21 Jan 2012

TEGAS

Sikap tegas adalah salah satu hal terpenting dalam hidup. Tegas terhadap diri sendiri adalah jauh lebih penting daripada tegas terhadap orang lain. Dengan adanya sikap tegas terhadap diri sendiri, maka hidup kita akan lebih terarah. Kita akan menjadi tahu apa yang kita butuhkan untuk menjalani hidup dengan baik dan apa saja yang tidak kita butuhkan. Sehingga, kita tidak perlu membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran untuk melakukan hal-hal yang tidak penting.

Ibarat main api, jangan pernah bermain api jika kita tidak tahu bagaimana caranya dan apa resikonya. Karena bisa saja bukan hanya kita yang akan terbakar, akan tetapi juga orang-orang yang ada di sekitar kita. Sama saja dengan ketegasan kita, jangan sampai karena kurang tegasnya kita, banyak orang yang jadi kebingungan melihat sikap kita.

Hidup butuh ketegasan agar tak menjadi beban dalam diri sendiri dan orang lain. Bukankah keindahan akan selalu terurai dalam perjalanan hidup jika kita mampu menjalaninya tanpa beban? Jadi, tegaslah dan jiwamu akan damai dengannya.

KAMU TAK PERNAH TAHU, BETAPA GILANYA AKU MENUNGGUMU

Kau tahu, aku begitu menggilaimu. Menggilaimu hingga aku tak mampu lagi tuk berpaling darimu. Andai setiap lintasan pikiran bisa direkam, maka akan kutunjukkan padamu, betapa kamu telah mengisinya hingga penuh. Jangan menertawakanku untuk yang ini, karena aku bersungguh-sungguh. Mungkin terkesan gombal, tapi itulah kenyataannya.

Kadang aku meragukanmu, sehingga muncul pikiran yang mengatakan bahwa hingga detik ini kamu masih bermain dalam dunia impian dan tidak pernah berusaha keluar untuk mewujudkannya menjadi nyata. Tapi, kembali kutepis pikiran itu. Mungkin aku belum pantas untukmu saat ini atau mungkin kamu yang belum pantas untukku. Yah, kita memang masih sama-sama belajar dan berjuang untuk membaikkan diri hingga kita pantas untuk satu sama lainnya.

Masih ada waktu, kamu telah membuatku menunggu begitu lama, tapi aku tidak akan keberatan jika masih harus menunggumu sebentar lagi. Jika aku mampu bertahan dalam penantian yang panjang, apatah lagi untuk waktu yang sebentar saja. Tidak mudah tuk bertahan, tapi aku akan berusaha. Banyak cinta yang datang, menggoda keteguhan hatiku, tapi aku tidak akan bergeming karena hati ini telah kamu miliki selamanya. Aku ingin kamu tahu perasaanku, bahwa di saat kamu datang memintaku tuk menemanimu di sepanjang waktumu, setelah Ijab Kabul telah terucapkan, maka di saat itu juga aku bersumpah akan mengabdikan seluruh hidupku untukmu seorang. Aku akan menunggumu.

Hampir tiap hari, tiap jam, tiap menit hingga tiap detik aku memikirkanmu. Tak bosan-bosannya kucek emailku berharap ada email darimu. Tapi, hingga detik ini tak satupun email darimu. Setiap kali handphone-ku menerima sms atau telepon, hatiku cemas tak karuan, kiranya kamu akan meminta alamat orang tuaku atau Murobbiyahku. Tapi sms-sms dan telepon itu masih bukan dari kamu. Kupikir suatu saat orang tuaku akan menjemputmu untukku, tapi harapan itu sangat kecil. Aku tahu, orang tuaku tidak akan pernah datang padamu, 'kamu haruslah pilihanku bukan pilihan mereka', begitu katanya.

Membayangkan wajahmu yang tanpa gambar, menuliskan namamu yang tak bernama, memikirkan dirimu yang keberadaannya entah dimana, membuatku mencari dan bertanya tentang perasaan ini, aku benar-benar tak mengerti. Aku mungkin telah jatuh cinta berkali-kali, atau mungkin belum pernah sama sekali, tapi bagiku, mencintai hanya ada sekali dalam hidupku. Di diriku, kamu akan mendapatkan cinta yang begitu dahsyat melebihi cinta lain yang pernah kamu rasakan, dan aku yakin, aku bisa mencintaimu melebihi cinta Ibumu.

Kadang aku mencari tanda keberadaanmu, meskipun sebenarnya aku tidak butuh tanda itu. Tapi aku sering berharap bisa melihat tulisan 'i'm your future husband' terpampang jelas di jidadmu. Namun, sudahlah.. Itu hanyalah ide konyol yang membodohi diriku. Tapi perlu kamu tahu, aku tidak akan pernah merasa bodoh untuk setiap kepingan rasaku padamu, aku tidak akan pernah merasa bodoh atas setiap detik yang kuhabiskan dalam penantian panjang untukmu, karena aku yakin kamu pun sedang berlari kencang menujuku. Aku menantimu.

Aku meraba hadirmu dalam keramaian hidupku. Mencoba menebak keberadaanmu. Apakah kamu adalah orang yang telah lama hadir mengisi hariku, tertawa bersama, berbagi cerita bahkan mungkin kita sudah pernah berbagi makanan. Atau mungkinkah kamu adalah salah satu orang yang sedang menunggu pernyataan cintaku namun belum juga kutemukan getar itu. Atau, mungkin saja kamu adalah orang yang sama sekali belum pernah hadir di hadapku, tak ada tatap muka apalagi percakapan untuk sekedar saling tahu nama. Atau, jangan-jangan kamu adalah orang yang paling kuhindari selama ini. Wallaahu'alam.

Ada beberapa hal yang ingin kukatakan padamu, dan kamu perlu tahu itu. Aku bukanlah seorang putri yang sedang menunggu kedatangan pangeran berkuda menjemputku. Aku tidak akan memintamu datang dengan sebongkah emas dan seonggok berlian untuk meyakinkanku bahwa kamu bisa membahagiakanku. Aku tidak pernah mengharapkan kamu datang dengan cincin emas putih yang dihiasi permata untuk kamu sematkan di jari manisku. Aku hanya ingin kamu datang dengan membawa jiwa ragamu, sepenuh hati dan cinta untuk mengetuk pintu hati Ayahku, memintaku tuk menjadi pasangan hidupmu. Aku tidak membutuhkan cincin indah itu, yang kubutuhkan adalah keteguhan janjimu untuk mengikat hatiku dengan cintamu. Bukankah itu lebih indah, lebih kokoh ikatannya dan lebih sederhana di hati? Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana, sepenuh hati yang telah dipinjamkan Allah untukku.

Aku tidak pernah takut hidup dalam kesusahan bersamamu, yang aku takutkan adalah ketika kamu berhenti mencintaiku. Jadi kumohon padamu, wahai 'my future husband', berjuanglah semampumu karena aku di sini juga sedang berjuang membangun kehidupan untuk kita kelak. Perlahan, kita akan sama-sama menyadari siapa orang yang pantas untuk kita cintai. Dan sekarang, kita berjalan di atas jalur cinta, di ujung jalan kita pasti akan bertemu. Insya Allah...

