya akan menemukan titik temu dengan garis perjuangan Rasulullah Saw. Tauhidush shufuf yang dilakukan al Banna seyogianya dipahami sebagai strategi perjuangan dalam rangka kerjasama memerangi orang-orang yang memerangi Islam secara umum. Bahkan, memerangi manusia dan seluruh peradabannya, yaitu kolonialisme, imperialisme, ateisme, kapitalisme, sosialisme dan hedonisme yang pada masa itu dan sekarang sangat merajalela. Penyatuan itu amatlah beda dengan peleburan pemahaman doktrin akidah. Al Banna telah menggariskan bahwa dakwah yang beliau bangun berada dalam barisan Ahlus Sunnah walJama ‘ah.
Rasulullah Saw pernah berkoalisi dengan musyrikin Bani Khuza’ah dengan harapan ada kekuatan tambahan untuk melawan kaum musyrikin yang lebih besar dan berbahaya.59 Setiap penyimpangan yang dimiliki sekte dalam Islam tentu memiliki kadar yang berbeda, bahkan satu sekte memiliki kelompok yang bermacam-macam. Tentunya sikap kita pun tidak dapat menyamaratakan semuanya walau sama-sama menyimpang. Itulah yang kita pelajari dari perjalanan dakwah Rasulullah Saw dan para sahabai-nya yang mulia.
Ketika Persia dan Romawi berperang dan dimenangkan Persia, Rasulullah Saw dan sahabatnya merasa sedih mendengar berita itu. Sebaliknya ketika Romawi mengalami kemenangan, kaum muslimin pun ikut bergembira, Kisah itu dapat kita baca pada awal surat ar Rum. Mengapa kaur muslimin berpihak pada Romawi? Alasannya, Romawi beragama Nasrani sedangkan Persia beragama Majusi (penyembah api). Di antara keduanya Nasranilah yang memiliki logika keberagamaan yang lebih dekat dengan Islam. Fa ‘tabir ya ulul abshar ! Itulah strategi Rasulullah Saw dengan memanfaatkan potensi kebaikan yang ada pada musuh untuk menghadapi musuh yang lebih besar dan berbahaya.
Berkata al Hazimy, “Boleh meminta pertolongan kepada orang-orang musyrik untuk memerangi orang musyrik lainnya selagi mereka bergabung dengan patuh dan tidak memberi andil bagi mereka.” Ibnul Qayyim berkata, “Meminta bantuan kepada orang musyrik yang dapat dipercaya untuk keperluan jihad boleh dilakukan selagi dibutuhkan. Nabi Saw sendiri meminta bantuan kepada Dayyil dan penunjuk jalan dari Bani al Khuza’iy yang kafir. Di situ ada maslahat karena orang yang dimintai bantuan dapat bergaul dengan musuh dan dapat mengetahui kabar tentang mereka.”60
Itu pula yang dilakukan al Banna. Namun, amat disayangkan hal itu tidak mampu ditangkap para pencelanya (atau memang mereka tidak mengerti sama sekali?). Memang tidak sama antara orang yang mengetahui dan tidak, serta amat berbeda antara orang yang ber-jihad dan yang selalu mencari-cari kekurangan para mujahid!
——————–
59. Yusuf al Qaradhawy, Prioritas Gerakan Islam, him. 32.
60 M. bin Said bin Salim al Qahthany, Loyalitas Muslim terhadap Islam, him. 282
Hasan al Banna dan Syi’ah
Tudingan itu terjadi karena dua hal. Pertama, pengaruh pemikiran Jamaluddin al Afghani yang berakidah syi’ah babiyah.63 Kedua, itu adalah upaya taqrib yang beliau lakukan terhadap tokoh syi’ah saat itu.64
Tudingan pertama bahwa beliau terpengaruh syi’ah lantaran dekat dengan pemikiran al Afghani adalah tudingan yang takalluf (dipaksakan). Sesungguhnya, al Banna hanya mengambil ide Pan-Islamisme yang digulirkan al Afghani. Lagi pula, al Afghani lebih layak disebut filsuf dan negarawan dan bukan ulama syariat. Sesungguhnya, ide itu sudah terpikir al Banna sejak muda, jauh sebelum berinteraksi dengan pemikiran al Afghani. Hal itu dapat dilihat dalam Memoarnya. Adapun akidah al Afghani yang syi’ah, tidak ada riwayat yang membenarkan tudingan al Banna terpengaruh akidah al Afghani, kecuali jika para penuduh tetap keras kepala menyeret-nyeret kedekatan al Banna dan Pan-Islamisme. Justru dan berbagai tulisan, al Banna menampakkan akidah Salaf-nya yang tulen.
Tentang tudingan kedua, sesungguhnya penyatuan sunnidan syi’ah tidaklah dimaksudkan peleburan doktrin akidah keduanya seperti yang sudah kami sebutkan. Al Banna hanya mengupayakan tauhidus sufuf (pe-nyatuan barisan) di antara keduanya sebagai upaya rekonsiliasi, sekaligus koalisi untuk membendung arus ateisme, komunisme, sosialisme, kapitalis-me, imperialisme, dan hedonisme yang sedang meradang di pelosok bumi. Hal itu sudah kami jelaskan sebelumnya.
Nyatanya, al Banna bukanlah tokoh satu-satunya yang berupaya demi-kian. Telah ada pemuka-pemuka umat yang berencana demikian, tetapi gagal lantaran pengkhianatan yang dilakukan pembesar-pembesar syi’ah dengan menjelek-jelekkan Ahlus Sunnah. Upaya itu diceritakan Syaikh Mushthafa as Siba’i.65
——————–
65. Mushthafa as Siba’i, AlHadits Sebagai Sumber Hukum, hlm. 23.
Standar Ganda
Standar ganda adalah kenyataan aneh yang harus diterima. Di satu sisi, para penuduh menganggap Hasan al Banna dan tokoh-tokoh jamaah-nya dekat dengan syi’ah, tetapi mereka sendiri bungkam dengan kekuatan kafir yang mencengkeram kuat dan lama di negeri Teluk tempat mereka tinggal. Barangkali ada yang berkata, ‘Itu adalah keinginan penguasa, bukan mereka.’ Kami harus menegaskan, itulah letak keanehannya. Mengapa mereka berteriak ketika seharusnya diam dan terdiam ketika seharusnya berteriak? Kekeliruan yang besar di depan mata dan aktual tidak tampak, sementara kekeliruan yang debatable pada masa lalu dan terkubur dalam buku sejarah amat tampak.
Lebih aneh lagi, sebagian mereka menamakan negeri mereka negeri tauhid66 yang diberkahi Allah Swt. Wallahu a’lam. Negeri yang di dalamnya bercokol pangkalan militer musuh besar Islam yang tentara-tentaranya bebas berkeliaran beserta ke-jahiliyah-an yang mereka bawa. Mereka menginjak-injak tanah haram ketika Perang Teluk berkecamuk. Apakah ada negeri tauhid memberikan wala’ (loyalitas) kepada musuh Islam, AS, bahkan membolehkan meminta pertolongan kepada mereka untuk melawan si Sosialis Saddam Husein? Sungguh AS lebih kafir dibandingkan Saddam! Apakah ada negeri muslim sejati seperti ini dalam kegemilangan sejarah Islam dan kaum muslimin masa lalu? Apakah dibenarkan negeri yang menghormati sistem pemerintahan Islami justru menerapkan sistem kekuasaan warisan (dinasti kerajaan) sebagaimana Kisra yang dibid’ahkan kalangan shigharus shahabah karena pergantian kepemimpinan bukan karena musyawarah Ahlus Syura ‘atau dipilih menurut kehendak dan ridha’ rakyat, melainkan sistem dinasti. Yazid bin Mu’awiyah adalah orang pertama yang memperkenalkan mekanisme pergantian khalifah dengan sistem keturunan (dinasti) dan bukan musyawarah. Bahkan ketika (Rajab-Sya’ban, Ramadhan, dan Syawal 1423 H) AS dan Inggris berencana menyerang Irak, pangkalan militer baru telah bertambah di Kuwait seperti yang diberitakan harian al Wathan, 4 November 2002.67
Nah, lalu apa yang membuat mereka sibuk mencela al Banna, padahal upaya tauhidush shufuf-nya belum terjadi, sementara di depan mata mereka telah berkali-kali orang-orang kafir bermesraan dengan para pemimpin negeri tempat mereka tinggal dalam waktu yang lama sampai saat ini. Padahal, kita sama-sama mencintai dan memimpikan kebebasan negeri Islam dan tangan-tangan kotor AS dan bonekanya. Mudah-mudahan Allah Swt membukakan pintu hati kita semua.
——————–
66. Zaid bin Muhammad bin hadi al Madkhaly, Terorisme dalam Tinjauan Islam, him. 132-133.
67. Republika, 5 November 2002, hlm. 8. Di Berita Kota disebutkan telah hadir seribu tentara AS di Kuwait sebagai persiapan untuk menyerang Irak. Kami berharap berita itu tidak dibantah karena dinilai sebagai khabar (berita) dha’if–wartawan media massa belum pernah diuji tsiqah atau dhabth-nya atau sanad-nya muttashil (bersambung) atau munqathi’ (terputus). Belum ada ulama ‘wartawan’ yang menjelaskannya. Lagi pula sampai saat ini belum ada buku Jarh wa Ta’dil untuk wartawan.
