19 Nov 2011

Secret Admire

CERPEN: Secret Admire (Bagian 1)

Sejak sore tadi hujan terus mengguyur kota Batam, habis liqo’ (pengajian, red) aku sengaja berlama-lama tinggal di rumah murobbiyahku (guru ngaji, red), bercerita dengan teman-teman sambil menunggu hujan mereda. Kulihat jam di HP-ku menunjukkan angka 07.15, tapi rintik hujan masih setia mengantar malam. Akhirnya kuputuskan menembus hujan, jarak rumahku cukup jauh dari sini, aku takut kemaleman dan kebetulan kali ini tidak ingin melewatkan pertandingan Manchester United Vs Sunderland.
Di tengah perjalanan, fikiranku melayang tak menentu. Tak bisa kupungkiri, sebuah sms mampu mengusik ketenanganku. Namun aku tidak mengetahui siapa pemilik sms tersebut. Aku berusaha menghadirkan wajah-wajah yang menjadi tersangka dalam fikirku, namun aku juga tidak bisa memastikannya. Banyak tanya hadir dalam benakku, mungkin melebihi setiap rintik hujan yang menyapa tubuhku. Tapi, tetap saja tak kutemui jawaban pasti.
***
Aku masih sibuk dengan beberapa kerjaan di kantor, kulihat ada panggilan dari nomor yang tidak kuketahui di layar HP-ku. Aku membiarkannya saja tanpa ada fikiran tuk menerima telpon tersebut. Saat mulai senggang, aku berinisiatif mengirim sms ke nomor tak dikenal tersebut.
“Siapa ini?”, tanyaku.
“Secret Admire”, balasnya.
“Yaahhh.. Sudahlah”. Jawabku.
“Loh, gak penasaran mau tau siapa aku?”, kembali dia membalas dengan harapan aku penasaran padanya.
“Klo gitu, siapa?”
“Bukan rahasia lagi dong klo kamu tau siapa aku. Oh yah, aku pengen nanya. Misalnya, ada seorang laki-laki yang ingin mengungkapkan perasaannya terhadap wanita yang dikaguminya, bagaimana Islam memandangnya dan menurut kamu sendiri gimana?”
Kubaca baik-baik smsnya sambil berusaha mencari beberapa referensi di mbah google, tapi tak lama kemudia Managerku datang menghampiri sehingga kami terlibat dalam sebuah meeting yang cukup lama.
Kulihat ada sms yang masuk lagi. “Just one aswer, please”. Pintanya padaku yang sepertinya menunggu jawaban sms-ku.
“Tunggu yah, aku lagi ada meeting. Memangnya siapa wanita yang kamu kagumi itu? Klo kamu butuh bantuan, biar nanti aku yang fasilitasi deh”, jawabku sambil tersenyum.
“Kamu”. Jawabnya. Aku tak bisa menahan perasaanku, sesungging senyum kuhamparkan melihat balasan sms-nya, sampai-sampai Managerku berdehem memintaku serius mendengarkan arahan-arahannya.
“Dalam Islam, ketertarikan terhadap lawan jenis adalah fitrah, jadi sah-sah saja jika kamu menyukai seseorang. Yang penting, kecintaanmu itu tidak membuatmu lalai pada Allah dan rasul-Nya. Ada hadits yang mengatakan bahwa, ‘Jika seorang diantara kamu mencintai saudaranya karena Allah, maka kabarkanlah kepadanya, karena hal itu akan mengekalkan keakraban dan memantapkan cinta’. Bagaimana klo menyatakan langsung? Seingat aku dalam setiap referensi yang pernah aku baca, semuanya memakai perantara atau langsung menuju wali si perempuan tersebut. Contohnya, Khadijah kepada Muhammad yang diperantarai oleh seseorang yang dipercaya atau seperti Ali Bin Abi Tholib yang langsung mendatangi Rasulullah untuk Fatimah”. Jawabku panjang lebar.
“Bagaimana aku bisa tahu bahwa wanita tersebut telah siap untuk dipersunting? Kan malu kalau ditolak”. Balasnya kemudian.
“Yeee... Itulah pemikiran yang salah dari kebanyakan laki-laki. Bagaimana mau tahu kalau belum pernah mencoba? Lagian, klo kamu belum siap menemuai wali si perempuan tersebut, kamu kan bisa minta tolong sama orang yang cukup kamu percaya untuk menanyakan kesiapan perempuan tersebut.Klopun kamu ditolak, tak akan berkurang sehelai rambutmu. Abu Bakar pernah ditolak sama Rasulullah, Umar Bin Khattab juga mengalami nasib yang sama. Apalagi kamu, peluang ditolaknya lebih besar lagi. Hehehe.. Maaf, bercanda”.
“Jadi, klo aku mau menyatakan perasaanku sama kamu, apa harus mengikuti standar tadi yah?”.
“hehehe.. Iya dong, kalau kamu atau siapapun yang mau menyatakan perasaannya terhadapku, yah..idealnya harus seperti itu prosedurnya”.
“Jadi, ilustrasinya seperti ini.
Aku                     : Tok..tok..tok.. Assalamu’alaikum.
Bapak kamu       : Wa’alaikum salam.
Aku                     : Pak, aku mencintai anak bapak.
Bapak kamu       : Maaf nak, anakku tidak mencintaimu.
Aku                     : Gubrakkkk...”.
“Hahaha.. Kasihan”, jawabku sekenanya.
“Jadi kapan rencana kamu mau nikah? Atau jangan-jangan kamu sudah lupa nikah yah karena karir di Batam sudah sangat menjanjikan”.
Sms tersebut masih kubiarkan begitu saja, tak kubalas. Aku segera bergegas pulang ke rumah. Di rumah, aku belum berminat tuk membalas smsnya. Hingga adzan maghrib pun berkumandang. Setelah sholat maghrib dan melakukan agenda-agenda yang biasanya aku lakukan selepas maghrib, kuraih HP-ku kemudian membalas sms-nya lagi.
“Tidak mungkin ada orang yang lupa untuk menikah, aku pastinya punya rencana menikah, hanya saja yah, mungkin, the best is yet to come”. Balasku.
“Satu lagi pertanyaan terakhir, apakah bagi setiap perempuan, kemapanan (dalam hal pekerjaan dan harta) adalah hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh seorang pria ketika hendak menikah? Tolong dijawab dengan jujur”.
“Harta itu bisa dicari dengan usaha. Yang masalah itu seberapa besar kemauan dan etos kerjanya. Klo orangnya pemalas, berapapun harta yang dimiliki, yah pastinya bakal habis. Intinya, harta itu penting, karena bagaimana kamu bisa memberi jika kamu sendiri tidak memiliki apa-apa untuk diberi. Muslim itu harus kaya, ingat yah, 10 sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga hampir semuanya kaya-kaya loh”.
“Oke, jazakillah khair untuk waktunya. Yang jelasnya aku memang adalah pengagum rahasiamu. Dengan sedikit usaha kamu pasti tau siapa aku (itu pun klo kamu mau berusaha). Assalamu’alaikum”.
***
Sehari setelah percakapan tersebut, dia kembali mengirim sms yang mengatakan bahwa dia menemui kesulitan untuk mencari orang yang bisa dia jadikan “kurir” untuk memperantarai dia untukku. Aku sangat kaget, awalnya aku berfikir bahwa dia hanya meminta pendapat dariku sebagaimana teman-teman laki-laki lainnya biasa lakukan. Boleh dibilang aku memang sering menjadi tempat sampah buat teman cewek maupun cowok dalam hal memilih pasangan. Dan kebetulan, aku memang bukan tipe cewek yang cepat gEeR dengan perlakuan baik setiap laki-laki yang hadir di hidupku. Saking terlalu cueknya, aku tidak pernah menyadari bahwa ada beberapa hati yang manaruh harap padaku. Terkadang aku hanya tau dari teman lainnya atau dari pengakuannya sendiri itupun setelah dia menikah. Sikap cuek ini memang sudah menjadi pilihanku, aku tidak ingin memberikan terlalu banyak waktu dan energi untuk memikirkan sesuatu yang tidak penting untuk orang yang tidak penting pula dalam hidupku. Yah, bagiku, laki-laki yang terpenting dalam hidupku hanya tiga. Ayahku, suamiku (kelak) dan anak laki-lakiku (jika Allah menghendaki). Teman memang penting, tapi sudah sunnatullah, ada yang pergi dan ada yang datang. Aku tetap yakin, meskipun dengan sikap tidak peduliku dalam hal sensifitas terhadap ‘rasa’ terhadap lawan jenis, itu tidak menghalangiku mendapatkan banyak teman dan bergaul dengan lawan jenisku. Dan Alhamdulillah, sampai sekarang, aku merasa tak ada teman yang meninggalkanku.
***
Aku tiba di rumah dengan basah kuyup, nampak aku sangat kedinginan. Perjalanan menembus hujan dengan jarak yang cukup jauh membuatku begitu kelelahan. Aku langsung menuju kamar dan beristirahat. Ada sms yang masuk ke HP-ku dari seorang seniorku yang sudah aku tunjuk untuk menjadi perantara kami, “Orangnya adalah Muhammad Aslan, angkatan 2004. Kamu masih kenal kan?”.
Aku melongo menatap HP-ku, kubaca baik-baik sms tersebut. Aku merasa tak percaya, tapi nama itulah yang tertulis dalam sms yang aku terima. Aku sangat kaget mengetahuinya, bagaimana mungkin secret admire itu adalah dia. Dia yang dulu kukenal sebagai ikhwan yang tidak terlalu banyak bicara, dia tidak pernah berani menatap mataku ketika berbicara denganku. Dia yang dulu sering menjadi bulan-bulananku ketika ada masalah dalam dakwah di jurusan kami. Dan dia adalah adik angkatanku, bagiku, setiap ikhwan angkatan dibawahku yang kukenal ketika masih di kampus dulu sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Sekalipun tak pernah terlintas difikiranku mengharapkan sosok mereka menjadi imam-ku.
Astaghfirullah,,, aku menangis. Kuambil air wudhu dan mendirikan sholat sunnat 2 raka’at. Lagi-lagi aku tak bisa menahan air mata di hadapan-Nya. Aku mengadukan segala kegundahanku pada-Nya. Aku sungguh tidak mengerti apa yang membuatnya mengagumiku, dan sejak kapan rasa itu menghampiri hatinya. Aku berpasrah dalam keheningan malam di atas sajadah lusuhku. Tak ingin hal ini mengganggu fikiranku dan fikirannya. Malam ini, aku hanya ingin berkhalwat dengan Tuhan-ku. Menikmati hidup dalam buaian kasih-Nya, merasakan keindahan hati berdamai dengan-Nya. Kupasrahkan pada-Mu yaa Allah, karena yang terbaik adalah yang datangnya dari sisi-Mu.
***
Bersambung...