19 Jan 2012

TENTANG SEBUAH CINCIN DAN KETEGUHAN JANJI

Tiap orang merasa bahwa kisah cintanya unik, berbeda dengan yang lain. Tiap orang menyangka bahwa kisah cinta mereka lebih indah daripada kisah cinta yang lain. Tiap orang mengatakan bahwa kisah cinta mereka lebih menarik dibandingkan dengan kisah cinta yang lain. Padahal, tiap kisah cinta itu hanya pengulangan dari apa yang dulu telah ada. Seunik, seindah, atau semanis apapun itu. Kalau kamu menyangka bahwa apa yang terjadi pada kita berbeda, aku berani pastikan bahwa dulu (atau di masa yang akan datang) ada ratusan kisah cinta seperti ini. Apa yang menarik dari kisah cinta kita? Mungkin hanya kita yang mengatakannya menarik, orang lain tidak. Karena kita yang merasakannya, yang lain tidak.
Setiap bangsa punya versi Romeo dan Juliet-nya sendiri. Ada Cinderella di setiap kebudayaan manusia. Banyak novel, puisi, lagu yang menceritakan tentang cinta karena tiap orang punya impiannya sendiri tentang cinta itu. Cinta punya tempat tersendiri yang lebih besar dengan kisah tentang kepahlawanan, pengorbanan, dan keberanian. Karena cintalah yang menyalakan apinya.
Tiap lambaian dedaunan di halaman rumah kita, adalah lambaian tentang cinta. Tiap desir angin yang datang di sore hari, adalah desiran tentang cinta. Tiap tetesan air hujan yang jatuh di tanah, adalah tetesan tentang cinta. Tiap hela nafasmu adalah helaan tentang cinta. Kepada Allah-lah semua cinta itu berasal dan kembali. Aku mencintaimu dengan hati yang dipinjamkan Allah padaku.
Tapi aku, seperti yang lain, ingin mengatakan kalau kisah cinta kita menarik. Walaupun cinta yang aku punya mungkin tidak bisa merasuki tiap lapisan marmer hingga berdirilah Taj Mahal. Tapi aku juga tahu, cinta yang aku punya bisa merasuki tiap lapisan hatimu hingga berdirilah sebuah kesetiaan.
Kalau aku bisa memilih, tentu aku tidak akan menikah dengan cara seperti ini. Aku menginginkan sebuah pernikahan yang diimpikan banyak orang; megah, mewah, romantis. Aku ingin menikah di tempat paling indah yang ada di muka bumi. Aku ingin memakai gaun pengantin yang disulam dengan benang emas dan dihias berlian. Aku ingin mengundang seluruh orang yang ada di dunia ini agar mereka semua tahu kalau aku berbahagia. Aku ingin sebuah pesta pernikahan paling indah yang bisa terpikir.
Tidak seperti pernikahan kita. Semua terjadi cepat dan sederhana. Kita tidak perlu memesan gedung karena kita menikah di rumah saja. Kita tidak perlu menjahit baju dan menghabiskan banyak uang untuk itu karena baju yang ada cukuplah. Kita tidak perlu mengundang begitu banyak orang karena saudara dan beberapa orang teman akan datang. Bila banyak orang yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk merencanakan pernikahan mereka, maka kita, dengan bismillah, cukup dua minggu saja.
Bahkan aku tidak akan mendapatkan sebuah cincin kawin karena kamu tidak mampu membelikannya.
Aku selalu melihat ada sebuah cincin kawin di acara pernikahan. Pengantin lelakinya akan mengenakan cincin itu di jari manis sebelah kanan pengantin perempuannya. Tapi kamu tidak akan melakukan itu karena kita tidak punya cincinnya. Kamu mengganti cincin itu dengan sebuah keteguhan janji yang kamu sematkan di hatiku sampai habis waktumu, itu janjimu. Dan aku merasa itu lebih bulat, lebih kokoh, dan lebih indah daripada sebuah cincin emas putih dengan batu merah delima yang selama ini aku impikan. Sesederhana itu.
Kadang aku memegang jari manis tangan kananku dan berharap akan ada cincin di situ. Tapi rasanya tidak akan pernah ada. Ada banyak hal yang kemudian kita urus dan lebih penting daripada sebuah cincin. Ada banyak pekerjaan dan kesibukan. Tapi aku juga merasakan ada begitu banyak cinta yang bertebaran di sekitar kita.
Aku pun mulai melupakan kalau aku tidak punya cincin kawin.
Sebuah ciuman di pipiku yang kamu berikan ketika kamu bangun dan beranjak untuk shalat subuh memberikanku harapan bahwa hari ini akan jadi lebih baik. Teh manis yang biasa kamu siapkan di dekat tempat tidur membuatku yakin bahwa pagi ini akan jadi begitu manis, hangat, dan sempurna.
Ketika kamu membantuku mencuci pakaian atau menyapu rumah, aku tahu bahwa banyak hal yang lebih berat yang seharusnya bisa kita lewati tanpa harus jadi hancur setelahnya. Waktu yang kita habiskan bersama sebelum tidur dengan membaca buku atau berdiskusi menyadarkanku kalau kita sedang membangun sebuah tempat tepat untuk berteduh dan menghabiskan usia. Dan ketika kamu menciumku sebelum tidur, aku berdoa semoga malam ini bukan malam terakhir kita. Aku berdoa semoga besok akan ada pagi yang lebih indah dan lebih menyenangkan.
Memahami pernikahan bukan sebuah pesta sehari tapi sebuah kerja keras seumur hidup ternyata sulit. Banyak orang yang merayakan hari pernikahan tapi tidak merayakan pernikahan itu sendiri. Aku tidak ingin kita seperti itu.
Aku ingin merayakan pernikahan kita setiap waktunya. Aku ingin kita tidak hanya bahagia di bulan pertama, kedua, atau ketiga saja, tapi untuk waktu yang masih tersisa di sepanjang umur kita. Aku ingin kita bekerja keras untuk membuat pernikahan ini berjalan sebagaimana yang kita rencanakan, bukan hanya memasrahkannya pada nasib saja. Walaupun Allah yang akan memutuskan apakah rencana kita akan berjalan seperti yang kita inginkan, tapi aku ingin Allah melihat kalau kita berusaha sebaik yang kita bisa.
Ketika aku memilihmu, itu bukan tanpa pertimbangan. Kamu bukan hanya selembar biodata buatku. Kamu hidup, kamu bernyawa, kamu punya jiwa. Bukan kamu sendiri yang ketika itu mendatangiku, kamu tahu itu. Ada kamu dan ada yang lain. Karena pernikahan buatku bukan hanya masalah sebesar apa cinta ketika itu, bukan hanya masalah siapa yang datang untuk dinikahi, maka aku mempertimbangkan untuk memilihmu.
Bila aku mendahulukan cinta, maka aku tidak akan menikahimu. Bila aku hanya memikirkan tentang apa yang terjadi satu atau dua tahun ke depan setelah pernikahan, maka aku tidak akan melirikmu sama sekali.
Tapi memahami sebuah pernikahan, buatku, tidak seperti itu. Pernikahan buatku adalah kerja keras. Dan aku akan menikah dengan orang yang akan menemaniku bekerja keras untuk membuat sebuah pernikahan menjadi lebih dari sebuah akad dan hidup bersama setelahnya, tapi juga sebuah kehidupan. Aku ingin membangun sebuah kehidupan denganmu.
Dan ketika aku memilihmu, aku tahu kita akan memulainya dengan benar-benar tanpa apa-apa. Bila ada orang yang memulai sebuah pernikahan dari 0, maka kita mungkin memulainya dari -1. Kita berusaha dengan keras menyatukan hati, hidup, dan juga pemikiran. Kita akan bekerja keras tepat setelah akad itu selesai diucapkan. Aku tahu itu, aku menerima itu, dan aku menjalani itu.
1. Demi langit dan yang datang pada malam hari
2. tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?
3. (yaitu) bintang yang cahayanya menembus
4. tidak ada suatu jiwapun kecuali ada penjaganya
Ketika di malam pertama kita kamu membisikkan Ath-Thaariq di telingaku dengan lembut, aku tahu bahwa aku sedang menggenggam jemari seseorang yang tepat. Yang telah dipilihkan Allah untukku, yang kusambut kehadirannya dengan hamdallah; bintang cemerlang yang cahayanya mampu menembus hatiku.
Bahkan aku tidak punya cincin kawin karena mungkin aku tidak perlu memilikinya.
Aku punya keteguhan janji yang akan kamu sematkan di hatiku sampai habis waktumu sebagai gantinya. Dan aku merasa itu lebih bulat, lebih kokoh, dan lebih indah dari cincin manapun yang bisa kamu dapatkan dan berikan padaku.
Dan hingga kini, belum satu janji pun yang kamu ingkari. Semua makin terasa kokoh. Aku pun mulai melupakan cincin kawin itu. Kalau aku melihat jari manis tangan kananku, aku melihat sebuah lingkar indah yang menakjubkan di sana; keteguhan janjimu.

The End...

Sumber: Unknown

18 Jan 2012

Syukur Alhamdulillah

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran terpahat di bibir senyuman
-Kahlil Gibran-

Sungguh indah bait syair tersebut, penuh makna menyemai setiap jiwa yang dilanda lelah penat untuk sebuah urusan hidup. Meletihkan memang, tapi ada baiknya kita belajar pada burung. Kala fajar menyapa, ia pun bersegera menjemput rezekinya. Kadang ia kembali dengan perut kenyang dan kadang juga ia mendapatkan tidak lebih seperti biasanya, namun ia tidak pernah mengeluh apalagi menyerah.
Apa yang kita inginkan dalam hidup bila suatu saat menjadi nyata, maka sejatinya itu belum tentu bisa menjadi jaminan untuk merasakan kebahagiaan. Semuanya berpangkal pada rasa syukur. Karena kebahagiaan hanya bisa muncul dari sikap syukur atas semua nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kita. Namun, untuk mendapatkan rasa syukur itu sendiri, dibutuhkan kejujuran dan kesederhanaan, agar kita bisa lebih bijak dan seimbang dalam menjalani hidup sehingga tidak berlebihan dalam menyikapi berbagai hal. Besar kecil, sedikit banyak yang kita dapatkan, maka itu akan tetap terasa indah.
Kita tidak memiliki apapun dan tidak dimiliki oleh siapapun, kecuali kesemuanya adalah milik Allah semata. Semoga kita bisa membebaskan diri dari ambisi dan jeratan hawa nafsu yang menggelisahkan karena selalu ingin lebih dan lebih lagi sehingga tidak pernah merasa puas dan cukup dengan apa yang dimiliki. Karena, seberapapun yang kita dapatkan hari ini maka itu tidak akan pernah kita nikmati jika hati tidak mengenal rasa syukur. Maka mari bersyukur, Alhamdulillah...

12 Jan 2012

Karena Kita Bukan Siang & Malam

Siang datang bukan tuk mengejar malam dan malam tiba bukan tuk menunggu siang. Selamanya tak akan pernah dipertemukan dalam satu waktu. Sudah takdirnya untuk hadir silih berganti, tak berjodoh...

Kamu lahir bukan tuk mengejarku dan aku tercipta bukan tuk menunggumu. Tapi bukan berarti tak bisa dipertemukan dalam satu waktu. Boleh saja dalam banyak hari yang terlewati tak sekalipun ditempatkan pada tempat dan waktu yang sama, tapi tidak tertutup kemungkinan sebelumnya telah tercipta kepadatan interaksi, hanya saja hati belum menyadarinya. Jodoh! Bukankah jodoh tak akan pernah tertukar???

Karena aku bukanlah malam dan kamu bukanlah siang, maka pertemuan itu adalah sebuah keniscayaan. Biarlah takdir yang membawa hati ini berlabuh di hatimu. Agar tiada pengkhianatan cinta pada Sang Maha Cinta. Kamu tahu, aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana, sesederhana harap dalam doaku.

Untukmu Imam-ku, siapapun, dimanapun dan kapanpun...

10 Jan 2012

IMAM-KU

Aku menyukai ayahku. Di mataku, dia begitu sempurna. Bagiku, kekurangannya hanya satu. Dia begitu keras kepala. Akan tetapi, bukan berarti sulit tuk meluluhkan hatinya. Aku adalah anaknya, jadi bagiku mudah saja tuk melunakkan sifat keras kepalanya. Aku hanya butuh sedikit merayunya, jika rayuan belum mempan maka aku akan merengek. Dan tercapailah apa yang kuinginkan pada ayahku. Aku tahu, ayahku tidak akan pernah tega melihat mataku dialiri buliran tangis karenanya.

Tak heran jika banyak yang mengatakan bahwa aku adalah tukang gombal sejati, bukan hanya teman laki-lakiku saja yang mengatakan demikian, tapi juga dengan teman perempuanku. Tapi kata ayahku, aku juga keras kepala, buktinya dia harus selalu mengalah dan melelehkan batu hatinya ketika berhadapan dengan keinginanku.

Aku tidak perlu jauh-jauh mencari sosok pria idaman di hatiku, ayahku telah mewakili kesempurnaan seorang suami dan ayah di hidupku. Apalagi yang kurang jika di setiap tutur katanya adalah bahasa yang santun, bernada rendah, tidak keras dan tidak ada umpatan ataupun kata-kata kotor. Tak sekalipun kulihat dia mengangkat tangan apalagi hendak menendang ibuku, seberapapun kesalahan ibuku. Ayahku tidak pernah berjudi, tidak minum minuman keras dan juga tidak merokok. Dia selalu mencurahkan seluruh cintanya buat ibuku dan kami anak-anaknya. Dia adalah teman diskusiku di rumah. Pengetahuan keagamaannya lebih dari diriku yang meskipun aku lebih banyak membaca buku daripada dia. Ah, hanya dia laki-laki yang mampu membuatku jatuh cinta selama ini.