Hasan al Banna dan Tasawwuf
Angin hujatan terhadap Hasan al Banna pun bertiup dari arah tasawwuf. Kedekatan beliau dengan tasawwuf saat remaja, khususnya Thariqah al Hashafiyah, menjadi bahan celaan68 dari sebagian kecil kaum muslimin yang tidak perlu diperhitungkan. Namun, hujatan itu menjadi mentah dan lemah lantaran kaum sufi di Mesir justru menganggap Hasan al Banna dan pengikutnya adalah Wahabi-Salafi yang mengingkari kaum sufi dalam banyak hal seperti pemikiran-pemikiran dan zikir-zikir yang dinilai bid’ah dan sesat.69 Kedekatan beliau rahimahullah dengan Thariqah alHashafiyah telah eliau ceritakan sendiri dalam Memoar-nya. Namun, al Banna hingga akhir ayatnya tidak pernah bergabung secara resmi dengan al Hashafiyah. la sebdar muhibbun (simpatisan). Pada masa-masa selanjutnya, al Banna sudah disibukkan dengan dakwah dan jihad-nya sendiri bersama Ikhwanul Muslimun. la tidak menemukan Islam yang dicarinya dari tasawwuf, yaitu mampu mengadakan perubahan di segala sisi kehidupan. Sementara itu, tdsawwuf hanya menampilkan satu sisi Islam dan melupakan sisi lain. Dalam hal ini, ia berbeda pandangan dengan Syaikh Abdul Wahhab al Hashafy, mursyidThariqah al Hashafy. Meski demikian, ukhuwwah mereka berdua tetap terjalin baik.
——————–
68. Zaid bin Muhammad bin Hadi al Madkhaly, Terorisme dalam Tinjauan Islam, him. 123 dan 161. Lihat DialogBersama Ikhwani, him. 15.
69. Yusuf al Qaradhawy, 70 Tahun Al Ikhwan Al Muslimun, him. 312.
Tentang Tasawwuf
Harus diakui, sikap manusia terhadap tasawwuf tidak sama. Hal itu lerjadi karena perbedaan kadar pengetahuan, interaksi, dan performance para sufi yang membuat pandangan manusia berbeda-beda. Kaum muslimin ada yang menghina tasawwuf dan ahlinya (sufi) secara keseluruhan tanpa kecuali. Tabdi’(tuduhan sebagai ahli bid’ah) selalu diarahkan kepada pengikut tasawwuf. Tidak ada kebaikan sedikit pun pada mereka. Sekali pun ada, kebaikan ahli bid’ah masih lebih buruk dibanding keburukan ahli maksiat. Mereka menganggap agama kaum sufi bukanlah dinullah (agama Allah) melainkan dinussufi (agama kaum sufi). Artinya, kaum sufi memiliki cara beragama sendiri menurut hawa nafsu pendiri thariqah-nya. Pemuka-pemuka tasawwuf dipandang hina, bahkan lebih hina dibanding pengikutnya karena merekalah yang menyebabkan tersebarnya bid’ah tasawwuf.
Kelompok itu menaruh kebencian luar biasa kepada tasawwuf dan sufi. Mereka membuka mata lebar-lebar terhadap segala kekurangan Imwwuf, tetapi menutup mata rapat-rapat terhadap segala kebaikan yang ada padanya.
Sementara itu, di sisi lain. Ada kaum muslimin yang memuji tasawwuf setinggi langit, bahkan lebih. Kaum sufi—kata mereka—adalah manusia paling mulia setelah para Nabi. Merekalah Ahlus Sunnah sebenarnya. Bahkan merekalah para shiddiqin, muqarrabin, dan ahlidzdzkri. Sering kita mendengar mereka menganggap ulama syariat (fuqaha) menimba ilmu dari yang pasti mati (manusia), sedangkan sufi menimba ilmu langsung dari Yang Tidak Pernah Mati (Allah). Memang, kaum sufilah yang sebenarnya malas mencari ilmu, bahkan menghina mata airnya sehingga banyak di antara mereka melecehkan ahli ilmu dan murid-muridnya. Oleh karena itu ibadah mereka pun takalluf (berIebihan/memberatkan) dan aneh karena tidak ada ilmu di dalamnya. Kelompok ini menilai kesalahan kaum sufi adalah kesengajaan agar orang-orang awam tidak menyucikannya. Sungguh, ini adalah apologi yang kerdil dan perangkap setan bagi mereka. Kedua sikap itu sama-sama keliru dan tidak mencerminkan kealiman seorang ulama dan kearifan seorang dai. Seharusnya manusia menahan lisannya dari memaki dan memuji secara berlebihan. Sikap tawazun (seimbang) dan tawasuth (pertengahan) terhadap kekeliruan dan kebaikan manusia adalah sikap yang terbaik tanpa menyalahkan yang benar dan tidak membenarkan yang salah serta tidak membuka yang seharusnya tertutup dan tidak menutup yang seharusnya terbuka. Itulah sikap kita: adil, seimbang, dan tepat.
Sikap Muslim terhadap Tasawwuf
Meletakkan tasawwuf pada tempatnya akan menentukan arah sikap kita terhadapnya. Ada baiknya kita mencermati dahulu perjalanan tasawwuf. Hasan al Banna bercerita, “Ketika kemakmuran pemerintahan Islam telah melebar luas pada permulaan abad pertama, penaklukan berbagai negara pun banyak berlangsung, masyarakat dari berbagai penjuru dunia memberikan perhatiannya kepada kaum muslimin. Segala jenis buah telah tergenggam dan bertumpuk di tangan mereka. Khalifah ketika itu berkata kepada awan dan langit, ‘Barat maupun Timur entah bagian bumi manapun yang mendapat tetesan air hujan-Mu, pasti akan datang kepadaku membawa upeti’.
Suatu hal yang lumrah jika ada umat manusia ketika menerima nikmat dunia, mereka menikmati kelezatan dan anugerah yang ada. Memang ada yang menikmatinya dengan kesahajaan. Ada pula yang menikmatinya dengan berlebihan. Sudah menjadi hal yang lumrah pula perubahan sosial itu terjadi. Dari kesahajaan hidup masa kenabian, kini telah sampai pada masa kemewahan.
Melihat kenyataan itu, bangkitlah dari kalangan ulama yang soleh dan bertakwa serta para da’i yang menghimbau umat manusia untuk kembali kepada kehidupan zuhud terhadap kesenangan duniawi yang fana sekaligus mengingatkan mereka pada berbagai hal yang dapat melupakan dirinya dari nikmat akhirat yang kekal abadi. Sungguh, kampung akhirat itulah kehidupan yang kekal lagi sempurna jika mereka mengetahui.
Satu yang saya ketahui adalah seorang Imam pemberi petuah yang mulia, Hasan al Bashri. Meski akhirnya diikuti pula sekian banyak orang soleh lainnya semisal beliau. Terbentuklah sebuah kelompok di tengh-tengah umat yang dikenal dengan dakwahnya untuk selalu menging Allah Swt dan mengingat akhirat, zuhud di dunia, serta men-tarbiyah diri untuk selalu menaati Allah Swt dan bertakwa kepada-Nya.
Dari fenomena itu lahirlah format keilmuan seperti disiplin ilmu keislaman lainnya. Dibangunlah suatu disiplin ilmu yang mengatur tingkah laku manusia dan melukiskan jalan kehidupannya yang spesifik. Tahapan jalan itu adalah zikir, ibadah, dan ma’rifatullah, sedangkan hasil akhirnya adalah surga Allah dan ridha’Nya.”70
Demikianlah tasawwuf. Pada mulanya, ia adalah suatu yang mulia. la mengisi kekosongan yang dilupakan fuqaha (ahli fiqh), muhaddits (ahli hadis), dan mutakallimin (ahli kalam), yaitu kekosongan ruhiyah (jiwa) dan akhlak. Secara jujur harus diakui, inti ajaran Islam adalah akhlak yang menjadi tujuan diutusnya Rasulullah Saw untuk menyempurnakannya. Penerapan syariat Islam dari lingkup terkecil, individu, sampai terbesar, pergaulan antarbangsa, dan semuanya memiliki dimensi akhlak. Pada hakikatnya, tasawwuf adalah akhlak. Siapa yang bertambah baik akhlaknya, bertambah baik pula tasawwuf-nya. Demikian kata Ibnul Qayyim al Jauziyah.71
Jika demikian adanya, bukan tasawwuf-nya yang layak dikecam, melainkan oknum-oknum yang merusak tasawwuf dan menyebarkan kerusakan yang ada padanya. Jadi, kritiklah sesuai haknya tasawwuf yang lepas dari jalan Islam yang benar. Kekeliruan mereka memiliki bobot yang berbeda, ada yang cukup di-bid’ah-kan, ada pula yang layak untuk dikafirkan.72
Penyimpangan pada tasawwuf pernah dipertontonkan al Hallaj yang terpedaya setan. la berkata, “Ana Allah” (Aku Allah). la berpendapat Allah Swt bereinkarnasi dengan makhluk. Begitu pun Ibnu ‘Arabi dengan filsafat wihdatul wujud. la beranggapan tidak ada Khaliq (pencipta) dan makhluq (ciptaan). Tidak ada Rabb (Tuhan) dan hamba.73 Merekalah contoh musibah dalam dunia Tasawwuf.
Sebaliknya, pujilah sesuai haknya: tasawwuf yang lurus dan jalannya sesuai syariat dengan pemahaman salafush shalih yang tumbuh dan berkembang bersih dari bid’ah, khurafat, takhayul, qubury, zindiq, dan syirk. Itulah tasawwuf yang selamat dan pernah dilalui Al Junaid bin Muhammad, Abu Hafs, Abu Sulaiman ad Darani, dan Sahl bin Abdullah at Tastary74 seperti yang dikatakan Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin.
——————–
70 Al Banna, Memoar Hasan alBanna untuk Da ‘wah dan Para Da ‘inya, him. 4344.
71 Yusuf al Qaradhawy, Fiqh Tajdiddan Shahwah fslamiyah, him. 38.
72 Lebih jelasnya lihat Perangkap Syetan karya Ibnu! Jauzi.
73 Yusuf al Qaradhawy, Fatwa-fatwa KontemporerJilid I, him. 928.
74 Ibid, him. 932-933. Lihat juga Sikap Islam terhadap llham, Mimpi, Kasyf, dan Jampi, him. 93 dengan pengarang yang sama.
Al Junaid bin Muhammad pernah berkata, “Semua jalan tertutup bagi makhluk kecuali yang mengikuti jejak Rasulullah Saw. Siapa yang tidak menghafal Alquran dan Hadis, ia tidak boleh diteladani dalam urusan tasawwuf karena ilmu kami terikat dengan Alquran dan Assunnah.”