18 Nov 2011

Time Is Not Money

Ketika masih berstatus sebagai mahasiswa, boleh dibilang hampir tiap hari saya bisa bersedekah. Meskipun nilainya sedikit dan duitnya masih dari subsidi orang tua, tapi saya selalu berusaha menyisihkan setiap sisa ongkos angkot tuk disedekahkan. Klo tidak bersedekah, rasanya gimanaaaaa gitu. Dan saya sangat bersyukur dan berterima kasih yang sebesar-besarnya pada seorang kakek tua yang selalu nongkrong setiap paginya di sekitaran kampus, tepat di bawah pohon yang selalu saya lewati ketika menuju Fakultas Teknik. Kakek tua tersebut memberikan saya kesempatan dan kemudahan dalam bersedekah, sehingga saya tidak membutuhkan waktu dan tenaga termasuk uang untuk menyalurkan niatku tersebut. Namun, beberapa tahun terakhir, kakek tua tersebut tidak pernah muncul lagi. Kesempatan bersedekah pun menjadi sangat sedikit, karena jarak antara kampus dan tempat tinggal saya cukup dekat. Akhirnya, peluang bertemu pengemis sangat tipis.
Dulu, saya selalu iri pada mereka yang sudah mempunyai penghasilan sendiri, “pasti mereka bisa bersedekah lebih banyak dibanding diriku”, begitu fikirku. Akan tetapi, setelah saya bekerja dan sudah memiliki penghasilan sendiri, buat digunakan untuk keperluan sendiri pula, ternyata fikiranku salah. Kesempatan dan keinginan bersedekah malah semakin kendor, mungkin karena kebutuhan yang semakin mananjak tinggi, mungkin juga karena budaya hedonisme yang semakin menggerogoti kantong, atau mungkin karena iman yang mulai melemah. Namun, sesaat saya berfikir, ada hal yang lebih dari alasan tersebut, yaitu waktu.
Terkadang, waktu tidak memberi kita kesempatan. Ada kalanya, kita sudah membulatkan tekad, beberapa persiapan sudah kita lakukan, namun tetap saja tidak bisa terwujud menjadi laku, dan semua itu dikarenakan waktu yang tidak mengijinkan. Ketika pulang kerja, biasanya saya sengaja mengambil rute yang mempunyai beberapa lampu merah yang di sana memilki banyak pengemis. Tapi keinginan bersedekah tetap sulit terwujud, setiap kali ingin memberikan duit, bunyi klakson sudah bergemuruh di belakangku. Lagi-lagi saya tidak punya waktu, bukan karena tidak punya duit.
Kemudian, saya kembali berfikir. Mencoba merunut beberapa bagian hidup yang terlalui selama di Batam. Ketika masih bekerja di tempat lama, meskipun penghasilannya pas-pasan, tapi saya selalu punya waktu untuk berkumpul dengan teman-teman. Anggapan awal kami, hanya karena gak ada duit baru kami gak bisa ngumpul. Tapi, pada akhirnya, fikiran tersebut terbantahkan lagi. Setelah masing-masing kami bekerja di Perusahaan baru, dengan penghasilan yang berkali-kali lipat dari yang dulu, ternyata, kami semakin susah ketemu, meskipun hanya sebentar. Lagi-lagi bukan karena masalah duit, tapi masalah waktu.
Jadi, salah kalau orang mengatakan bahwa waktu adalah uang atau uang adalah waktu. Karena tidak semua waktu yang kita miliki bisa diubah menjadi uang dan uang pun tidak bisa membeli waktu. Seandainya ada toko yang menjual waktu, saya pastikan toko tersebut akan menempati urutan teratas yang berpenghasilan tertinggi di dunia. Bank adalah toko uang, tapi penghasilannya tidak lebih bayak dari mbah Google dan lain-lain...
Buat yang menjadikan uang sebagai raja di dalam hatinya, makan tuh duitmu, akan ada saatnya dimana duitmu tidak mampu melakukan apa-apa untukmu. Jadi, tidak usah terlalu pelit, tapi jangan boros juga (nasehat buat diri). Manfaatkan duitnya selagi ada, uang bisa dicari setelah habisnya dengan usaha, tetapi waktu tak akan pernah kembali walau apapun usaha yang kita lakukan. Seandainya uang lebih tinggi kedudukannya daripada waktu, tidak mungkin di dalam Al-Qur’an Allah mengatakan “Demi Masa”, akan tetapi mungkin “Demi Uang”.
Uang itu penting, waktu itu jauh lebih penting, usaha pun juga sangat penting, tapi tidak cukup hanya dengan usaha keras saja. Orang sukses selalu memikirkan jauh ke depan atau beberapa tahun ke depan sementara kita kebanyakan berfikirnya hanya untuk hari ini saja. Perlu kita sadari bahwa perbedaan antara 1 hari dengan 1 tahun adalah 365 hari, jadi ketika ingin mendapatkan lebih banyak maka bekerjalah lebih banyak dari orang lain lakukan, berfikirlah lebih dari orang lain dan pahamilah akan apa yang kita lakukan agar kita tidak terjebak pada tujuan materi semata yang sifatnya semu.
Dan sedihnya, weekend ini saya tidak bisa berlibur ke Trikora bersama teman-teman. Lagi-lagi masalahnya bukan karena duit, tapi karena tidak memiliki waktu. Jadi, buat kalian yang memiliki waktu luang, manfaatkanlah dengan baik, lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Karena 1 detik yang telah berlalu, selamanya tidak akan pernah kembali, dan ketahuilah bahwa kerja-kerja hari ini tidak akan bisa digantikan dengan kerja-kerja di hari esok, segala sesuatu mempunyai masanya. Karena waktu tidak akan pernah menunggu.

8 Nov 2011

Pinang Aku dengan Bismillah...

CERPEN :