Aku tidak bisa membayangkan, jika kelak suamiku jauh dari yang kurasakan dari cinta yang telah diberikan ayahku. Rasanya aku tidak siap. Menghadapi sikap keras kepala ayahku saja terkadang suka bikin puyeng, apalagi klo perokok, suka marah, main tangan dan sampai main hati. Na’udzubillah min zaalik yaa Allah. Hal yang paling aku takutkan adalah suara keras laki-laki ketika marah, mendengarnya apalagi melihatnya bisa membuat tubuhku bergetar dan kaku. Mendapatkan suami pemarah rasanya sama saja dengan membuat diriku terbunuh pelan-pelan.

Aku harap tak ada lagi yang men-judge diriku pemilih. Aku bukanlah siapa-siapa, tak ada yang bisa dibanggakan jika dilihat dari fisik dan materi, apalagi keimanan. Aku hanya takut, takut mentalku tidak sanggup menanggung kemungkinan-kemungkinan yang akan kudapatkan dalam sikap dan sifat suamiku kelak. Aku belum pernah jatuh cinta dan tidak mau jatuh cinta jika bukan pada suamiku. Karena aku tahu, jika aku jatuh cinta maka aku akan sangat mencintainya lebih dari cintanya padaku. Dan jika ternyata suamiku bukanlah laki-laki baik-baik, itu berarti aku akan sangat mencintai orang yang salah. Mencintai orang yang salah akan tetapi dia adalah suamiku, maka bagiku tidak ada alasan untuk berhenti mencintainya. Karena, cinta ini hanya ada 1 kali dalam hidup dunia akhiratku.

Aku tidak pernah takut dengan sedikitnya materi yang akan diberikan suamiku kelak, aku juga tidak peduli dengan tampilan fisiknya, yang aku takutkan adalah bahwa ternyata aku mencintai orang yang salah. Dan jika saja Allah mengabulkan doaku, maka lebih baik aku tidak pernah jatuh cinta selamanya jika harus mencintai orang yang salah. Karena laki-laki yang kucintai itu adalah imam-ku dan aku tidak mau menjadi makmum dari laki-laki yang tidak memelihara Allah di dalam hatinya.

9 Jan 2012

Ya SUDAHLAH

Ketika mimpimu yang begitu indah


Tak pernah terwujud ya BERJUANGLAH!!!

Saat kau berlari mengejar anganmu

Dan tak pernah sampai ya BERUSAHALAH!!!



Sedikit mengubah lirik lagu dari Bondan Prakoso. Tidak bermaksud sebagai plagiat, apalagi mengubah hak cipta orang lain, akan tetapi ini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap karya Mas Bondan Prakoso. Jujur saja, saya sangat suka lagu tersebut, tapi tidak dengan kata YA SUDAHLAH.

Ya Sudahlah, sebuah kata yang lebih terkesan MENYERAH. Lalu, mengapa harus MENYERAH jika mimpi itu menawarkan keindahan? Mengapa memilih MENYERAH jika angan itu sejatinya adalah cita-cita? Apa yang tidak memampukan kita sehingga nemutuskan untuk MENYERAH?

Hidup ini sederhana, yang dibutuhkan hanya keyakinan bahwa apapun yang kita perjuangkan dan usahakan dalam hidup ini tidak akan pernah disia-siakan oleh Allah. Lalu, apa yang tidak memampukan kita? Bukankah nafas masih dikandung badan?

Tidak ada yang sulit jika kita tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Fokus pada tujuan, itulah intinya. Jangan sampai kita bergerak berlari kencang menjauh dari tujuan hidup kita. Tak ada kata MENYERAH. Jika harus mundur, bukan karena ingin MENYERAH, tapi semata-mata hanya untuk menyusun kekuatan baru, memperhatikan jejak langkah yang pernah tercipta, untuk kemudian bisa melakukan akselerasi peraihan mimpi.

Sederhana doaku yaa Allah, kabulkanlah...

22 Des 2011

SAYA TAKUT HUTANG

Memang susah untuk mengatakan kata 'tidak', apalagi jika orang tersebut adalah sahabat, teman dekat, keluarga atau orang-orang yang kita segani. Meskipun merasa berat, merasa terbebani tapi tetap saja kita meng-iyakan permintaan mereka, perasaan tidak enakan akan selalu menjadi pemenang dari sekian rasa yang muncul. Meskipun ada kesadaran bahwa apapun yang kita lakukan bila tidak dilandasi dengan keikhlasan niat maka tidak akan ada nilainya di sisi Allah, tapi tetap saja ada setitik rasa gondok di dalam hati. Manusiawi memang, hanya saja jadinya rugi dua kali, udah capek-capek tapi tidak dapat pengakuan dari Allah..

Tapi kali ini rasanya berbeda, baru kali ini dalam hidupku ada yang memintaku melakukan sesuatu hal yang sangat kuhindari bahkan cukup kutakuti. Saya dimintai tolong oleh seorang teman untuk mengambil kredit di Bank demi membantunya mewujudkan mimpi besar Ibunya.

Oh, ini bukan hal kecil. Jika sejuta atau 2 juta rupiah saja, mungkin saya akan mengusahakan memberikan cash, tapi ini urusan uang yang nilainya besar. Kredit, kredit = UTANG. Bagiku, utang adalah hal yang paling kutakuti setelah Allah, lebih baik menghindari utang daripada menghindari ketemu hantu. Bebannya sangat besar, rasanya saya tidak sanggup. Saya tidak ingin menghabiskan sisa hidupku yang tidak tahu berapa lama lagi hanya untuk menyelesaikan urusan kredit Bank. Saya hanya ingin tidur tenang tanpa harus memikirkan besok bagaimana caranya dapat duit sebanyak-banyaknya tuk bayar utang.

Yah, kita tidak akan mungkin bisa terhindar dari urusan utang-piutang. Tapi ada namanya menghindari semampu mungkin, dan selama ini saya selalu berusaha menghindarinya.

Maaf banget sobat, bukannya saya tidak ingin membantu, tapi untuk hal satu ini saya harus berani mengatakan 'tidak'. Besar rasa hatiku untuk membantumu melebarkan senyum Ibumu dengan memberikan beliau tempat bernaung yang aman dan nyaman di sisa akhir waktunya. Saya cukup memahami keinginanmu itu, jika saya berada di posisimu, hal yang sama juga akan saya lakukan bahkan mungkin lebih dari yang kamu lakukan itu. Apa lagi sih yang kita inginkan dalam hidup jika bukan tuk melihat orang yang kita sayangi hidup dalam limpahan kebahagiaan?

Saya hanya bisa berharap dan berdoa, semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik buat kamu, sobat. Jika doa telah dilangitkan dan usaha sudah dibumikan, maka bertawakkallah, insya Allah pasti ada jalan. “Sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan”.

21 Des 2011

SURAT CINTA UNTUK IBU

 “Aku mencintaimu Ibu, karena Allah”. Dari dulu kata-kata ini ingin kusampaikan langsung padamu, Ibu. Dengan lisanku, dengan hatiku, dan dengan deraian tangisku dalam hangatnya pelukanmu. Maafkan aku jika hingga detik ini, kata-kata itu masih terkunci rapat di bibirku. Kau tahu, ibu... Sesak dadaku menyimpannya, pekak kerongkonganku menahannya, namun apalah dayaku, bagaimanapun aku adalah tetap seorang anak bagimu, anak yang dipenuhi ke-egoisan di dalam rongga dada.
Aku akui ke-egoisanku itu, Ibu. Aku pun tak mengerti, mengapa begitu sulit mengungkapkan perasaanku padamu. Aku selalu bersedih, sedih yang bertambah-tambah jika terkadang kau meragukan rasaku padamu. Kau tahu, Ibu... Puncak kesedihanku adalah ketika menyaksikan kesedihanmu karenaku.
Ibu, kau adalah pahlawanku. Diam-diam aku mengagumimu, sangat mengagumimu melebihi kekagumanku pada bunda Khadija, Aisyah, Fatimah atau seorang Hawa yang menjadi awal dari kehidupan kita. Aku tak tahu, apakah kau menyadari kekagumanku itu, dan bagiku itu tidaklah penting untuk kau ketahui, tapi yang terpenting bagiku adalah mengetahui bahwa kau tidak pernah dan tidak akan pernah menyesal memilikiku sebagai anakmu.
Dulu, kau yang mengajariku mengenal huruf A – Z, mengajariku menulis angka 1 – 10, mengenalkanku pada Al-Qur’an, dan...Oh, ibu...aku tak mampu lagi mengurainya, bukankah aku memulai segalanya sejak bertumbuh dalam rahimmu. Tak akan habis kata untuk mengeja kebaikanmu ibu, tak akan cukup kertas tuk melukiskan indahmu, tak akan kering tinta tuk menuliskan arti hidupmu untukku, Ibu.
Maafkan kebodohanku sebelumnya yang tidak bisa memaknai setiap tutur kata yang terucap dari bibir muliamu, maafkan kelemahanku yang tidak mampu merasakan kelembutan setiap belaian dari tangan sucimu. Maaf telah pernah menantang matamu dengan kemarahanku, maaf telah membentakmu dalam keangkuhanku, maaf telah menjejakkan luka di hatimu karena khilafku. Semua itu kulakukan karena aku belum bisa sepenuhnya mengartikan kasih sayangmu, Ibu.
Cintaku padamu begitu tinggi, Ibu. Hanya Allah yang mengalahkanmu di hatiku. Kau tahu ibu, dalam hidupku, hingga detik ini, aku tak pernah membagi hatiku pada manusia manapun di dunia ini meskipun terkadang besar hasratku tuk membaginya. Akan tetapi, sungguh, aku tak akan pernah rela jika ada satu makhlukpun selain dirimu yang menjadi penyemangatku untuk apa yang kuraih hingga saat ini. Yah, aku sadar, bahwa suatu saat nanti aku akan memiliki hidup lain yang di dalamnya akan kuisi dengan belahan jiwaku dan darah dagingku sendiri. Tapi bagiku, tempatmu tak akan pernah tergantikan dan cintaku tak akan berkurang sedikitpun padamu.
Ibu, jika kelak ternyata aku yang lebih dulu menghadap pada Sang Penggenggam Hidup dan tetap saja lidahku masih kelu mengungkapkan rasaku padamu, ketahuilah, jika kata syukur lebih mulia derajatnya dari kata cinta, maka kukatakan padamu Ibu, demi Allah yang nyawaku ada dalam genggaman-Nya, aku bersyukur memilikimu sebagai Ibuku.