Abu Hafs berkata, “Siapa yang tidak menimbang keadaan dan perbuatannya setiap waktu dengan al Kitab dan as Sunnah serta tidak memperhatikan suara hatinya, ia tidak termasuk dalam golongan kami.” Abu Sulaiman ad Darani berkata, “Kadang-kadang, timbul suatu titik dalam hatiku seperti titik-titik yang terdapat pada suatu kaum selama beberapa hari. Saya tidak dapat memutuskannya kecuali dengan dua saksi yang adil, yaitu Alquran dan Assunnah.” Jadi, selayaknya orang-orang yang melibatkan dirinya pada tasawwuf, dahulu maupun sekarang, hendaknya mengikuti jalan yang pernah dilalui generasi awal.
Hasan al Banna dan Peringatan Hari-hari Besar Islam
Perkara Hari Besar Islam telah lama menyibukkan kaum muslimin dari Timur sampai Barat; dari ulama sampai awam. Masalah itu membuat mereka berpecah dan saling membenci sehingga lemahlah barisan umat. Keabsahan peringatan Hari-hari Besar Islam, selain Idul Fithri dan Idul Adha, tidak pemah menemui kata sepakat. Satu pihak mengatakannya sebagai ritual bid’ah dhalalah (bid’ah sesat), sementara pihak lain mengatakan bid’ah hasanah, bahkan sunnah atau wajib. Jadi, perpecahan tidak dapat dielakkan lagi seperti yang pernah terjadi pada masa-masa lampau. Padahal, mereka memahami benar bahwa perpecahan adalah bid’ah yang lebih besar dibanding bid’ah yang mereka ributkan itu.
Masa kini, kaum muslimin umumnya sudah relatif dewasa menghadapi perbedaan furu’iyah seperti itu. Hampir tidak terdengar lagi keributan seputar furu’iyah. Siapa yang kembali memunculkan keributan di tengah umat Islam yang sudah melupakan polemik terhadap masalah tersebut, orang-orang seperti itu layak disebut manusia yang menodai ilmu dan agamanya sendiri. Bagaimana tidak? Orang awam yang masih pada taraf taqlid saja mampu menahan diri dan memahami perkara khilafiyah, apalagi mereka disebut syaikh, ustad, ‘alim, dan faqih lebih mengetahui hal itu dan cara penerapan moralnya. Kekerdilan terjadi ketika tindakan mereka menjadi bodoh dengan tidak mampu bersikap bijak seperti orang awam menghadapi khilafiyah furu’iyah.
Hasan al Banna dan Ikhwanul Muslimun mendapat tuduhan sekaligus celaan yang amat tidak pantas dilontarkan Ahli Kiblat, bahkan orang non-muslim sekali pun. Alasan mereka adalah sikap al Banna yang mengakomodasi peringatan Maulid Nabi dan hari besar Islam lainnya. Isi celaan yang dilontarkan Syaikh Farid bin Ahmad bin Manshur—semoga Allah Swt mengampuninya.
“Jamaah Ikhwan banyak menghidupkan bid’ah. Sa’id Hawwa mengatakan dalam bukunya at Tarbiyah arRuhiyah, ‘Ustad al Banna beranggapan bahwa menghidupkan Hari-hari Besar Islam (selain dua hari raya) adalah termasuk tugas harakah-harakah Islam. Beliau pun menganggap satu hal yang aksiomatik dan pasti jika dikatakan pada zaman modern ini memperingati Hari-hari Besar semacam Maulid Nabi dan sejenisnya dapat diterima secara fiqh dan harus mendapat prioritas tersendiri. Dikisahkan juga dan Mahmud Abdul Halim dalam Ahdats Shana’at Tarikh bahwa ia sering bersama al Banna menghadiri peringatan Maulid Nabi. la (al Banna) sendiri terkadang maju ke pentas untuk membawakan nasyid Maulid Nabi Saw dengan suara lantang dan keras.
Setelah mengutip banyak kisah al Banna itu, Syaikh Farid bin Ahmad berkomentar, “Semoga Allah memerangi pelaku-pelaku bid’ah. Alangkah bodohnya mereka. Alangkah lemahnya akal mereka. Sesungguhnya mereka melakukan perbuatan yang tidak pantas dilakukan bahkan oleh anak kecil sekalipun’.”88
Komentar emosional itu tidak sepantasnya terjadi, apalagi dengan menyebutkan bodoh dan lemah akal.89 Seperti yang kami katakan bahwa orang awam telah mengetahui Maulid Nabi adalah khilafiyah dalam masalah furu’ (cabang) fiqh sejak lama. Sebuah keajaiban jika ada seorang syaikh berpolah seakan tidak mengetahui khilafiyah dengan menyerang pihak lain yang menganggap sah Maulid. Sungguh para ulama telah mengatakan, “Siapa yang tidak mengetahui perselisihan dalam fiqh, ia belum mencium aroma fiqh.”
Ada baiknya manusia memperbaiki dirinya dengan meneladani para ulama Rabbani yang menjadi rujukan umat. Sungguh, kami bukanlah penyeru syiar Maulid, tetapi bukan pula pengingkarnya seraya menghakimi dengan mengatakan bid’ah, sesat, haram, batil, keluar dari Ahlus Sunnah. Sikap salaf sejati dalam masalah ini amat jelas. Mereka tidak keras terhadap sesuatu yang seharusnya dilembutkan, mereka pun tidak benci terhadap sesuatu yang seharusnya dikeraskan.
Para salafush shalih lebih sering berkata, “Aku tidak menyukainya”, “tidak disyariatkan”, “lebih baik jangan” daripada berkata haram dan bid’ah. Contoh yang baik di sini adalah sikap etis Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah ketika beliau menerangkan perselisihan dalam masalah qunut subuh (kami tidak bermaksud meng-qiyas-kan masalah Maulid dengan qunutsubuh. Ini hanya upaya pengambilan ‘ibrah yang ada dalam sikap Ibnul Qayyim) dalam bukunya, ZaadulMa’ad.
Beliau berkata, “Pada kesempatan ini, saya hanya bermaksud menyebutkan petunjuk Nabi Saw karena petunjuk beliau merupakan kiblat bagi semua tujuan dan menjadi arahan kitab ini. Dalam kitab ini, saya tidak mengemukakan sesuatu boleh atau tidak boleh, tetapi saya hanya ingin mengemukakan petunjuk Nabi Saw yang beliau pilih untuk dirinya. Itulah petunjuk yang lebih sempurna dan utama. Jika saya katakah bahwa dalam petunjuk Nabi Saw, qunut subu tidak dilakukan terus-menerus dan beliau tidak men-jahr basmalah, bukan berarti saya membenci atau menuduh bid’ah orang yang mempraktikkannya. Namun, petunjuk atau praktik Rasulullah Saw merupakan petunjuk yang paling sempurna dan paling utama.”90
Demikianlah Ibnul Qayyim. Beliau sukses menjadikan dirinya dikuasai ilmu dan hati nurani, bukan hawa nafsu dan emosi. Pernahkah kita berpikir seperti Imam asy Syafi’i yang pernah berkata, “Pendapatku benar, mungkin juga mengandung kesalahan. Pendapat orang lain salah, mungkin juga mengandung kebenaran.” Lihatlah dialog indah melalui surat antara dua Imam besar yang banyak berselisih paham, yaitu Imam Malik dan Imam Laits bin Sa’ad {masih banyak contoh lainnya). Subhanallah! Semua itu bentuk keteladanan yang tidak boleh disia-siakan. Keindahan salaf ridhwanullah ‘alaihim dalam bersilang paham terlalu besar untuk dilupakan hanya untuk memenangkan dalil (ego) pribadi atas dalil orang lain.
——————–
87 Yusuf al Qaradhawy, 70 Tahun AlIkhwan Al Muslimun, him. 313.
88 As Sunnah edisi05/Th. III/1419-1998, him. 26-27.
89 Rasulullah Saw mengajarkan umatnya agar mereka menghormati orang-orang besar dan ulama umat. Rasulullah Saw bersabda, “Bukan umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama kami.” (HR Imam Ahmad).
90 Ibnul Qayyim, Petunjuk Nabi Saw Menjadi Hamba Teladan dalam Berbagai Aspek Kehidupan, him. 225. Lihat pula Fatwa-fatwa Kontemporer jilid I, him. 308-30
Romansa Facebook
Bismillah…
Akhir – akhir ini, topik diskusi saya dengan teman-teman di FB (Facebok; red) sering tidak jauh dari pernikahan dan berbagai hal yang berkaitan dengannya, termasuk di dalamnya adalah proses ta’arruf dan hubungannya dengan kemajuan teknologi informasi seperti email, chating dan facebook. Dari diskusi ini muncullah berbagai kisah nyata dari mereka ataupun dari pengalaman teman-teman mereka. Saya ingin sedikit berbagi cerita tersebut dengan harapan semoga kita semua bisa mengambil hikmah darinya. Sebelumnya saya minta maaf buat para narasumber saya karena belum minta ijin untuk menshare pengalaman kalian di sini. Tapi Insya Allah, nama dan tempat terjadinya peristiwa tersebut akan terjamin aman. :)
Seorang teman, anggaplah Si akhwat A bercerita kepada saya tentang pengalaman pribadinya dimana seorang ikhwan mengajukan keinginannya untuk mengkhitbah dia melalui e-mail setelah perkenalannya melalui FB. Sebelumnya mereka tidak saling kenal, yang mereka tahu bahwa mereka adalah sama-sama aktivis dakwah melihat dari informasi mutual friend dan sedikit info di profile masing-masing. Tak ada komunikasi yang berarti diantara mereka melalui chatting, akunya. Karena setiap kali si ikhwan memulai percakapan dengan ucapan salam, si akhwat hanya meresponnya dengan menjawab salam tersebut dan percakapan pun selesai, tak berlanjut. Begitu terus, sampai beberapa kali. Tak pernah lebih dari ucapan dan jawaban salam. Hingga suatu hari si akhwat kaget bukan kepalang ketika mendapati e-mail dari ikhwan tersebut, bukan karena mendapat e-mail tapi karena maksud dan tujuan dari e-mail itu. Si akhwat ini merasa bahwa keputusan ikhwan tersebut tidak bisa diterima oleh akal sehatnya karena ia merasa si ikhwan tersebut sama sekali tidak mengetahui kekurangan dan kelebihannya. Informasi yang ada di FB atau dari status-status kata hikmah yang menghiasi wall-nya bukanlah sepenuhnya menggambarkan karakternya. Saya tidak tahu bagemana kelanjutan dari cerita ini, apa sudah berakhir atau malah berlanjut ke jenjang berikutnya. Wallahu’alam..