Pagi mengantar kedamaian menelisik jiwa, diiringi jentik irama hujan menyuarakan nada sendu seperti awan yang menutupi wajah matahari. Kupandangi titik-titik putih yang membentuk garisan air jatuh membasahi tanah dibalik jendela kamarku, “hari libur yang indah”, gumamku dalam hati. Aku segera beranjak ke garasi, niatku sudah bulat untuk mencuci mobilku yang sudah hampir tak pernah dimandikan secara layak, hanya air hujan dan debu jalanan yang selalu memeluknya di setiap perjalanannya membersamaiku meniti jalan-jalan di kota Batam.
“Nina, ada telpon”, suara mbok Asih dari dalam rumah memecahkan konsentrasiku yang tengah asyik menghayal sambil nyuci mobil. Si mbok menyodorkan HP padaku, “Dari siapa mbok?”, “Ini, mas Kamil”. “oh, makasih yah mbok”.
“Hallo...”, sapaku. “Assalamu’alaikum”, terdengar salam dari Kamil. “Wa’alaikum salam warahmatullaah”, jawabku. “Na, kamu udah download WhatsAap kan? Teman-teman pada ngegosipin kamu tuh di sana”. “Gossip apa?” Tanyaku penasaran. “Kamu ada hubungan apa sama si Imam?”. “Imam... hubungan apa, ya temanlah, sama seperti kamu dan lainnya”. “Ah..yang benar, sepertinya Imam suka deh sama kamu Na. Udah, kalian jadian aja. Dia kan baik”. “Jadian dari Hongkong, kamu ini, omongannya asal banget”. “Hahahaha.. Kali aja kamu juga suka sama dia”. Aku paling sebal kalo udah dengar si Kamil ngakak menertawakan kejombloanku.
Akhir-akhir ini aku memang banyak diskusi sama Imam di Facebook melalui berbagai koment di statusku, di status dia ataupun status teman-teman lainnya. Dengan usia kami yang rata-rata 26 tahunan ke atas, sudah bekerja dan masih lajang, omongan tentang pernikahan sudah menjadi tema yang sangat populer bagi kami.
Sebagai perempuan yang berasal dari Sulawesi, masyarakat Indonesia mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah “uang panaek” alias uang pinangan yang merupakan salah satu keberadaan hukum adat yang berlaku di masyarakat Sulawesi. Tak jarang kita temui pernyataan dari orang-orang di luar adat Sulawesi yang mengatakan bahwa perempuan Sulawesi itu mahal, maharnya mahal. Padahal yang sebenarnya adalah, mahar dan uang panaek itu berbeda. Mahar, sebagaimana dalam hukum Islam dan uang panaek adalah ketentuan adat. Jadi, dua hal tersebut sangatlah berbeda. Wah...makin mahal dong, kan mesti menyiapkan mahar dan uang panaek sekaligus.
Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa uang panaek selama ini sangat memberatkan dan membebani, sehingga tak jarang sejumlah pasangan yang mempunyai niatan menyegerakan pernikahannya terhalang oleh adat tersebut, bahkan banyak rencana pernikahan yang batal. Namun, tidak sedikit juga masyarakat yang menganggap bahwa uang panaek itu mempunyai banyak nilai positif. Salah satunya adalah, dengan nilai uang panaek yang tidak sedikit tersebut, maka semua orang akan berfikir, bukan berfikir untuk tidak menikah, tapi berfikir untuk menjaga niat baiknya yang terbangun di atas keseriusan dan kesungguhan memulai berumah tangga. Sehingga, ketika dalam berjalannya rumah tangga yang diarungi bersama ada konflik-konflik yang cukup mengganggu, maka kemudian tidak akan mudah mengucap kata cerai atau dengan gampangnya ingin berpoligami karena ia tau benar bagaimana kerasnya ia berjuang menuju pintu pernikahan.
Secara umum, uang panaek tidak memiliki standar pasti. Umumnya, hanya ditentukan oleh status sosial, pendidikan ataupun karir sang perempuan. Ketentuan tersebut tidak mutlak adanya, seiring dengan kemajuan zaman, ritual adat pun semakin ditinggalkan, termasuk dengan ada tidaknya atau besar tidaknya nilai uang panaek. Jika kedua belah pihak telah sepakat dan tidak terlalu mempersoalkan masalah uang panaek, maka prosesnya bisa lebih simple dan cepat.
Aku sendiri merasa cukup galau dengan keluarga besarku yang menginginkan nilai uang panaek yang cukup tinggi. Sementara, jauh dari lubuk hatiku tak ingin mempersoalkan masalah uang panaek. Inginku hanya mendapatkan pendamping yang faham dengan agama. Tidak lebih. Aku tidak peduli dengan fisik yang indah, yang kubutuhkan hanyalah tempat untukku bersandar dalam pelukan lelaki tercinta. Aku tak peduli dengan harta, yang kubutuhkan adalah tanggung jawab lelaki sejati untuk hidupku dan keturunanku kelak. Aku tak peduli dengan status sosial, yang aku butuhkan hanyalah kebaikan ucap dan laku dari lelaki yang akan menjadi imam-ku nanti.
Aku termenung di dalam kamar, sayup-sayup musik instrument mengalun pelan mengiringi fikiranku yang melayang jauh. Imam, lelaki yang begitu baik menurutku. Dia cukup pendiam dan lumayan enak dipandang mata. Karirnya pun cukup sukses dibandingkan teman-teman lainnya semasa kuliah dulu. Dan akhir-akhir ini kutahu dia begitu bersemangat belajar agama. Sebagai teman, aku sangat bahagia untuk mengetahuinya. Sebagian besar teman-temanku sering godain kami, bahkan secara terang-terangan mereka menjodoh-jodohkan kami.  Aku menanggapinya biasa-biasa saja. Aku tidak lantas ngambek atau memutuskan tali silaturrahim dengan Imam. Aku selalu berusaha sebiasa mungkin menanggapi setiap pembicaraan yang mengarah ke aku dan Imam. Namun seiring berjalannya waktu dan banyaknya dukungan dari teman-teman, kurasakan ada perubahan sikap dari Imam. Dia mulai sering sms bahkan menelponku dengan alasan yang gak penting. Aku khawatir dengan perubahan sikapnya, aku takut dia kecewa jika yang dia rasakan adalah tidak pernah sama dengan yang kurasakan padanya.
Kuhadirkan wajah Kamil, kucoba fahami setiap kata dan nada pembicaraannya di telpon tadi pagi.  Kucerna baik-baik apa yang dikatakannya baik tersirat maupun tersurat. Kamil sangat tahu kriteria lelaki yang kuinginkan dalam hidupku. Aku yakin dia pun tahu akan perasaanku terhadap Imam, aku tak memiliki rasa padanya. Banyak hari yang telah kulalui bersama Kamil melebihi hari bersama Imam atau lelaki manapun di dunia ini. Selain ayahku, hanya Kamil tempatku menunjukkan ketidakberdayaanku sebagai perempuan mandiri. Bahwa ada saatnya aku membutuhkan uluran tangan lelaki dalam hidupku.
Aku tak pernah bisa menebak perasaan Kamil kepadaku, aku tak bisa memahami sikapnya. Setiap kali ada laki-laki yang mendekatiku, dia selalu sewot. Dalam kata ia mendukungku, namun pada sikapnya dia tidak menginginkan aku bersama laki-laki lain. Hampir tiap kali bertemu, dia selalu ceck sms-sms yang ada di dalam HP-ku. Aku tidak mengerti dan tidak pernah ingin tahu mengapa dia selalu melakukan itu. Selama ini aku tidak peduli dengan sikapnya, namun akhir-akhir ini aku merasa mulai ingin memikirkan masa depanku, masa depanku dengan laki-laki yang kucintai dan mencintaiku.
Aku merasa ada benteng yang kokoh antara aku dan Kamil, benteng yang sama-sama kami bangun dengan perasaan dan sudut pandang yang berbeda. Aku melihat Kamil jauh dari kriteriaku, sementara Kamil merasa aku semakin jauh, semakin tak terkejar olehnya lantaran kemapanan karir, ditambah lagi embel-embel uang panaek. Bila kuraba hatiku, aku pun tak mengerti akan perasaanku pada Kamil. Apakah karena perasaan nyaman, butuh atau karena aku telah terlanjur membiarkan dia masuk lebih jauh dalam hidupku. Fikiranku masih menyimpan utuh kriteria dan karakter laki-laki impianku, sementara di sisi lain, hatiku menaruh harap bahwa kelak laki-laki itu adalah Kamil.
Dan hari ini, Kamil memintaku menerima Imam sebagai lelakiku. Entah mengapa, hatiku perih mendengarnya. Ada perasaan sedih menggelayuti jiwaku, mematahkan semangatku dan mengiris hatiku. Tak terasa pipiku basah, aku tak tahu untuk apa aku menangis dan untuk siapa air mata ini. Aku merasa seperti perempuan bodoh. Bodoh karena telah membodohi diri sendiri. Aku benci perasaanku, aku benci kelemahanku yang telah membuatku jatuh pada rasa yang seharusnya tak pernah ada. Bukankah aku telah berjanji, untuk memberi hatiku, rasaku dan hidupku hanya untuk lelaki yang telah mengambil sumpah pada Tuhannya untukku? Dan kini, aku lalai.
Setahun berlalu, kudengar Imam telah menikahi adik angkatan kami di kampus dulu. Sementara Kamil, terakhir kudengar kabar ia bekerja di Dubai. Kami sama sekali kehilangan kontak. Karena sejak hari itu, aku telah menutup account Facebook-ku selamanya, termasuk mengubur perasaanku pada Kamil.
Hari ini, aku sudah memutuskan meninggalkan Batam dan kembali ke Sulawesi. Aku akan segera menikah dengan laki-laki yang telah dipilihkan oleh kedua orang tuaku. Jantungku berdetak kencang saat kudapati nama laki-laki yang tertulis dalam undangan pernikahanku adalah Kamil. Sejuta tanya bercokol satu persatu dalam fikiranku, bagaimana mungkin ceritanya seperti ini.
Kucoba menahan diri untuk tak melirik wajahnya saat ia memasang cincin di jariku. Kucium tangannya dan kemudian dia mencium keningku lama, sangat lama, seperti banyak kata yang ia sampaikan dari kecupan dan genggaman erat tangannya. Aku tak bisa menahan luapan air mataku, kuhamburkan tubuhku ke dalam pelukannya. “Mengapa begitu lama? Haruskah dulu aku yang memintamu tuk meminangku meskipun kamu hanya memiliki Allah kala itu?”. Tanyaku pada Kamil dengan isak tangis yang mengharu. “Maafkan aku Na”.
Banyak mata memandang kami kebingungan, banyak tanya melihat kelakuan kami. Tapi kami tidak memperdulikannya. Kami tetap saling berpelukan, menumpahkan gelombang kerinduan pada dermaga jiwa yang kini bersatu dalam ikatan pernikahan.
“Dulu, aku pernah mencintai satu pria sebelum kamu menikahiku”. “Siapa???” Tanya Kamil sambil melepas pelukannya. Kupandangi wajahnya dalam-dalam. Kuraih tangannya dan menciumnya. “Pria itu adalah kamu, sayangku”. Kami saling tersenyum dan kupeluk lagi tubuhnya.
Jodoh, satu kata yang sangat misterius, namun ia selalu menjadi bagian pencarian hidup yang menggairahkan. Jodoh, ia selalu membawa satu jiwa menuju satu jiwa lainnya untuk kemudian bertemu dan bersatu dalam takdir yang telah dituliskan Tuhan dalam kitab Lauh Mahfudz-Nya.