Batam, 111221

THE BEST IS YET TO COME

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca sebuah artikel lepas tentang wanita karir dan pernikahan. Di sana, penulis membahas secara singkat mengenai alasan mengapa para wanita karir yang masih berstatus single kebanyakan menunda pernikahannya, pun bagi ibu rumah tangga yang juga seorang wanita karir yang terkesan lebih mendahulukan karirnya daripada keluarganya. Saya membacanya pelan, biar lebih bisa dicerna dan difahami, yah, lumayan tuk dijadikan nasehat buat diri sendiri, fikirku.

Dari situ, saya kemudian banyak berfikir, sedikit merenung dan mengajukan beberapa pertanyaan ke diri sendiri. Apa benar saya telah menunda pernikahan karena sibuk mengejar karir? Apa benar saya telah menomor bontotkan urusan pernikahan karena lebih fokus pada karir? Atau, adakah alasan lain mengapa sampai saat ini saya belum menikah?

Ketakutan akan kehilangan karir yang saya bangun dengan berdarah-darah harus berakhir begitu saja karena pernikahan pastinya memang ada, resiko. Bagitu banyak mimpi yang akan terenggut, mungkin tak akan terhitung jumlahnya. Harapan-harapan orang tua juga akan hilang tak membekas seiring keihklasannya melihat anak perempuannya hidup bahagia. Kadang saya berfikir, dengan nominal yang saya dapatkan sebulannya sekarang ini, mungkin suami saya kelak tidak akan mampu memberikannya padaku diawal-awal pernikahan. Tapi bukankah pernikahan bukan masalah sense of price? Tapi lebih pada sense of value, respect and peacefull. Subtansinya bukanlah pada pencapaian materi, tapi yang paling utama adalah adanya kesamaan visi misi dalam membangun sebuah ikatan keterikatan yang saling mengikat, saling menumbuhkan dan saling membaikkan untuk kemudian memuliakan satu sama lain.

Saya rasa, kita tidak boleh serta merta menganggap perempuan yang telah cukup umur atau malah telah lanjut usia namun belum menikah itu menunda pernikahannya. Karena di sini, ada kerja-kerja takdir terkait di dalamnya, ada ruang dimana kita diberikan kesempatan oleh Allah untuk bermain teka-teki. Yah, takdir itu bisa kita ciptakan sendiri, tapi ianya itu akan terjadi bila takdir tersebut bersesuaian dengan takdir yang telah ditetapkan Allah.

Kemudian, pernah ada yang mengatakan bahwa jodoh itu adalah sebuah keputusan. Memutuskan apakah ingin berjodoh atau tidak dengan seseorang yang meminangnya. Akan tetapi, kembali kerja takdir berpengaruh di sini. Bagaimana hati dan akal mampu menuntun jiwa untuk mengambil sebuah keputusan.

Kesempatan dan pilihan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa sebenarnya Allah telah memberikan kita kesempatan untuk memilih, tapi mungkin juga ada yang sama sekali belum mempunyai kesempatan. Kesempatan itu bisa datangnya berkali-kali, akan tetapi terkadang kesempatan itu juga datangnya hanya sekali. Namun, dalam kerangka berfikir dan pembiasaan hati berada pada tatanan persangkaan yang baik pada ketetapan Allah, maka sebenarnya tak ada kesempatan yang datangnya hanya sekali. Kesempatan itu selalu ada, tinggal kita memutuskan untuk memilih atau memutuskan untuk tidak memilih.

Katanya, cinta adalah argumentasi yang sahih untuk menolak atau menerima seseorang untuk menjadi pendamping hidup kita. Berarti, biarkanlah cinta yang melakukan pekerjaannya, hingga takdir mempertemukannya dalam keridhoan Tuhannya. Jadi, bukan berarti menunda apalagi bermaksud tuk menunda, tapi lebih pada proses pencarian pribadi terbaik untuk mendampingi pribadi kita. Karena belum tentu pribadi sebaik Aa Gym itu baik buat kita. Dan dalam konteks prasangka baik pada Allah, seharusnya dimaknai sebagai bonus, bonus waktu yang diberikan oleh kepada kita untuk semakin membaikkan diri dan memaksimalkan potensi diri.

Saya bukannya melakukan pembenaran untuk setiap sikap memilih untuk tidak memilih sebelumnya. Akan tetapi, saya selalu yakin bahwa Allah pasti akan menuntun setiap hati & jiwa pada jiwa yang telah dijanjikan-Nya sejak ruh itu ditiupkan. Jadi, apabila hati belum klop 100% pada satu jiwa, anggap saja bahwa yang terbaik belum datang. Sederhana saja bukan? *Smile..

 

15 Des 2011

DALAM DIAM AKU MENUNGGUMU

Cerpen :

Kuhempaskan tubuhku ke atas kasur, tengkurap. Kubenamkan wajahku sedalam mungkin, menjeda napas panjang dengan kedua tangan menindih di atas kepala, menggaruk-garuknya meskipun tidak gatal. Aku membalikkan badan, menengadah melempar pandangan ke langit lepas lewat jendela kamar yang sedari tadi pagi kubuka demi menyambut hari. Bintang gemintang begitu cerah menemani bulan, seakan tak peduli dengan keanggunan bulan yang siap mengambil habis perhatian dari para pencari cahaya. Sudah terlalu larut tuk memanjakan mata dengan pemandangan ini.

Kucoba memejamkan mata, kutarik sebuah bantal menutupi wajahku, tapi semakin aku berusaha melawan rasa kantukku, semakin mata ini tak mau terpejam. Seperti binatang peliharaan yang tak mau tunduk dan mulai berontak pada majikannya. Bukan, bukan mataku yg memberontak. Pemberontak itu adanya di dada. Di sana ada seonggok daging yang sedang menyimpan kegelisahan. Kegelisahan yang sulit tuk diartikan oleh akal.

Rinai hujan bernyanyi pelan di atas genteng, desah angin membelai mesra dalam keagungan subuh-Nya. Semilir suara Adzan lirih pelan, samar-samar terdengar dari kejauhan. Berat mataku melebihi berat dua buah kakiku melangkah menuju kamar mandi. Kuambil air wudhu, kuresapi setiap tetesannya. Biar sejuknya sampai menusuk kalbu. Dalam sholat aku mengadu pada Sang Maha Pendengar. Mengadukan rasa hatiku yang tak bisa kukendalikan lagi. Sebuah rasa muncul begitu saja, bersemi bermekaran bak sekuntum bunga yang menyeruput embun di kala pagi. Ingin kuhentikan penumbuhan itu, ingin segera kukembalikan pada pemiliknya. Selama ini, dalam prinsip hidup yang kubangun, rasa itu belum saatnya tuk kumiliki dan kemudian sepenuhnya kuberikan pada satu jiwa, belahan jiwaku.

***

"Rani, telah lama kupendam rasa ini padamu. Sejak dulu, sejak kamu masih di kampus. Senyummu selalu menyejukkan, seperti oase di tengah gurun pasir. Namun, bukanlah karena senyuman itu. Ini adalah tentang sebuah keyakinan akan kedalaman rasa di palung jiwaku. Sebuah rasa yang dititipkan Allah pada sepotong hatiku. Ia kini masih terbingkai rapih di satu sudut hatiku, untuk sepenuhnya menjadi milikmu kelak. Akan tetapi, kini kamu begitu jauh. Rasanya sulit bagiku tuk meraihmu. Engkau begitu tinggi, seperti aku yang hanya bisa mendongakkan kepala pada sebuah puncak gunung tertinggi. Kamu tahu, kamu memang tinggi, karena kamu telah berada di puncak hatiku setelah Tuhanku. Lalu, katakanlah padaku. Apakah salah bagiku jika berharap penuh suatu saat nanti kamulah perempuanku? Aku harap tidak. Sebenarnya, tak ingin kuusik sepotong hati ini hingga datang waktu yang tepat, karena aku sadar, sayapku belum mampu membawaku datang padamu apalagi mengajakmu ikut terbang bersamaku mengarungi samudera langit kehidupan. Tapi, bolehkah kutitipkan satu rasa ini padamu untuk kamu jaga sementara waktu? Kupastikan, suatu saat nanti aku akan datang mengambilnya dengan ijin Allah. Maaf, siapalah aku yang begitu lancang ingin mengikat harimu dengan janji, siapalah aku yang dengan beraninya membuatmu menali waktu dalam penantian untukku? Tapi, gunungan hatiku meminta setitik kesabaran dalam samudera hatimu. Hari ini, kuserahkan hatiku padamu. Jika kamu bersedia, diam-mu adalah jawaban pasti bagiku
Salam, Radika Yudha Rahman."