Cerita kedua, sebutlah si Akhwat B. Dia juga mendapatkan e-mail serupa dari seorang ikhwan. Tapi mereka sudah mempunyai interaksi yang cukup lama di dunia nyata. Mereka teman sekelas ketika masih sama-sama duduk di bangku SMA. Situs jejaring social FB kembali mempertemukan mereka setelah sekian tahun tidak bertemu. Sebagai teman lama, pastinya banyak cerita yang mulai terurai dari jari masing – masing di atas keyboard. Sesekali mereka bercerita tentang mimpi-mimpi dan keinginan di masa depan atau aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan selama sekian tahun tak bertemu. Dari perbincangan itu, si akhwat merasa bahwa rasa keingintahuan ikhwan tersebut terhadap islam cukup tinggi, hanif-lah, katanya, sehingga itu membuat si akhwat ini semakin bersemangat tuk memfardiyahinya, katanya. Dari diskusilah itulah yang akhirnya memunculkan e-mail dari ikhwan tersebut akan niatnya terhadap si akhwat. Lagi-lagi saya tidak tahu akhir dari cerita ini karena loose contact. Terakhir si akhwat B ini bilang klo dia masih mempertimbangkannya dalam istikharohnya dan akan melanjutkan ke Murobbiyahnya jika memang jawaban istikharohnya adalah, Ya. Dan dia juga sudah meminta si ikhwan tersebut untuk mengenal dunia tarbiyah dan si ikhwan tersebut juga menyetujuinya. Hanya itu yang saya tahu, selebihnya, wallahu’alam..
Cerita ketiga, sebut saja si akhwat C. Sebelumnya dia sudah melakukan ta’arruf melalui mediasi oleh seorang temannya dan Morobbiyahnya. Hanya saja, di tengah perjalanan terjadi sedikit kendala yang membuat proses tersebut sempat mandeg. Hingga akhirnya si ikhwan berinisiatif melakukan komunikasi melalui e-mail. Dari komunikasi tersebut mereka benar-benar melakukan proses ta’arruf dengan sangat rinci dan jelas melalui media tersebut. Ada beberapa ketidakcocokan diantara mereka dan hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa dikompromikan oleh masing-masing pihak. Proses pun berhenti, karena si ikhwan mengaku mundur. Namun, sangat disayangkan. Benih-benih cinta telah ditanam syetan dalam hati-hati mereka. Kecewa tak terbantahkan. Kulihat air mata mengalir deras dari saudariku ini. Astaghfirullah….
Cerita keempat, dari akhwat D. Seorang ikhwan telah memintanya untuk menjadi istrinya, juga melalui e-mail. Si ikhwan mengaku baru melihat akhwat D hanya sekali. Yah, dan lagi-lagi mereka memang mempunyai hubungan pertemanan melalui FB. Lebih setahun mereka berteman di FB, dengan beberapa komunikasi melalui comment-comment di status masing-masing di wall FB dan juga sedikit percakapan di chat room. Si ikhwan bersedia datang ke wali / orang tua akhwat tersebut jika sekiranya khitbahnya tersebut di amini oleh sang akhwat. Proses ini juga tak berlanjut karena ada sedikit perbedaan pandangan dalam pemahaman keagamaan dan sedikit rasa sangsi dari akhwat tersebut karena cara yang dilakukan oleh si ikhwan dengan melamar melalui e-mail yang menurutnya tidak sesuai dengan prinsip sebuah proses ta’arruf yang difahaminya.
Masih banyak cerita yang saya dapatkan dari teman, tapi cukuplah empat saja. Takutnya kepanjangan. Trus, ngebosanin. Hehehe. Dari 4 cerita yang saya suguhkan di atas, saya sangat tertarik dengan kisah ketiga dan keempat. Dimana dari cerita ketiga, kita bisa mendapatkan hikmah bahwa dalam proses ta’arruf, jika ingin benar-benar menjaga kemurnian hati dan ikhlas dengan dua kemungkinan yang pasti terjadi, ya atau tidak maka seharusnya mereka melakukan mediasi yang lebih syar’ie dan mempunyai fungsi hidup. Hidup dalam menjaga, mengontrol dan mengawasi hati dari kedua belah pihak. Sehingga, ketika proses tersebut tidak berujung dalam ikatan pernikahan, maka tak perlu lagi ada perasaan kecewa, tak perlu saling melukai perasaan, apalagi ada air mata yang menetes karena adanya kasih tak sampai.
Untuk cerita kedua, saya sangat salut dengan akhwat tersebut, tapi disamping itu sedikit menyesalkan sikap terbukanya yang telah menyulut api komunikasi yang berujung pada ketidakmampuan hati menahan rasa terhadap lawan jenis. Tapi saya tetap salut dengan sikap tegasnya yang menyerahkan pilihannya pada istikharoh serta tetap berpegang pada nilai-nilai prinsipnya untuk mendapatkan pendamping hidup yang mempunyai ghiroh terhadap dakwah.
Cerita pertama dan keempat cukup mempunyai hubungan yang erat. Bedanya, pada cerita pertama mereka belum pernah ketemu dan untuk cerita terakhir mereka sudah pernah bertemu. Ada sedikit yang mengganjal dalam fikiranku untuk kedua cerita tersebut. Bagaimana mungkin seseorang bisa dengan yakinnya mengambil keputusan memilih seseorang yang belum ia kenal akhlaknya, latar belakang keluarganya dan pola fikirnya untuk menjadi pasangan hidupnya. Bukankah kehidupan rumah tangga itu bukan untuk dijalani sehari atau 2 hari saja? Dan juga bukan hanya di pertanggungjawabkan di dunia saja. Akan tetapi, lebih dari itu. Kehidupan pernikahan adalah sesuatu yang akan kita jalani sepanjang nafas membersamai kita di dunia ini dan hal ini yang paling menentukan sukses tidaknya kita di dunia dan akhirat kita kelak.
Bukannya mau berdzu’uson, tapi saya lebih berfikir bahwa mereka yang mengambil keputusan seperti ini adalah mereka para pemuja fisik atau tampilan luarnya saja. Fisik di sini bukan hanya cantik atau tidaknya, tetapi juga dari tulisan-tulisan yang ada, melihat interaksi yang ada hanya lewat FB. Jika bukan karena fisik, lalu dari mana datangnya keyakinan itu? “Dia seorang akhwat, maka cukuplah itu sebagai alasanku memilihnya”, mungkin mereka akan menjawabnya seperti itu. Hmmmm…maka kukatakan padamu, “terlalu sempit pemikiranmu akhi…”.
Akhwat yang berjilbab panjang dan lebar belum tentu lebih baik dari yang biasa-biasa saja. Banyaknya ilmu agama pun juga tak bisa dijadikan tolak ukur baik tidaknya seseorang. Lihat tuh sih Ulil atau si ibu Musda, cerdas dan berwawasan luas tapi jadi atek-antek syetan dengan faham Liberal dan Pluralisnya. Apalagi dengan hanya melihat tulisan-tulisan yang menghiasi wall. Bisa saja itu bukan buah fikirannya, akan tetapi sebuah kutipan dari orang bijak. Ada juga yang sering mengutip ayat Al-Qur’an dan hadits, tapi cobalah antum tanya, “udah baca tafsirnya belum?”. Karena ukuran agama adalah dari akhlak. Iman itu adanya di dalam hati dan tentu saja yang paling mengetahuinya adalah Allah. Jadi, jangan terkeco dengan profile yang ada di FB. Coba chatting secara random dengan teman-teman dia di FB, kemungkinan besar kita bisa tahu apa dia laki-laki penggoda atau perempuan yang suka digoda. Hehehe…Peace!!!
Nah, disinilah manfaat daripada ta’arruf. Bukan hanya sebagai formalitas saja, akan tetapi benar-benar digunakan untuk saling mengenal, mencari informasi akhlak, kondisi keluarga, saling menimbang sekufu atau tidak dalam pemikiran keagamaan dan lain sebagainya. Jadi tidak hanya pertimbangan fisik, tapi karakter dan akhlaknya juga sudah termasuk. Bisa saja orang tersebut berpenampilan menarik, tapi akhlaknya kurang menarik, boleh saja seseorang tidak sedap dipandang mata tapi akhlaknya begitu mempesona. Ketika kekurangan dan kelebihan sudah teridentifikasi, maka akal akan bekerja, tidak hanya nafsu. Karena permasalahan sesungguhnya bukanlah pada akhwat/ikhwan “yang asli” atau “tidak asli”. Namun ini semua terkait dengan pemahaman kita bahwa hanya Allah sajalah yang mengetahui kadar keimanan seseorang, terlepas dari penampilannya. Meskipun, jilbab adalah juga cermin keimanan.
Untuk mengetahui akhlak dari akhwat / ikhwan tersebut, pastinya kita akan menanyakannya kepada orang-orang terdekatnya yang menurut kita cukup mengenalnya dengan baik. Amirul Mukminin, Umar Bin Khattab telah memberikan kita tips bagaimana mengidentifikasi dan mendapatkan informasi yang falid tentang seseorang yang kita mintai informasi. 1). Informan tersebut sudah pernah melakukan mabit (nginap) bersama. Dari sini kita bisa mengetahui bagaimana ia mengisi malam-malamnya. Termasuk kita bisa tahu, dia ngorok atau tidak. Jangan sampai kita termasuk orang yang phobia terhadap ngorok. Kan bisa berabe tuh klo taunya pas habis nikah. 2). Si informan sudah pernah melakukan perjalanan jauh bersama. Kita bisa mendapatkan informasi, apakah dia loyal atau tidak dan bisa atau tidaknya ia bertahan dan sabar dalam keterbatasan pada saat melakukan perjalanan jauh. 3). Si Informan pernah melakukan transaksi atau berurusan mengenai keuangan. Dia amanah atau tidak. Klo pinjam duit, dibalikin sesuai janjinya tidak? Atau jangan-jangan dia hobby pinjam duit. Hayooo..mau gak??? 4). Si informan pernah melihatnya marah. Karena, ketika seseorang marah maka akhlaknya akan terlihat, baik ataukah buruk. Atau jangan-jangan pake acara lempar piring, atau bisa saja omongannya seperti orang muntah.