27 Okt 2011

TENTANG CINTA

Berbicara tentang cinta sejati, sejatinya yaa tentu saja hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Tapi bagaimana dengan cinta sejati terhadap sesama manusia wal khusus manusia yang kita pilih menjadi pasangan kita? Sejauh mana dan sedalam apa rasa kita terhadapnya? Aku sih belum merasakannya (secara belum nikah), tapi kriterianya sudah terpola dalam fikiranku. Cieeeeeee.... yang kayak mana sih? Hehehe.. Ada deh, tapi sebelum aku bercerita panjang lebar, diriku pengen menguraikan satu kisah terlebih dahulu. Sebuah kisah cinta yang sangat baik untuk kita ambil ibrahnya.
Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:
Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.
Bisa dibayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam pun tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.
Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”
Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata: “Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)
Kasihan yah nasib si Laila, habis manis sepah dibuang. Trus, ada gak yang kasihan sama si Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?. Moga-moga aja gak ada diantara kita dan pembaca yang sholeh dan sholeha yang mengalaminya. Na’udzubillah deh...
Kata nenek moyang kita, “cinta itu buta”, nenek moyangnya orang Arab bilang, “Cintamu terhadap sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli”. Perhatikan saja setiap jengkal tanah di sekitar kita, kebanyakan diisi sama orang-orang yang “buta” ama “tuli”. “Buta” karena tidak mampu lagi membedakan antara yang baik dengan yang salah, pake pakaian minimalis, dan mesranya minta ampun, merasa dunia hanya milik berdua, jadi yang lain dak nampak karena sudah “buta”. Dinasehatin, gak bakal mempan. Punya telinga tapi gak bisa mendengar, kan memang udah “tuli”.
Biasanya yah, klo hubungan cinta masih terlarang alias belum halal, semangatnya minta ampun menggeloranya. Seperti itulah setan menggiring hati dan fikiran yang lebih dikuasai oleh hawa nafsu, jiwa terhanyut dalam badai asmara haram. Tapi, giliran cintanya udah sah, udah halal, tau-tau kebanyakan pengen cerai, atau malah pengen nambah istri 2, 3 dan seterusnya dengan alasan mengikuti sunnah. Padahal, kebanyakan yang mengatakan pengen mengikuti sunnah itu hanya akal-akalan nafsunya saja. Gimana caranya mau mengukur niat itu murni untuk ibadah klo hati sudah memiliki pilihan dan wajah seseorang sudah menari bebas difikiran?
“Seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih).
Siapa sih yang tidak menginginkan wanita cantik menjadi pendampingnya bagi setiap laki-laki, dan perempuan mana yang menolak jika yang menawarkan cinta adalah lelaki bak artis Korea? Akan tetapi, dalam perjalanannya, cinta itu tidak cukup hanya dengan tampang saja, cinta itu tidak cukup hanya dengan kedudukan saja, cinta itu tidak cukup hanya dengan harta saja dan cinta itu juga tidak cukup hanya dengan agama saja. Lo, bukannya kita disuruh sama yang bagus agamanya? Iya, memang. Tapi, yang agamanya gimana dulu? Meskipun dia berlabel ustadz/ustadzah, belum tentu bisa menjadi pilihan utama. Contohnya tuh, si ustadz yang ngaku-ngaku ta’arruf tapi tak ada bedanya dengan pacaran. Gelar boleh saja ustadz, tapi akhlak belum tentu menjamin.
Temans, bila dirimu mencintai pasanganmu karena kecantikan atau ketampanannya, sungguh di luar sana masih banyak yang lebih tampan dan lebih cantik darinya.
Jika dulu cintamu bersemi karena kekayaannya, ketahuilah, harta tidak akan pernah memuaskanmu?
Jika cinta itu tumbuh karena kedudukannya yang tinggi, bukankah tak ada yang abadi di dunia ini?
Namun, jika hatimu terlanjur terpaut dan terbelenggu cinta kepada seseorang yang bukan suami atau istrimu, maka ada baiknya dirimu menguji kadar cinta yang kamu miliki. Kenalilah perasaanmu, rabalah hatimu, ukurlah sejauh mana kesucian dan ketulusan cintamu kepadanya. Duduklah sejenak dan bayangkanlah saat dirimu mendapati kekasihmu dalam keadaan hitam legam, gigi sudah ompong, badan kurus tinggal tulang, pakaian kumal tak terurus yang tinggal di rumah gubuk bak kandang kambing. Adakah cinta itu menggelora sedahsyat yang kamu rasakan saat ini???
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)
Karena itu, kesucian cinta hanya akan kita dapati dari hati yang dipenuhi keimanan yang kuat kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta seperti ini akan senantiasa bersemi, tak akan lekang oleh waktu, tak akan habis dimakan usia, tak akan luntur karena hujan dan tak akan pernah putus walau ajal telah menjemput. Tak inginkah kamu mengharapkan agar kekasihmu tetap setia mencintaimu meski telah tua renta bahkan telah menjadi penghuni kubur?
Bukan karena materi, bukan karena kedudukan dan bukan karena wajah yang rupawan, tapi akhlak mulia dan keimanannya yang luruslah yang mampu melahirkan cinta yang suci nan abadi dalam keberkahan Allah.
Wallahu a’alam...

21 Okt 2011

Untukmu Ibu...

Ibu...
Jika ucap bibirku tak mampu mengungkapkan rasaku padamu, maka dengarlah kata hatiku, sungguh engkau telah menetap di sana.

Jika tatap mataku tak bisa memancarkan makna, maka pandanglah jauh isi kepalaku ini. Sungguh tak ada lalai wajahmu mengisi pikiranku.

Jika sikapku tak menyiratkan cinta dalam rasamu, maka ketahuilah bahwa semua perjuanganku ingin kupersembahkan padamu.

Ibu...
Aku tahu, air mata sesalku tak akan pernah sebanding dengan air mata kesakitanmu karenaku. Tapi, tahukah engkau? Di sini dadaku disesakkan rasa cinta yang besar mengisi hatiku untukmu.

Aku tahu, keringatku tak akan pernah menyamai peluhmu membesarkanku. Tapi tahukah engkau? Di sini tersimpan rapih mimpi indah memberimu mahkota di surga-Nya kelak.

Aku tahu, lelahku tak akan pernah menggantikan waktu untuk penjagaanmu yang tidak mengenal kata henti. Tapi tahukah engkau? Di sini beribu langkahku menuju impian terbesarmu.

Aku tahu, doa-doaku untukmu tak akan mampu melampaui bilangan namaku dalam sujud dan tengadah tanganmu. Tapi tahukah engkau? Di sini kusebutkan namamu dalam setiap ibadahku pada-Nya.

Aku tahu, kasih sayangku tak akan bisa melebihi kasih sayangmu padaku. Tapi tahukah engkau? Di sini, di hati ini, di setiap helaan nafas ini, ada cinta yang tak akan pernah habis untukmu.

Ibu..
Maafmu adalah harapku.
Doamu adalah pelitaku.
Cintamu adalah kekuatanku.
Dan..
Ridhomu adalah surgaku.

Ibu, jika kelak aku telah mencintai orang lain lebih dari yang engkau rasakan. Maka ketahuilah, tempatmu tak akan pernah tergantikan.
Karena engkau adalah ibuku..

20 Okt 2011

Hikmah: "Menunggu, Tidak Selamanya Melelahkan"

"Al-hikmatu dhaallatul mu'min, annaa wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa" (Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya)...

Baiklah, hari ini saya akan mencari hikmah lagi
— at Nagoya hill, Batam

Seperti itulah update-an status yang menghiasi dinding Facebook-ku di hari ini. Dan Subhanallah, Allah segera menemukanku pada niat tersebut. Aku menyegerakan diri berangkat lebih awal dari jam istirahat kantor. Tak ingin lagi mendapatkan antrian panjang membayar tagihan air di kantor ATB Nagoya seperti kemarin yang pada akhirnya membuat waktu istirahatku habis namun belum mendapat giliran.
Aku melajukan motorku, jalan-jalan masih cukup lengang dari biasanya. Setelah melewati Masjid Baytus Syakur, kulihat lampu merah berganti hijau, 20 detik bagiku dan kendaraan lainnya untuk mengejarnya sebelum kembali memerah. Antrian mobil kira-kira sepanjang 25m, aku mencoba mengambil sisi paling kiri yang merupakan lajur untuk pengendara yang hendak mengambil arah ke kiri. Tentu saja, kecepatan motor aku naikkan sedikit dari biasanya demi melalui lampu hijau tersebut. Namun tiba-tiba, sebuah taksi keluar dari barisan antrian mengambil lajur kiri dan berhenti di sana untuk mengambil penumpang. Astaghfirullah, sontak aku kaget dan me-ngerem pake rem kaki dan cakram. Hampir saja aku menabrak taksi tersebut, untung kecepatannya normal dan masih bisa kukendalikan. Alhmadulillah, aku mengurut dada dan menghela nafas panjang. Entah apa yang difikirkan oleh temanku yang aku bonceng, yang pastinya aku khawatir, khawatir karena membawa dua nyawa orang lain.
Terkadang, dalam hidup, kita tidak cukup sabar untuk menunggu walau hanya beberapa detik saja untuk sesuatu yang lebih baik bagi diri kita. Pemandangan seperti ini sering kita dapatkan di lampu merah. Berapa banyak dan berapa kali kita harus menerobos lampu merah dengan alasan buru-buru, takut telat, dan lain-lain? Padahal, kita hanya disuruh untuk sedikit bersabar dan menunggu, menunggu beberapa detik, paling lama 2,5 menit, demi satu hidup yang kita miliki.
Hari ini Allah mengingatkanku, mengajarkanku akan arti sebuah kesabaran dan arti dari proses penantian. Bahwa selayaknya, aku tidak perlu terburu-buru dalam menyegerakan keinginanku jika ia tidak berada dalam koridor aturan alam, aturan yang telah ditetapkan oleh Allah. Yang aku butuhkan hanyalah kesabaran yang menyamudera tanpa batas di dalam hatiku, agar aku bisa memahami bahwa 1 detik penantianku dalam kebaikan dan kesabaran, tak akan pernah disia-siakan oleh-Nya. Menunggu itu indah, bila yang ditunggu adalah yang terindah..

12 Okt 2011

Masalah itu..."SEPELE"