Sudah seminggu email itu aku terima dari Dik, namun entah mengapa aku selalu kehabisan kata ketika ingin membalasnya, jariku terasa kelu. Maju mundur keinginanku, bolak balik keteguhan hatiku, perasaan tak pasti menguasai akal sehatku. Oh..kesadaranku membuncah pada satu tanya, bagaimana jika aku benar-benar mencintainya, sanggupkah aku bertahan dalam satu penantian yang tiada pernah kuketahui ujungnya?
***
Awan hitam menggantung di atas langit negara yang di juluki Abode of Peace, seakan masih malu-malu menyeruakkan kristal putih dari pelukannya. Setahun yang lalu aku memutuskan untuk menerima tawaran kerja dari salah satu perusahaan Oil & Gas di Brunei Darussalam ini. Aku memilih tinggal di Kampong Ayer, letaknya tidak jauh dari tempat aku bekerja sekarang. Sebuah kota kecil yang sangat indah, dimana sungai Brunei mengalir di sini. Menurut cerita, pemukiman ini telah dihuni lebih dari 1300 tahun dan tidaklah berlebihan bila  Antonio Pigafetta  menamakan tempat in sebagai Venizia dari timur pada sekitar awal abad ke 16.
Menikmati secangkir Capucino hangat di teras Apartemenku di lantai 3. Di sini aku bisa memandang lepas sejauh mataku bisa memandang. Sebuah kursi malas dan meja berbentuk kotak melengkapinya. Jejeran buku-buku memenuhi hampir keseluruhan bagian bawah meja tersebut. Teras yang di design bak Aquarium, kaca putih mengelilinya dan dilengkapi dengan tirai di sekelilingnya. Jadi, aku bisa tetap merasa nyaman di sini tanpa harus khawatir dilihat orang jika diriku tidak mengenakan jilbab. Ini adalah tempat favoritku ketika menghabiskan waktu libur kerja di apartemen. Membaca buku, dan sesekali melayangkan pandangan ke sekitar.
Tiba-tiba saja aku teringat akan Dik. Sudah setahun lebih aku tak mendengar kabar darinya. Aku pun tak tahu, apakah dia tahu akan keberadaanku sekarang atau tidak. Dan lebih lagi, aku tak tahu apakah dia masih memegang janjinya atau mungkin dia sudah melupakannya.
Kadang, bejibun pertanyaan menghantam otakku, resah dan gelisah menggelayuti dadaku, keinginan tuk mengakhiri penantian ini pun semakin nyata di pelupuk mata. Ah, apa yang harus kuakhiri? Bukankah aku tidak pernah memulainya? Betapa bodohnya aku membiarkan hatiku mempercayai isi email tersebut. Mengapa aku baru sadar sekarang? Namun, setitik kesadaran selalu saja membangkitkan prasangka baikku pada Dik, entahlah, aku sendiri tidak mengerti, mengapa aku begitu mempercayainya. Aku tak begitu mengenalnya, yang aku tahu kami pernah 4 tahun bersama menuntut ilmu di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Tak pernah terjadi tegur sapa yang cukup berarti. Hanya beberapa kali saja, seingatku dan tak satupun yang berkesan menurutku. Kami hanya berinteraksi untuk satu kegiatan kampus yang masing-masing kami terlibat di dalamnya. Aku tak pernah tahu tentang asal usul keluarganya, bagaimana ia menjalani harinya atau apapun tentangnya. Aku hanya tahu wajah dan namanya. Lalu, bagaimana mungkin aku begitu mempercayainya?
***
Libur akhir tahun telah tiba, setidaknya aku bisa mengambil satu bulan cuti untuk kembali ke Indonesia. Aku begitu merindukan kedua orang tuaku. Tapi, dibalik kerinduan itu, aku ingin menjalankan sebuah misi. Yah, aku sudah memantapkan hati untuk mencari tau keberadaan Dik. Setidaknya, setelah menjalankan misi ini, aku akan menemukan titik terang dari penantian panjangku selama ini. Aku sudah berusaha mempersiapkan diri untuk semua kenyataan yang akan kutemui nantinya. Aku harus siap, begitulah aku meyakinkan diriku.
Pesawat mendarat di Bandara Hasanudin Makassar. Jantungku berdetak kencang tak beraturan. Aku menyewa sebuah taxi menuju sebuah penginapan, setelah registrasinya selesai, aku hanya meninggalkan barang-barangku di sana dan kemudian menuju terminal Bus Makassar. Aku tak langsung ke rumah orang tuaku, yang ada difikiranku sekarang adalah menemui Dik. Bagaimanapun aku harus mendapatkan jawabannya secepat mungkin.
Aku mendapatkan alamat Dik dari Adam teman kampus kami dulu. Adam pun tak tahu kabar terakhir dari Dik, bukan hanya aku dan Adam yang kehilangan kontak dengannya, tapi semua teman-temannya pun demikian. Namun Adam hanya yakin, bahwa Dik pasti masih di kota asalnya. Dik tidak mungkin pergi jauh dari tanah kelahirannya. Berbekal alamat tersebut, aku pun menuju kota di mana Dik tinggal.
Irama detak jantungku semakin tak beraturan, ia berdenyut lebih cepat dari sebelumnya. Kakiku kaku tak bisa bergerak. Tubuhku bergetar, nanar mataku memandang Dik yang berdiri sekitar 5 meter di depanku. Dik menggendong seorang bayi mungil di teras rumahnya, di sisinya duduk seorang perempuan cantik yang bermain manja menggoda sang bayi di tangan Dik. Air mataku tumpah seiring mata Dik bersitatap dengan mataku.
Aku menghamburkan tubuhku, berlari. “Ra, Rani... Tunggu”. Wajah Dik panik melihatku, dia mencoba menahanku dan ikut berlari di belakangku. Aku terus mengayuh langkahku, sekencang mungkin, semampu yang kubisa. Perlahan, Dik semakin dekat menghampiri langkahku yang kian melemah. Dia berlari mendahuluiku dan berusaha menghentikanku. “Ra, dengerin dulu penjelasanku. Please, Ra!”. Aku berhenti, mematung di hadapannya dengan napas terengah. Aku tertunduk dalam tangisku. Tubuhnya yang jangkung berusaha menatap wajahku dengan sedikit menunduk. “Bisa kita bicara di rumah saja?”. Tanyanya kemudian dengan wajah yang masih lekat menatapku.


***
Aku terdiam mengikuti langkahnya, perasaanku berkecamuk. Rasa malu dan kecewa menggantung di wajahku. Penantianku selama ini, untuk apa? Aku membatin, jika saja hatiku tak menyimpan sedikit iman, ingin rasanya kucabik-cabik tubuh Dik dengan kedua tanganku. Ternyata, aku sakit dengan kenyataan ini.
“Duduklah”. Suara Dik, memecah lamunanku yang membuatku tersadar bahwa aku telah sampai di beranda rumah Dik. Aku mengikut saja kata Dik, aku duduk di atas kursi yang paling dekat denganku. Perempuan tadi dengan bayi di pangkuannya tersenyum ramah padaku. Aku getir memaksakan sebuah senyum untuknya. “Kak Mila, ini Rani, perempuan yang sering kuceritakan selama ini”. Wajahku terangkat memandang wajah Dik, kemudian mataku menuju perempuan yang dipanggil Kak Mila oleh Dik. “Ra, kenalkan, ini kak Mila, kakak kandungku, dan yang dipangkuannya itu adalah Azzam anak pertama kak Mila, ponakanku”. Dik berusaha menjelaskan sedetail mungkin tentang hubungannya dengan perempuan dan bayi itu. Seakan dia paham betul dengan isi kepalaku saat ini. Lagi-lagi aku hanya tertunduk, aku merasa malu dan tidak tahu harus berkata apa.
“Maafkan aku, Ra! Setelah mengetahui kepergianmu ke Brunei, hatiku hancur. Kupikir kamu pergi menghindariku. Sempat goyah perasaanku padamu”. Dik menghela napas panjang kemudian melanjutkannya lagi, “Namun, satu keyakinan muncul dalam hatiku untuk sikap diam-mu. Aku merasa cukup memahami karakter dan prisip hidupmu dari setiap tulisanmu di Blog. Kadang aku mencari makna dari tulisan-tulisan itu, apakah di sana ada sedikit kata untukku, tapi ternyata tidak ada.” Senyum Dik memekar seakan menertawai dirinya sendiri. “Kemudian aku berpikir, biarlah Allah yang menentukan skenario akhir dari perasaanku padamu. Bukannya aku pasrah begitu saja. Di sini, aku selalu menjaga hati untukmu, berusaha siang dan malam demi memantaskan diriku menjadi lelaki belahan jiwamu. Kamu tahu, Ra... Diam-diam aku menjalin kerjasama bisnis dengan ayahmu, demi mengetahui kabarmu dari negeri seberang.” Hening.
Aku termangu mendengarkan penjelasan Dik, kulihat ada aliran bening membasahi wajahnya yang tirus. Azzam menggeliat dari pangkuan kak Mila memecah keheningan yang sempat terjeda oleh sikap diam kami. “Klo begitu, aku pamit pulang.” Aku seperti kehabisan kata, kebingungan. Sekilat Dik dan kak Mila melayangkan pandangannya padaku. “Lo, mau pulang kemana dek? Ini sudah hampir maghrib”. Sela kak Mila menahanku yang sudah mulai bangkit berdiri. “Kamu nginap saja di rumah malam ini. Besok aku dan keluarga akan mengantar kamu pulang, sekalian melamar kamu”. Dengan entengnya Dik mengeluarkan kata-kata tersebut dari bibirnya, memandangku penuh makna, sementara aku, aku seperti orang yang baru bangun tidur, pangling, berjuang menahan luapan bahagia di hatiku.
Sesungging senyum dari wajah Dik membuatku salah tingkah. “Hei, sebentar lagi aku akan menjadi suamimu”. Sedikit berbisik suara Dik sambil berlalu dari hadapanku. “Dik, aku ingin sekarang”. Suaraku lantang hingga menahan langkah Dik dan kemudian dia membalikkan tubuhnya. “Bersabarlah, Adinda. Kamu tidak ingin menikah tanpa wali kan?”. Dik tersenyum dan pergi begitu saja. Perasaan bahagia terpancar dari gerak tubuhnya yang menghilang di balik pintu. Ah, ingin rasanya aku berlari dan memeluknya erat, sangat erat hingga hilang semua penat di dada selama penantian panjang ini. Tapi benar kata Dik, aku harus bersabar. Bukankah setelah dia menikahiku semua sentuhan adalah halal, semua pelukan adalah ibadah dan yang paling pasti aku bisa melihat senyumnya di setiap aku membuka mata di pagi hari dan memeluknya sepanjang usiaku.