Hal di atas mungkin kelihatan simple, tapi sungguh efeknya akan sangat besar untuk kehidupan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk senantiasa meluruskan niatnya dan selalu memperbaharui niat-niat tersebut, jangan sampai ternodai oleh bisikan syetan yang tidak pernah lelah menyesatkan langkah dan hati kita. Na’udzubillah… Dan dari sini diperlukan sosialisasi dini ke orang tua masing-masing. Biar fungsi wali benar-benar tercermin di orang tua kita, bukan hanya pada Murobbi/Murobbiyah kita. Menurut pengalaman pribadi saya, mengetahui karakter orang tua sangatlah penting. Bapak saya hobby membaca, maka saya dekati beliau dengan buku. Tanpa perlu bercerita panjang lebar, beliau sudah bisa mengambil kesimpulan bagaimana cara pandang dan pemikiran saya. Begitupun dengan Ibu saya, beliau lebih bisa faham dengan visualisasi maka kunampakkan komunitasku di hadapannya. Tanpa perlu beradu urat leher, cukup melihat prosesi yang dijalani keluarga-keluarga saya yang di jama’ah PKS dan Salafi, beliau sudah bisa menebak keinginanku. “Jadi, klo kamu nikah nanti, prosesnya seperti mereka yah?”, Tanya mamaku. “Ya”, jawabku. Beliau pun terdiam dan saya tahu, diamnya beliau adalah tanda setujunya dan beliau juga tahu, diamku berarti sedang marah. Hehehe.. Jadi komunikasi dengan ortu itu sangat penting jauh sebelum mengambil keputusan seperti ini, jangan sampai kita menyakiti hati ortu kita hanya untuk seseorang yang belum pasti layak untuk diperjuangkan.
Dan jangan lupa istikharoh. Terkadang apa yang kita inginkan tidak berwujud menjadi sebuah takdir, tapi yakinlah bahwa suatu saat itu akan menjadi kesyukuran yang teramat bahwa Allah telah menyediakan hal yang lebih indah dari apa yang sebelumnya menjadi keinginan kita. Sungguh, tak ada yang lebih baik dari apa yang telah ditetapkan Allah untuk menjadi pilihan kita, mungkin kebaikan itu bukan pada orang yang kita pilih melainkan pada jalan yang kita pilih. Atau mungkin saja kebaikan itu akan kita dapatkan dari keikhlasan dalam menerima ketentuan-Nya. Karena itu mari kita gunakan teknologi informasi ini sebagai ajang mempererat silaturahmi, tempat menebar manfaat bukan menebar “pesona”. Dan dengung-dengungkan selalu di hati kita akan hadits tentang niat…niat..dan niat…
Wallahu’alam…
11 Mar 2011
9 Mar 2011
Aku Akhwat dan Aku Worker
Sudah lama ingin menulis tentang kisah sedihku sebagai seorang akhwat yang bekerja di lingkungan yang sangat jauh dari kata “save”. Tapi otakku selalu buntu, tanganku selalu lesu saat mulai menari di atas keyboard. Tapi kali ini, sudah kubulatkan tekad dengan semangat 45 untuk mewujudkan satu tulisan tentang tema akhwat pekerja. Berharap masih ada tulisan selanjutnya dengan tema yang sama. Amin, Insya Allah.
Batam, dulu..ketika masih di kampus, batam selalu menduduki posisi terbontot dari tempat yang ingin kukunjungi di Indonesia ini, apalagi sampai mau menghabiskan waktu untuk tinggal dan bekerja selama bertahun-tahun di Batam..hmmm..Jauh- jauh deh. Tapi, takdir berkata lain. Magnetnya tidak dapat kutolak, malah semakin manarikku dengan kuat untuk menjejakkan kaki di negeri seribu pulau ini. Bismillah saja, dan sampelah saya di Batam dan hingga hari ini tercatat sudah hamper 2 tahun saya menjadi penduduk Batam.
Kedatangan saya di Batam tak lain dan tak bukan adalah bahwa saya ingin mencari beberapa suap nasi, pengen mandiri tanpa harus merepotkan orang tua lagi dalam urusan keuangan pribadi dan pastinya pengen melaksanakan salah satu perintah Allah SWT yakni melakukan perjalanan di Bumi Allah ini. Hmmm…Alhamdulillah, dan dari Batam inilah saya banyak melakukan perjalanan yang Start pertamanya adalah di sini.
Gayung bersambut, malang tak mendekat, rejeki sudah ditentukan, Alhamdulillah dapat kerjaan. Allah mentakdirkan saya mendapatkan rupiah perdanaku dengan bekerja di Galangan Kapal. Yah, Galangan Kapal. Klo orang-orang di kampungku difikirnya saya ikut berlayar sama kapalnya. Soalnya kebanyakan keluargaku itu menjadi awak kapal, tapi semuanya laki-laki. Mungkin mereka fikir saya laki-laki kali makanya jadi ABK. Hehehe…Maklumlah, saya ini anak laki-laki (dianggap) satu-satunya di rumah.
Sebenarnya saya juga awalnya tidak punya bayangan tentang bagaimana detail kerjaan di sebuah Galangan Kapal, jadi istilahnya saya go ahead saja. Awalnya agak kagok juga sih karena di tempat kerja tersebut kita diwajibkan mengenakan warepack alias overall bin baju bengkel. Udah kebayang kan? Saya ini akhwat fikirku, saya sudah lama tidak menggunakan pakaian yang berbentuk celana ketika ingin keluar rumah. Tapi, seperti itulah konsekuensinya. Klo tidak mau menggunakan pakaian seperti itu, ya silahkan saja dan carilah pekerjaan di tempat lain. Itulah tantangan pertamanya. Tantangan kedua, lagi-lagi menempatkan diri di lingkungan yang di dominasi oleh kaum Adam. Klo kita, perempuan maksudnya, jalan ke Yard (lapangan) atau mau liat-liat ke kapal, maka dapat dipastikan pemandangan yang tidak biasa bisa ditemukan di sini. Suitan bergemuruh, orang-orang pada tiba-tiba kena batuk berdahak jadi mesti banyak berdehem, bahkan kita bisa melihat banyak manusia bergelantungan kayak monyet di kapal demi melihat bahwa ada yang bukan sejenisnya yg sedang melintas. Gak peduli mau cantik ato tidak, yang penting perempuan dan bernyawa. Hehehe..Lucu deh…
Tantangan selanjutnya adalah di tempat saya bekerja, berinteraksi sama bule’ dan pale’ tidak bisa dihindarkan. Masalahnya saya tidak bisa berbahasa daerah saya, bahasa inggris. Little-little ji kutau kodong, tapi meskipun sedikit, minimal perbendaharaan kataku dalam bahasa Inggris lebih banyak daripada Bahasa Makassar. Ditambah lagi, klo pakle’nya bukan orang Inggris asli, missal Jepang, Korea, Rusia, India, de el el. Susah fahamnya, mereka ngomong apa, pengucapannya gak jelas gitu. So, saya selalu mengandalkan ‘The Power of Kepepet’. Saya kasi tips untuk bisa memahami maksud mereka, tidak perlu mengartikan semua apa yang diucapkan oleh mereka, cukup faham 1 atau 2 kata saja, insya Allah itu cukup sudah. Hehehe..dak percaya? Silahkan dibuktikan sendiri. urusan sama bule’ belum selese sampe di sini. Budaya salaman. Nah, inilah masalahnya. Sampe detik ini, saya belum menemukan kata yang singkat dan jelas dalam bahasa Inggris untuk menolak dengan bijak uluran tangan mereka. Klo ada saran dari teman, tolong dibantu dong..
Masalah toilet juga tetap jadi tantangan yang cukup besar. Sebagai seorang muslimah, sebaiknya tidak menampakkan auratnya ke perempuan non Islam. Awalnya, ini selalu jadi pertanyaan yang melebihi dosis dokter klo ngasih resep, bisa lebih dari 3x sehari. Tapi lumayan juga, dengan rasa penasaran mereka itu kesempatan saya untuk fardiyah tetap terbuka lebar. Kata seorang teman, “Kiki ini, bahkan di toilet pun masih berdakwah”. Ya..abis, klo udah di luar toilet kesempatannya tinggal dikit. Bukan karena sibuk kerja, tapi karena sibuk ngerumpi ala ibu-ibu kompleks. Jadi saya juga sama dengan mereka, nimbrung dan ngerumpi. Astaghfirullah. Karena alasan itu jugalah saya mulai menggunakan jilbab langsung dan sangat jarang menggunakan jilbab segitiga yang sering saya gunakan ketika masih di kampus dulu. Kadang saya sangat merindukannya, rinduuuuu sangadh. Yang paling sedih bahwa identitas keakhwatanku tenggelam bersama overall yang kegedean membaluti tubuhku ditambah lagi jacket yang tak pernah lupa tuk kugunakan. Kadang ketika akan berangkat kerja atau sepulang dari kantor kemudian di tengah perjalanan bertemu dengan akhwat, ingin rasanya saya sampaikan secara langsung bahwa saya juga akhwat, sama seperti mereka. Tapi apa daya, emang tampangnya dasarnya preman. Jadi tetap saja kuucapkan salam ke mereka sebagaimana kebiasaan yang dulu sering kulakukan di kampus ketika berpapasan dengan perempuan yang berjilbab lebar. Ah..sungguh kurindukan ucapan salam hangat itu saudaraku, jabatan erat yang penuh energy, cipika-cipiki yang mengakrabkan dan pelukan yang mendamaikan. Hiksss..netes deh..