Sejak meninggalkan dunia kampus, boleh dibilang kuantitas dan intensitas profesi saya menjadi tempat “sampah” mulai berkurang, bahkan sangat berkurang. Klo dulu, hampir tiap hari dan malam melayani antrian telepon yang cukup bikin panas telinga sampe hati (kadang-kadang), hingga jempol berasa sudah mengalami kekakuan karena sms-an. Tidak berhenti dari itu, sebagaimana kata orang bijak, “kamu tidak akan mampu memberi jika kamu tidak memiliki”, of course saya mesti rajin membaca buku, rajin nanya-nanya mbah Google, sering diskusi sama teman-teman, termasuk menambah wawasan melalui media Radio dan Televisi. Saya juga istiqomah nonton Bola, selain karena Hobby (melototin pemainnya yang guateng-guanteng), Bola merupakan “sesuatu” yang mendunia, membumi namun tidak begitu disukai di kaumku, menurutku itu menantang, dan memang salah satu parameter diriku menganggap bahwa seseorang itu  cerdas dan memiliki wawasan yang luas adalah kefahamannya terhadap dunia Bola, tapi bukan Fans fanatik yah..
Back to the topic... Hampir setiap kita pernah medapatkan curhatan teman atau sahabat tentang masalah-masalah yang tengah membelenggu mereka. Entah masalah keluarga; ibu dan anak perempuan yang tidak sepaham, suami atau istri yang jauh dari ekspektasi awal ketika memutuskan tuk menikah, atau teman kita yang lagi patah hati atau serba-serbi masalah yang ditimbulkan oleh kondisi keuangan, DeEleL. Dalam menyikapi kasus tersebut, pastinya kita memberikan respon yang berbeda, semuanya disesuaikan dengan tema curhatannya, termasuk si empunya masalah.
Berdasar pada eksperience sebagai tempat “sampah” tadi, banyak hikmah yang bisa saya ambil sebagai diri pribadi yang pada akhirnya membuat saya banyak berfikir dan mengambil banyak pertimbangan ketika hendak memutuskan sesuatu hal. Sisi positifnya banyak, namun tak dapat dipungkiri bahwa ianya juga memiliki sisi negatif. Tapi, bukan berarti saya adalah seorang pendengar yang baik, apalagi solutif. Mungkin saya lebih masuk dalam kategori trouble maker daripada seorang problem solver. But, whatever it is, insya Allah, saya selalu punya waktu untuk sekedar meminjamkan telinga.
Ada yang mengatakan, “Ki, kamu itu terlalu menyepelekan masalah. Coba klo kamu yang berada di posisiku?”. Yah, saya tidak bisa tersinggung ketika ada yang mengatakan demikian, karena saya adalah saya, dia adalah dia, dan mereka adalah mereka. Dan saya sebisa mungkin untuk menjadi diri sendiri karena saya bukan dia, juga bukan mereka. Kapasitas setiap manusia itu berbeda, termasuk dalam menyikapi sebuah masalah. Namun memang tak ada salahnya jika memberikan ruang pada diri untuk membayangkan ketika kita menghadapai masalah yang sama dengan orang yang sama, waktu yang sama dengan situasi dan kemampuan diri yang sama pula. Terkadang memberikan nasehat itu mudah, namun ketika kita yang diperhadapkan pada masalah tersebut, tak ada yang tau apa kita mampu berdiri seperti sosok yang kita inginkan dalam untaian nasehat tersebut.
Saya minta maaf jika selama ini saya terkesan “menyepelekan” masalah. Bukan berarti saya tidak memikirkannya atau mencoba menyelesaikannya. Yang namanya hidup, bukan hidup jika tak ada masalah. Tapi, bukankah terkadang satu masalah bisa menjadi solusi bagi masalah lainnya? Dan setiap kita pasti meyakini bahwa bersama masalah pasti ada solusi. Yang menjadi masalah pokok hanyalah pada penyikapan kita. Mau membelenggu diri atau membebaskan diri dari satu masalah untuk menyambut masalah lainnya. Di situlah kita dituntut untuk cerdas dalam menyepelekan masalah demi membuatnya terasa sederhana di hati.
Hal yang paling saya sepelekan adalah patah hati karena telah jatuh hati atau perasaan kecewa yang menggelayuti jiwa, karena sesungguhnya kelukaan dan penderitaan tersebut disebabkan oleh dirinya sendiri. Mereka yang memelihara perasaan sakit hati dan kecewa adalah kumpulan manusia kerdil yang rela menggadai harga diri dan kemuliaannya untuk sesuatu yang hanya akan mematikan kebahagiaannya.
Ada kalanya dalam hidup kita mendapati pribadi yang rumit, jangan bertanya mengapa. Tanya saja pada setiap orang tua yang memiliki kita-kita sebagai anaknya. Orang tua yang mengambil andil besar dalam proses mencetak dan memproses cetakannya kita sebagai anak sering mengalami benturan yang kuat dalam menyikapi sifat kita, apalagi orang lain. Kita adalah Orang yang sudah jadi pola karakter dan tabiatnya, sehingga akan sulit bagi orang lain untuk mengubahnya. Mungkin karena itu jugalah alasannya mengapa kita sering dinasehatin supaya memilih teman yang baik, termasuk pasangan hidup yang baik pula, biar kita bisa membaikkan diri. Bukankah satu kebaikan akan membawa kebaikan lainnya???
Tidak semua masalah bisa disederhanakan sesederhana mungkin, tapi Allah telah memberi kita akal untuk berfikir bahwa dalam suatu masalah itu berlaku hukum kausalitas. Karena itu, kita harus pandai dalam menguraikan masalah ke dalam bentuk yang lebih sederhana. Pemilikan rasa empati merupakan pillar penting dalam pemahaman satu pribadi dengan pribadi lainnya, agar kita tidak terjebak dalam “menyepelekan” atau malah semakin membesar-besarkan masalah. Karena masalah itu ada di saat kita menganggapnya masalah. Besar atau kecilnya, itu kembali pada keluasan jiwa masing-masing pribadi.
Saat menimbang-nimbang masalah orang lain, sejenak ada baiknya tuk berandai-andai. “Seandainya mereka adalah saya dan seandainya saya adalah mereka”. Mungkin dari sana kita bisa menyelami makna yang dalam, ketika kita mampu merasakan berada pada posisi mereka. Mencoba memahami dan mengerti tentang mereka dan dimana letak kesalahan mereka, agar kita mampu menemukan kedewasaan diri menerima setiap pribadi yang membersamai langkah kita dalam menjalani hidup.

11 Okt 2011

Aku Ideal, Aku Layak

Menjadi ideal untuk diri sendiri tidaklah mudah bahkan mungkin jauh dari kata bisa, apalagi Ideal menurut orang lain. Oleh karena itu, kita tidak perlu memubadzirkan waktu dan tenaga untuk fokus pada ketenangan diri sendiri atau pada kondisi ideal yang sangat kita inginkan dalam hidup kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan selain dari hanya fokus pada proses peng-idealan diri dan keinginan. Karena idealnya kita belum tentu ideal menurut orang lain.
Namun berada dalam posisi ideal menurut kita juga amat penting, apatah lagi bila orang-orang di sekitar kita juga meng-aminkannya. Akan tetapi, sering kita dapati dalam diri sendiri atau diri orang lain yang melakukan pelayakan diri terhadap sesuatu atau kondisi yang jauh lebih baik dari yang sebenarnya ada pada diri kita. Itu masalah, masalah karena “tidak tahu diri”. Jadi, intinya adalah, bila kita mengharapkan sesuatu yang lebih baik maka kita harus mampu membuat diri kita sadar akan kualitas dan kapasitas diri sehingga kita menjadi layak untuk setiap kebaikan yang kita inginkan.
Saya sangat percaya, bahwa sesuatu yang baik itu tidak akan pernah menjadi pantas atau layak untuk diri kita bila kita tidak berusaha untuk melayakkan diri terhadapnya. Jika ingin mengambil banyak, maka jangan mengambil satu, tetapi ambillah lebih dari satu. Karena satu tidak akan pernah menjadi banyak apabila ia tunggal. Begitupun dengan usaha. Semakin banyak usaha kita, maka semakin besar peluang kita dan tentu saja semakin memantaskan kita untuk mempunyai banyak harapan. Mereka yang tidak mempunyai usaha, selamanya tidak akan pantas dan layak untuk berharap.
Intinya, jangan terlalu fokus pada kondisi ideal yang kita inginkan. Yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak usaha, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Nah, syaratnya hanya mesti punya ilmu. Gak peduli ilmu hitam ataupun ilmu putih, yang penting baik dan bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita. Karena dengan ilmu, dunia dan akhirat yang akan menyesuaikan diri dengan kita. Di samping berilmu, kita juga dituntut untuk membumikan doa dalam hati-hati kita. Karena Allah Yang Maha Baik yang akan mengangkat jiwa kita menjadi pribadi yang baik untuk kemudian dikumpulkan bersama jiwa-jiwa yang baik pula. Amin...

10 Okt 2011

Berbicara Soal Respon..

Ketika beberapa orang diperhadapkan pada satu masalah yang sama, kira-kira apa yang terjadi? Dapatkah kita diperhadapkan pada solusi yang sama pula? Atau minimal kita diperhadapkan pada mimik wajah yang sama ketika pertama kali masalah tersebut diketahui oleh beberapa orang di waktu yang sama. Saya yakin, tak ada yang bisa menjaminnya 100% bisa sama, bahkan pada mereka yang ditakdirkan memiliki saudara kembarpun, bisa memiliki respon yang berbeda.

Yah, seperti itulah adanya kita dan orang-orang di sekitar kita. Menanggapi issu-issue yang ada di lingkungan atau media juga pasti sangat beragam. Ada yang suka menghujat, ada yang mendiamkannya, ada yang ngomel-ngomel gak karuan, ada yang memilih menggudangkan Telivisi dan ada juga yang mampu mengambil sisi positif dibalik issu-issu negatif tersebut.

Saya jadi teringat dengan salah satu teman kantor saat mengantarkannya ke Nagoya Hill Mall. Ketika melewati lampu merah, kami mendapati pengendara motor yang tidak mengenakan Helm. Sontak kami berdua memberi koment, “Gila ni orang”. Kata temanku. “Iya, memang gila. Memang dia ga takut apa ditilang ma pak Polisi, di sini kan ada pos Polisi”. Komentarku. Kemudian temanku melanjutkan, “Ini orang macam punya 1000 nyawa aja. Berani-beraninya gak pake Helm”.

Di sepanjang perjalanan kami sama-sama terdiam. Cukup memberiku waktu untuk berfikir. Ternyata, kami menanggapi satu peristiwa tadi dari sudut pandang yang berbeda. Saya lebih cenderung ke arah tertib lalu lintas, sementara temanku lebih pada keselamatan diri. Kemudian saya teringat lagi dengan setiap pengendara yang suka ugal-ugalan di jalan. Dari survey yang saya lakukan pake hati, hampir semua pengendara yang tidak mengenakan Helm di jalan raya, pasti ugal-ugalan mengendarai motornya, apalagi klo bunyi knalpot-nya yang udah di modif gitu, hmmm...mereka makin berasa deh klo jalanan itu hanya miliknya sendiri, yang lain itu seperti semut aja, ada dan tiada, tancap terus. Dan berlakulah hukum 1000 nyawa tadi. Hehehe...

Tiba di depan Nagoya Hill, kami mendapati seorang BULE bersama perempuan Indonesia dengan pakaian minimalis. Hmmmm... kami saling mengingatkan tuk melihat pemandangan tersebut dan kemudian tertawa lepas. Entah apa yang difikirkan temanku tersebut. Tapi yang jelasnya, fikiranku berkata, “wahai perempuan, apa yang ada di fikiranmu???”. Klo kata kak Vina, katanya kata mas Damar, “semua harga di Batam ini mahal, yang gak mahal itu cuman HARGA DIRI”. Klo kata bang Roma, Sungguh Terlalu!!! Ckckckckck... Dunia..Dunia..