***


The End

7 Des 2011

Anak Lampu Merah

Pernah suatu ketika, aku pengen banget ke Masjid Raya Batam merasakan atmosfer sholat jum’at di sana. Tanpa fikir panjang, segera setelah dari kantor aku langsung menuju ke sana. Sebenarnya sih, godaan perut sangat hebat kala itu karena memang sudah waktunya makan siang. Tapi, setelah kufikir-fikir, sekali-kali telat makan siang tak masalah, toh hanya sekali ini saja. Dan Alhamdulillah, pertarungan antara cacing di perutku melawan milyaran sel yang ada di otakku dimenangkan oleh sel-sel otakku tersebut.
Tiba di Masjid Raya, suasana keramaian sangat terasa. Ada ragu menghampiri hatiku untuk berbelok arah, tapi kuurungkan perasaan tersebut. Aku terus melaju memasuki lapangan parkir. Kudapati banyak jama’ah yang sudah memenuhi sekitaran Masjid dan semuanya laki-laki. Aku masih terus berusaha tidak peduli dengan suasana tersebut dan langsung menuju tempat wudhu wanita. Tapi, saat menyusuri jalan menuju tempat wudhu, aku mulai merasa tidak nyaman, tak satupun kudapati jama’ah perempuan, semuanya laki-laki yang jumlahnya sangat banyak. Entah karena waktu itu memang lagi ada demo kecil-kecilan di depan kantor Walikota Batam atau memang jumlah jama’ah di Masjid tersebut selalu sebanyak ini setiap jum’atnya, entahlah.
Aku merasa tidak tahan berada dalam kumpulan jama’ah tersebut, akhirnya kuputuskan segera meninggalkan Masjid yang sebenarnya aku baru berada di tempat wudhunya. Aku keluar dari lapangan parkir dan menuju Mega Mall. Pas di lampu merah, aku memanggil salah seorang anak yang sering mangkal jualan koran di simpang tersebut. Usia anak perempuan tersebut mungkin sekitar 6 - 7 tahun. Keberi dia sejumlah uang tetapi tidak mengambil korannya (maaf; diriku tidak begitu suka baca koran yang ada di Batam, beritanya aneh-aneh). Tapi diluar dugaanku, anak tersebut masih maksa aku untuk mengambil korannya. Entahlah, apa dia ingin aku membelinya lagi atau dia tidak mengerti bahwa dengan diriku tidak mengambil koran yang dia jual tersebut, dia akan mendapatkan keuntungan dari situ. Wallahu’alam.
Malam minggu kemaren, tepatnya di lapangan parkir Mega Mall, anak tersebut kembali mendatangiku. Kembali kuberi dia uang dan tidak mengambil korannya. Tapi kali ini dia tidak memaksa diriku tuk mengambil korannya. Kulihat temanku mengajak anak tersebut bicara, aku tidak terlalu memperdulikannya. Aku malah sibuk dengan fikiranku, “sepertinya anak itu sudah mulai faham yah?”, fikirku.
Cerita ini mungkin biasa saja, toh hampir tiap saat kita melihatnya atau mengalaminya sendiri. Tapi bagiku, ini adalah sebuah pelajaran yang sangat berarti dalam hidupku. Aku memaknainya sebagai pengingat, pengasah kepekaan hati dan fikiranku terhadap lingkungan yang ada di sekitar. Dunia ini sudah terlalu semrawut dengan segala hingar bingarnya, namun di banyak sudut kehidupan, tetap saja ada sebagian besar penduduk bumi yang masih memerlukan uluran tangan kita. Tidak hanya sekedar rupiah kita, tapi lebih dari itu. Pendidikanlah yang sangat diperlukan oleh Indonesiaku ini, pendidikan yang layak jauh lebih berharga daripada penghidupan yang layak. Bantuan terhadap pemahaman yang baik, melihat kehidupan dari sisi pandang mereka, mungkin akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih bijak. Sehingga, kita mampu menjadi pribadi yang senantiasa menebar kemanfaatan di bumi Allah ini. Yah, aku selalu berdoa kepada Allah yang Maha Kaya, untuk selalu memperkaya hatiku dengan kebaikan dan kebeningan fikiran, memperindah wajah-wajah yang ada di sekitarku dengan kemuliaan akhlak untukku menjadikan sebuah cerminan hidup, untuk kemuliaan hidup di sisi Tuhan-ku. Aamiin..

3 Des 2011

Mulia Putri..

Hilang tak berjejak, haruskah itu yang kukatakan pada setiap orang yang menanyakan dirimu, saudariku? Sudah berbulan-bulan kamu tak menghubungiku, tak pernah lagi terdengar kabar tentangmu. Tak satupun nomor HPmu yang aktif, akun Facebook-mu pun sudah tidak aktif lagi. Yang aku tahu kamu kin di Jakarta bersama suamimu, tapi, Jakarta itu luas saudariku. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa melihatmu lagi, atau sekedar say hello di telpon, atau bisa melihat senyummu di wall Facebook-mu.
Saudariku, bagaimana hidupmu di sana sekarang? Hidup dengan laki-laki yang baru kamu kenal dengan baik setelah menjadi suamimu. Bahagiakah kamu? Sungguh aku ingin mendengar ceritamu akan kegagahan suamimu menjagamu, menyayangimu dan memuliakanmu seperti namamu, Mulia Putri. Aku yakin, kamu pasti bahagia di sana, bersamanya. Mungkin sekarang kamu sedang mengandung anak pertamamu, ah...aku selalu penasaran ingin mengetahuinya, Put.
Aku tak ingin berfikiran macam-macam tentang kehidupanmu saat ini. Terlepas dari adanya sedikit kejanggalan dan kecurigaanku saat terakhir kamu bercerita padaku. Kamu hanya perlu beradaptasi, fikirku. Aku tetap menyimpan prasangka baik pada keluarga barumu, seperti prasangka baikku pada Allah.
Put, aku rindu padamu. Ada banyak lembaran ceritaku yang belum kamu baca, belum kamu dengar secara langsung dari bibirku. Aku kangen melihat senyummu. Kamu tahu, aku selalu senyum-senyum sendiri jika membayangkan kamu menatapku yang sedang curhat padamu. Kamu selalu ingin aku curhat padamu kan, tapi aku selalu menutup diri. Kali ini, aku hanya mau kamu yang mendengarkan curhatanku. Aku tahu, kamu akan menertawakanku, tapi aku tidak peduli jika orangnya adalah dirimu. Aku ingin kamu yang menertawakan semua kebodohanku, Put.
Put, kamu dimana sekarang? Tak bisakah kamu kirimkan aku penanda lewat doa Robithohmu? Agar aku bisa merasakan keberadaanmu, saudariku. Aku ingin, kelak kita masih punya waktu, menghabiskan malam di Pantai Losari. Aku suka membayangkan, di waktu itu kita akan duduk bersama lelaki kita masing-masing, ditemani suara lengkingan anak-anak kita.
Put, ingatlah selalu. Ada aku, saudarimu yang selalu menunggu ceritamu.

Salam kangend buatmu selalu saudariku..
Kiki

Batam

1 Des 2011

Kau Perempuan

Banyak perempuan yang lebih memilih menumpahkan isi hatinya atau curhat kepada laki-laki dengan alasan merasa lebih nyaman. Namun, dia tidak berhenti di situ saja. Dia kembali membangun opini bahwa perempuan itu adalah salah satu makhluk yang tidak asyik, mungkin dia lupa klo dirinya berasal dari jenis yang sama.

Apa dia tidak sadar bahwa di saat yang sama dia telah merendahkan dirinya sendiri, membuka aibnya di hadapan laki-laki yang tidak tepat. Sungguh sebuah proses pembunuhan karakter diri yang sangat memalukan. Setan-setan tertawa histeris dibalik tatapan mata iba para lelaki yang dirasuki nafsu hewani. Kemudian sang Iblis memberikan petuah pada hati sang lelaki, katakanlah, “ceritakanlah semua kesedihanmu, tumpahkanlah perasaanmu, menangislah. Bersandarlah di bahuku, aku selalu punya tangan lembut tuk menghapus air matamu, aku mempunyai jiwa yang hebat untuk memelukmu rapat dalam dekapanku”. Sedang di sisi lain langit dan bumi turut menangis, menangis karena harus menanggung beban manusia-manusia penuh lalai.

Wahai, perempuanku. Ketahuilah, tak ada yang bisa memahami sebesar yang bisa dipahami oleh perempuan lainnya. Jika kamu merasa tak ada yang menerimamu, maka lihatlah dirimu secara menyeluruh. Adakah kamu mampu menerima perempuan lain dalam hidupmu? Pernahkah kamu meluangkan waktu tuk sekedar merasai kehadiran perempuan lain di sekitarmu? Pahamilah mereka sebelum kamu meminta tuk dipahami, ketahuilah bahwa bukan hanya kamu seorang perempuan di dunia ini. Maka luaskanlah hatimu, wawasanmu dan penerimaanmu.

Instropeksi diri adalah pilihan yang bijak, jangan terlalu terbawa perasaan sendiri yang malah semakin menyempitkan hati. Laki-laki tidak akan tahan mendengar celotehmu, laki-laki tidak akan sabar menahan kebosanannya dengan keluh kesahmu, karena dia bukan Ayahmu, bukan Suamimu dan bukan Anakmu, dia hanyalah laki-laki yang menganggapmu lemah. Maka berhati-hatilah dengan kebaikan penuh pamrih yang ada di sekitarmu.