Berada di tengah-tengah kaum Adam sudah bukan hal yang tidak biasa bagi saya, meskipun saya tidak memiliki saudara laki-laki tapi sejak kecil sampe kuliah teman-teman bergaulku memang kebanyakan laki-laki. Hal ini cukup membuatku bisa membentengi diri dengan tidak cepat ke-GEER-an sama perhatian laki-laki, dan tentu saja bagaimana memperlakukan teman laki-laki biar tidak GEER balik. Ada yang bilang, mungkin saya sudah mati rasa…iya mungkin juga sih, soalnya saya memandang mereka semua sama, tidak ada yang special di mataku apalagi hatiku. Dan saya merasa sangat beruntung bahwa Allah mempertemukan saya dengan beberapa orang yang berprinsip sama bahwa pacaran itu adalah hal yang sia-sia, mereka tidak tarbiyah, alasan mereka untuk tidak pacaran pun meskipun bukan karena agama tapi tetap saja mewakili dari prinsip mengapa pacaran dalam islam itu diharamkan. Itu cukup menguatkanku, bahwa saya tidak sendiri di sini.
Beda daerah, maka kita akan menemukan berbagai kultur budaya, suku dan karakter yang berbeda pula. Subhanallah, di sini saya menemukan banyak wisata hati, wisata karakter dan wisata kuliner. Dari sabang sampe Merauke, ada di sini. Mau orang-orangnya ataupun jenis makanannya. Semuanya, ada di sini. Di Batam ini, mau dapat fasilitas abal-abal sampe SI (Standart Internasional) juga ada di sini. Klo di dunia ada China yang jago dalam inovasi dan renovasi, nah klo di Indonesia, Batam inilah Chinanya. Hehehe..
Saya pun menemukan masalah ketika pertama kali ikut liqo’ di sini. Liqo’ sama orang-orang yang tidak pernah kukenal sama sekali, umahat pula. What? Sejenak ingin mundur kala itu, saya tidak biasa bergaul dengan ibu-ibu, fikirku. Sempat 2 kali pertemuan saya tidak datang dengan alasan kurang enak badan. Memang sih, kondisi fisikku sangat drop ketika pertama kali bekerja. Dari pagi sampe sore di tempat kerja, cukup menguras energy jadi beberapa bulan awal-awal kerja saya habiskan dengan ngantor dan tidur. Pernah ketika menuju tempat liqo’, di tengah perjalanan saya langsung berbalik pulang ke rumah. Masih shock dengan kenyataan bahwa saya liqo’ bersama umahat-umahat. Sepertinya saya salah masuk kamar. Lama saya berfikir, saya mau ngapain lagi klo tidak liqo’. Alhamdulillah akhirnya saya memutuskan untuk kembali liqo’ di pekan selanjutnya. Dan Subhanallah, sungguh indah persaudaraan yang dibangun di atas cinta karena Allah. Ana uhibbukum fillah..
Mengenai dunia dakwah…saya malu kawan, masihkah saya layak dikatakan sebagai aktifis dakwah??? Saya merasa tidak lagi memiliki konstribusi di sini. Hiksss..sedih lagi. Dunia kerja telah merenggut hampir seluruh waktuku. 1x sepekan, hanya itu yang bisa kuberikan untuk diriku. Tak ada lagi lingkaran-lingkaran kecil yang menantiku. Saya sudah lupa cara “membina”, meskipun rasa indahnya masih membekas dalam di sanubari. Membaca status-status kalian di Facebook tentang Aksi-Aksi KAMMI, atau Munasharo Palestine yang kalian lakukan membuatku iri, sangat iri. Kurindukan masa-masa DS (Direct Selling) bersama kalian, kurindukan terik matahari yang membakar kulit di tengah aksi, kurindukan kucuran keringat untuk setiap langkah menyusuri jalan-jalan kota Makassar, kurindukan teriakan takbir membahana dan kepalan tangan di Tol Reformasi atau di depan gedung DPRD, kurindukan linangan air mata karena memikirkan kebaikan anak orang lain, memikirkan umat kata kita, kurindukan setiap syuro’-syuro’ berisi ide brillian dari kalian tentang sebuah peradaban. Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik.
Kupesankan untuk kalian yang masih berstatus Aktivis Dakwah Kampus, jangan pernah merasa cukup dengan apa yang kalian dapatkan di kampus. Jangan pernah menyurutkan langkah atau berkata berhenti sejenak untuk sekedar entertaint diri. Karena di kampuslah kalian bisa membangun pondasi-pondasi yang kokoh, jika ia rapuh, makan jangan berharap kamu bisa bertahan di tiup angin kencang di luar istana indahmu, kampus. Di luar kampuslah tempat kita akan melihat sejauh mana tarbiyah telah membentuk jiwa-jiwa kita. Jika kalian banyak melihat yang berguguran ketika masih di kampus, maka di luar sana masih lebih banyak yang telah berguguran. Dan semoga kita bukanlah termasuk yang berguguran itu. Amin..
Semoga Allah memampukan kita dalam keistiqomahan. Amin.. Masih banyak yang ingin saya tuliskan di sini, tapi mata sudah ngantuk berat, besok mesti pagi-pagi berangkat kerja seperti biasanya dan pekerjaan yang menumpuk sedang menanti. Di saat fikiran mumet karena pekerjaan inilah yang kadang-kadang bisa menstimulus ottakku untuk berwisata bersama jari jemariku. Wahai jiwa, ingatlah selalu pada Tuhanmu…
Wallahu’alam..
8 Mar 2011
Cinta karena Allah apa Cinta karena Pandangan???
Terinspirasi dari artikel yang saya baca semalam, jadi tidak sabar untuk sedikit mengulangi kembali cerita tersebut dan berbagi dengan para pembaca setiaku, diriku sendiri. Hehehe… Artikelnya cukup mengusik hati melihat pada kenyataan dalam keseharian yang memang sering ditemukan kasus seperti itu. Jadi saya fikir tidak ada salahnya mengangkat cerita ini dalam sudut pandangku dan mencoba menghubungkannya dengan pengalaman pribadi dan pengalaman hidup orang lain. Semoga bisa bermanfaat untuk diri saya pribadi utamanya dan bagi siapa saja yang sempat singgah sejenak melototi tulisan ngawurku ini. J
Tersebutlah seorang akhwat, aktivis dakwah kampus yang begitu cantik dan sangat aktif dalam pergerakan dakwah yang diikutinya. Tidak hanya cantik, tapi dia juga cerdas. Maka tidak heran jika sejak jaman kejahiliaannya sampai hijrahnya banyak kaum Adam yang cenat-cenut memikirkan bagaimana cara menaklukkan hatinya. Karena hal itu jugalah yang membuatnya semakin mantap untuk memilih jalan dakwah sebagai hijabnya dengan harapan keputusan tersebut akan mengurangi fitnah yang menderanya. Namun, ditengah perjalanannya ternyata fitnah tersebut semakin meningkat yang datangnya tidak hanya dari laki-laki ammah namun juga datangnya dari laki-laki yang biasa digelari ikhwan. Hmmm…sangat menarik tuk dibahas menurutku, karena memang pada kenyataannya tidak sulit menemukan kasus seperti ini dalam perhelatan dunia perakhwatan/ perikhwanan.
Lanjut cerita dari akhwat tersebut, suatu saat dia menerima surat cinta dari seorang ikhwan. Meskipun ini bukanlah yang pertama dari kalangan ikhwan, tapi ini sudah sangat cukup mengganggu prinsip dan keyakinannya. Bukannya dia tidak kuat akan godaan tersebut, akan tetapi surat itu datangnya dari seorang ikhwan yang dianggapnya begitu istiqomah, memiliki kefahaman yang tinggi yang menurutnya tidak ada yang menyangsikan akan kualitas dan kapasitas ikhwan tersebut. Namun apa yang terjadi, ternyata predikat ikhwan, aktivis dakwah, pengemban warisan para Rasul itu juga tidak bisa mengeluarkan dirinya dari fitnah dunia berupa fitnah wanita.
Hal itulah kemudian yang menjadi pertanyaan akhwat tersebut di sela sujud panjangnya dan di setiap khalwatnya bersama Rabbnya. Mengapa semua ini terjadi yaa Rabb? Apakah masih kurang usahaku dalam menjaga hijabku? Tak pantaskah aku dicintai karena agamaku bukan karena kecantikanku? Sebegitu rendahnyakah imanku sehingga mereka lebih memilihku hanya karena fisik ini? Ohhh… sungguh ini sangat menyakitkan yaa Rabb.
Hmmm..jadi gini yah perasaan cewek cantik yang beriman klo lagi digandrungi sama ikhwan? Kirain bakal melambung tinggi, tinggi dan tinggiiiiiiiiiiiiii skali… Maaf yah saudariku yang cantik, diriku baru nyadar sekarang akan perasaan kalian, maklum saya sangat cantik, jadinya udah merasa ga’ level lagi sama “mereka”. Hehehe…
Mungkin kita pernah mendapatkan cerita dalam dunia aktivis dakwah akan adanya cinta lokasi antar para personelnya. Berawal dari intensitas pertemuan dalam syuro’, aksi-aksi, baksos dan ataupun berbagai kegiatan sosial lainnya. Intensnya interaksi ini membuat sebuah keakraban yang begitu menyentuh hati. Apalagi bila lampu hijau dari 2 arah yang berlawanan ini ternyata sama-sama menyala. Apa yang terjadi, yah terjadilah… Akhirnya muncullah istilah yang sering kita dengar yaitu “system tunjuk”. Ustadz, saya mau ta’arruf sama akhwat A, Fakultas B, Jurusan C, de el el. Nah, untung-untung klo minta ta’arrufnya dimediasi oleh sang ustadz, yang ada tuh kebanyakan sudah ada pembicaraan dari kedua belah pihak melalu telepati, Telephon dan Chating.. Wuihhh… ada yang tersinggung gak? Ga yah, soalnya saya yakin teman-temanku yang baca tulisan ini adalah laki-laki yang sholeha dan perempuan yang sholeh..