3 Okt 2011

The Good You Do Today Will be Forgotten Tomorrow

Hari ini, setelah 8 tahun, seorang teman menghubungiku via telepon. Karena masih jam kerja, aku memintanya tuk menelpon di jam istirahat. Jam istirahat masih lama, karena penasaran, akhirnya kuputuskan meng-sms dia dan bertanya dia siapa. Sebenarnya, aku sudah tau bahwa dia bukan temanku semasa kuliah dulu maupun rekan kerja. Dari namaku yang dia sebut, aku udah yakin, dia adalah teman sekolahku dulu atau boleh jadi keluargaku. Karena nama panggilan tersebut tidak pernah diberikan oleh mereka yang baru mengenalku 10 tahun terakhir ini.
Maka terjadilah sms berbalas ria yang membuat jempolku berasa kaku. Setelah saling bertanya kabar, dia masih belum menyebutkan namanya. Aku terus mendesak. Akhirnya dia mengaku sebagai teman sekelas di kelas 2 SMU dulu. Kucoba menghadirkan wajah-wajah mereka dari kaum Adam tersebut dalam Flash Back memoriku. Yang terbayang hanya segelintir orang. Aku tau, masih banyak yang belum hadir dalam lintasan memoriku.
Aku mulai merasa jenuh ber-sms-an tanpa menemui kejelasan dengan siapa aku sms-an. Aku desak lagi dia, dalam hati aku udah memutuskan klo dia dak ngaku aku bakal nge-blok nomornya, sama seperti beberapa orang tak jelas lainnya. Akhirnya dia ngasih kata kunci lagi, “orangnya yang paling bandel di kelas, ayo siapa?”. Hmmmm... Ada dua kandidat terkuat di fikiranku, “Klo bukan Atib pasti Dulla Cebo”. Balasku. “Salah satu dari nama itu”. Balasnya...
Tulisan ini bukan tuk bernostalgia kawan, tapi hanya ingin mengambil hikmah dan berbagi hikmah. Dan alangkah indahnya lagi bila ada manfaatnya buat orang lain. Termasuk diri sendiri, mengingat setiap kita memiliki masa lalu, masa-masa yang tidak mungkin terhapuskan namun bisa kita simpan lekat dalam kenangan sendiri tanpa perlu diketahui oleh orang-orang baru yang datang silih berganti dalam hidup, tentunya dengan izin Allah.
Dulu, seorang guru SMU-ku berkata, “Ada 2 hal yang membuat seorang murid itu gampang diingat oleh guru maupun kawannya, yang pertama karena kenakalannya dan yang kedua adalah karena kepintarannya”. Yah, jelas saja aku bisa langsung menebak siapa dia. Padahal, boleh dibilang sifat pelupaku sudah memasuki stadium akut. Dan aku bisa mengingatnya.
Jadi teringat sama petuah Papaku, “jangan pernah membuang tai (maaf) di jalan, karena sekali kamu ketahuan, maka setiap ada tai ditemukan di jalan, maka jangan heran jika yang menjadi tersangka utamanya adalah kamu”. Tak salah memang jika Dr. Kent M. Keith mengatakan bahwa, “The good you do today will be forgotten tomorrow”. Aku tiada mengingat banyaknya kebaikannya, tapi aku lebih mengingat setiap kenakalannya.
Mungkin kita sering mendengar seseorang menceritakan masa kejahiliaannya dengan berapi-api (saya memohon ampun kepada Allah atas yang telah berlalu karena saya pun pernah demikian), seakan-akan bangga dengan dosa-dosanya. Astaghfirullah.. Padahal dalam Hadist disebutkan “Setiap umatku akan dimaafkan, kecuali orang-orang menampakkan (perbuatan dosa). Termasuk menampakkan perbuatan dosa adalah seseorang yang melakukan dosa di malam hari, kemudian di pagi harinya – padahal Allah telah menutupi (dosa-dosa tersebut) – ia berkata kepada seseorang; kemarin saya telah me;akukan ini dan itu. Padahal Rabb-nya telah menutupi dosanya satu malam penuh, tapi ia telah membuka tabir (tutup) yang diberikan Allah kepadanya.” (Muttafawun ‘alaih).
Memang tak seharusnya kita menceritakan akan setiap aib kita yang telah lalu, bukankah Allah telah menyimpannya rapat? lalu mengapa kita membukanya setelah ia ditutup? Jika mesti harus ada yang mengetahuinya, maka yakinkanlah hati kita dengan niat yang baik, bahwa semua itu kita ceritakan semata-mata tuk mengambil ibroh (hikmah).
Just do good anyway and everywhere!!! Karena kebaikan yang kita lakukan hari ini akan dilupakan di hari esok, namun setiap keburukan atau kejahatan yang kita lakukan di masa lalu, selamanya akan dikenang meskipun kita tidak pernah melakukaannya di hari ini dan di masa depan. Biarlah mereka yang tidak mengetahui kita di masa lalu tetap pada pengetahuannya di hari ini karena bisa saja keburukan lalu menjadi beban di hari ini dan hari esok.
Rasanya, cukuplah yang mengetahuiku di masa lalu mengenangku dengan cara mereka, dengan apa yang mereka tau. Tapi besar harapanku, kelak kalian dan mereka, mengingatku dalam kebaikan, meskipun yang bisa kulakukan hanyalah memberi senyum.


Batam, 031011

29 Sep 2011

Mengapa Harus Suamiku???

Seperti deburan ombak yang menghantam karang, seperti petir yang menyambar, seperti bumi yang diguncang gempa, atau mungkin seperti kiamat telah terjadi dalam duniaku. Sakit, kecewa tak terperihkan menyelimuti hati melebihi sakitnya kelukaanku saat mendapati satu per satu dari ke-tiga putraku menghadap Sang Ilahi. Betapa hati ini tidak hancur lebur saat membaca email mas Aqil, tulisan yang hanya pantas ditujukan kepada istri tercinta, namun yang tertulis bukan namaku melainkan nama perempuan lain, perempuan yang sangat kukenal.
Aku membatin, tak sanggup membendung air mata. Kupeluk kedua putri kembarku yang mungil, mereka membasuh air mataku dengan jari-jari kecilnya seakan mereka merasakan kepedihanku saat ini. Kupandangi wajah mereka, semakin aku tak mampu menahan tangis dan kembali kudekap mereka, erat dalam pelukanku.
Malam menunjukkan pukul 10.00 WIB, kudengar motor mas Aqil parkir di teras. “Assalamu’alaikum, ma..buka pintu”. Teriak mas Aqil sambil mengetuk pintu beberapa kali. Kubuka pintu dan kudapati ia pulang bersama Ami. Aku berusaha untuk tetap tenang dan bersikap normal meskipun kurasakan ada bara api membakar di hatiku. “Kami baru selesai meeting, di jalan Ami membeli sedikit oleh-oleh buat anak-anak. Aku antar Ami pulang dulu yah”. Tak ada kata yang keluar dari bibirku, hanya senyum yang kupaksakan tuk menjawab sapaan Ami. Aku masih mematung di depan pintu hingga suara motor mas Aqil hilang ditelan malam.
Ami, perempuan yang begitu sempurna di mataku. Cantik, cerdas dan sukses dalam karir. Dia adalah adik dari sahabat mas Aqil yang juga sekantor dengannya. Aku tak pernah menaruh cemburu atau curiga setiap kali ia main ke rumah bersama mas Aqil. Kami sudah kenal lama dan aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Rumah kami searah, jadi menurutku wajar jika sekali-kali mas Aqil mengantarnya pulang setiap kali mereka harus lembur. Tak jarang memang orang-orang di sekitarku mengingatkanku melihat kedekatan mereka. Tapi aku tetap menaruh kepercayaan yang tinggi pada mas Aqil dan Ami. Aku tidak ingin mengganggu hubungan persahabatan kami dengan kecurigaanku yang menurutku tidak beralasan. Ami bisa mendapatkan laki-laki yang jauh dan lebih dari mas Aqil, fikirku.
Aku berusaha tegar di hadapan mas Aqil, aku tetap menyembunyikan perasaanku. Tapi, aku hanyalah tetap seorang wanita, aku lemah. Tak ada tempat untukku mengadukan kegundahan hatiku. Malam-malamku dipenuhi dengan air mata, aku hanya bisa mengadu pada-Nya. Karena hanya Dia yang aku miliki, hanya Dia yang mampu menenangkanku. Sementara mas Aqil tetap seperti biasa, tak ada perubahan dari sikap dan perhatiannya padaku. Hanya saja dia sering pulang larut.
Suatu hari aku mengundang Ami makan siang di rumah pada saat libur kerja. Dan Ami pun memenuhi undanganku. Saat Ami datang, aku pura-pura menyuruh mas Aqil ke pasar membeli makanan ringan. Tanpa ragu, mas Aqil langsung berangkat. Sejenak aku  terdiam menemani Ami di ruang tamu, sesekali kupandangi Ami yang asyik bercanda dengan anak-anak. “Mi, mbak mau nanya, boleh?”. Kataku memulai pembicaraan. “Iya mbak, boleh. Mau nanya apa yah?”. Jawab Ami yang kemudian menunjukkan muka serius padaku. “Mbak cuman mau nanya satu hal, dan aku harap kamu jawab dengan jujur. Apa kamu mencintai mas Aqil?”. “Astaghfirullah mbak, demi Allah. Saya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan mas Aqil. Sungguh, saya tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya. Saya berani bersumpah mbak, demi Allah saya tidak mencintai mas Aqil”. Kulihat wajah Ami begitu khawatir mencoba meyakinkanku. Aku menghela nafas panjang, menata hatiku yang berkecamuk, menahan amarah dan air mata yang saling berlomba mengusik pertahananku. “Aku pegang kata-kata kamu Mi, Allah menjadi saksi kita. Tapi, jika hal ini benar, maka semuanya aku serahkan pada Allah. Biarlah Allah yang memenuhi sumpahmu dengan kehendak-Nya”.
Hari-hari kulalui dengan sulit setelah pembicaraanku dengan Ami. Mas Aqil lebih sering marah dan semakin sering pulang larut. Pertengkaran demi pertengkaran menjadi hal yang biasa mengawali dan mengakhiri hari kami. Tak ada lagi pelukan dan kecupan mesra membuka pagi, semuanya telah hilang. Mas Aqil berubah menjadi sosok yang tak kukenal.
“Besok aku akan menikahi Ami”. Mas Aqil tiba-tiba mengagetkanku yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Jantungku seakan berhenti berdetak, mulutku kaku tak mampu berucap. Aku mematung, tak sanggup menoleh pada mas Aqil yang kemudian berlalu dariku. Kembali buliran panas jatuh membasahi pipiku, dadaku sesak tak tertahankan. Rasa perih meyelimuti hatiku. Pandanganku menerawang jauh menatap matahari yang bersinar terang menembus kaca jendela.
Air mataku mulai mengering, rasaku seakan menghambar. Kupandangi kedua putriku yang bermain dengan wajah riang. Tak ada duka di wajah mereka, mereka terlalu kecil untuk mengerti, bahwa 2 jam lagi ayah mereka akan menambah wanita lain dalam hidupnya, bukan hanya kami lagi wanita mas Aqil, tapi ada yang lain, bukan kami. “Kamu mengkhianatiku mas”. Lirihku dalam hati saat memandangi foto pernikahan kami yang terpajang dengan angkuhnya di ruang tamu.
Aku masih berdiri menatap satu per satu foto-foto kami yang menghiasi dinding rumah, kurasakan ada pelukan erat datang dari arah belakangku. Sangat erat hingga membuatku tak mampu bergerak. Aku tau itu adalah tangan kekar mas Aqil. Tangisnya memecah keheningan. “Bukankah sekarang adalah waktumu mengucap Ijab kabul untuk Ami mas???”. Tanyaku datar. “Maafin aku ma, maafin aku”. Jawabnya sembari menciumi kepalaku, lama. “Aku tidak akan pernah menukar kebahagiaan ini dengan apapun di luar sana. Aku janji ma, tidak akan ada lagi Ami atau Ami yang lain dalam kehidupan kita”. Aku berbalik memeluk mas Aqil. Syukurku memenuhi relung hati. Betapa Allah memperkenankan doaku.
Alhamdulillah yaa..