29 Nov 2011

ALLAH TIDAK PERNAH SALAH

Aku sering berfikir, kemudian merenung, menghadirkan setiap kepingan-kepingan ingatan yang masih tersusun rapi dalam memori, ada banyak hal yang sulit kupahami, sulit untuk kuikhlaskan. Namun, di saat sejenak kuberikan ruang pada hatiku untuk meraba perasaanku, kutemukan ada gunungan kesyukuran yang kian menanjak tinggi, perasaan yang mampu menghapus semua perih luka yang kualami selama menjalani hidup, dan aku tenang dengannya.
Cita-cita masa kecilku bukanlah menjadi seorang Engineer, bahkan sekalipun tak pernah terlintas di benakku. Aku sangat ingin menjadi seorang Sarjana Hukum, menjadi Pengacara untuk orang tuaku sendiri. Namun, belakangan aku menyadari. Itu bukanlah cita-citaku, melainkan tak lebih dari obsesi pribadi. Yah, aku memang sangat terobsesi menjadi seorang Pengacara, mengingat latar belakang keluargaku yang tidak pernah berhenti bersentuhan dengan masalah hukum.
Aku menemui kebimbangan yang hebat ketika hendak menyelesaikan Sekolah Menengah Atas, tiba-tiba saja aku tak tahu kemana harus melabuhkan cita setelah kesadaranku muncul akan obsesiku menjadi seorang Pengacara. Aku bingung dengan masa depanku sendiri. Semua terlihat gelap, tak ada bayangan cerah dalam hatiku. Namun, hidup harus memilih. Jika tidak, aku akan ditinggalkan waktu dan aku tidak menginginkan hal tersebut terjadi dalam hidupku.
Aku memilih Teknik Kelautan pada formulir pendaftaran JPPB yang disodorkan oleh Guru sekolah. Sesaat beliau menatapku ragu, aku pun menatapnya, dalam diam beliaupun mengerti keputusanku. Ketika dinyatakan lulus, hatiku kembali dihinggapi keraguan. Ada dorongan perasaan untuk berhenti, mencari cita-cita dan mimpi baru. Namun, seorang teman mengingatkan dan menguatkan pilihanku kala itu, “jangan mundur, mungkin itu adalah yang terbaik untukmu”.
Setelah menjadi mahasiswa Teknik, aku harus menerima kenyataan untuk bertemu dengan salah satu hal yang paling kubenci, Matematika/Kalkulus. Maka wajar saja, jika semua nilai Kalkulusku berujung pada nilai C. Dan di Teknik pulalah aku memantapkan diri tuk berhijab. Aku memang sudah lama menginginkannya, tapi bagaimanapun aku pernah membenci jilbab. Bahkan aku pernah bersumpah, meski duniaku terbalik, aku tidak akan pernah mengenakan jilbab. Alhamdulillah, duniaku memang sudah kebalik sejak memutuskan berjilbab. Aku berjilbab dan memilih hidup yang tidak seperti kebanyakan perempuan lajang pada umumnya.
Menyelesaikan kuliah dan segera mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan minat adalah mimpi setiap mahasiswa, sayangnya, lagi-lagi aku harus menelan pil pahit untuk takdirku. Hanya Perusahaan Galangan Kapal yang mau menampung diriku. Padahal, semasa kuliah dulu, aku tidak pernah ingin tahu tentang Kapal dan segala yang berhubungan dengan konstruksi Kapal. Dan sebagai resikonya, aku harus memberikan sebagian besar waktu, tenaga dan fikiranku untuk belajar semua aspek tentang Perkapalan.
2 tahun sudah meniti karir sebagai Engineer di Shipyard (Galangan Kapal), perasaan jenuh pun mulai menyelimuti fikiran. Dan pindah perusahaan adalah solusi terbaik untuk menghilangkan rasa jenuhku. Yip..yip.., aku pun mendapatkan pekerjaan baru di Perusahaan lain. Dan ajaibnya, Perusahaan baruku tersebut bergerak di bidang yang sangat kuhindari semasa kuliah, dunia Offshore. Ketika pembagian konsentrasi jurusan di kampus, aku tidak mau memilih bidang offshore, aku lebih tertarik dengan Teknik Pantai. Semua tugas-tugas yang berhubungan dengan Konstruksi Bangunan Lepas Pantai (offshore), asli hanya rekayasa semata. Tak ada yang kukerjakan secara profesional ala mahasiswa (semoga dosenku gak ada yang baca. Hehehe).
Saat kita mau sedikit memberi ruang pada diri untuk sejenak berfikir akan jalan yang telah tertempuh selama hidup, akan banyak hal yang membuat kita menertawakan dan mengejek diri sendiri, meskipun akan ada air mata, tapi itu bukanlah air mata untuk meratapi nasib, tapi itu adalah air mata kesyukuran. Bersyukur dengan segala kasih sayang Allah yang melimpah ruah di sekitar kita, yah, betapa Allah begitu mencintai kita sehingga diberikan kesempatan untuk melalui setiap bagian-bagian hidup yang kita miliki, meskipun itu kita benci. Sederhana saja mungkin bagi orang lain, tapi mereka adalah orang lain, bukan mereka yang rasa, tapi kita, karena itu adalah hidup kita.
Dari sini, banyak hal yang menimbulkan kesadaranku akan Kekuasaan Allah sebagai Sang Penggenggam hidup. Terlalu banyak yang kuhindari dalam hidupku, terlalu banyak hal yang kubenci dalam hidupku, namun dari semua yang kuhindari dan kubenci itu, kebanyakan itu jugalah yang menjadi jalan hidupku. Karena itulah, kesadaran bahwa, akan ada hikmah dari setiap peristiwa dalam hidup, membuatku selalu berusaha untuk menikmati tiap bagian-bagian hidup yang kulewati. Toh, setiap cobaan dan ujian yang pernah diberikan Allah padaku masih bisa membuat diriku tetap berdiri seperti saat ini.
Allah memang tidak pernah salah dan tidak akan pernah salah dalam menempatkan kita pada suatu kondisi. Tinggal bagaimana kita bisa merangkai hati untuk tetap memelihara prasangka baik pada-Nya. Jika hari ini tangis, bukankah tangis itu tidak selamanya? Bukankah hidup telah kita lalui lebih banyak dalam tawa daripada air mata? Lalu mengapa menumbuhkan keraguan pada-Nya? Jika hari ini kita hanya mempunyai sepotong roti, bukankah kita pernah memiliki semangkuk nasi di rumah?
Sekarang ini, aku hanya mencoba menjalani rangkuman dari mimpi-mimpi yang pernah kubangun, rangkuman dari kata yang pernah terucap dan rangkuman dari lintasan fikiran yang pernah melintas. Entah itu adalah hal yang kubenci atau itu adalah sesuatu yang sangat kuidamkan. Allah Sang Maha Tahu, Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Jika harus tetatih menjalani takdir-Nya di hari ini, bukankah sesudah gelap matahari tidak pernah mengingkari janjinya untuk menemani pagi menerangi dunia?
Allah, syukurku tak akan pernah cukup atas segala karunia yang Kau beri, namun ijinkanlah setiap tarikan nafas ini adalah tahmid dan degupan jantung ini adalah takbir, agar aku selalu mampu merasai kehadiran-Mu sebagai sandaran hidupku yang Agung.

24 Nov 2011

Kesempatan & Pilihan

Ketika engkau bertemu orang yang tepat untuk dicintai,
Ketika engkau berada di tempat dan waktu yang tepat,
Itulah kesempatan.

Ketika engkau bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik,
Itu bukanlah pilihan, itu adalah kesempatan.

Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan,
Itupun adalah kesempatan.

Bila engkau memutuskan untuk mencintai orang tersebut,
Bahkan dengan segala kekurangannya, itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Ketika engkau memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, itu adalah pilihan.
Bahkan ketika engkau menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, pandai, dan kaya daripada pasanganmu dan engkau tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik, datang bagai kesempatan pada kita.
Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.
Pilihan yang kita lakukan.

Nasib membawa kita bersama.
Tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuatnya berhasil.

Ingatlah! Bagaimanapun, takdir takkan pernah tertukar. Percayalah kepada-Nya.


Batam, 111124

Sudahlah...

Kita memang berbeda, Dik! Seperti langit dan bumi, seperti timur dan barat.

Setidaknya, seperti itu yang kurasakan dari tatapan matamu.

Sudahlah, tak baik memaksakan hati.

Meskipun mimpi kita bersesuaian, namun apalah guna jika waktunya tak beririsan?

Kita sama-sama sadar, bahwa kita berdiri pada 2 kutub yang berbeda yang telah kehilangan magnetnya.

Lalu, untuk apa menyiksa hati? Toh semuanya sudah jelas, ada tembok kokoh yang menghalangi.

Kamu ingin menghancurkan tembok itu, dan aku , semakin mengokohkannya.

Berhentilah, aku tidak ingin lelahmu semakin terlukis di wajahmu.

Jangan usik hatiku dengan kerasnya perjuanganmu.

Aku takut tak mampu bertahan, kemudian goyah dan menghancurkan tembok itu.

Jadi, kumohon! Cukuplah sampai hari ini saja.

23 Nov 2011

Lepaskan Aku!

Kamu egois, Dik! Kamu hanya memikirkan perasaanmu sendiri. Pernahkah kamu berfikir akan apa yang kurasakan saat ini setelah semua yang kamu lakukan padaku? Kamu datang dalam hidupku, membawa sepotong hatimu. Tapi kini, kamu tiba-tiba ragu. Jika kamu memang tidak pernah siap, lalu mengapa kamu membebani jiwaku dengan hatimu? Aku tidak pernah memintamu untuk datang, aku tidak pernah meminta hatimu untuk menyimpan namaku, tidak pernah. Kamu bilang tak bisa UNTUK SAAT INI, lalu mengapa kamu tidak menghilang saja dari duniaku?

Pergilah, Dik! Lepaskan aku! Jangan memaksaku menunggumu. Biarkan aku terbang bebas bersama mimpi-mimpiku. Karena di sini, tak akan ada lagi tempat untukmu. Selamanya!!!

19 Nov 2011

Secret Admire

CERPEN: Secret Admire (Bagian 2)



Sebelumnya, aku tidak pernah mengijinkan hati dan perasaanku terpaut pada satu sosok. Meskipun sering kali rasa kagum terlintas dalam benakku pada beberapa orang yang kutemui dalam hidupku, namun selama ini aku selalu berhasil mengelola hatiku. Inginku masih tak mampu mengalahkan idealismeku, tak ada cinta sebelum ada ijab kabul terucap. Tapi kali ini, kurasakan ada yang berbeda. Aku yakin bahwa rasa ini bukan perasaan cinta, hanya saja aku merasa ada sesuatu darinya yang membuatku mau memberikan sedikit waktu untuk berfikir. Bahkan, akhirnya aku menyerah hingga melakukan sholat istikharoh pertamaku.

Lagi-lagi, aku merasa ini bukan perasaan istimewa yang telah lama kusimpan rapih dalam hidupku. Hanya saja, dia datang di saat hatiku mulai memberi ruang bagi diriku untuk memikirkan pernikahan. Jika dulu, setiap cinta yang datang, kupastikan akan kutolak, siapa pun dia. Entah mereka yang aku kenal atau sama sekali belum aku kenal, aku selalu menolak. Dan kali ini, dia datang dengan membawa harapan untukku. Aku bingung, rasaku ingin menolak, namun aku tak mengerti, mengapa mulut ini susah untuk mengatakan tidak.

Aku mulai memikirkan nasehat teman-teman yang selalu menyalahkan sikapku. Aku memang terlalu egois karena tidak pernah memberi kesempatan kepada orang lain dan diriku sendiri untuk sedikit saja maju melangkah satu atau dua langkah untuk mengenal orang lain lebih dalam. Toh kata mereka belum tentu harus berujung dengan pernikahan, jika memang tidak cocok. Namun, bagiku, aku tidak menginginkan banyak proses ta’arruf dalam hidupku. Jika bisa, aku hanya ingin sekali saja melakukannya dalam hidupku dan berharap itu pulalah yang terakhir. Namun, itu memang hanyalah inginku semata. Bagaimanapun semuanya telah ditentukn oleh Allah dalam takdir-Nya.