Klo boleh saya bertanya dan tolong teman-teman semua jawab dengan jujur dan logis. Jika, apabila, andai dan bila ada seseorang yang kemudian mendatangimu dan mengungkapkan perasaan hatinya untuk menjadikanmu pasangan hidupnya, maka apa yang pertama kali terlintas di fikiranmu? Senangkah? Atau sedihkah? Apalagi pada saat itu kamu ditakdirkan lahir dengan fisik yang menawan dan mengenai ibadahmu kamu merasa masih biasa-biasa saja, tidak begitu baik dari kebanyakan dan memiliki banyak kekurangan. Dan lagi, kamu tahu betul bahwa orang tersebut ngerti dan faham bagaimana agama Islam memuliakan wanita. Dalam kasus ini rasanya tak perlulah kita melakukan pembenaran dengan bercerita tentang bagaimana Allah mempertemukan Khadijah dengan Muhammad atau kisah Ali Bin Abi Tholib dengan Fatimah putri Rasulullah. Keimanan kita jauh dari mereka, misi yang ditetapkan Allah bagi mereka adalah misi ilahiah untuk seluruh alam sementara kita..hmmm..tanyakan pada rumput yang bergoyang! Mungkin kita memiliki misi Ilahiah tersebut, namun siapa yang bisa memberikan jaminan bahwa hati kita sudah dapat memurnikan niat-niat kita dari jeratan hawa nafsu.
Sebenarnya saya tidak ingin berdzu’uson, tapi banyak hal yang susah tuk saya fahami dengan kenyataan-kenyataan yang berserakan di depan mata. Bukankah ketika hati sudah mulai condong pada satu sosok maka cinta karena Allah pun akan di nomor duakan? Dan parahnya lagi ketika hati itu sudah terkotori oleh perasaan sombong. Merasa baik, merasa beriman, merasa ibadahnya sudah cukup hingga ia merasa pantas dan melayakkan dirinya untuk mendapatkan apa yang dianggapnya baik dan indah di mata dan hatinya. Tidak percaya? Coba fikirkan lagi klo gitu, dan jawablah dengan hati yang jujur. Tidak perlu jawabnya sama saya, cukup di jawab dalam hati.
Adalah hal yang fitrah bagi manusia ketika merasakan ketertarikan terhadap lawan jenisnya, itu manusiawi, sangat manusiawi. Hanya saja terkadang kita terlalu egois dan memperturutkan hawa nafsu. Kita hanya peduli pada perasaan kita sendiri dan seakan-akan lupa atau pura-pura lupa dengan perasaan Allah terhadap kita. Sungguh Allah amat cemburu. Cemburu dengan hati kita yang lebih didominasi oleh selain-Nya. Apalagi jika kita lebih banyak menyebut nama makhlukNya daripada Asma-Nya, lebih banyak menghadirkan wajah makhlukNya daripada keagungan-Nya. Tak malukah kita pada diri sendiri saat menyebut nama wanita atau laki-laki lain yang tidak dihalalkan oleh Allah dalam doa-doa kita? Apa yang akan kamu katakana pada istri atau suamimu kelak??? Jika benar kita mencintai seseorang karena Allah, lalu mengapa tidak mencoba mengikhlaskannya pada ketentuan Allah? Bukankah cinta itu membutuhkan pengorbanan? Tapi mengapa kita tidak mengorbankan cinta terhadap makhluk itu untuk kecintaan kita kepada Allah???
Saya punya cerita tentang seorang teman laki-laki. Dia tidak tarbiyah dan tidak pula ikut salah satu kelompok majelis/pengajian manapun. Suatu saat dia mengatakan niatnya bahwa dia ingin mencari seorang istri yang sholehah. Kemudian saya tanya teman tersebut, dia mau kirteria yang bagaimana, asalnya dari mana dan atau mungkin dia pernah suka dengan seorang teman saya sesama aktivis di kampus dulu. Kemudian dia jawab, “Terserah Kiki, siapapun yang menurut Kiki baik maka saya percaya dengan pilihan Kiki”. What??? Saya hanya bisa tercengang beberapa saat lamanya. Antara mau percaya dengan tidak, tapi begitu yang tertulis di layar Chat Room-ku. Subhanallah… Ada sesuatu yang panas di mataku, menetes dan basah. Ternyata di dunia ini masih ada lelaki seperti itu. Padahal, jika dia mau memilih maka dia bisa menyebutkan satu nama. Rasanya dia cukup banyak mengenal wajah-wajah akhwat yang bertebaran di kampus, tapi dia malah minta dipilihkan oleh diriku.
Apa hikmah yang bisa kita ambil dari teman saya tersebut? Banyak, banyak dan banyak sekali. Sungguh saya amat kagum dengan cara dia menjemput jodohnya yang telah ditetapkan Allah untuknya. Dia memilih jalan yang benar dengan tidak menodai hatinya terlebih dahulu, tidak mengotori hatinya dengan pandangan nafsunya dan yang paling penting bahwa dia mau senantiasa memperbaiki diri. Mungkin ada yang berfikir dia jelek kali, makanya pasrah aja. Hmmm..terserah kalian mo bilang apa, yang jelasnya dia lebih ganteng dari kamu, dan lebih cerdas dari kamu. Saya bukan tipe orang yang suka bilang cerdas loh ke orang lain, tapi untuk temanku yang satu ini, menurutku dia cerdas, kami cukup sering diskusi waktu masih sama-sama di kampus. Diskusi bukan DEBAT. Semoga Allah memeluk niat muliamu saudaraku. Allah tahu yang terbaik untuk setiap hambaNya yang mencintaiNya lebih dari cintanya pada apapun di dunia ini.
Karena itulah hingga detik ini saya tidak pernah percaya dengan orang-orang yang mengatakan aku mencintaimu karena Allah kepada laki-laki atau perempuan yang dia inginkan untuk jadi pendampingnya ketika mata sudah memandang, komunikasi sudah terjalin dan interaksi sudah tercipta. Sulit mempercayainya. Jadi bikin penyakit hati saja, zdu’uson mulu sama orang kaya’ gituan tapi mau diapalagi inilah bagian dari kebebasan berekspresi. Jadi maaf. Klo ada yang tidak terima dengan pernyataanku ini, silahkan saja laporkan ke Komnasham, justru itu labih bagus, siapa tau dengan adanya isu seperti ini 1 UU bisa di goal-kan.
Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Dan saya yakin bahwa kita semua sangat sadar bahwa tidak semua yang indah di mata kita, baik menurut akal kita adalah yang terbaik untuk kita. Karena dari sekian banyak manusia terbaik yang diciptakan Allah di Bumi ini, maka akan ada satu yang terbaik dan paling cucok buat kita. Itu sudah menjadi ketetapan Allah, yang perlu kita lakukan hanyalah memaksimalkan usaha kita dengan cara yang baik. Jadi tidak perlu khawatir dengan persoalan jodoh, cepat atau lambat pasti jodoh itu akan ketemu juga. Jadi, ayo semangat!!! Menasehati dan menyemangati diri sendiri nih jadinya. xixixi...
Sekarang keputusannya ada di tangan kita, mau pake cara apa menjemput jodohnya. Mau pake mobil boleh, pesawat boleh, Kapal boleh, becak juga boleh. Yang penting ga pake kura-kura aja, kapan nyampenya klo gitu? Hehehe… Teringat perkataan seseorang, “Hidup ini seperti berada diantara 2 huruf, B dan D, ditengahnya ada C. B itu Birth dan D itu Death sedangkan C adalah Choice. Hidup ini memberikan lebih dari 1001 pilihan, tapi hakikat dari pilihan itu adalah baik dan buruk. Ada banyak cara baik, cara buruk pun tidak kalah banyak adanya”. So, tentukan pilihanmu anak muda!!!
Astaghfirullah al ‘adzhim, semoga Allah mengampuni saya dan mengampuni kita semua. Tulisan ini saya buat sebagai refleksi diri dan pengingat diri ketika hati mulai lelah dalam penantian panjang, di saat kaki mulai melemah dalam melangkah. Berharap diri tidak terjerembab dalam kehinaan dan menghinakan diri karena tidak sabar dengan janji Allah. Tetap menjaga semangat dalam membaikkan diri dan memelihara harapan dan persangkaan baik kepada Allah pemilik segala kebaikan di alam ini. Sungguh Engkau Maha tahu akan apa yang tersembunyi dalam hati ini Yaa Allah…
Wallahu’alam..
27 Feb 2011
Anis Matta: Tentang Iman kepada Takdir
Di antara manfaat iman kepada takdir adalah bahwa kita menemukan ruang tak terbatas untuk menafsir semua kelemahan dan keterbatasan kita. Tapi di balik itu tetap ada harapan dan optimisme bahwa Allah selalu berkehendak baik kepada kita, apapun peristiwa yg ditimpakan kepada kita.
Iman kepada takdir mempertemukan dua kutub ekstrim dalam diri kita; kepasrahan dan optimisme, ketergantungan pada Allah dan rasa percaya diri. Itu yang memberi kita keseimbangan jiwa. Akhir dari semua kerja keras kita adalah kepasrahan, ujung dari semua kelemahan kita adalah optimisme.
Kita tidak perlu melawan kehendak Yang Maha Besar, kita hanya perlu memahaminya, lalu belajar berdamai dengan diri kita bahwa itulah yang terbaik untuk kita. Karena itu kita berucap, "Allah telah menetapkan, semua yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan, yang terbaik itu apa yang ditakdirkan Allah."
Takdir adalah ide tentang bagaimana kita menafsir kekuatan dan kelemahan kita sebagai manusia, juga ide tentang skenario kehidupan, di mana Allah adalah pusatnya. Lihatlah perjalanan hidup kita, bagaimana ia dipengaruhi begitu banyak faktor, tapi semuanya tdk dalam kendali kita. Orang tua, suku, waktu dan tempat kelahiran, orang-orang yang sezaman dengan kita, orang-orang yang kita temui dalam perjalanan hidup, semua tidak kita tentukan. Pengaruhnya?
Adalah semata karena rahmatNya ketika Ia memberi kita kesempatan untuk memilih beriman atau tidak beriman, tapi akibat pilihan kita adalah takdirNya. Kisah Nabi Yusuf bermula dari sumur dan penjara, berujung di istana dan berkumpulnya keluarga, sebuah skenario kehidupan yg sempurna. Tapi ujung cerita itu adalah pernyataan bahwa, "Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut (dalam mencapai) apa yang Ia kehendaki."