The End



*Cerpen ini terinspirasi untuk mengenang masa perselingkuhan Papaku. Kata Papa, perempuan tersebut menjadi gila 1 jam sebelum akad nikah. Akhirnya Papa memutuskan pulang and it's mean no wedding, and no new woman more in our family.

28 Sep 2011

Hikmah Hari ini


Senja di sore itu, membawaku berjalan menyusuri jalan sekitar kantor. Malam perlahan menyelimuti matahari, seperti bilangan keluh kesah menyertai langkah demi langkah kaki. Hingga ia tak berbilang lagi.
*****
Siang itu, jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Aku bergegas menuju parkiran, ingin segera menyenangkan cacing-cacing di perutku. Aku sedikit menarik mundur motorku, tp kok rasanya berat, tidak s...perti biasanya. Aku menunduk sedikit, mencurigai ban. Dan Alhamdulillah, kecurigaanku adalah nyata. Ban motorku kempes.
Aku menghela napas, dan kubisikkan hatiku dengan kata penenang hati, 'Sudahlah Ki, waktumu tuk berbagi dengan mereka yang berprofesi sebagai penambal ban jalanan'. Aku merasa senang bisa membuat hatiku mengambil sisi positifnya, dan mulai mengikhlaskannya.
*****
Aku memandangi kak Karol yang semakin jauh meninggalkanku, ia begitu semangatnya menggiring motorku. Sementara aku, aku yang hanya membawa diri mulai merasa lelah dan hampir saja menyetop ojek. Hampir saja rasa lelahku membuang rasa empatiku.

'Capek banget kak, kita jalan berapa kilo nih? Ada 2 kilo yah kak? Coba aku tau sejauh ini, mending aku tungguin kaka di office tadi'. Kak Karol hanya tersenyum sambil menawarkan air minum. Kemudian ia menertawakanku yang masih terlihat kecapean.
Aku mengalihkan pandanganku pada sosok perempuan yang mulai mengangkat paku pada ban motorku. Awalnya aku fikir, ah..mungkin dia senang aja bantu-bantu suaminya di bengkel. Namun aku semakin terpaku, pandanganku tetap pada perempuan itu, nampak di mataku ia membuka Ban, kemudian menggantinya dan sesekali ia meladeni pelanggan lain yang juga mengalami masalah pada ban motornya.
Menyadari diriku yang semenjak tadi memperhatikan perempuan tersebut sampe mangap, kak Karol kemudian berkata, 'bersyukurlah kamu, karena kamu berpendidikan'. 'Iya kak, seharusnya sy bersyukur, bukannya mengeluh seperti tadi'. Jawabku dengan nada lemah.
*****
Temans, hikmah itu memang selalu ada dimana-mana. Tinggal bagaimana kita mau mengambilnya atau malah mengacuhkannya. Hari ini Allah memberiku pelajaran bahwa berprasangka baik saja pada Allah itu tidaklah cukup jika kita belum ikhlas akan apa yang telah ditetapkan-Nya pada diri kita. Dan keihklasan itu belumlah sempurna jika kita tidak mensyukuri tiap nikmat yang kita rengkuh dalam detik waktu kita. Kini aku baru mengerti, mengapa para Sufi menempatkan rasa syukur setelah takwa, ikhlas, iman dan islam.
Dalam perjalanan pulang yang diiringu kumandang adzan maghrib, kembali aku teringat kata-kata kak Karol. Mengacak-acak kesadaranku bahwa sebisanya Perempuan memang harus berpendidikan dan profesional serta menjadi pribadi yang tercerahkan. Karena kita tidak pernah tau, sampai kapan para lelaki kita membersamai langkah perjuangan hidup.
Allah.. Malu aku mengeluh pada makhluk-Mu.
*Thanks buat kak Karol yang mau berlelah ria untukku :)

21 Sep 2011

Ku Tahu yang Ku Mau

Bandara Hang Nadim Batam nampak begitu sibuk hari ini, kulihat jam di HP-ku menunjukkan pukul 12.30 WIB. Tepat di ruang tunggu aku memandangi setiap pesawat yang silih berganti lepas landas. Sudah 1 jam menunggu dan masih menyisakan se-jam lagi pemberangkatan Batam – Jakarta untuk Maskapai Penerbangan Garuda. Wajah cantik Vivi semakin jelas membayang di pelupuk mata, lentik jemarinya seakan membelai-belai rambutku yang ikal. Kurindukan senyum manisnya, tatapan matanya dan suara manjanya yang selalu bisa meluluhkan hatiku. Aku selalu senyum-senyum sendiri kala membayangkan wajahnya.
Tit..tit..tit.. HP-ku berbunyi, 1 pesan diterima. “Udah berangkat lo? Sukses yah!”. Aku tersenyum membaca sms Mila. “Sukses juga deh dengan prosesi ta’arrufnya. Wkwkwkwk!!!”. Balas sms-ku pada Mila. Hmmm.. Tepat di waktu yang sama, Mila juga akan memutuskan siapa yang akan menjadi soulmate-nya kelak habis Ashar nanti. Aku pun berencana langsung menemui Vivi ke rumahnya segera setelah sampai di Jakarta.
*****
Mila : “Bro, doakan gw yah ato dukung gw ato apalah kira-kira konstribusi yang bisa elo berikan demi terciptanya Rumah Tangga SAMARA buat gw”.
Aku : “Emangnya elo udah mau nikah? Alhamdulillah, akhirnya ada juga kaum gw yang khilaf ngelamar elo. Hahaha..”
Mila : “Waaahhh.. Jahat lo yah, masa bilangnya gitu sih ke gw?”
Aku : “Who is the unlucky man, sizt?”
Mila : “Ah.. resek lo”...
Aku : “Hahaha, iya deh. Selamat. Kapan lamarannya?”
Mila : “Blum lamaran, kemaren kami baru abis ta’arruf gitu. 2 minggu dari sekarang aku harus memutuskan, mau lanjut ato gak”.
Aku : “Oh..Gitu, ya wes. Smoga elo dapet yang terbaik buat hidup elo deh. Amin! Eh, doakan gw juga yah. Gw mau ke Jakarta, tepatnya 2 minggu ke depan juga. Tiket sudah di tangan.
Mila : “Ngapain?”
Aku : “Jangan bilang sama siapa-siapa yah, gw mau melamar Vivi”
Mila : “What???” Vivi yang mantan lo 2 tahun lalu itu yah? Sejak kapan kalian jadian lagi?”
Aku : “Weitsss...tenang non. Kami gak jadian kok, bahkan sampe sekarang kami blum pernah ada komunikasi lagi sejak putus. Tapi gw mau ngasih surprize buat Vivi. Dan aku yakin dia gak bakal menolakku”.
Mila : “PeDe banget lo.. Udah siap patah hati tuk yang ke-dua kalinya gak?”
Aku : “Mesti PeDe dong, secara...semua yang diinginkan Vivi sekarang sudah ada padaku”.
Mila : “Astaghfirullah...Kayaknya lo mesti lurusin niat elo deh Rif. Elo mau nikah apa mau mengulang masa lalu? Elo mau nyari istri yang bisa membanggakan kamu di hadapan Allah kelak ato istri yang hanya bisa membanggakan kamu di depan teman-teman kamu karena kecantikan dan kemolekan tubuh yang dimilikinya? Elo kan udah tau dari awal sampai khatam karakter Vivi gimana, gak mungkin dia memilihmu”.
Aku : “Tapi aku sangat mencintainya Mil”
Mila : “Terserah elo aja bro. Gw gak mungkin melarang elo. Tapi klo saran gw sih, mikir-mikir lagi deh. Atau cari kek teman perempuan elo yang kira-kira masuk dalam kriteria elo, tapi bukan Vivi loh yah..”.
*****
Vivi, primadona kampus, gadis tercantik yang pernah hadir mengisi hari-hariku sejak kami sama-sama mengambil studi S-2 Project Management di salah satu Perguruan Tinggi di Bandung beberapa tahun silam. Dikumpulkan dalam satu kelompok penelitian bersama 3 orang lainnya, salah satunya adalah Mila yang juga teman kuliahku selama 5 tahun S-1, 1 tahun kerja di perusahaan yang sama, sama-sama mendapatkan Beasiswa di Jurusan yang sama dan sekarang 2 tahun kembali bekerja pada perusahaan yang sama pula. Hampir semua temanku bilang kalo Vivi menyukaiku karena ke-enceran otakku, tapi aku tidak pernah peduli bahkan tidak mau tahu. Mila juga sesekali mengingatkanku dan menasehatiku. Tapi tetap saja usaha sahabatku yang akhwat ini tidak bisa mengubah pendirianku.
*****
Entah mengapa aku lebih banyak kefikiran Mila akhir-akhir ini, ada perasaan takut kehilangan yang menghampiri sejak dia memberi tahu kabar proses ta’arrufnya. Kata-kata Mila saat Chating terakhir itu membuatku selalu berfikir. Namun hasratku pada Vivi juga semakin membuncah. Bila dirunut sampai ke palung hati, aku sendiri bingung dengan perasaanku pada Vivi. Masihkah itu perasaan cinta atau ambisi dan obsesiku saja. Lelaki mana yang tidak akan membusungkan dada bila berjalan didampingi oleh Vivi. Kesempurnaan fisik menutup semua kekurangannya. Sedangkan Mila... Mila jauh dari kriteria yang kuinginkan. Rifky Arya Putra, lelaki terganteng dan terkeren sejagad, smart, sukses, diingini oleh semua wanita cantik, tapi mendapatkan istri Ustadzah. Ahhh...bisa hancur reputasi gw.
*****
Tak terasa Pesawat akan segera berangkat, semua penumpang menuju gate pemberangkatan. Aku masih duduk terpaku, tiba-tiba perasaan bimbang menyelimuti hatiku. Seakan muncul kesadaran di dalam hati dan fikiranku. Aku tahu apa yang kuinginkan saat ini. Aku segera bangkit dan bergegas pergi, aku keluar dari gedung bandara dan mengambil Taxi. Aku membatin, Mila.. Mengapa aku begitu buta selama ini, mengapa aku tidak pernah menyadari perasaanku padamu. Kebaikanmu, ketulusanmu, kedewasaan dan senyummu selalu menyempurnakan hariku.
*****
Aku mengetuk pintu rumah Mila, tidak sabar lagi rasanya tuk mengungkapkan semua isi hatiku. “Assalamu’alaikum... Mila.. Mil”. “Wa’alaikum salam, tunggu..” terdengar suara Mila dari balik pintu. Mila : “Loh, bukannya elo udah berangkat ke Jakarta?”. Tanya Mila keheranan saat melihatku di balik pintu.
Aku : “Iya, seharusnya. Tapi ada beberapa hal yang pengen gw tanyain ke elo”.
Mila : “Apa?” Mila balik bertanya.
Aku : “Apa keputusan elo tentang proses ta’arrufmu itu?”
Mila : “Yeee..mau tauuuu aja..”
Aku : “Mil, kita menikah yuk. Kamu kan baru ta’arruf, belum dikhitbah”
Mila : “Apa? Tolong diulang sekali lagi Rif!!!”
Aku : “Mila Handini Dinata, maukah engkau menikah denganku?”
Plaaaakkk...Plaaakkk
*****
Astaghfirullah... Aku terbangun sambil memegang ke-dua belah pipiku. Alhamdulillah, ternyata hanya mimpi. Aku bangkit dari tempat tidur dan menuju cermin. Kupandangi wajahku dengan seksama, subhanallah.. Aku memang ganteng. Hmmm... Mila, mungkinkah kita bisa menjadi sahabat yang halal selamanya???