Muhammad Aslan, dulu ia selalu dipanggil Aan oleh teman-teman angkatannya. Dia setahun dibawahku, intensitas pertemuan kami memang cukup banyak dalam beberapa syuro’ (rapat, red) dan karena memang kami satu jurusan di kampus. Dari syuro tersebut, aku cukup mengenalnya, tahu sedikit karakternya dan pola fikirnya. Dan saya yakin begitupun sebaliknya. Meskipun kebanyakan pembicaraan diantara kami selalu di balik hijab bersama dengan ikhwan akhwat lainnya dan kami tidak pernah membahas masalah pribadi di sana.

***

Tak ingin larut dalam perasaan dan beberapa fikiran yang cukup mengganggu, akhirnya kuputuskan menulis surat melalui inbox facebooknya. Sebenarnya kami sudah sepakat menunjuk satu orang sebagai perantara kami, namun aku tetap berinisiatif untuk mengungkapkannya melalui tulisan. Aku tak bisa mengungkapkan lewat kata untuk hal yang satu ini, aku telah terbiasa dengan hatiku perasaanku sendiri. Perasaan yang tak pernah kubagi dengan siapapun, bahkan itu adalah ibu kandungku sendiri. Sungguh, aku tidak mampu mengungkapkan perasaanku dengan kata.

Dalam surat tersebut, aku hanya mengisyaratkan tentang bagaimana kondisiku saat ini, tentang beberapa mimpi yang ingin kuraih di masa depan dan termasuk masalah jarak yang terbentang begitu jauh diantara kami. Aku memberinya 2 opsi, jika ingin menikah denganku maka pilihannya adalah Long Distance atau dia yang harus ikut aku ke Batam.

Tak lama kemudian dia pun membalas suratku. Tiba giliran dia meminta waktu untuk berfikir. Aku pun mengiyakannya. Sebelumnya aku memang memintanya untuk banyak-banyak mendirikan sholat istikharoh dan memikirkan setiap pertimbangan-pertimbangan akan kondisiku yang sudah kejelaskan padanya. Akupun melakukan hal yang sama, aku berfikir dan dalam doa aku selalu bermohon pada-Nya untuk diberi ketetapan hati dalam mengambil keputusan.

***

Aku memandangi sebuah masjid di hadapanku, masjid ini pernah menjadi tempatku melabuhkan kegelisahan dan kepenatannku kala masih memulai karir di Batam. Selepas sholat maghrib berjamaah, aku mendirikan sholat Istikharoh. Suara tangisku tenggelam dalam derasnya hujan yang membahasahi bumi. Aku memohon pada-Nya untuk keputusan yang terbaik. Aku bangkit dari sujud terakhirku yang panjang, hatiku tersentak dengan satu lintasan dalam hatiku. “Tidak Ra, bukan dia”. Namun, aku masih berusaha melawan kata hatiku tersebut. Mungkin aku masih butuh waktu berfikir dan beberapa kali lagi untuk istikharoh.


Semakin aku memikirkannya, justru semakin aku ragu untuk melanjutkan proses ini. Aku merasa ada benteng yang kokoh memisahkan kami, ada jarak yang tidak bisa disatukan. Rencana masa depan yang kususun rapih tak bersesuaian dengan mimpi-mimpinya. Dan aku belum siap untuk kehilangan mimpi-mimpiku, begitupun dengan dirinya. Hampir saja aku memutuskan untuk tidak melanjutkan proses ini, tapi aku tak ingin menyakiti perasaannya. Aku tidak ingin dia berfikir bahwa aku tidak bisa melanjutkan proses ini karena masalah duniawi semata. Bukan itu, aku sungguh tidak mempermasalahkan akan usianya, sifatnya, fisiknya ataupun pekerjaannya saat ini. Ini hanya masalah mimpi yang sulit disatukan.

***

Beberapa hari kemudian, dia mengirim sms memberitahuku untuk segera membaca inbox facebook-ku. Ada ketakutan menyelimuti hatiku, aku takut dia tetap bersikeras melanjutkan proses ini. Kubuka pelan-pelan facebook-ku dan membaca suratnya dengan seksama.



“Bismillahirrahmaanirrahiim.


Assalamu’alaikukum warahmatullaahi wabarokaatuh.

Alhamdulillah saya suduh berdiskusi dengan keluarga tentang masalah ini (maaf kak saya tidak bisa tanya pendapat almh.mama karena beliau sudah berpulang 2 tahun lalu)..mereka banyak memberi masukan, pengertian dan bahan pertimbangan lainnya, tapa intinya bagi mereka semua ini keputusannya kembali pada saya.

Kak... Mungkin baiknya klo saya juga menceritakan kondisi saya saat ini dan rencana-rencana saya ke depanya, semoga ini dapat menjedi sesuatu yang dapat memperjelas semuanya...

Sekarang ini saya sedang mendapat amanah dari keluarga untuk memegang dan melanjutkan beberapa usaha mereka. Karena usahanya masih kecil-kecilan, saya mempunyai banyak rencana untuk mengembangkannya serta mengelolanya secara profesional. Untuk memulai semua itu tentunya saya membutuhkan banyak dana dan alokasi waktu serta tenaga di sana. Kerena kebutuhan tersebut, saya harus meminjam dana dan menyediakan fasilitas yang menunjang berjalannya usaha tersebut. Lagi-lagi saya membutuhkan dana besar untuk itu. Saya ingin kelak, jika usaha ini berhasil maka kemudian saya bisa menembus pasar internasional dan memajukan para petani di daerah saya. Itulah mimpi-mimpi besar saya saat ini kak...lucu dan aneh memang, seorang engineer bercita-cita ingin menjadi pengusaha pertanian. Hehehe...

Kak...kemarin saya banyak berfikir, membuka kembali rancangan impian saya ini dalam pikiran saya, kemudian saya sadar bahwa saya telah melakukan kesalahan...bukan kak..perasaan ini tidak pernah salah...yang salah adalah betapa bodohnya saya telah terbawa oleh perasaan ini sampai tidak berpikir panjang tetang konsekwensinya..betapa bodohnya saya yang berpikir cinta hanya sebuah pengungkapan, saya tidak menyadari bahwa setelah itu cinta akan menuntut sesuatu yg lebih serius dan saya ternyata belum siap. Apa sebenarnya yg membuat saya belum siap??? Kakak lihat saja kondisi saya diatas..saya sementara mau merintis usaha, membangun pondasi kehidupan saya, disana ada rencana meminjam modal untuk biaya operasional dan kebutuhan lainnya...klo saya tetap ngotot untuk menikah..rencana itu jelas batal...kak..klo pun saya memksakan ini semua, saya tidak hanya mendzalimi diri sendiri tapi juga mendzalimi kakak,keluargaku,keluaarga kakak, dan banyak lagi orang yang akan terdzalimi.

Kak, dari sini bagi saya masalahnya bukan lagi dua pilihan yang kakak berikan...masalahnya adalah saya yang tidak mampu UNTUK SAAT INI..walaupun saya juga sadar di satu sisi semampu apapun saya, dua pilihan yang kakak berikan sejujurnya masih tetap terasa berat untuk saya.

Terakhir satu hal yang perlu kakak ketahui, bahwa perasaan ini sungguh benar adanya..kekaguman ini sudah ada sejak kebersamaan di kampus, dirapat-rapat dulu..kakak yang selalu memberi solusi di setiap rapat, kakak yang klo saja adalah seorang ikhwan bahkan lebih pantas menjadi mas'ul dibandingkan saya.. Kakak adalah gambaran sosok akhwat yg paling komplit di mata saya.. terlepas dari kekurangan-kekurangan yang kakak miliki, karena bukankah tak ada yang sempurna di dunia ini? Itulah sebabnya perbedaan itu diciptakan, untuk saling menutupi dan mengisi kekurangan masing-masing.

Kak...saya sungguh mohon maaf atas kebodohan ini..saya mohon maaf telah membuat kakak terganggu beberapa hari belakangan ini hanya untuk memikirkan ini semua..saya mohon maaf atas kebodohan saya kak..tapi yang pasti saya tidak pernah merasa bodoh dengan perasaan yang saya miliki terhadap kakak..

Afwan, jika ada kata yang kurang berkenan..

Wassalam...”


Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar. Takbir bergemuruh dalam hatiku, tak terasa ada bulir panas yang membasahi pipiku. Seperti air yang membasuh jiwa pelepas dahaga, Allah menjawab keraguanku kepadanya. Yah, inilah jawaban dari istikharohku kepada-Nya. Ada kelegaan yang tak terkira dalam hati dan fikiranku. Aku mengingatkan diriku pada sebuah hadits Rasulullah SAW, “Jiwa-jiwa itu bagaikan tentara-tentara berbaris rapi; Jika saling mengetahui (mempercayai) mereka akan bersatu, dan jika saling mengingkari, mereka akan berpisah.” (HR. Bukhari).

Yah, mungkin keraguan inilah yang mengingkarinya dan Allah mengirimkan pesan pada hatinya yang baik untuk melakukan hal lain daripada memaksakan kehendaknya padaku. Kuraih HP-ku dan mengirim sebuah sms padanya, “Aku sudah baca suratnya, terima kasih karena kau mencintaiku”.

“Iya kak, saya berharap suatu saat nanti saya masih mempunyai kesempatan untuk itu”. Balasnya kemudian.

“Kita tidak pernah tahu akan rahasia yang tersembunyi di hari esok, bukankah takdir tidak akan pernah tertukar?”. Balasku padanya.

“Iya kak, i’ll put it in my mind. Forever!”.

Langit begitu cerah dengan senja memerah di ufuk barat. Akhirnya aku bisa tersenyum lepas tanpa beban di hari ini. Rabbi, terimalah rasa syukurku yang menyamudera dan menggunung pada-Mu. Aku hanyalah hamba-Mu yang kecil lagi hina yang selalu mencari keridhoan-Mu dalam setiap langkahku. Aku akan tetap menunggu sang Imam yang telah Engkau takdirkan untukku. Siapa pun dia, karena dari dulu, hari ini dan selamanya, hati ini telah menjadi miliknya. Rabbi, sampaikanlah salamku padanya, bahwa di sini ada gelombang kerinduan yang menanti untuk disandarkan dalam dermaga jiwanya yang mulia. Aku tak peduli, berapa lama lagi penantian ini, karena hatiku telah yakin dengan setiap janji-Mu.

***
Bersambung...