Membaca takdir Allah adalah upaya yang tak boleh berhenti untuk memahami kehendakNya. Belajarlah menitipkan kehendak kita dlm kehendakNya. Mempertemukan kehendak kita dengan kehendakNya itulah yang disebut tawfiq, pertemuan yg menciptakan harmoni kehidupan, damai dan tenang tiada henti. Sebab jika Allah hendak menciptakan peristiwa dan memberlakukan kehendakNya, Ia menyiapkan semua sebab-sebabnya, dan terjadilah semua takdirNya. Berhasil membaca kehendakNya dalam hidup kita akan memberi kita ketenangan jiwa yg takkan tergoyahkan oleh goncangan hidup apapun. Kita merasa lebih pasti.
Orang yang tidak beriman pada takdir selalu berada pada dua kutub jiwa yang ekstrim; merasa hina waktu lemah, sombong dan melampaui batas waktu kuat.
Waktu kalah dalam perang Uhud, Allah melarang kaum muslimin merasa lemah dan sedih, mereka harus tetap merasa kuat sebab ini belum berakhir. Kita jadi kuat di ujung kelemahan manusiawi kita karena kita percaya pada kekuatan Allah yang tidak terbatas. Di ujung kelemahan kita selalu ada optimisme.
Dari 99 nama dan sifat Allah ada 4 yang paling banyak mendasari semua takdirNya; al 'ilm, al qudroh, al rahmah, al 'adl. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Maha Mampu bertindak dan melakukan apa saja yang Ia kehendaki, tapi juga Maha Penyayang dan Maha Adil. Jadi walaupun Allah Maha Mengetahui dan Maha Mampu melakukan apa saja, tetap saja kasih sayang dan keadilanNya mengalahkan angkara murkaNya. Itu sebabnya Allah tidak akan pernah menzalimi hambaNya walaupun Ia bisa kalau Ia mau, karena Ia terlalu Pengasih dan terlalu Adil. Itu yang menjelaskan mengapa seluruh takdirNya adalah kebaikan semata, termasuk semua musibah yg menimpa hambaNya. Itu pertanda cinta.
Memadukan keperkasaan dan kasih sayang, kekuatan dan keadilan, adalah sifat Allah yang menciptakan harmoni dan keseimbangan dalam takdirNya. Semua ketetapan Allah itu, yang didasarkan pada ilmu dan kemampuan, kasih sayang dan keadilan, diturunkan sebagai takdir melalui pengaturan (tadbir). Makanya Allah disebut sebagai Al Mudabbir atau yang mengatur dan merencanakan detil-detil kehidupan manusia, hidup kita berjalan dalam skenarioNya.
Seperti dalam kisah Nabi Yusuf, tak satupun dari mereka yang terlibat dalam jalinan kisah itu yang tahu akhir cerita itu kelak. Plotnya kemana? Mereka semua hanya bergerak dengan sebuah kesadaran yang konstan akan kehendak baik Allah, mereka tidak tahu ujung ceritanya, tapi mereka yakin pasti baik. Di puncak kesedihannya Ya'qub hanya berkata, "Saya hanya mengadukan keluh dan sedihku kepada Allah," ia pasrah karena ia yakin dengan ujungnya. Saudara-saudara Nabi Yusuf yang berkonspirasi menjeblosnya ke dalam sumur tidak sadar bahwa mereka hanya menjebak diri mereka sendiri, mereka pikir mereka cerdas. Padahal saat berada dalam sumur Allah meyakinkan Nabi Yusuf bahwa kelak dia ceritakan urusan ini kepada saudara-saudaranya, mereka cuma tidak sadar saja sekarang. Jadi ketika mendengar cerita anak-anaknya tentang Nabi Yusuf yang sudah dimangsa serigala, Ya'qub berkata, "kalian pikir konspirasi ini baik bagi kalian?" Nabi Ya'qub menyabar-nyabarkan dirinya, "kesabaran yang indah," katanya, "dan hanya Allah yang dimohon pertolonganNya atas apa yang kalian ceritakan.."
Nabi Ya'qub menjalani pengaturan Allah ini dengan sabar dan penuh keyakinan, sebab Allah telah mengajarkan ini padanya dengan caraNya sendiri. "Dan sesungguhnya dia (Ya'qub) mempunyai pengetahuan karena Kami telah mengajarkan kepadanya, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," (QS:Yusuf:68).
Jadi Nabi Ya'qub selalu berkata kpd anak-anaknya, "Aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahui," ia tahu ini pengaturan Allah. Apa Ya'qub tahu jalan ceritanya secara detil? Mungkin tidak juga. Tapi dia tahu ujungnya pasti baik. Jadi dia hanya menjaga agar sikapnya tetap benar.
Saat berkumpul di ujung cerita yang indah, Ya'qub mengulangi lagi, "Kan sudah aku katakan pada kalian bahwa aku tahu dari Allah apa yang tidak kalian tahu." Tapi Yusuf menyimpulkan, "Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana"
Inilah akhirnya yang kita pelajari dari kisah ini, bahwa iman pada takdir membuat kita menghadapi berbagai konspirasi dengan cara yang sangat berbeda. Iman pada takdir membuat kita membaca konspirasi dengan mata hati, mencium dengan firasat, tapi berreaksi dengan sabar dan teguh, penuh ilmu, penuh iman, sebab Allah punya tipu dayaNya sendiri, sebab manusia tidak pernah tahu ujung cerita dari skenarioNya. Itu mengapa mereka mudah terjebak sendiri!
Kisah Nabi Yusuflah yang mengajarkan kita bagaimana (-menghadapi) sebuah konspirasi dengan keimanan pada takdir, kita akan tampak lugu mungkin, tapi tidak pada hakikatnya. Mungkin kita terlihat naif karena percaya takdir dalam menghadapi konspirasi. Tapi tidak! Ilmu kitalah yang berbeda dengan ilmu mereka, sebab sumbernya juga beda!
"Sdh kucium bau Yusuf kalau saja kalian tidak akan menuduhku lemah akal," kata Ya'qub menjelang pertemuan kembali seluruh keluarga itu. Yang tidak disadari para konspirator itu adalah bahwa sebenarnya mereka tidaklah mengendalikan permainan, terlalu banyak yang tidak bisa mereka kendalikan. Orang berakal itu, kata ulama kita, adalah yang paling banyak memikirkan akibat dari semua kata dan tindakannya. Itu karena mereka percaya pengaturanNya.
Jika terkepung dalam perang kita harus cari tempat berlindung yang lebih tinggi, tapi Allah justru menyuruh Nabi Musa ke tepi laut saat dikejar Fir'aun. Nabi Musa mengikuti perintah itu dan Fir'aun makin bernafsu, ia yakin pasti dapat mangsa yang empuk. Laut merah akan jadi saksi pembantaian. Nabi Musa pasti tampak lugu dan naif di mata Fir'aun, tapi ini pengaturan Allah yang tidak disadari Fir'aun, dia pikir dia hebat dan perkasa. Saat Fir'aun tiba di tepi laut merah, Nabi Musa dan kaumnya sudah ada di seberang laut, karena laut terbelah. Fir'aun tidak bertanya lagi, "kok bisa?"
Tak ada lagi pertanyaan dalam benak Fir'aun tentang arti laut terbelah, apalagi kecurigaan bahwa itu akan jadi jebakan. Jadi mereka kejar mangsa penuh nafsu. Laut merah itulah yang menutup riwayat keangkuhan Fir'aun. Permulaan yang tampak naif berujung dengan tragedi yang dahsyat, itulah pengaturan Allah.
Jika saja Fir'aun berangkat lebih pagi mengejar Nabi Musa dan kaumnya, mungkin mereka bisa menangkapnya sebelum sampai ke seberang laut. Tapi mereka telat. Tahu kenapa mereka telat? Karena pagi itu ayam berkokok setelah matahari terbit. Jadi Fir'aun dan pasukannya kesiangan. Jadwal ayam berkokok merubah sejarah.
Hanya satu makhluk dari seluruh penghuni alam raya ini yang digunakan Allah untuk mengubah jalannya sejarah. Hanya ayam. Itupun cuma jadwal berkokoknya.
Seluruh makhluk di alam raya ini adalah pasukanNya, yang tunduk pd perintahNya, itu yang tdk bisa dikendalikan manusia. Tapi itu juga tidak disadarinya. Semua sumber daya itu membuatNya Maha Mampu melakukan apa saja yang Ia mau, mengeksekusi rencanaNya. Itulah Al Qudroh, kemampuan yang tidak terbatas.
Ayat-ayat tentang takdir ini paling banyak diturunkan pada konteks politik dan kekuasaan, karena dalam pergulatan itulah iman kita pada takdir paling banyak diuji. Dalam pertempuran dan pertarungan politik iman kita pada takdir paling banyak diuji, karena dalam kondisi itu kita gampang labil dan tergoncang secara batin. Itu sebabnya banyak tentara yang pergi cari jimat sebelum bertempur, atau penguasa cari dukun untuk memastikan kesinambungan kekuasaannya.
Tentara dan penguasa terlibat dalam banyak pertempuran dan konflik, hidup dalam ketidakpastian dan goncangan tanpa henti, mereka mudah jadi rapuh. Tentara dan penguasa butuh sandaran spiritual lebih besar dan kokoh, sayangnya mereka sering mencarinya di luar Allah. Bekerja dalam dunia politik tanpa iman yang kokoh pada takdir membuat kita labil dan rapuh, mudah mengalami disorientasi dan tersesat di tengah jalan!
Musa berkata kepada kaumnya, "Mintalah pertolongan dari Allah dan bersabarlah, sungguh Dia akan wariskan bumi ini kepada hamba yang dikehendakiNya." Di antara Fir'aun dan Musa, Allah memberlakukan takdirNya; shifting of power. Itulah pengaturannya, terlalu halus memang, dan tak terbaca.
Iman pada takdir membuahkan keyakinan yang kokoh dan kesabaran yang panjang, itulah kunci dari karakter para pemenang: keyakinan dan kesabaran.
Langganan:
Postingan (Atom)