Batam, 21 September 2011

20 Sep 2011

Demi Cinta

“Sekarang kamu putuskan, perempuan itu atau ibu?”. Bentak ibu pada mas Asan.
“Bu, itu adalah hal yang tidak mungkin aku lakukan. Kalian adalah wanita yang paling kucintai dalam hidupku. Aku harap ibu bisa memahaminya”. Jawab mas Asan sambil memeluk lutut ibunya.
“kalau kamu tetap memilih perempuan itu, maka mulai sekarang kamu bukan anakku lagi. Keluar dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini”. Suara ibu bergetar dan nanar memandang diriku yang berdiri terpaku di pintu kamar.
Aku hanya bisa terisak dalam tangis, tertunduk dan tak berdaya. Aku dan mas Asan saling memandang. Sejenak kutatap wajah lelaki yang paling kucintai itu, kemudian aku terduduk dan menangis sejadi-jadinya. Mas Asan menghampiriku, memelukku dan menggenggam erat tanganku.
“Ayo sayang, kita pergi sekarang juga”. Bisik mas Asan di telingaku.
“Tapi mas...”. Telunjuk Asan menekan bibirku yang menghentikanku berbicara.
Mas Asan seraya bangkit dan meraih tanganku. Tanpa berkata satu patah kata pun, kami keluar dari rumah. Mas Asan menghentikan langkahnya di depan pagar rumah, kemudian membalikkan badan. Ia pun tak sanggup membendung air matanya. Hanya pakaian di badan dan perasaan yang berkecamuk yang membersamai langkah kami. Aku terus mengikuti langkah mas Asan, tangannya tak berhenti menggenggam erat tanganku. Aku lelah tapi tak ingin mengusik pikirannya. Akupun tak bertanya kemana hendak menuju.Hingga akhirnya kami lelah berjalan dan berhenti di sebuah Toserba pinggir jalan, panas matahari begitu menyengat membuat kerongonganku kering kerontang. Mas Asan membuka dompetnya yang hanya berisikan 2 lembar pecahan 10rb rupiah dan 10 lembar pecahan 2rb rupiah. Mas Asan melirikku dan membuka lebar dompetnya padaku, kemudian ia tersenyum manis padaku.
Lama kami terdiam, duduk di halte Bus dekat Toserba tadi. Yang terdengar hanya suara kendaraan yang lalu lalang di hadapan kami. Akhirnya kuberanikan diri tuk berbicara pada mas Asan. “Mas, bagaimana klo kita ke rumah nenek aja di kampung? Di sana kita bisa memulai hidup baru dan mandiri”. Mas Asan masih terdiam, memandang lepas ke arah depannya. “Nenek kan udah tua, kasihan gak ada yang ngurus beliau”. Kembali aku melanjutkan ideku. “Baiklah sayang, aku ikut apa kata kamu”. Jawabnya singkat.
Akhirnya kami mengambil Bus tujuan kampung nenek. Kami tidak ada pilihan lain lagi. Selama ini mas Asan hanya bekeja di toko orang tuanya. Semenjak kami menikah, semua penghasilan mas Asan di simpan oleh ibu. Aku hanya kebagian sisa-sisa duit yang disembunyikan oleh mas Asan dari ibu. Dari awal pernikahan kami memang tidak direstui oleh ibu, tapi kala itu mas Asan tetap ngotot. Ibuku meninggal saat aku berusia 4 tahun dan ayahku menikah lagi tak lama setelah ibuku meninggal. Aku lebih memilih tinggal bersama kakek dan nenek daripada tinggal bersama ayahku. Tapi tidak lama kemudian kakek pun meninggal. Tinggallah aku dan nenek. Di umur 17 tahun, mas Asan meminangku tuk jadi istrinya. Aku pun tak menolak, dia begitu sempurna di mataku.
5 tahun usia pernikahan tapi kami belum dikarunia anak. Dan sepanjang waktu itu juga aku harus bersabar dengan perlakuan ibu mertuaku yang tidak pernah kunjung menerimaku sebagai menantunya. Aku selalu berusaha bersabar. Kepedihan dan penderitaan yang kurasakan tak sebanding dengan kasih sayang yang diberikan mas Asan padaku. Cintanya selalu menguatkanku. Hingga suatu hari ibu mengenalkan perempuan lain tanpa sepengetahuanku pada mas Asan. Mas Asan menolak yang kemudian selalu menyulut pertengkaran antara anak dan ibu tersebut. Dan hari inilah puncaknya, kami di usir dari rumah. Aku tahu, mas Asan sangat terpukul dengan kejadian ini. Dia sangat mencintai ibunya. Aku hampir tak percaya bahwa dia lebih memilihku.
Selama perjalanan di dalam Bus, aku menyandarkan kepalaku di atas dadanya. Kurasakan air matanya panas mengaliri pori-pori rambutku. “Oh..Allah, sungguh aku tak sanggup melihat kedukaan di wajah lelakiku ini, tapi aku juga tak sanggup kehilangannya. Dialah hidupku”. Jeritku dalam hati.
Tak terasa kami sudah 3 tahun di kampung nenek, ekonomi kami pun mulai mencukupi. Bahkan kami sudah memiliki rumah sendiri yang sekaligus kami jadikan Toko. Namun, mas Asan lebih banyak menyendiri dan merenung di sebagian waktu malamnya. Tubuhnya sangat kurus. Sampai suatu saat dia sakit parah. Dokter sudah angkat tangan. Berbagai cara kami lakukan demi kesembuhannya, pengobatan alternative pun sudah kami jalani namun hasilnya nihil.
Berita tentang mas Asan akhirnya sampai di telinga Ibu. Dan tanpa kami sangka, Ibu datang menjenguk. Menyadari kehadiran Ibu, mas Asan seakan mendapatkan kekuatan dahsyat untuk bangkit dari tempat tidur dan memeluk erat Ibunya. “Maafkan kami bu, jangan pisahkan kami bu. Asan sayang sama Ibu”.
Aku hanya berdiri mematung menyaksikan mereka yang berderai air mata. Kadang aku merasa egois karena membiarkan mereka terpisah, padahal aku sangat tahu betapa besarnya rasa cinta diantara mereka. Tapi mas Asan selalu menolak setiap kali aku menyuruhnya kembali ke rumah orang tuanya. “Apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Aku tidak akan pernah mengingkari Ijab-ku pada Allah untukmu”. Begitu katanya, selalu begitu.
Lambat laun, mas Asan mulai sehat dan kembali normal lagi seperti semula. Yah, semua karena cinta dan kasih sayang Ibu. Kurasakan perlakuan Ibu pun padaku mulai berubah. Perubahan yang meskipun hanya sedikit, namun cukup menenangkan kami.
Akhirnya aku hamil di usia 9 tahun pernikahan kami. Dan anak pertama kami laki-laki. Sungguh sebuah kesyukuran yang teramat bagi kami berdua. Rasanya, dunia kami sangat sempurna. Dan sejak kelahiran anak pertama itu, Ibu benar-benar berubah total. Kami menjadi keluarga baru, baru dalam kebaikan hati dan saling mencintai dengan ketulusan. Kini semakin kusadari, betapa Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesabaran kita.
Cinta adalah perjuangan. Cinta tidak akan pernah tumbuh indah pada jiwa-jiwa yang kerdil, karena cinta hanya mencintai mereka yang memenuhi hatinya dengan kebaikan cinta.

(Cerpen ke-3nya Kiki) 
Batam, 20 Spetember 2011

This story inpired by the real story of my beloved parents. I love u all...